Sair Sajak Muhammad Zaini (3)
SEJELAS JEJAK?
Pada mulanya sebuah manni, lalu timbullah serangkain saraf-saraf.
Keterlemparan, adakah hidup hanya antah berantah
Yang melemparkan setumpukan daging-daging?
Malaikat lupa bertanya untuk apa hidup,
Ketika Tuhan mengutus Adam bersama kata-kata ke bumi
Adam heran, apa yang salah pada kata “Khuldi”
Heran yang di bawa Muhammad, apa yang salah pada segelas arak?
Lalu apa itu hidup?
Jejakkah?
Malang, 2007
RETAK
Aku membiarkan retak itu, tak lebih
Tergeletak begitu saja
Menemukanku sebagai bagian yang terlepas
Yang letih untuk pulang
Setiap ujung mengiris
Jerit yang tertahan
Pada retak beranting
Menusuk dari masa lalu
Langkah itu sendiri
Yang sendiri yang abadi
Hidup hanya menegaskan kesendirian
Mengalir pada luka
Luka itu indah
Entah sejak kapan aku menyukainya
Dan pada tepi ini semua tak terjawab
Dari retak ke retak, ujungnya mengiris
Yang terluka yang berkata-kata..
Probolinggo, 2008







langitjiwa berkata,
19 Maret , 2008 pada 12:52 am
menyelam pada kata terangkai yang kau buat meledak saya punya jiwa.saya suka puisi ini
salamku,
langitjiwa…
langitjiwa berkata,
19 Maret , 2008 pada 12:56 am
menyelam pada kata terangkai yang kau buat seakan saya menyelam pd tinta yg ada dipena kamu dan saya suka puisi ini
salamku,
langitjiwa…
artja berkata,
19 Maret , 2008 pada 7:50 am
salam kenal… blognya bagus
sijilintang berkata,
21 Maret , 2008 pada 9:39 pm
setelah sejenak saja menyentuh-nyentuh sajak Muhammad Z. A., saya curiga. Bukan tentang baik dan buruk, atau suka tidak suka. Tapi, tentang diksi. Jamal D. Rahman, D. Zawawi Imron__sementara ini yang saya ingat__mimiliki ciri khas sendiri dalam berdiksi. Dua orang berdarah Madura. Pilihan katanya ada uniknya terasa di hati. ‘hanya antah brantah yang melemparkan’ dan ‘yang letih pulang’ dua kalimat. Bukan maksud saya mensejajarkan Muhammad Z. A. deng dua penyair Madura tersebut. Tapi, sekali lagi, ini murni soal iri dan kecurigaanku menyangkut diksi. Jangan-jangan darah madura adalah diksi. Itu curigaku saja. Dan ‘daun ara hijau yang berpendar’ atau ‘hasratku tumbuh rancak’ , penggal saja Musthafa A., dua keping kalimat ini menambah benar curiga saya saja.
Kagum mungkin lantaran tidak mengerti, menurut sementara orang. Tapi, kagum saya lantaran rasa. Bukan mengerti. Bukan paham. Terlalu sulit buat saya mengerti dan paham tentang makna. Cinta saya tergelincir hanya dengan kecoa’, itu cukuplah sudah jadi cemeti amarasuli. Ha Ha. Selamat berkarya. Moga jangan jadi kalau itu berarti berhenti. Dan mampuslah kalau itu dipahamai berjalan dan mengalir.
hanggadamai berkata,
24 Maret , 2008 pada 4:51 am
luka itu memang indah ya mas..