Sair Sajak Edi Slenger (1)
NARASI XIX
(Sangsi)
Tidakkah kau saksikan
Burung-burung di atas gereja
Itu memeram rindu semisal
Aku yang kau tinggalkan dengan
Puisi tak jadi lantaran sebuah kata
Yang lupa aku rangkai
Namun entah mengapa kudapati jawabmu
— Takada seekor burungpun yang kusaksikan
di atas gereja itu —
Malang, 2007
NARASI XX
Gugur layu bunga
: Kemarau berdendang
di penghujung waktu
Malang, 2007
NARASI XXI
Bulan sabit di pinggir telaga
Mengeram kejora di kening ibu
Taukah kau? Kau tak menjawab
Malah berpaling ke semak-semak
Lalu beranjak
Malang, 2007
NARASI XXII
Gerimis di luar itu
Kini berganti hujan
“Ya berganti hujan, hujan
kata namanya” kemudian
menulis dauanan di halaman
bersama diammu
Malang, 2007
NARASI XXII
Hujan yang rintik menulismu pada
Daunan yang mengering, padahal
Tak kemarau
Kaupun memulainya dengan kuncup
Lalu kembang tanpa bertanya tentang layu
Malang, 2007
*Edi Slenger, lahri di Madura 1986, mahasiswa Aktif Studi Bahasa dan Sastra Inggris UIN Malang. Pegiat di sanggar sastra “Tinta Langit Malang”, Teater K2 UIN Malang. Publikasi Karya: Puisi “Nyanyian Ibu” (Koran Harian Malang Post), Puisi “Pijar Sabda” (Juara 1 Lomba sajak UIN Malang), Puisi “Perjalanan 1” (Majalah sastra el-Madani). Puisi “Narasi dan Kidung Senja” (Koran Harian Surya) Email: edislenger@telkom.net







Sekolah Pramugari berkata,
30 Maret , 2009 pada 12:01 pm
Selamat Malam… Salam Kenal dari Balikpapan… Boleh bertukar link..?
TB: Boleh…silahkan. Trims
don berkata,
21 April , 2009 pada 5:53 am
yang laen mana?koq cuman segi2?caranya byar puitis gmn?byar cewek2 pada nempel…..hehehehe
Nongkrong berkata,
21 Mei , 2009 pada 3:04 pm
Itu salah satunya mas Don…
Colenk berkata,
19 Mei , 2009 pada 4:04 pm
ma’ ageye obu’ a bul jembul….