<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Budidaya Budaya &#187; Linguistik</title>
	<atom:link href="http://tongkronganbudaya.wordpress.com/category/linguistik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tongkronganbudaya.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 08 Oct 2009 18:10:52 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='tongkronganbudaya.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/41b4845e44081f6e1701e726b63a174e?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Budidaya Budaya &#187; Linguistik</title>
		<link>http://tongkronganbudaya.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Kepribadian dalam Tuturan Bahasa Jawa</title>
		<link>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2009/04/12/kepribadian-dalam-tuturan-bahasa-jawa/</link>
		<comments>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2009/04/12/kepribadian-dalam-tuturan-bahasa-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Apr 2009 14:30:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nongkrong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Linguistik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tongkronganbudaya.wordpress.com/?p=108</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Laine Berman*
University of Hawaii

Abstrak:

Makalah ini bermaksud menganalisa wacana sehari-hari (sesrawungan sakdina-dinane) untuk memahami bagaimana wong cilik mewujudkan makna di dalam konteks lokal, dan di dalam sistem masyarakat yang sampai kini masih serba tidak adil, meski sudah jaman &#8220;reformasi&#8221;. Dengan menerapkan teori-teori konstruksi sosial (social constructionism), analisis saya mencerminkan bagaimana sekelompok wong cilik, yaitu tenaga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=108&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Oleh: Laine Berman*</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><strong>University of Hawaii</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><strong>Abstrak:</strong></p>
<blockquote>
<p style="margin-bottom:0;">Makalah ini bermaksud menganalisa wacana sehari-hari (<em>sesrawungan sakdina-dinane</em>) untuk memahami bagaimana wong cilik mewujudkan makna di dalam konteks lokal, dan di dalam sistem masyarakat yang sampai kini masih serba tidak adil, meski sudah jaman &#8220;reformasi&#8221;. Dengan menerapkan teori-teori konstruksi sosial (<em>social constructionism</em>), analisis saya mencerminkan bagaimana sekelompok wong cilik, yaitu tenaga kerja wanita dari kota Yogyakarta, mewujudkan identitasnya melalui penggunaan Bahasa Jawa. Untuk tujuan ini, saya menggunakan teori <em>agency </em>, yaitu tanggungjawab pribadi terhadap apa yang dituturkan, kepada lawan bicara, dan siapa yang dibicarakan, yang semuanya dicerminkan dalam wacana. Tampak dari analisis ini bahwa kelompok tersebut menkonstruksikan diri sendiri sesuai dengan hierarki sosial yang berlaku, yang memaksakan mereka nrima ketidakadilan yang dihadapi. Mereka nrima karena memang tidak ada jalan keluar. Hal ini tidak mengherankan bagi mereka yang paham budaya Jawa dan sistem kekuasaan Orde Baru. Namun yang hendak saya tekankan di sini adalah bahwa wong ciliknya sendiri merelakan dirinya tertindas, bahkan memuliakan kebungkaman itu terhadap yang dianggap &#8216;nasib&#8217;. Penindasan ini adalah penindasan psikologis internal dan kepribadian wong cilik tersebut terwujud oleh kebiasaan ini. Karena begitu terbiasa tertindas (yang terwujud dalam struktur &#8220;sopan santun&#8221;), posisi ketidak berdayaan (disempowered) ini juga muncul dalam bahasa ngoko yang sering dianggap kasar, tidak sopan, dan tidak mencerminkan hormat. Hal ini akan saya buktikan dari segi fungsi bahasa dan tidak sekedar struktur (krama, krama inggil, dan sebagainya), yang sampai sekarang masih menguasai analisa Bahasa. Tujuan lain dari makalah ini adalah untuk memperkenalkan pendekatan yang saya pakai, yaitu antropologi linguistik, yang sejauh saya ketahui, belum umum digunakan di dalam bidang akademis maupun penelitian di Indonesia.</p>
