Senjakala Kematian Danarto dan Budi Darma

9 Januari , 2009 at 10:04 pm (Budi Darma, Danarto, Kritik Sastra, Sastra, Tela'ah Sastra, Tokoh)

Oleh: Musthafa Amin*

danarto-darma

Kacapiring, Laki-Laki Lain Dalam Secarik Surat

Kematian adalah sesuatu yang tidak terelakkan. Sebagai salah satu prima pincipia kehidupan, kematian adalah pilihan yang tidak memiliki opsi. Ia adalah hal yang tak terelakkan bagi manusia. Satu kepastian tunggal dengan proses yang beragam. Sejenak bila membaca tulisan Fayyadl di dalam Blognya, dengan tema Filsafat Kematian (Philosophy of Death): Sebuah Hantaran Metodologis Awal ada satu hal yang menggelikan, bahkan saya pun sempat tertegun ketika teringat tentang banyak orang yang membicarakan kematian. Manusia sebenarnya membicarakan kematian secara apriori. Bagaimana kita berbicara tentang kematian, sementara kita belum pernah mengalaminya?

Toh, kemudian, landasan filosofis masih belum bisa menghentikan keinginan manusia untuk selalu menguraikan tentang kematian bahkan proses setelah itu, melangkah jauh hingga ke bagian eskatologi, tentang hari pembalasan sebagai batasan-batasan perilaku manusia sebagai makhluk unggul.

Tulisan ini, dengan sekedarnya, ingin memaparkan bagaimana ketika seorang sastrawan berkehendak melakukan eskplorasi tentang “kematian” dalam karyanya, bagaimana mereka menyikapi kematian sebagai pilihan hidup yang tidak bisa ditawar. Pilihan tokoh sastrawan berikut tidak memiliki landasan ilmiah apapun, karena ini adalah sebuah kebetulan saja penulis menemukan sebuah karya dua orang sastrawan yang menjadikan “kematian” sebagai tema dalam salah satu prosanya. Keduanya adalah Danarto dan Budi Darma.

Dalam cerpen pembuka Jantung Hati, dalam buku kumpulan cerpen Kacapiring (2008), Danarto memosisikan keakuannya dalam kematian. Tokoh utama adalah aku-lirik yang jasadnya sudah mati dikebumikan. Ia meninggal karena serangan jantung. Jantungnya berhenti berdetak karena ledakan bom di dekatnya. Dalam karya ini, dikisahkan tentang perjalanan sang tokoh utama setelah meninggal. Jadi, cerita ini dimulai dengan aku-lirik yang “hidup” di alam baka atau lebih tepatnya proses penafsiran Danarto tentang alam kubur. Bagaimana proses dia sampai menuju akhirat, akhir segala sesuatu, akhir di mana segala perbuatan dipertanggungjawabkan, akhir ditentukannya seseorang akan berakhir di mana dan akan diapakan; disiksa atau dijamu. Meski, pada akhirnya, di luar dugaan adalah bagaimana rupa surga ketika diwajahkan Danarto di akhir cerita.

Danarto

Danarto

Beliau, Danarto, bila disebut sebagai pelopor realisme magis—sebagaimana ditulis Goenawan Muhammad di pengantar, cukup beralasan, sebab tema yang diangkat Danarto adalah fenomena sehari-hari dengan diselingi dengan perjalanan yang sering membuat pembaca menganga, perjalanan yang bernuansa mitos dan metafisik. Apalagi suspense yang diberikan di akhir cerita, sering mengejutkan dan menggiring kita ke pelabuhan yang tidak kita tuju pada awalnya.

Kematian diuraikan oleh Sastrawan yang cukup religius ini sebagai sebuah kendaraan. Tidak ada beda antara hidup dan mati, keduanya adalah kendaraan yang hanya berbeda nama. Kematian itu hanyalah perpindahan ke alam lain. Dengan demikian, “kematian’ itu bisa dipahami sebagai akhir satu kehidupan dan awal dari kehidupan yang baru. Toh, kenapa kematian itu harus ditakuti bilama kita masih akan hidup dengan jasad yang sama, meski dengan alam yang berbeda dengan alam yang kita diami sebelumnya. Apalagi, ditilik lebih lanjut, sebenarnya, merujuk pada kepercayaan Islam, kita diajarkan tentang lima alam yang akan kita lewati, yaitu alam roh, alam rahim, alam dunia, alam kubur, dan alam akhirat. Toh, walau begitu cerpen ini hanya mengimajinasikan tiga alam terakhir.

