Mencari Rupa Cinta Dalam Sajak “Aku Ingin” Karya Sapardi Djoko Damono

8 Maret , 2008 at 6:20 pm (Puisi, Sapardi Djoko Damono, Sastra, Tela'ah Sastra)

Oleh: Muhammad Zaini*

sapardi.jpg love.jpg

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikanya abu
Aku ingin mecintaimu dengan sederhana:
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Sapardi Djoko Damono, (1989)

Manusia adalah homo ludens yang punya hasrat, rangsangan dan ingin. Dalam perjalanannya, cinta adalah bagian yang tak bisa lepas dari perjumpaannya dengan “yang lain” yang terus saling tumpang tindih dengan rasa benci. Pada akhirnya cinta dan benci memiliki pengertiannya sendiri di benak masing-masing individu.
Di antara hangar-bingar keanekaragaman yang terus menyeret kita ke dalamnya, arti cinta semakin sulit diterka dalam momen-momennya. Sinetron bilang cinta, pembunuhan menghunuskan cinta, koruptor menyelip cinta dan iklan pun menyatakan cinta. Seolah cinta terus menampak, mengolah dirinya dan muncul menjadi sesuatu itu. Bagaimana Sapardi (sebagai penyair) menorehkan rupa cinta?
Saya sedikit bingung, apakah pembacaan saya atas puisi beliau merupakan “saya” atau puisi itu sendiri. Sebab Sapardi pernah bilang, (kurang lebih bagini maksudnya) jika puisi diterjemahkan maka hasil darinya adalah pengalaman penejemah sendiri atas puisi tersebut dan tidak lagi menghadirkan puisi itu utuh seperti sedia kala. Tapi bagaimanapun saya dibikin bingung oleh ungkapan-ungkapan yang seperti itu, saya tetap merayakannya.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikanya abu

Pada baris pertama dari bait pertama ini saya terfokus pada nuansa kata “sederhana”. Kata ini mengategorikan keadaan (sifat) dari ungkapan sebelumnya, yaitu “mencintai”. Terlepas dari keterkaitanya dengan kata yang lain, kita akan mengandaikan kata tersebut dengan keseharian yang kita temui. “Sederhana” dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, Cet. Ke-3: 1990) dikategorikan kata sifat yang memiliki arti: sedang, bersahaja, tidak banyak seluk-beluknya, dsb. Di sana dicontohkan: hidupnya selalu bersahaja. Dalam baris Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, mengahadirkan keinginan cinta dengan (sikap) yang sederhana. Cinta yang dihadirkan bukan cinta yang lain, pasif atau progresif, nafsu atau hal yang mengawang, dan ataupun wujud yang lain. “Mencinta” di sini hadir dengan wajah yang sederhana, sedang dan tak berseluk-beluk.
Namun sebelum imaji saya beterbangan kemana-mana dengan kata “sederhana”, kembali saya dihadirkan dengan nuansa lain dari makna “sederhana”. Baris ke-2 dan ke-3 adalah semacam penjelasan akan kata “sederhana”, bagaimana ia menjadi sifat mencinta dalam puisi ini.
Ada sebuah ketertundaan pada maksud “…kata yang tak sempat diucapkan…”, namun tetap dirasa sebagai sesuatu yang utuh. “kata” menjadi mendium dari sebuah ungkapan terimakasih, rasa kagum, ingin dari “kayu” yang sampai pada tahap tertentu lantaran “api”, yaitu “abu”. “kata” jika diucapkan akan menjadi ukuran, sejauh mana rasa terimaksih kayu akan tergambar. Bisa jadi uangkapan dari “kata” menjadi hal yang biasa, muluk-muluk ataupun tak sesuai dengan maksud perasaan dan menjadi hal yang tidak sederhana lagi. Ketika “kata” tak sempat di utarakan, maka ia akan menjadi hal yang tertangguh dalam benak, terbawa dalam sikap sehari-hari. Pada akhirnya sikap itulah yang benar-benar hidup dan menjadi ungkapan sebenarnya yang lebih utuh, tulus dan sederhana.