</blockquote>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><strong>Pembukaan :</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Analisis wacana yang dipergunakan di sini dimulai dengan merekam dan mentranskripsikan bahasa sehari-hari yang secara alami muncul dari sekelompok perempuan yang bekerja di suatu pabrik di Kota Yogyakarta. Tujuan saya dengan analisis ini adalah menggambarkan bagaimana kelompok tersebut mewujudkan makna dalam konteks lokal. Yang penting di sini adalah penggunaan bahasa sehari-hari,pergaulan manusia yang muncul tanpa tanya-jawab, tanpa intervensi peneliti. Teori yang dianut oleh analisis wacana (dari segi antropologis linguistik dan analisis wacana kritis) menegaskan bahwa bahasa adalah sumber budaya dan wacana adalah praktis budaya. Melalui bahasa, budaya diciptakan, diberi arti, dipelajari, dibentuk, dan direproduksi. Melalui bahasa kita menegakkan hubungan antara sistem budaya dan berbagai bentuk tatanan sosial. Kita juga bisa melihat secara langsung keberadaan (posisi) sekelompok manusia di dalam tatanan sosial tersebut, dan pengertian mereka terhadap dunia/lingkungan sekelilingnya.<span id="more-108"></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Interaksi sosial merupakan sarana pokok bagi masyarakat untuk menafsirkan peristiwa-peristiwa sehari-hari dan menggunakan makna tersebut sebagai sumber pemahaman terhadap berbagai kegiatan, baik yang penting maupun yang sepele. Kita semua disosialisasikan melalui bahasa. Percakapan tidak terpisah dari interaksi sosial, kebudayaan, dan kepribadian. Analisa perilaku manusia seharusnya memperhatikan struktur dan fungsi percakapan yang muncul bersamaan dengan apa yang sedang ditelusurinya. Namun dalam kenyataan dan dalam teori bahasa, posisi kekekuasaanlah yang mendominasi. Sangat terbukti ada berbagai hal yang mampu membentuk atau mengontrol bahasa. Siapa yang menguasai bahasa, juga menguasai makna kehidupan.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Selain memperluas pengetahuan kita terhadap Basa Jawa, tujuan makalah ini adalah untuk membuka kesadaran terhadap masalah kekuasaan dalam bahasa dan nota bene terhadap kepribadian pembicara di bawah beban kekuasaan tersebut. Menurut teori analisa wacana, setiap sosok manusia adalah ahli bahasa (sangat bertentangan dengan teori Chomsky). Maksudnya, kita tidak usah menelaah atau mengecam kemampuan (competence) berbicara seseorang, tetapi menerima apa saja yang diucapkan olehnya sebagai ucapan yang baik, benar, sempurna dan bahkan brilian di dalam konteks aslinya. Lebih penting lagi, dengan teori ini, fokus analisa digeser dari kalimat dan tata bahasa bahasa baku di luar konteks, kepada pembicara dan ucapannya yang tidak dipisahkan dari konteks. Ucapan manusia jelas sangat tergantung pada konteks untuk produksi dan tafsirannya. Tujuannya jelas bukan untuk menggolongkan tingkat tutur atau mengkoreksi bahasa supaya baik dan benar, melainkan untuk memberdayakan pembicara sebagai makluk yang uwis dadi uwong. Dengan kata lain, tujuannya adalah untuk melihat bagaimana mereka menafsirkan keperluan sosial sekelilingnya. Secara struktural, dapat dibuktikan bahwa setiap ucapan membentuk atau membatasi ucapan berikutnya. Contohnya, sebuah pertanyaan mesti diikuti oleh sebuah jawaban yang pantas. Kita bisa yakin bahwa pertanyaan &#8216;apa kabar&#8217; tidak akan dijawab dengan &#8216;belok kiri&#8217;.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Secara fungsional, percakapan juga tersusun secara teratur oleh pembicaranya sendiri. Penataan ini merupakan sumber analisa yang mencerminkan bagaimana pembicara sendiri menafsirkan percakapan yang sedang muncul sesuai dengan norma-norma sosial-budaya yang juga membentuk wacananya. Misalnya peraturan bicara, siapa yang bicara, apa yang bisa dibicarakan, siapa yang berhak bicara lebih banyak, dan lain lain. Melalui analisa ini, bisa ditemukan apa yang harus diketahui atau diikuti agar seseorang mampu bertindak sebagai anggota masyarakat itu.