Sair Sajak Edi Slenger (1)
NARASI XIX
(Sangsi)
Tidakkah kau saksikan
Burung-burung di atas gereja
Itu memeram rindu semisal
Aku yang kau tinggalkan dengan
Puisi tak jadi lantaran sebuah kata
Yang lupa aku rangkai
Namun entah mengapa kudapati jawabmu
— Takada seekor burungpun yang kusaksikan
di atas gereja itu —
Malang, 2007
NARASI XX
Gugur layu bunga
: Kemarau berdendang
di penghujung waktu
Malang, 2007
NARASI XXI
Bulan sabit di pinggir telaga
Mengeram kejora di kening ibu
Taukah kau? Kau tak menjawab
Malah berpaling ke semak-semak
Lalu beranjak
Malang, 2007
NARASI XXII
Gerimis di luar itu
Kini berganti hujan
“Ya berganti hujan, hujan
kata namanya” kemudian
menulis dauanan di halaman
bersama diammu
Malang, 2007
NARASI XXII
Hujan yang rintik menulismu pada
Daunan yang mengering, padahal
Tak kemarau
Kaupun memulainya dengan kuncup
Lalu kembang tanpa bertanya tentang layu
Malang, 2007
*Edi Slenger, lahri di Madura 1986, mahasiswa Aktif Studi Bahasa dan Sastra Inggris UIN Malang. Pegiat di sanggar sastra “Tinta Langit Malang”, Teater K2 UIN Malang. Publikasi Karya: Puisi “Nyanyian Ibu” (Koran Harian Malang Post), Puisi “Pijar Sabda” (Juara 1 Lomba sajak UIN Malang), Puisi “Perjalanan 1” (Majalah sastra el-Madani). Puisi “Narasi dan Kidung Senja” (Koran Harian Surya) Email: edislenger@telkom.net
Sajak Dan Anggapan Umum
Oleh: Edi Slenger*
Puisi bukanlah pameran sengkarut imaji atau sulapan bunyi, melainkan rangkaian sari
bening kata yang di suling dari dunia sehari-hari (osip mandelstam)
Berbicara tentang sebuah sajak memang tidak akan terlepas dari nilai-nilai ke indahan (estetik) sebab ia lahir dari kesunyian jiwa, rasa, hati seorang penyair, namun terkadang hal itu atau bahkan sudah lumrah dan nota bene-nya dijadikan streotipe bahwa sajak haruslah estetik (bahasa yang indah), jadi tidak heran ketika ada pemula yang menulis sebuah sajak dengan bahasa melangit ataupun yang terbiasa walaupun pada kenyataannya (esensi) kandungan atau nilai (pesan) yang akan disampaikan tidak sampai ketangan para pembaca dikarenakan semraut bahkan terlalu mendayu-dayu, hingga pembaca sendiri kebingungan menangkap apa yang disampaikan oleh si penulis.
Angapan umum (common sense) pada sajak disini sering dibuat pijakan hampir oleh mayoritas kalangan yang memahaminya secara parsial, ialah bahwa bahasa sajak harus indah. Dan anggapan ini adalah salah, seperti yang di ungkap oleh Abdul Hadi W. M. “Salah satu anggapan umum yang keliru mengenai sajak ialah bahwa bahasanya mesti indah ungkapannya atau dapat mengguncangkan pembaca. Maka tidak jarang penulis memenuhi sajaknyua dengan ungkapan atau kata-kata berbunga atau memenuhi dengan citraan-citraan liar. Padahal yang disebut pengucapan indah dalam sajak ialah terletak pada ketepatan dan ketajaman daya ucapnya dalam menghidupkan gagasan, perasaan atau suasana puitik”. Baca entri selengkapnya »






