Orang Ketiga Yang Raib Di Meja Makan

Oleh: Muhammad Zaini
Makan itu kebutuhan. Ia telah “hadir” dan “menjadi” sejak mulanya manusia diciptakan. Ya, makan, hal yang tak terpisahkan dari hidup. Makan, kalaupun hendak diuraikan, adalah hal yang di luar tubuh. Tubuh membutuhkan makan. Tetapi, makan, benar-benar menjadi bagian yang utuh, tak terpisahkan dari tubuh. Sebab, makan, tanpanya hidup tak lagi bisa diteruskan. Agama Islam menjadikannya kewajiban di urutan pertama dalam perkara muamalat (keseharian).
Namun di sela-sela sebuah sajian makan, ada hal yang keberadaannya tidak mesti tapi juga tidak meriah (hambar) tanpa menghadirkannya. “Orang ketiga yang raib” (OR), sebut saja begitu. Pada prinsipnya, hal itu (OR) tidaklah sama dengan kebutuhan akan makan. Namun, sepertinya, ketuaannya hampir menyamai dengan usia akan kebutuhan makan. Bahkan, di zaman yang semakin super canggih sekarang ini, menghadirkan OR hampir menempati posisi sama wajibnya dengan makan, disadari ataupun tidak.
Saat ini, kita tidak hanya menjumpai OR di meja makan dan menemukannya pun tidak sesulit mencari gajah di tumpukan jerami. OR kerap hadir dalam setiap perjumpaan, di kedai, diteras, bahkan di setiap kali perbincangan. Fenomena seperti itu memang alamiah, kalau bisa saya katakan, itu fitrah manusia. Tetapi akan menjadi sangat aneh bila OR dijadikan sebagai menu hidangan, apalagi mengkonsumsinya pun gratis. Terlebih lagi, kita tak perlu bingung membayangkan seperti apakah wajah dan perangai OR yang di sajikan. Dalam menu sajian, semuanya komplit. Kita benar-benar di manja sampai kita tak bisa bilang tidak untuk terus mengkonsumsinya.
Seperti itulah gambaran televisi. Cukup anda hidupkan kotak ajaib itu, lalu hitung seberapa banyak acara gossip, anda akan memahami, seberapa pentingkah menghadirkan OR di keseharian kita.
***
Ada hal yang tak terjawab dengan tepat, kalaupun ada , itu hanya kira-kira, asumsi. Pada malam di suatu kedai kopi, “kenapa setiap kali obarolan, selalu butuh kehadiran orang ke tiga yang raib?” Tanya teman satu mejaku dengan menggumam. Ya, di berkata seperti itu, seolah tak peduli ada jawaban atau tidak, kata-kata terbang lalu pergi.
Sama seperti aku yang tak sengaja ikut mendengar. Aku pun tak harus menjawabnya, bahkan tak boleh menjawabnya. Sebab, tak ada yang menginginkannya, tak juga diriku. Tetapi, bagaimanapun, tanya itu seperti terlampar tanpa sesuatu memantulkannya, dan entah, apakah pertanyaan itu terlempar menembus jawabannya sendiri. Apakah kita juga telah membunuhnya di meja makan???