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Menurut para pakar psikologi-sosial dan wacana yang meneliti dalam bahasa Inggris saja, sang pembicara menjelaskan pengertian pribadi secara tata bahasa dalam tindakannya dengan kata ganti &#8217;saya, aku&#8217; atau &#8216;kita, kami&#8217; (O&#8217;Connor, 1994, 1995; Mühlhäusler &amp; Harré, 1990). Tetapi, apakah teori ini masih berlaku dalam masyarakat yang menganggap seseorang yang berbicara tentang dirinya sendiri sebagai orang yang egois? Yang menjadi pertanyaan utama kini, apakah teori-teori barat tentang kepribadian ini bisa juga berlaku dengan sebuah bahasa yang tidak memerlukan ucapan subyek dan kata ganti? Lebih dahsyat lagi, apa sebetulnya diartikan oleh tradisi bahasa yang justru sangat menghargai ucapan yang menutupi subjek maupun jatidiri?</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><strong>Tanggungjawab dan </strong><em><strong>agency </strong></em></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Di Jawa, bahasa dan kepribadian semuanya terkait erat dengan hierarki sosial. Melalui makalah ini saya hendak berusaha menggambarkan bagaimana sekelompok perempuan meng’konstruksikan’ dirinya sendiri sesuai dengan keperluan konteks sebagai kontrak sosial yang terbentuk oleh hierarki tersebut. Keterkaitankepribadian dan hierarki sosial ini digambarkan dalam struktur wacana, dan dengan berbagai macam keterangan yang diucapnya. Kontrak sosial ini, yang mengikat perspektif diatas kepada kepribadian dan makna yang dibentuk oleh sekelompok pembicara, saya sebut <em>agency  bertanggungjawab</em>.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Dalam definisi barat, <em>agency </em>adalah hak pembicara untuk melaksanakan keperluannya sehari-hari sebagai individu, yang jelas tidak berlaku dalam masyarakat Jawa. Dalam tulisan feminis, konsep <em>agency </em> disesuaikan kepada keperluan sosial perempuan. <em>Agency </em> di sini berarti &#8220;kemampuan pembicara untuk membuat makna di dalam interaksi sosial bersama orang lain&#8221; (Mahoney and Yngvesson, 1992:45).</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Dengan pergeseran definisi ini, kita bisa mengaitkan <em>agency</em> kepada hubungan hierarkis dan tindakan strategis, yaitu merendahkan diri (andhap asor), suatu sikap yang esensial di Jawa. Tetapi teori ini masih belum mampu menjelaskan kebungkaman (Berman, 1998), dan cara Jawa yang mengutamakan kompromi daripada kejayaan hak ataupun keperluan individu. <em>Agency </em>harus berbenturan dengan norma-norma social perempuan Jawa yang berkaitan dengan tanggungjawabnya kepada komunitas. Seperti ditulis N. Sullivan (1994), komunitas memaksakan norma-norma sosial kepada sang perempuan, jadi kita harus memahami bagaimana sang perempuan membatasi <em>agency </em>nya sendiri. Tindakan nrima, dalam teori ini, bisa dipahami sebagai pilihan individu yang rasional dan logis. Dalam konteks ini, berarti subyek dan kegiatan social makin luas, rumit, dan peka terhadap norma-norma sosial di Jawa.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Karena penelitian saya berdasar kepada wacana, saya menggeser definisi <em>agency </em>lagi supaya menyinggung pilihan pembicara untuk bertanggungjawab kepada makna dan kerukunan yang sedang dikonstruksikannya pada saat bercakap-cakap. Penjelasan ideologis mengenai budaya Jawa selalu mengutamakan keperluan untuk menjelaskan sapa wonge dengan segala macam nilai relasional. Dalam penuturan yang saya analisa, bisa dilihat bahwa hubungan sosial memang sangat berperan sebagai faktor struktural yang membentuk penuturan, pilihan bahasa, serta pengalaman dan identitas pembicara. Kepekaan terhadap faktor kontekstual yang diutamakan oleh orang Jawa bisa dilihat melalui bermacam-macam &#8217;subjek&#8217; yang muncul, tergantung keperluan atau tekanan konteks. Maka, keterbatasan <em>agency </em> yang muncul di dalam sebuah konteks menunjukkan betapa luas faktor sosial yang terlibat di dalam setiap ucapan yang keluar dari mulut orang Jawa. Oleh karena soal ini, saya sendiri lebih suka memakai istilah <em>agency </em> bertanggungjawab karena di dalam masyarakat hierarkis, wacanalah yang paling penting sebagai siasat untuk membentuk maupun melawan ketidak berdayaan.