Sair Sajak Musthafa Amin (3)
Darah Perempuan itu
Darah perempuan itu bercecer di pori-pori kehidupan
Meresap ke dalam palungnya yang terdalam
Dia terkesima karena sakitnya telah tiada
Di selangkangan bukan
Di punggung bukan
Tetapi di rongga dada
Bercampur aduk mengental membeku
Seketika hancur dan memancar
Memburat menutupi kulitnya yang juga berpori
Darah perempuan itu telah keluar
Memerahkan sekujur tubuh kehidupan
Dengan darahnya yang kotor berselimut pandangan
Menjijikkan
Kehidupan telah berdarah
Ia terus berdarah ketika darah perempuan itu tidak lagi mengucur
Kehidupan mengerang dan pingsan
Merasakan kesakitan yang tak berperikan
Ternyata melihat lebih mudah daripada mengalami sendiri kesakitan
Malang, 14 April 2008






