Sair Sajak Moehammad Zaini (6)
Bukan Yang Ini
Setiap kali pulang ke senja kau selalu menggerutu
“Hidup ini terjal kawan, tanpa mata, alasan”
Matamu seperti tersindir dengan kayu-kayu hitam putih
Yang menyimpan jejak tatapmu sebagai olokan
“Aku telah berani menggadaikan nyaliku”
Begitu katamu bila kau tersandung pada mata remangmu
Mata yang berkaca-kaca hendak mengusai gambar hidup
Hanya saja…
Kau dan Anak Tangga
Setiap langkah yang sampai satu persatu
Pada anak tangga, menyelipkan lengang
Cerita yang sering coba kau dengar
Mengertap ketika kakimu bersinggungan
Sengaja kau menyimak
Lalu menghela duduk
pada satu anak tangga
dan kau tersadar
seketika itu juga ia tak lagi bersamamu







annity berkata,
2 Agustus , 2008 pada 4:45 am
thanx jg mas dah berkunjung & berkomentar….
ara berkata,
10 September , 2008 pada 7:53 am
assalamu alaikum wr wb,
alhamdulillah kita memiliki sastrawan yang luar biasa hebat, TAUFIQ ISMAIL. Saya kagum dengan sejumlah karya beliau. Khususnya puisinya yang dijadikan lagu “Ketika tangan dan kaki bicara” yang dinyanyikan Chrisye (alm). Syairnya begitu mengagumkan dan membuat saya merinding mengingatkan saya aka kematian.
“Akan tiba masa …tak ada suara dari mulut kita…
berkata tangan kita tentang apa yang dilakukannya…
berkata kaki kita kemana dia akan melangkahnya….dst…”
Wah…sungguh saya merasa takut … menghadapi hal itu …
membuat kita bertanya “sudah cukupkah amalan kita untuk ke akhirat kelak? akankah kaki, tangan kita berbicara….berbicara…. apa? berbicara tentang semua hal yang pernah kita lakukan sepanjang hidup kita…?
Demikian..
Saya tak heran kalau Chrisye pun ketika pertama kali disuruh membawakan lagu tersebut menangis dan tak sanggup untuk rekaman kurang lebih 2 minggu karena tiap kali menyanyikan lagu itu ia selalu menangis…
hendaknya lagu itu menjadikan kita sadar agar selalu berbuat baik.
terimakasih.