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Dengan mempelajari wacana dan bagaimana wong cilik menunjukkan keanggotaannya di antara kelompok yang terpinggirkan, kita tidak bisa mengelakkan aspek relasional yang sangat kuat dan selalu menekankan kepribadian sesuai dengan keperluan konteks maupun komunitas. Ketergantungan komunal menekankan kerukunan, yang dilestarikan melalui <em>agency  bertanggungjawab</em>. Dengan kata lain, <em>agency </em>bertanggungjawab merupakan keperluan dasar agar hubungan berdominasi bisa dilestarikan dari dalam komunitas itu sendiri. Maka, dalam jaman yang disebut reformasi ini, dengan analisa yang menyadari masyarakat terhadap pembentukan pemahaman dan kepribadian di dalam kelompok tertentu, <em>agency </em>membantu kita untuk mengerti hambatan-hambatan terhadap perkembangan suatu masyarakat demokratis.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Makalah ini mencoba menjelaskan bagaimana kebutuhan sosial perempuan dicerminkan melalui struktur wacana yang muncul dalam interaksi sosial. Tuturan yang berfungsi ganda ini disebut penuturan percakapan, yang mencerminkan serta mewujudkan posisi sosial para pembicara di dalam konteks lokal, komunitas sekeliling, serta masyarakat. Di dalam budaya Jawa, sudah lama sekali diakui hubungan antara bahasa dan kontrol sosial, khususnya melalui tingkat tutur yang menjamin kerukunan, ketertiban, dan kehalusan. Kerukunan sosial adalah persetujuan moral serta etika yang menjamin tata tenterem yang</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">menempatkan kepentingan tatanan sosial lebih tinggi daripada kepentingan pribadi. <em>Agency </em>bertanggungjawab bisa menembus penjelasan suci yang melegitimasikan ketidakadilan. Selain itu, teori ini bisa menyadari kita akan percakapan sehari-hari sebagai kegiatan untuk menempatkan tanggungjawab pada yang paling tidak berdaya (lihat juga bahasa pejabat). Percakapan dalam kawasan wong cilik itu tidak menyampaikan permaknaan dan keinginan pribadi, tapi lebih berperan sebagai sistem pengendalian sosial.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Dengan latar belakang ini, makalah saya berusaha membuktikan bahwa pengertian resmi tentang interaksi sosial a la Jawa harus diperluas supaya meliputi konteks dan bahasa sehari-hari serta berbagai implikasi ketidakadilan yang terkandung di dalamnya.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><strong>ANALISA</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Wacana yang muncul bersumber dari percakapan yang dianalisa dari beberapa situasi sosial asli di Yogyakarta, antara tahun 1992 hingga 1993. Waktu itu, saya sedang merekam percakapan sehari-hari di dalam lingkungan kekeluargaan selama 2 tahun. Sari, yang berumur 26, adalah anak perempuan kedua di rumahtangga itu. Di adegan pertama, Sari sedang berbicara dengan Sigah dan Endang, teman sepabrik garmen itu. Di adegan kedua, Sari sedang berbicara dengan mbakyune Atik dan seorang tetangga. Yang menarik di sini adalah bagaimana Sari membentuk tuturannya tergantung perubahan peranan sosialnya.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Dalam konteks ini, topik yang sedang dibicarakan adalah pengalaman kerja di pabrik garmen. Setelah kerja hanya beberapa minggu, tiba-tiba gaji buruh perempuan dipotong drastis dan kerja lembur dan masuk 7 hari seminggu langsung dipaksakan. Karena tekanan ekonomi, buruhnya tidak berani minta keluar.