Yang Meniadakan

Aku ingin mecintaimu dengan sederhana:
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Sedari tadi saya terusik dengan ungkapan metaforis© dari sajak ini. Saya bertanya-tanya, “kenapa ungkapanya menggunakan sesuatu yang saling meniadakan (api meniadakan kayu, hujan meniadakan awan)? Bukankah ini tentang cinta yang notabene tentang keutuhan?”. Namun saya tersadar setelah menyimak lebih lekat kata “sederhana”. Karena menurut pandangan sementara saya, baris-baris selanjutnya bermuara pada kata itu. Di lain hal, penggunaan metafor tersebut tidak mengandaikan maksud saling meniadakan tetapi sebuah proses keberlanjuntan. Jadi keberlanjutan itu seolah kebutuhan yang mesti ada untuk sampai pada wujud selanjutnya. Kayu tidak akan menjadi abu tanpa api membakarnya begitupula awan tidak akan lenyap bila hujan tak mengurainya.
Proses peniadaan seolah tak terhentikan, bahkan barang sedetik pun. Oleh karena itu, “penyampain” pada cerita dalam puisi itu seolah terhalang oleh berlangsungnya proses. Namun justru dengan metaforis yang seperti ini ungkapan tersebut menghadirkan macam-macam penafsiran tentang mencinta.
Saya kira untuk menemukan yang lebih dalam tentang cinta, (dan mencinta) dalam sajak ini, selanjutnya adalah tugas anda. Karena bagaimana pun pengalaman diri mencinta juga ikut terlibat dalam menemukan rupa cinta pada sajak ini. Apakah sesungguhnya yang terselip di balik ungkapan metaforis yang saling meniadakan dalam sajak di atas.

*Muhammad Zaini

Mahasiswa UIN Jogja. Berkhidmat di Teater ESKA UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta

& Komentar

  1. Sharingan berkata,

    Sungguh, begitu dalam makna cinta, sehingga melampiaskannya laksana meniadakan. Yah dengan cinta, pandangan kita akan lurus ke depan, tak sisi kanan dan sisi kiri. Tajam tanpa goresan. Ah cinta, begitu paripurna engkau…

    Salam

  2. agusjay55 berkata,

    Sajak seringkali lebih utuh dlm menyampaikan sesuatu dibanding teks biasa. Saya jg br donlot musikalisasi sajak ini. Keren

  3. Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana « |A|d|i|T|r|e|s|s|a|n|t|o| berkata,

    [...] another artikel: majalah ummi M. Zaini [...]

  4. iben el muallef berkata,

    zen………………
    kapan kau kirim karyamu……
    zen aku tetap mencintainya……………

  5. ocha... berkata,

    kata2 indah bermakna indahh… sungguh membuat iri.