Ternyata kematian itu membahagiakan. Sungguh di luar dugaan. Kematian itu tidak terbatas. Luas bagai cakrawala. Mengapa harus ditangisi? Jelas ini salah tafsir (Danarto, 2008: 10).

Cerpen pertama Jantung Hati karya Danarto sangat lekat dengan wilayah doktriner-doktriner keagamaan. Meski bertabur metafor, dari awal kalimat hingga cerpen berkesudahan masih erat mengglambyarkan nuansa doktriner agama, agama Islam tentunya. Tapi di sinilah cerdiknya Danarto, kesan doktrin agama yang kaku berubah menjadi menarik dan unik, tiada kesan instruktif tetapi menyelami kesadaran dan merubahnya. Taburan metafor itu terungkap dari kalimat berikut.

Tubuh malaikat itu dipenuhi mata yang bukan main banyaknya, boleh jadi tak terhitung…Setiap satu mata Izrail mengedip, satu nyawa tercabut dari tubuh manusia…(Danarto, 2008: 08 )

Tiba-tiba Izrail lenyap digantikan oleh sekuntum malaikat lain yang berbeda. Tubuh malaikat yang muncul tiba-tiba itu berubah bentuknya, dari mawar, lalu melati, kemudian kenanga, lantas bunga matahari, lalu berubah lagi menjadi anggrek putih dengan sejumlah noktah berwarna violet, hijau dan oranye. Kembang-kembang itu ukurannya lebih besar ketimbang manusia. Kadang mekar besar sekali memenuhi angkasa. (Danarto, 2008: 09)

Izrail adalah suatu lambang kematian, dialah malaikat pencabut nyawa. Imaji banyak mata di atas identik dengan sikap Izrail yang terkesan tanpa belas kasihan, hanya berlandaskan ketetapan yang termaktub dalam lauh mahfudz, dan tanpa tedeng aling-aling dia mencabut nyawa manusia dengan mudah ibarat seseorang yang mengedipkan mata. Meski begitu, analogi tercerabutnya nyawa dengan kedipan mata yang dilakukan Izrail bukannya menjelaskan bahwa tiada kontrol darinya, namun itu adalah sebuah keteraturan tunggal. Hal tersebut melambangkan tentang tidak berdayanya ikhtiar manusia atas keniscayaan universal (takdir?).

Sementara imaji bunga sebagai rupa tubuh Izrail ketika menemui sang aku-lirik menggambarkan sosok kelembutan, sebagaimana sosok bunga dalam karya sastra lain yang identik dengan cinta, kelembutan, keramahan dan cinta. Bentuk bunga ini dimaknai sebagai pertanda Izrail pun bisa berlaku ramah, karena sang aku-lirik meninggal dengan keadaan syahid.

Tokoh Izrail tersebut memiliki dua identitas berbeda dan kesan yang berbeda pula, berdasarkan bentuknya. Dengan demikian, ada oposisi sejajar di sini atau homologi empat terma (four-term homology)—jika meminjam istilah Kris Budiman, atau kaum strukturalis—yang bisa diskemakan sebagai berikut.

Mata : Bunga — Kedip : Mekar

Predikat yang melekat dengan subjek bunga adalah kedip (berkedip) yang mana mata berkedip adalah tanda hilangnya satu nyawa. Sebuah kematian yang menyisakan duka banyak orang. Sementara bunga memiliki predikat atau verba mekar, yang seringkali dimaknai dengan keindahan. Kecantikan sering dipandang dengan bunga yang mekar karena bau harum yang akan tercium. Terlepas bentuk Izrail yang sebenarnya, sosok yang ditawarkan Danarto ini cukup mengubah citra Izrail yang menakutkan.

Ini adalah bentuk penafsiran baru Danarto tentang dunia selanjutnya, dunia kubur dan akhirat. Apa yang ditawarkan Danarto dalam karyanya ini adalah pengungkapan bahwa dunia gaib tidak selamanya identik dengan wajah yang sudah digambarkan banyak tokoh keagamaan. Sebut lagi contoh, adalah akhir perjalanan sang aku-lirik di dalam cerpen ini. Sangat tidak terduga. Dengan diselingi kabut tebal pertanda begitu rahasia dan tertutup, rupa surga—sepenafsiran saya, ternyata tidak dipenuhi bidadari-bidadari atau dayang-dayang dari Kahyangan. Yang hadir di sana adalah keluarga sang aku-lirik yang terdiri dari istri dan anak-anaknya. Memang tidak bisa dipungkiri, dan lagi-lagi memang beralasan, keluarga lah yang menjadikan hidup lebih berarti, lebih sedap dan menyenangkan. Kira-kira itulah bentuk surga, berkumpul dengan keluarga di alam fana.