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Walaupun tindakan sewenang-wenang seperti itu dilarang, undang-undang hak pekerja jarang ditegakkan. Para buruh pabrik garmen ini belum berpengalaman sama sekali dengan melakukan tindakan protes. Pada mulanya, mereka mempelajari peraturan-peraturan yang sah dan setelah lama mempertimbangkan baik buruknya, mereka mengajukan gugatan kepada DepNaker. Beberapa bulan setelah gugatan diajukan, DepNaKer disogok oleh pabrik dan kasus tersebut ditutup. Para buruh perempuan yang melakukan protes itu semua langsung di PHK, di ancam dengan tuduhan terlibat PKI, dan namanya dimasukkan ke daftar hitam. Tak satupun dapat bekerja lagi selama 2 tahun.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Adegan pembicaraan pertama memperlihatkan bagaimana pembicara bekerjasama untuk membagi tanggungjawab serta mengkonstruksikan makna. Rincian pokok yang muncul di penuturan adalah: a) menutur bersama melalui tata bahasa yang mengikati ucapannya masing-masing, b) penghindaran tanda-tanda perbedaan status seperti tingkat tutur, kata ganti, panggilan mbak, dhi, dan c) repetisi (pengulangan kata).</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Sari, teman sepabrik bernama Sigah, dan saya sedang berada di dapur Sari. Saya bertanya bagaimana pekerjaan baru mereka dan mereka menerangkan permasalahnya. Yang menarik adalah cara bicara yang serba setara. Setiap ucapan dibentuk secara harmonis padahal topik penuturan merupakan topik perlawanan terhadap suatu ketidakadilan yang mereka alami. Kita sama sekali tidak tahu apa yang dialami mereka masing-masing karena dalam penuturan, setiap pembicara membantu satu sama lain. Mereka seperti mengkonstruksikan semacam pembagian ikonis (iconic) antara tuturan, pengalaman, dan tanggungjawab:</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><strong>(1)</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">1. <strong>Sari</strong> : angger entuk akeh <span style="text-decoration:underline;">ngono ki</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">2. rada ora percaya!</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">3. dikurangi sedina meneh ki, telungatus, patangatus,</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">4. <strong>Sigah</strong>: <em><span style="text-decoration:underline;">Tapi</span></em><span style="text-decoration:underline;"> nek </span>kon protes <span style="text-decoration:underline;">ngono ki</span> mbak.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">5. <span style="text-decoration:underline;">dha wedi</span>!</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">6. <strong>Sari</strong> : Nek wong Jawa <span style="text-decoration:underline;">ngono ki</span> <em>kan</em></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">7. wedi di PHK!</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">8. <strong>Sari</strong> : <span style="text-decoration:underline;">Dadi</span> sek lawas ki <span style="text-decoration:underline;">dha metu</span> mbak,</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">9. <span style="text-decoration:underline;">ganti sing anyar</span>!</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">10. mengko sewulan rongwulan <span style="text-decoration:underline;">metu</span>.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">11. <span style="text-decoration:underline;">ganti</span> meneh !</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">12. <strong>Sigah</strong>: <span style="text-decoration:underline;">Nek</span> carane <span style="text-decoration:underline;">ngono</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">13. gajine ora di undak-undaki</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">14. <strong>Laine</strong>: nang kene <span style="text-decoration:underline;">ana</span> undang &#8211; undang lho!