Sair Sajak Muhammad Zaini (4)
Puisi Telah Bosan
Kurajam kantuk mataku
Siapa yang tahan dengan suara rayu
Setiap kali menjulang ke atas
Telinga mekar bersiap menagkapnya
Kantuk mata ini karyamu
Yang tawar lagi
Menciptakan tanpa rasa
Kantukmu dan rasa tawarku
Kusimpan saja di bawah bantal
Kubuang setelah pagi kelupas mimpi
Segelas kopi mati tenggelam
Berita pagi cium keningku
Dan mengucapkan:
Selamat pagi
Ada yang menghitung sepanjang jalan
Lalu pulang dengan catatan
Ribuan orang pengguna motor
Berteriak mohon ampun
Jalan mengantar sebuah wejangan
Yang setiap pagi tak boleh bosan
Katanya mereka merajam kantuk
Sama sepertiku
Sebab karyamu tanpa rasa
Jogja 2008
Menyimpan Bau Parfummu
Selepas kau pergi melewati sela-sela angin
Aku masih di sini
Berebut bau parfummu
Mendahului angin
Aku ingin merangkai kenangan
Dari jarak yang kau ikat padaku
Masih di langkahmu
Tatapku terus berjatuhan
Jogja 2008
Sair Sajak Musthafa Amin (2)
Kuas(a)
Duniaku memang cukup remuk
Berkali-kali aku tumpah tindih
Lemakku dengan lemakmu mencipta lemak baru
Dipermak sedemikian rupa
Di atas kesucian yang malah mengharap kotor
Dulu aku dianggap keindahan
Arsiran, tepian, bayangan di kanvas kematian
Adalah ujung kenikmatan penglihatan
Dipuja, dikagumi dan diganti segepok uang
Selang semi runtut waktu menjengkang
Keindahanku bagai ilalang
Mengering karena kecapmu tak lagi mencerahkan
Membangkitkan gairah kehidupanku di pagi hari dan siang
Demi tuhanku, sempat aku bersumpah
Meski tidak serapah
Bukan kehendakku tertumpah
Di sini, di kanvas hidup yang bertebar sampah
Aku hanya menjalani takdir
Apa tidak boleh, aku menuruti kuasa sekali saja
Demi estetika puja tuhanku sayang
Malang sungguh tersayang
Di atas kuasa tuhanku masih ada kuasa
Kuasa manusia, yang sering kudengar paksa
Malang, 21 Februari 2008
09: 13
Muhammad
Kukenal engkau lewat nama
Kucintai engkau lewat pena
Wajahmu kabur saat kubayangkan
Lebih pada akalku yang mereka kekang
Engkau adalah utusan
Yang hadir menyambung keterputusan
Dari kaum-kaum militan pagan
Ajaranmu yang engkau sebarkan
Telah aku pahami lewat sajak
Kehidupan yang dipaparkan orang
Sekedar pinta dari pengagum
Aku ingin belajar langsung
Menyentuh tanganmu
Menatap rupa mapanmu
Menjejaki setiap detik
Detak jantungmu
Kuingin engkau melalui tangan ini
Meremas dengan kulit dan buluku
Bersentuhan dengan setiap nafas
Hanya aku sendiri
Melalui aku
Tanpa surat, tanpa ayat
21 Maret 2008
Malang, 02:11 AM
Sair Sajak Anas Shofwan Kholid (1)
Tuhan; Perempuan
Tuhan adalah perempuanku
Saat kerinduan mencekik lehernya yang putih
akan dia kirim Izrail menjemputku
Keluar kutertawa
Matiku di matanya
Tauaku leburkan tauku
Jakarta, 12 Desember 2007
*Mahasiswa Jurusan PMH UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Sastra Religius; Paradoks Labelisasi Sastra
Oleh: Musthafa Amin
Puritanisme adalah gejala keagaamaan yang mengedepankan keinginan untuk menjaga kemurnian dalam beragama dan hidup sesuai dengan nilai-nilai keagamaan yang ketat. Sejarah dunia dengan gamblang menggambarkan proses lahirnya puritanisme sebagai iringan terhadap reformasi Protestan dan berdirinya gereja Anglikan pada abad 16. Dalam referensi kesusasteraan inggris klasik, periode puritan (1620-1660) adalah tonggak pemicu lahirnya sastra yang berelevansi dengan agama. Ragam sastra yang muncul adalah puisi metafisis.1 Pelopornya adalah John Donne (1573-1631). Sumber inspirasi gaya metafisik ini adalah cinta dan agama.
Menyoal hubungan agama dan sastra adalah diskursus yang sudah langgam dibahas, baik di dalam sastra inggris maupun sastra Indonesia. Dikotomi antara sakral dan profan adalah salah satu ulasan yang kerap dilakukan kendati upaya menggabungkan keduanya dalam satu bentuk karya sastra juga pernah terjadi. Dalam artian labelisasi sastra telah melahirkan beberapa bentuk dan corak karya sastra yang berhubungan dengan agama dan nilai-nilai keagamaan, sebut saja dalam perkembangan kesusasteran Indonesia, sastra religius dan sastra sufi.2 Keduanya merupakan model karya kesusasteraan yang telah eksis. Sejak zaman Hamzah Fansuri, Balai Pustaka, tahun 1970-an, hingga sekarang; telah sering diselenggarakan diskusi atau tulisan lepas yang menekankan adanya religiusitas dalam karya sastra.