Akhirnya, dapat saya temukan relasi judul (lead) dengan tubuh cerita (story). Saya dapat mengait-kelindankan hubungan keluarga ini dengan judul cerpen itu sendiri. Jantung Hati, dalam bahasa sehari-hari memang identik dengan putra atau putri kita. Barangkali cukup menjebak pada awalnya, dengan judul Jantung Hati, ditambah lagi dengan sebab meninggalnya tokoh utama, aku-lirik, karena penyakit jantung, seolah menjelaskan bahwa kematian itu adalah jantung kehidupan itu sendiri. Kematian adalah proses lahirnya putra yang kita idam-idamkan. Kelahiran dunia baru, dunia penuh rahasia yang kita harapkan sebelumnya. Namun pada kenyataannya, Jantung Hati memang bermakna secara literlek sebagai putra atau keluarga, bagaimana pentingnya arti keluarga. Sehingga di dalam “surga” pun keluarga dihadirkan untuk mendampingi. Dengan demikian, proses penempuhan alam kubur itu adalah perantara untuk memahami hal tersebut.

Budi Darma

Budi Darma

Sementara, beralih pada karya Budi Darma, Krematorium Itu untukku, dalam buku kumpulan Laki-Laki Lain dalam Secarik Surat (2008), Budi Darma memberikan saya perjalanan yang melelahkan, untuk menemukan inti cerita tentang kematian. Tokoh utama yang juga digayakan dengan aku-lirik, mengeksplorasi banyak hal tentang tentang hal-hal yang berelasi dengan persoalan sosial. Misalkan pekuburan, yang menjadi peristirahatan terakhir, tidak mendapat perhatian penuh pemerintah. Lahan-lahan tempat berbaring orang mati itu menjadi wilayah kekuasaan kaum miskin untuk mengais nafkah.

Tokoh utama, aku-lirik, diceritakan sebagai pemuda yang sakitnya belum pulih benar. Dia sedang menunggu pemakaman ayah sahabatnya. Lama dia berdiam di pekuburan, sampai akhirnya dia tahu bahwa ayah sahabatnya itu tidak dimakamkan melainkan dikremasi. Akhirnya, dibantu anak-anak kecil pencari nafkah di kuburan, dia menuju krematorium untuk menjemput takdirnya di sana; di bakar hidup-hidup. Itulah secara sekilas gambaran cerita ini.

Cerita ini penuh sosok-sosok manusia ganjil, aneh, amoral dengan gaya penceritaan yang kadangkala absurd, kendati Budi Darma juga menyodorkan problematika sosial yang sedang berkembang semisal legalisasi tempat pelacuran oleh pemerintah kota dalam suatu kawasan. Sehingga bisa jadi, perkuburan pun menjadi alternatif transaksi seksual dan persetubuhannya.

Sedangkan dari sudut memaknai kematian, Budi Darma menciptakan dikotomi muda dan tua. Dia memaparkan bahwa sikap manusia menangapi kematian seseorang tergantung pada umurnya. Apakah dia mati muda atau tua. Hal ini bisa dieksplorasi dalam kalimat berikut.

Dan setiap orang muda mati pasti dia ditangisi sejadi-jadinya. Dan kalau yang mati orang yang sudah tua yang sudah tidak dibutuhkan tenaganya, yang hanya menjadi beban orang lain saja karena sudah tidak mampu lagi bekerja, tak akan banyak orang yang menangisi (Darma, 2008: 03).

Dan rupa-rupanya orang-orang yang mengiringkan jenazah ini tidak menunjukkan rasa duka. Yang meninggal pasti bukan orang yang masih muda (Darma, 2008: 03).

Jikalau demikian, pemahaman yang ada dari teks tersebut di atas, adalah orang yang mati muda lebih meninggalkan duka ketimbang orang mati tua, karena dianggap memang sudah seharusnya mati. Dengan demikian, kita juga menemukan oposisi sejajar di sini atau homologi empat terma, yaitu:

Tua : muda — tidak ditangisi : ditangisi

Danarto pun, meski tidak menjadikannya tema utama dan hanya sekedarnya saja menuliskannya di paragraf pertama, menceritakan tentang kehilangan keluarga sang tokoh utama karena dia masih muda. Seperti yang tertulis dalam kalimat [Mereka seperti tidak percaya bahwa hari ini tubuh saya yang masih segar dimasukkan ke liang lahat. Mereka sangat kehilangan karena kepergian saya yang tiba-tiba dalam usia muda (Danarto, 2008: 07)]. Meskipun demikian, dua oposisi ini masih perlu dipertanyakan bilamana melihat konstruksi kalimat majemuk di dua paragraf cerpen Krematorium Itu untukku di atas. Seolah-olah oposisi ini akan hancur jika orang tua yang mati itu masih dibutuhkan tenaganya, tidak menjadi beban. Dengan demikian homologi empat terma ini pun mengalami substitusi, sebagaimana berikut.