</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">15. <strong>Sari</strong> : <span style="text-decoration:underline;">Ana</span> ning wis &#8220;<em><span style="text-decoration:underline;">nggak mau tahu..</span></em>&#8220;</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">16. <em>&#8220;pokoknya&#8221;</em>&#8230;piye wingi kae jawabane,</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">17. <em>&#8220;peraturan </em><span style="text-decoration:underline;">itu dapat</span><em> diubah ?&#8221;</em></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">18. Ana <span style="text-decoration:underline;">peraturan</span> anyar ya ora dikeki ngerti,</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">19. ngko ngerti- ngerti wis <span style="text-decoration:underline;">ganti</span>&#8230;</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">20. <strong>Sigah</strong>: <em>Mana</em> yang diemut</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">21. <em>kalau </em><em><span style="text-decoration:underline;">peraturan-peraturan diubah-ubah!</span></em></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Fungsi bicara-bersama (<em>co-construction</em>) ini adalah pembagian tanggungjawab terhadap konstruksi dan akibat tuturan dan protes, maupun tuturan sebagai protes. Di sini para pembicara mewujudkan posisi yang inklusif. Padahal kesatuan berbicara itu hanya secara semu menutupi tidak adanya dukungan dari buruh lain:</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">4. <strong>Sigah</strong>: <em><span style="text-decoration:underline;">Tapi</span></em><span style="text-decoration:underline;"> nek </span>kon protes <span style="text-decoration:underline;">ngono ki</span> mbak.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">5. <span style="text-decoration:underline;">dha wedi</span>!</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">6. <strong>Sari</strong> : Nek wong Jawa <span style="text-decoration:underline;">ngono ki</span> <em>kan</em></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">7. wedi di PHK!</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Ucapan 4 sampai 7 menjelaskan betapa menakutkan protes itu. Tidak semua buruh terlibat protes, hanya sekitar duapuluh lima dari sejumlah kurang lebih tiga ratus buruh. Yang lain memilih <em>nrima</em> daripada protes. Padahal para pemrotes menerangkan bahwa buruh <em>padha wedi</em>. Dengan tergolong <em>wedi</em>, kita tidak bisa membedakan yang melakukan protes dari yang tidak. Yang protes berbicara seperti bertindak atas kesatuan dan untuk kepentingan semua. Sigah bilang: <em><span style="text-decoration:underline;">dha wedi</span></em>, dan Sari tambah <em>wong Jawa</em> yang takut diPHK. Posisi ‘kebersatuan’ ini menyoroti kelompok ini sebagai kesatuan, kesatuan yang dibersatukan karena sama-sama takut. Mereka tidak pernah menyebut bahwa kelompok ini memang tidak bersatu.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Kesatuan semu ini dibangun melalui wacana yang mampu memperdayakan kelompok ini &#8211; padahal juga secara semu. Dalam teks 1, kedua pembicara memfokus ucapannya kepada poin yang sama dan mengulangi kata-kata pokok. Selain itu, mereka berdua sama-sama menghilangkan rinci-rinci yang menyoroti sikap perbedaan di dalam tuturan maupun konteks sosial. Strategi yang sering muncul supaya penuturan bersama makin jelas adalah mengikat setiap ucapan kepada yang sebelumnya, sebagai mata rantai.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Sigah memakai kata tapi pada ucapan 4, yang memperlihatkan ucapannya sebagai kelanjutan dari ucapan Sari. Selain kelanjutannya, ucapan Sigah menambahi keterangan dengan mengevaluasikan anak kalimat Sari. <em>Tapi</em>, seperti <em>but</em> di dalam bahasa Inggeris, berfungsi untuk membandingkan suatu anak kalimat dengan yang sebelumnya, sambil melanjutkannya. Sari mengatakan bahwa para buruh baru kena potongan gaji lagi dan Sigah menambahkan dengan sebuah penjelasan yang sekaligus mengevaluasi ucapan Sari.