Chairil (Tidak) di Indonesia

22 Februari , 2008 at 7:13 pm (Chairil Anwar, Cuplik, Puisi, Sastra, Teh Hangat, Tokoh)

Andai Saja Tulisan ini terlihat di rumah-rumah di Indonesia. Tentu, Chairil Anwar tidak akan menjadi “kumpulan binatang jalang yang terbuang”

Barangkali nama beliau mulai menghilang dari peredaran. Riskan yang, entah, menjadi

ketidaksadaran.

anwar1.jpg

Grafiti ini terlihat memukau di Jalan Kernstraat 17a (zijgevel), Leiden Belanda. Kami kira di Indonesia pada awalnya. Kata Leiden di penjelasan situs sungguh merisaukan. Puja orang luar, Remuk Orang Dalam.

Ini cuplikan Puisinya:

Aku

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

(oleh Chairil Anwar, Maret 1943)

_____________________________________________________________________________________

Jika anda juga risau, berbagilah bersama kami. Asal Kopi dan Rokok beli sendiri.

_____________________________________________________________________________________

Data dicuplik dari

http://www.muurgedichten.nl/anwar.html

& Komentar

  1. Puitika berkata,

    Pahlawan di negeri orang ya?

  2. Generasi Biru - Biografi: Chairil Anwar berkata,

    [...] Beberapa tulisan Tongkrongan Budaya tentang Chairil Anwar: > Memaknai Kemiskinan Ala Chairil Anwar > Chairil (Tidak) di Indonesia [...]

Tulis sebuah Komentar