  6. Kang Nur berkata,

    Saya tidak tahu apakah maksud Sapardi dg puisi ini juga utk menggambarkan cinta ‘mistis’ antara seorang hamba dgn Tuhan-nya? (mis: dlm Islam termasuk “tasawuf”?) Bila demikian halnya, maka ‘pemahaman’ atas puisi ini dapat disejajarkan dg pemahaman atas Syair Abu Nawas atau puisi Rabi’ah Al-Adawiyah. Dlm bbrp hal juga dapat membawa pengertian ‘wihdatul-wujud’-nya Al-Hallaj, Ibnu ‘Arabi atau Syekh Siti Jenar.
    Bila demikian halnya, maka tak mengherankan bila ungkapan yg dipakai utk memberikan cinta yg sederhana itu adalah dgn jalan ‘meniadakan diri’. Bila yg digambarkan di sini adalah cinta hamba thd Khaliq-nya, itu tak mengherankan. Maka saat Syekh Siti Jenar dipanggil oleh Wali Songo dg redaksional: “Syekh Siti Jenar dipanggil ke Demak”, ia menolak dg bilang. “Syekh Siti Jenat tak ada, yg ada hanyalah Allah”. Lalu ia dipanggil dg kata:”Allah dipanggil ke Demak”. Ia bilang:”Allah tidak ada, yg ada hanyalah Syekh Siti Jenar”. Lalu terakhir ia dipanggil dg:”Allah dan Syekh Siti Jenar dipanggil ke Demak”. Barulah ia mau datang ke Demak. Begitu kata dongeng mitos yg beredar.
    Cinta seorang ibu kepada bayinya/anaknya juga seringkali sampai kpd pengorbanan nyawa. Ibu rela mati agar anaknya tetap hidup. Ini berarti ia mau “tiada” agar anaknya tetap “ada”. Ia mau jadi ‘abu’, asal ‘api’ anaknya terus menyala. Ia ‘awan’ yg rela menjadi tiada, agar ‘hujan’ itu menjadi ada.
    Selanjutnya dapat juga pengertian yg semacam ini kita dapatkan dalam syait Kahlil Gibran ttg cinta. A.l. ia sebutkan bahwa orang yg mencinta itu bagai biji gandum yg siap-rela tertumbuk-tergiling utk mendapat gandumnya, melepas diri dari kulit.
    Bila cinta datang padamu, relakan sayap-sayapnya merengkuhmu…
    meski ia juga bagai belati yg ‘kan melukai….

    :)

  7. Ahmad Makki berkata,

    Saya pikir pertanyaan pertanyaan “mengapa memakai metafora yang saling meniadakan (api membakar kayu, hujan meniadakan awan)?” dapat terjawab lebih gamblang jika kita mengingat kata sebelumnya “kata yang #tak sempat# diucapkan”, dan “isyarat yang #tak sempat# disampaikan”. Artinya cinta seperti kata/isyarat yang “tak sempat” diucapkan/disampaikan. Jika saja sempat dikatakan/disampaikan, maka api/hujan tidak akan sampai hati membakar/ meniadakan kayu/awan

  8. Ahmad Makki berkata,

    Mohon maaf, hanya sumbang saran. Salam kenal, nice blog.

  9. sweetestar berkata,

    “Aku ingin” adalah salah satu puisi favorit aku sejak aku mengenal sesuatu yang tak berwujud namun dapat dirasa, bernama CINTA….
    Salam kenal..

  10. XXX berkata,

    pertama kali aku denger sajak ini,, aku langsung mencari makna sajak itu. ternyata itulah isi jeritan hatiku selama ini kepada DIA.

  11. wira berkata,

    “Aku Ingin” adalah sebuah maha karya cinta yang lahir dari hasil sebuah renungan yang panjang akan sebuah kasih yang sederhana. Dalam puisi ini saya sangat senang membaca kata-kata “aku ingin mencintaimu dengan sederhana”, bagiku makna dari kata-kata ini teramat dalam, banyak yang bisa kita renungkan dengan kata-kata ini, segala sesuatu bisa termasuk didalamnya, kata-kata ini mengandung arti dari ketulusan dalam menjalani sesuatu, seperti “kata yang tak sempat dikatakan kayu kepada api yang menjadikannya abu”, itulah ketulusan, ketulusan dalam hidup kesetiaan, kejujuran, pengorbanan, dan proses dari itu semua, yang didasari oleh rasa ketulusan sampai “akhir ” yang akan datang menghampiri.

  12. Hesti berkata,

    Puisi tsb trkandung ktulusan yg dlm, bnr2 salah satu maha krya cinta yg indah dan inspiratif

  13. betty hera berkata,

    puisi yang menginspirasi

  14. Nicholas berkata,

    aku ingin mencintai mu secara sederhana ” benar benar membuat aku limbung dan gak mampu tuk berbuat apa apa.. sungguh ini mahakarya yang maha dasyat yang membuat berjuta juta makna dan tiada terkira “

  15. mahesthi berkata,

    buatku, puisi yang paling mengena dalam hatiku jika bicara mengenai cinta…

Tulis sebuah Komentar