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Ada lagi tanda wacana yang berfungsi khusus untuk menyatukan ucapan mereka. Sari mengatakan <em>wong Jawa ngono ki</em>, yang memakai petunjuk teks (text deictic, lihat Levinson, 1983; Berman, 1998) <em>ngono ki</em> yang menunjuk, sekaligus mengikat, topik Sari kepada yang baru disebut Sigah. Kata <em>nek</em> pada baris 4, 6, dan 12, biasanya diterjemahkan sebagai hubungan syarat tetapi mungkin lebih cocok diartikan dengan <em>sesuai dengan ini</em>… pada konteks ini. Maka, <em>nek</em> menandakan ucapan sebagai kelanjutan yang sebelumnya:</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">8. <strong>Sari</strong> : <span style="text-decoration:underline;">Dadi</span> sek lawas ki <span style="text-decoration:underline;">dha metu</span> mbak,</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">9. <span style="text-decoration:underline;">ganti sing anyar</span>!</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">10. mengko sewulan rongwulan <span style="text-decoration:underline;">metu</span>.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">11. <span style="text-decoration:underline;">ganti</span> meneh !</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">12. <strong>Sigah</strong>: <span style="text-decoration:underline;">Nek</span> carane <span style="text-decoration:underline;">ngono</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">13. gajine ora di undak-undaki</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Ucapan 6 dan 12 tidak bermakna sendiri tapi secara langsung menandakan topiknya berada di ucapan sebelumnya, maka tergantung pada ucapan lawan bicaranya untuk melengkapi maknanya. Sari memakai kata <em>dadi</em> (baris <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> yang menandakan ucapannya sebagai sebuah ide yang berhubungan erat secara kausal dengan yang baru dikatakan Sigah. Petunjuk wacana ini berfungsi khusus sebagai pengikat, di mana pemahaman dan pemaknaan terikat dan ditempatkan antar pembicara. Secara simbolis, dua pembicaramenjadi satu suara dengan membangun makna serta pengalaman bersama-sama di dalam penuturannya -sesuatu yang memang sangat lumrah dalam percakapan antar perempuan Jawa.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Setelah teman sepabrik bernama Endang datang, para buruh membicarakan peristiwa dengan bersemangat. Dari wacananya, kita tidak bisa membedakan status, pengalaman, maupun ucapan antara mereka bertiga. Semua memilih cara wacana yang setara melalui cara menceritakan peristiwa itu. Para pembicara tidak memakai kata mbak atau adik, kata ganti, atau <em>basa</em>. Ketidakberadaan simbol-simbol hierarkis seperti ini sangat bertentangan dengan adat Jawa yang seharusnya selalu menunjukkan status dan hormat (Errington, 1988; Keeler, 1984; Wolfowitz, 1991; Wolff &amp; Poedjosoedarmo, 1982:40-46). Selain kata <em>mbak</em> yang ditujukan kepada saya semata, hanya muncul dua perkecualian di dalam rekaman percakapan selama 45 menit ini. Kehadiran kata <em>mbak</em> dan <em>adi</em> membuktikan bahwa yang bicara betul-betul tahu siapa yang lebih tua dan siapa yang lebih muda, tapi mereka memilih untuk tidak memakainya dalam percakapan ini. Justru mereka bermaksud untuk tidak memecah kesatuan yang ditafsirkan mereka sebagai suatu kebutuhan di dalam konteks ini. Keberdayaan (semu) yang sedang dibangun tidak mungkin muncul melalui system bahasa baku yang didasarkan pada tingkat tutur. Jadi, daripada dianggap salah atau aneh, cara bicara ini saya anggap brilian, sebagai siasat yang secara lokal boleh dipakai untuk memberdayakan yang tertindas. Melihat konteks ini secara luas, terbukti juga bahwa penggunaan wacana ini memang satu-satunya sarana yang bisa dipakai oleh yang tertindas.