Ke(te)la(n)jangan
“Dan keduanya bertelanjang diri, seorang laki-laki dan istrinya, dan mereka tidak malu-malu,” Genesis, 2, 25.
[6 ayat selanjutnya]
“dia (hawa) mengambil buah dan memakannya, dan juga memberikannya pada suaminya, dia pun memakannya.
Dan mata mereka terbuka, dan mereka tahu bahwa mereka telah telanjang; mungkin terlalu banal untuk memastikan. karena keduanya diciptakan dari uraian yang sama dan waktu yang bersamaan
Satu menit sebelumnya, satu menit setelahnya dan di antaranya—momen pembuka rahasia, dihasilkan melalui metode yang bahkan seorang David Hume pun menerimanya—dan itulah mereka, Adam dan Hawa, yang memesrakan ketelanjangan, kebenaran yang saru—Tubuh.
Dan mereka menggabung dedaunan ara bersama, dan menutupi tubuhya
Bagaimanapun, pandangan pertama sangatlah mudah rusak. Dedaunan ara sangat sensitif pada tiupan angin, pada gerakan kasar, dan waktu seringkali mereka habiskan untuk menyembunyikan daging mereka, menutupi ketelanjangan mereka. Petanda [stabil] menjadi tidak stabil, referen terlihat di sini dan di sana.
Meminjam bahasa Lyotard ((The Postmodern Explained: Correspondence, 1982-1985), ketidakstabilan tanda ini menimbulkan ketakutan dan gemetar, penelanjangan referen dan kegagalan menyesuaikan tanda referen, yankni yang lain [the others], menasbihkan masalah identitas. Jika identitas orang lain tidak diselesaikan, begitupula identitas saya. Ini merupakan kemampuan ,megenali dan menerjemahkan makna tanda dengan cepat—bukan pada referennya, yang selalu disembunyikan—tetapi makna yang muncul dari konteksnya, keadaan struktural—yang membantu penciptaan kesadaran diri, dan identitas. Semakin cepat dan stabil proses penukaran dan pengenalan tanda ini, semakin stabil pula imbas realisme, semakin solid pula Fantasi Realitas.
Mengejutkan sekali. Titik pusat identitas yang berkenaan dengan tuhan dan membuatnya bereaksi dengan menyediakan Adan dan Hawa beberapa pengetahuan praktikal. Itulah bagaimana membentuk dan membangun tanda-tanda yang stabil.
“Bagi Adam dan juga Hawa, apakah Tuhan menciptakan mantel kulit dan menutupi tubuh mereka?”
Tidak Tuhan menganugerahkan kita dengan cahaya, atau kobaran api menyala; Dia juga menganugerahkan petunjuk tertentu. Satu-satunya praktik sistem yang Tuhan berikan adalah Sistem Kebiasaan atau Mode, Le Système de la mode, sebuah petanda-petanda bermakna: Fantasi menutupi tubuh kita.
(ditelanjangi, dialihbahasakan, disunting oleh tongkronganbudaya dari situs digitalphilosophy)
Melihat Ketelanjangan sekarang tidak saru lagi. Budaya Indonesia memang sudah benar-benar ditelanjangi dengan maraknya tradisi telanjang menelanjangi di indonesia. Kapan rasa malu-malu Adam melihat Hawa, dimiliki oleh para Adam Indonesia. Begitupun sebaliknya.








sersan berkata,
22 Februari , 2008 pada 9:17 pm
“telanjang” sebenarnya adalah hal yang menggugah ingin. telanjang diri ataupun lawan lain. sebab itulah (disengaja) dijadikan tabu. tapi semuanya seperti menanti ambang, tabu bakal telanjang juga. benarkah gambar di atas akan terjadi di Indonesia? ah, blog ini bakalan di ganjar kartu kuning oleh pengadilan karena melanggar uu anti pornografi. he he he…
jika potret itu tanya bagi kita, biarkan citra gambar itu ada dalam segelas teh yang kita minum..
Admin berkata,
22 Februari , 2008 pada 10:13 pm
Maaf, jika gambar ini dianggap saru. Bukan begitu maksud kami.
Melihat sisi kebudayaan Indonesia, sebenarnya apalagi yang harus dikaji dan ditelanjangi. Bisa dikatakan, budaya indonesia tidak lagi berbenang. tiada helai baju pun. kalaupun ada, ia bukan batik, sarung kumal, dan peci hitam kusam, apalagi blangkon. anda mengerti sendiri. semoga.
hymen berkata,
28 Februari , 2008 pada 2:08 pm
siapa yang gak bakalan konak?
jika gak konak ngeliat hal yang kayak ginian, perlu dipertanyakan.
atau sengaja menghindar?
jangan2……..
Kormen berkata,
2 Maret , 2008 pada 12:50 am
Budaya menunjukkan bangsa. Bangsa memengaruhi budaya. tidak heran jika budaya “telanjang” yang dimaksud benar-benar menelanjangi budaya indonesia. Aih, mempertahankan indonesia lewat budaya. berat men…
langitjiwa berkata,
12 Maret , 2008 pada 8:17 am
telanjang? mari kita bertelanjang ria lewat kata-kata…..
n mursidi berkata,
29 Juni , 2008 pada 5:11 pm
nongkrong lagi. selamat berkarya,…
geistijany berkata,
25 Agustus , 2008 pada 4:07 pm
meski tlambat…gpp lah klo sekadar komentar…telisikan fenomenologis atas bahasa, dalam kaitannya dengan eksistensi manusia, ada dalam esai Adonis (budayawan/penyair/pemikir Arab–Ali Ahmad Sa’id) Bro…keren dan menyentak! sueR! judul’nya “an-Nash al-Qur’any wa Afaq al-Kitabah” (Teks Qurany dan Cakrawala PEnulisan)…di sana bahasa lebih dimenegerti sebagai lanskap kisruh/medan perang imajiner/rumah yang angker yang –jika tak disadari– melenyapkan manusia dan kemanusiaannya…