Jati Diri (….) Indonesia; Titik dalam Tanda Kurung;
Indonesia Di Bawah Awan Gelap dalam (Satu) Puisi Taufiq Ismail (Saja)
Oleh: Musthafa Amin
Tanda kurung di atas, bukanlah kesalahan ketik. Di dalamnya pun kami bermaksud memberikan rangkai titik. Dua tanda kurung (buka dan tutup) dan beberapa titik di judul bersinambung dengan tiga rangkai kata yang penulis beri judul di atas.
Ada nada sinisme di atas. Hal ini mengacu pada karakter bangsa Indonesia. Dahulu, kita dipaksa senyum dan bangga dengan sebutan bangsa ramah. Kali itu, wujud senyuman adalah perasan keramahan, kebaikan dan kasih sayang. Jauh, ketika bangsa luar telah meragamkan senyuman pada kategori senang, sinis dan benci, bangsa Indonesia masih menganggap senyum adalah rahmat. Tetapi itu masa silam.
Jikalau menilik judul, ada yang perlu dipahami, ia tidak hendak menjebak kita pada permainan definisi. Penggamblangan teoritis maupun epistemologis, sungguh, tak akan penulis berikan di sini. Paparan tentang jati diri Indonesia, sungguh begitu luas, dikaji dari sudut mana pun akan ada peristiwa dan monumen pengetahuan yang menggiurkan untuk ditafsirkan. Begitulah…
“Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok”
Sajak “Tuhan Sembilan Senti” Taufiq Ismail, penulis kira menjadi salah satu tautan untuk mengisi titik dalam tanda kurung. Lahan yang subur dengan sekali tancap langsung berbuah, telah berhasil menempatkan tembakau menjadi identitas bangsa Indonesia sebagai bangsa perokok tulen. Merokok, menjadi kebanggaan, klaim superior dan diperparah sebagai pembeda lelaki dengan perempuan.
Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok
Rokok telah menjadi dewa, berhala, Tuhan baru, diam-diam menguasai kita
Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran, di toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokokTaufiq Ismail menyebut rokok adalah berhala-berhala kecil bukanlah tanpa alasan. Masyarakat Indonesia memandang rokok bukanlah pada lahan yang semestinya digarap, disemai dan dipanen hikmahnya. Ia secara simbolis adalah tuhan. Penjamin kepastian dalam episode surat kejantanan-meminjam istilah Wina Bojonegoro.
Mengikuti sabda Nietzsche, “Tuhan” hanyalah suatu model untuk menunjuk setiap bentuk jaminan kepastian untuk hidup dan manusia. Karena itu, tulis Nieztsche, manusia sendiri harus menciptakan dunia dan memberi nilai. Hal yang kurang lebih serupa disampaikan WS Rendra dalam puisi Sebatang Lisong, “kitalah yang harus merumuskan keadaan”.
Setidaknya nilai itu harus dibongkar. Diangkat hingga ke akar-akarnya. Seperti kanker, semua bibit-bibitnya harus dieksekusi sehingga mati dan terbuang. Tanpa terkecuali. Jati diri (perokok) manusia Indonesia sebenarnya nilai semu, ketika ia menjadi landasan kepastian berbias pertikaian dan memperparah perbedaan. Dengan jarak yang mematikan, jelasnya.
Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan…
Ditinjau dari agama pun begitu. Para ulama’ meracau demi kenikmatan sesaat. Dalih haram dan makruh yang diperkeruh kehalalan semakin ketat ditonjolkan. Semuanya demi satu hal, kepuasan menghisap, merengkuh resapan nikotin dalam rongga-rongga paru. Pernahkah kita berpusing ke belakang di ujung silam. Saat kali pertama manusia Indonesia memilin-milin tembakau dengan bebasnya, menghisapnya dengan kesadaran dan tanpa perlu melarang bahwa kenikmatan itu haram.