Lemah : Kuat — Harus Mati : Jangan Mati

Secara keseluruhan, substitusi ini sebenarnya adalah model pemaknaan ulang terhadap runtutan cerita di mana tokoh utama ini akhirnya pun dibakar hidup-hidup di dalam krematorium itu bersama jasad ayah Corie. Dan disebutkan sejak awal, bahwa dengan keadaan dia yang masih belum pulih, pucat dan kurang sehat dia, diceritakan, dipandang orang dengan aneh. Apalagi umpatan-umpatan yang keluar dari penjaga krematorium yang membuatnya naik darah, dan meludahi wajah sang penjaga berulang-ulang. Juga, ketika dia sedang diusung ramai-ramai untuk dibakar, salah seorang sahabatnya berteriak bahwa dia sedang sakit. Hingga hemat penulis, sosok tua atau muda pun bukan masalah besar karena orang meninggal, dia akan ditangisi atau tidak berdasarkan dia mampu memberikan kenangan manis bukan beban. Pun tidak memandang dia tua ataupun muda, yang seharusnya meninggal jika memang harus ada, adalah mereka yang lemah dan tertindas.

Epilog

Dua karya berbeda dengan sastrawan yang beda karakter tentu akan menghasilkan karya yang berbeda meski tema yang diangkat secara umum sama. Penulis bisa klasifikasikan kematian diangkat kedua sastrawan sebagai peristiwa sebelum dan setelah. Memang jelas, dengan kematian sebagai keniscayaan universal memiliki ragam proses dan kesudahan. Bila Danarto menyederhanakan imaji-imaji perjalanan alam kubur dengan mendalam yang estetis, Budi Darma dengan model cerita yang abnormal dan kadang cenderung absurd, baik tokoh atau alur cerita lebih menekankan pada realita sosio-kultural masyarakat. Lebih-lebih perihal dominasi kaum-kaum elit dan kesengsaraan kaum bawah.

* Mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris UIN Malang. Kontributor Blog Tongkrongan Budaya (TB) wilayah Malang.

Tulisan ini sekedarnya, meski tidak mengada-ada. Berikut adalah puisi Moehammad Zaini tentang “kematian”—jika memang itu yang dimaksud.

PAGI DI MATA YANG REDUP

Pagi di mata yang redup

Sepasang sandal melintas di tatapannya

Tubuh kumuh berbicara

Terseret-seret di langkah lunglai

Bocah itu dengan tanah apa beda

Tubuh terbungkus hitam

Sengatan matahari

Bercerita sepanjang jalan

Tentang doa yang bisu

Mata yang kabut

Oleh darah dan tanpa arah

Luka-luka kerikil

Dan pagi lenyap

Tertimbun di kuburan tua.

Yogyakarta, 18-10-2008

About these ads

11 Komentar

  1. langitjiwa said,

    slmt mlm,mas
    bagaimana khbrnya,hehe..

  2. Puspita W said,

    Sebelum kita mati,
    Kita harus menyiapkan warisan dalam arti sebenarnya bukan dalam bentuk materi semata,
    Karena bila saatnya tiba …. kita tidak bisa menawarnya.
    Salam kenal mas.

  3. Kang Nur said,

    berhenti jantungnya.. lalu tubuh dikubur, dimakan cacing

  4. Abdul Rojak said,

    tadinya saya pikir senjakala kematian Danarto dan Budi Darma adalah akhir dari kematian pengarang atau karya mereka, tapi setelah dibaca tentang tema kematian yang dibuat oleh danarta dan budi darma. Mau bikin judul nyentrik tapi salah kaprah.

    • Sri Nur Aeni said,

      Itulah fungsinya judul. Penasaran kan?

  5. Sri Nur Aeni said,

    Semoga Pak Danarto Cepat Sembuh. Nulis lagi dan lukis lagi ya, Pak. Maafkan saya lama tidak menghubungi Bapak lagi. Salam dari suami dan si kecil di pontianak.

  6. Sri Nur Aeni said,

    Cepat sembuh ya, Pak. Sedih rasanya hati saya, tapi tidak bisa menghubungi lagi lewat hp.. Saya dan keluarga berdoa untuk kesehatan Pak Danarto. Amin.

  7. dea said,

    keren n mantap sekali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: