Muhammad Yang Telah Hilang
Oleh: Muhammad Zaini
Aku merindukanmu oh, Muhammadku
-Musthafa Bisri
Aku merindukanmu oh, Muhammadku
Sepanjang jalan kulihat wajah-wajah yang kalah
Menatap mataku yang tak berdaya
Sementara tangan-tangan perkasa terus mempermainkan kelemahan
Air mataku pun mengalir mengikuti panjang jalan
Mencari-cari tangan lembut wibawamu
Dari dada-dada tipis papan
Terus kudengar suara serutan derita mengiris berkepanjangan
Dan kepongahan tingkah meningkah
Telingaku pun kutelengkan berharap sesekali mendengar merdu menghibur suaramu
Aku merindukanmu
Oh, Muhammadku
Ribuan tangan gurita keserakahan menjulur-julur kesana-kemari
Mencari mangsa memakan korban
Melilit bumi meretas harapan
Akupun dengan sisa-sisa suaraku mencoba memanggil-manggil
Oh, Muhammadku
Oh, Muhammadku
Dimana-mana sesama saudara saling cakar berebut benar sambil terus berbuat kesalahan
Qur’an dan sabdamu hanyalah kendaraan masing-masing mereka yang berkepentingan
Akupun meninggalkan mereka
Mencoba mencarimu dalam sepi rinduku
Aku merindukanmu oh, Muhammadku
Sekian banyak Abu Jahal Abu Lahab
Menitis ke sekian banyak ummatmu
Oh, Muhammadku
Shalawat dan salam bagimu
Bagaimana melawan gelombang kebodohan dan kecongkakan yang telah terkayakan
Bagaimana melawan ummat sendiri
Oh, Muhammadku
Aku merindukanmu
Oh, Muhammadku
Aku sungguh merindukanmu
1416
Kita masih akan mendengar dendang kerinduan kepada Muhammad yang menggema di sound-sound masjid. Kita masih akan mendengar sejarah perjuangan Muhammad dalam membangun Islam di bangku sekolah sampai kampus-kampus. Akan tetapi dalam puisi Musthafa Bisri ini, Muhammad tak ada lagi, Ia lenyap dari pori-pori kehidupan manusia, Ia telah terbuang dari cara berpikir manusia, Muhammad hanya menjadi kerinduan atas ketiadaannya.
Kerinduan dalam puisi ini sebenarnya bukan keinginan akan kembalinya Muhammad ke dunia, tetapi sebagai bentuk harapan dari kekecewaan yang sangat mendalam. Manusia memang masih bersyahadat bahwa Muhammad adalah utusan Allah di muka bumi untuk menghilangkan prilaku jahiliyah, akan tetapi syahadat mereka tidak terejawantahkan dalam kehidupan. Hal itu disaksikan oleh Bisri, “Sepanjang jalan kulihat wajah-wajah yang kalah / Menatap mataku yang tak berdaya / Sementara tangan-tangan perkasa terus mempermainkan kelemahan.” Apa agama para koruptor di Indonesia? Mereka beragama Islam, akan tetapi cara berpolitiknya tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Belum lagi, jika kita melihat kenyataan bahwa yang berperilaku buruk dalam bernegara adalah dari kalangan ‘alim ulama’, saling mengkafirkan di antara mereka dengan berlandaskn al Qur’an dan al Hadits demi kepentingan pribadi, “Dimana-mana sesama saudara saling cakar berebut benar sambil terus berbuat kesalahan / Qur’an dan sabdamu hanyalah kendaraan masing-masing mereka yang berkepentingan.” Setelah sampai pada puncak kepemimpinan, mereka (ulama’) tidak amanah pada apa yang menjadi tugas mereka. Miris.
Muhammad, dalam pandangan penyair, sudah tidak ada lagi dalam diri “umat muslim”, walaupun sembari “Telingaku pun kutelengkan berharap sesekali mendengar merdu menghibur suaramu.” Di tengah-tengah keputusasaannya, penyair tetap berusaha memuaskan kerinduannya, “Akupun dengan sisa-sisa suaraku mencoba memanggil-manggil / Oh, Muhammadku / Oh, Muhammadku”, pada akhirnya penyair menyerah “Akupun meninggalkan mereka,” dan “Mencoba mencarimu dalam sepi rinduku.”
Puisi ini menjadi kerinduan akan keadilan di tengah-tengah generasi yang tanpa moral yang merupakan reinkarnasi utuh dari “Sekian banyak Abu Jahal Abu Lahab / Menitis ke sekian banyak ummatmu”, Muhammad menjadi ketiadaan yang sangat dirindukan, “Oh, Muhammadku / Aku sungguh merindukanmu”
12 Januari 2011







Watch The Cape berkata,
11 Maret , 2011 pada 12:06 pm
Mantab tuh puisinya, penuh makna,,,!
akhmad muhaimin azzet berkata,
2 Juli , 2011 pada 2:13 am
Puisinya baguuusss…. ulasannya juga oke….
Salam kreatif dan selamat terus berkarya ya…