Apa yang telah digumamkan di atas, hanya tentang tembakau dibungkus kertas yang berada di Indonesia. Ini hanya dari rokok saja dan pernyataan seorang Taufiq Ismail saja dengan satu puisi pula. Belum lagi titik dalam tanda kurung itu ditautkan pada persepsi lain nama dan rujukan. Begitu ribetnya membahas jati diri Indonesia. Ah saya pun tidak paham dengan kelanjutan oretan ini…
Download Di sini
Sajak Tuhan Sembilan Senti Taufiq Ismail [Download]
Sair Sajak Muhammad Zaini (4)
Puisi Telah Bosan
Kurajam kantuk mataku
Siapa yang tahan dengan suara rayu
Setiap kali menjulang ke atas
Telinga mekar bersiap menagkapnya
Kantuk mata ini karyamu
Yang tawar lagi
Menciptakan tanpa rasa
Kantukmu dan rasa tawarku
Kusimpan saja di bawah bantal
Kubuang setelah pagi kelupas mimpi
Segelas kopi mati tenggelam
Berita pagi cium keningku
Dan mengucapkan:
Selamat pagi
Ada yang menghitung sepanjang jalan
Lalu pulang dengan catatan
Ribuan orang pengguna motor
Berteriak mohon ampun
Jalan mengantar sebuah wejangan
Yang setiap pagi tak boleh bosan
Katanya mereka merajam kantuk
Sama sepertiku
Sebab karyamu tanpa rasa
Jogja 2008
Menyimpan Bau Parfummu
Selepas kau pergi melewati sela-sela angin
Aku masih di sini
Berebut bau parfummu
Mendahului angin
Aku ingin merangkai kenangan
Dari jarak yang kau ikat padaku
Masih di langkahmu
Tatapku terus berjatuhan
Jogja 2008
Sair Sajak Musthafa Amin (2)
Kuas(a)
Duniaku memang cukup remuk
Berkali-kali aku tumpah tindih
Lemakku dengan lemakmu mencipta lemak baru
Dipermak sedemikian rupa
Di atas kesucian yang malah mengharap kotor
Dulu aku dianggap keindahan
Arsiran, tepian, bayangan di kanvas kematian
Adalah ujung kenikmatan penglihatan
Dipuja, dikagumi dan diganti segepok uang
Selang semi runtut waktu menjengkang
Keindahanku bagai ilalang
Mengering karena kecapmu tak lagi mencerahkan
Membangkitkan gairah kehidupanku di pagi hari dan siang
Demi tuhanku, sempat aku bersumpah
Meski tidak serapah
Bukan kehendakku tertumpah
Di sini, di kanvas hidup yang bertebar sampah
Aku hanya menjalani takdir
Apa tidak boleh, aku menuruti kuasa sekali saja
Demi estetika puja tuhanku sayang
Malang sungguh tersayang
Di atas kuasa tuhanku masih ada kuasa
Kuasa manusia, yang sering kudengar paksa
Malang, 21 Februari 2008
09: 13
Muhammad
Kukenal engkau lewat nama
Kucintai engkau lewat pena
Wajahmu kabur saat kubayangkan
Lebih pada akalku yang mereka kekang
Engkau adalah utusan
Yang hadir menyambung keterputusan
Dari kaum-kaum militan pagan
Ajaranmu yang engkau sebarkan
Telah aku pahami lewat sajak
Kehidupan yang dipaparkan orang
Sekedar pinta dari pengagum
Aku ingin belajar langsung
Menyentuh tanganmu
Menatap rupa mapanmu
Menjejaki setiap detik
Detak jantungmu
Kuingin engkau melalui tangan ini
Meremas dengan kulit dan buluku
Bersentuhan dengan setiap nafas
Hanya aku sendiri
Melalui aku
Tanpa surat, tanpa ayat
21 Maret 2008
Malang, 02:11 AM
Sair Sajak Anas Shofwan Kholid (1)
Tuhan; Perempuan
Tuhan adalah perempuanku
Saat kerinduan mencekik lehernya yang putih
akan dia kirim Izrail menjemputku
Keluar kutertawa
Matiku di matanya
Tauaku leburkan tauku
Jakarta, 12 Desember 2007
*Mahasiswa Jurusan PMH UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Sastra Religius; Paradoks Labelisasi Sastra
Oleh: Musthafa Amin
Puritanisme adalah gejala keagaamaan yang mengedepankan keinginan untuk menjaga kemurnian dalam beragama dan hidup sesuai dengan nilai-nilai keagamaan yang ketat. Sejarah dunia dengan gamblang menggambarkan proses lahirnya puritanisme sebagai iringan terhadap reformasi Protestan dan berdirinya gereja Anglikan pada abad 16. Dalam referensi kesusasteraan inggris klasik, periode puritan (1620-1660) adalah tonggak pemicu lahirnya sastra yang berelevansi dengan agama. Ragam sastra yang muncul adalah puisi metafisis.1 Pelopornya adalah John Donne (1573-1631). Sumber inspirasi gaya metafisik ini adalah cinta dan agama.
Menyoal hubungan agama dan sastra adalah diskursus yang sudah langgam dibahas, baik di dalam sastra inggris maupun sastra Indonesia. Dikotomi antara sakral dan profan adalah salah satu ulasan yang kerap dilakukan kendati upaya menggabungkan keduanya dalam satu bentuk karya sastra juga pernah terjadi. Dalam artian labelisasi sastra telah melahirkan beberapa bentuk dan corak karya sastra yang berhubungan dengan agama dan nilai-nilai keagamaan, sebut saja dalam perkembangan kesusasteran Indonesia, sastra religius dan sastra sufi.2 Keduanya merupakan model karya kesusasteraan yang telah eksis. Sejak zaman Hamzah Fansuri, Balai Pustaka, tahun 1970-an, hingga sekarang; telah sering diselenggarakan diskusi atau tulisan lepas yang menekankan adanya religiusitas dalam karya sastra.







