Chairil (Tidak) di Indonesia
Andai Saja Tulisan ini terlihat di rumah-rumah di Indonesia. Tentu, Chairil Anwar tidak akan menjadi “kumpulan binatang jalang yang terbuang”
Barangkali nama beliau mulai menghilang dari peredaran. Riskan yang, entah, menjadi
ketidaksadaran.

Grafiti ini terlihat memukau di Jalan Kernstraat 17a (zijgevel), Leiden Belanda. Kami kira di Indonesia pada awalnya. Kata Leiden di penjelasan situs sungguh merisaukan. Puja orang luar, Remuk Orang Dalam.
Ini cuplikan Puisinya:
Aku
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
(oleh Chairil Anwar, Maret 1943)
_____________________________________________________________________________________
Jika anda juga risau, berbagilah bersama kami. Asal Kopi dan Rokok beli sendiri.
_____________________________________________________________________________________
Data dicuplik dari







Puitika berkata,
2 Maret , 2008 pada 1:34 am
Pahlawan di negeri orang ya?
Generasi Biru - Biografi: Chairil Anwar berkata,
23 November , 2008 pada 8:20 pm
[...] Beberapa tulisan Tongkrongan Budaya tentang Chairil Anwar: > Memaknai Kemiskinan Ala Chairil Anwar > Chairil (Tidak) di Indonesia [...]