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Pada tuturan 2, <em>agency </em>sebagai tanggungjawab kepada kesatuan kelompoknya juga menonjol:</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><strong>(2)</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">72. <strong>Sari</strong> : jarene &#8220;<em><span style="text-decoration:underline;">saya nggak mau tahu</span></em>&#8220;</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">73. mbayangke we sedih apa.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">74. enek, sing nglakoni [ha ha ha...]</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">75. direwangi <span style="text-decoration:underline;">nangis-nangis</span> <span style="text-decoration:underline;">ora entuk mulih</span>.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">76. <strong>Sigah</strong>: Ha.a. <span style="text-decoration:underline;">nangis</span> neng ngarep lawang,</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">77. <span style="text-decoration:underline;">ora entuk bali</span> tetepan &#8230;..</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">78. <strong>Endang</strong>: nganti jam telu</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">79. ngantek aneng kantin anu</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">80. &#8220;kowe ki seka ngendi wae ta ?&#8221;</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">81. &#8220;ngelih pak&#8221; ngono.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Dengan ucapan ini kita bisa melihat adegan di pabrik: para buruh perempuan yang lelah, lapar, dan menangis, berdiri di depan pintu gerbang yang terkunci. Bukannya diperbolehkan pulang, malah tangisan mereka dibalas dengan jawaban tegas, &#8220;saya nggak mau tahu&#8221;. Ucapan dari mulut penguasa ini sering diulangi oleh buruh sebagai simbol kebungkaman yang terpaksa mereka terima di pabrik. Dengan sering munculnya ucapan ini di dalam tuturan, bisa dilihat bahwa pembicarapun sering turut mendengungkan ucapan ini (lihat baris 15 juga). Jauh dari pabrik, mereka meminjam suara penindasan supaya bisa melawan kekejamannya (Bakhtin, 1981). Berbagai peneliti menulis bahwa dengan mengutip ucapan orang lain (<em>reported speech</em>), tanggungjawab pembicara semakin kurang terhadap ucapan tersebut (misalnya Duranti, 1993; Graham, 1993; Shuman, 1993). Namun, justru disini pembicara melakukan keterbaliknya. Dengan mengutip suara majikan yang sedang membungkamkannya, mereka memberdayakan <em>&#8216;hidden transcript&#8217; </em>(Scott, 1990), dan memperkuat suara kesatuan dan pelawanan.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Sigah mengulangi ucapan Sari (baris 76 dan 77) untuk menegakkan kebersatuan dengan Sari sambil menambahi keterangkan lokasi. Ucapan Endang (baris 78-81) memindahkan adegan kekejaman ke kantin di mana beberapa buruh sedang bersembunyi. Endang mengulangi lagi apa yang disebut di sana, sambil menjelaskan perselisihan antara penguasa dan yang tertindas. Dengan tuturan ini, sang penguasa marah karena sang tertindas meninggalkan tempat kerja.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Yang paling penting di tuturan ini adalah bahwa tidak satupun ucapan menegaskan posisi individu, karena yang terlibat sama sekali tidak dimunculkan. Setiap subjek kosong. Dengan bertutur bersama, merekasedang membangun riwayat kebersatuan di mana setiap buruh bersama-sama dikorbankan oleh ketidakadilan. Strategi (<em>agency</em>) ini menggambarkan perasaan tanggungjawab mereka secara kolektif untuk membangun solidaritas dengan menghilangkan kepribadian individu. Kepribadian masyarakat Jawa yang didasarkan pada unsur-unsur hierarki, sedang dihindari di sini sebagai unsur ketidak-berdayaannya.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Para pemrotes ini jelas tahu bahwa yang di posisikan di bawah di dalam tatanan sosial itu tidak boleh menentang legitimasi tatanan tersebut. Kaitan langsung antara partisipasi dalam sebuah perlawanan dan tanggungjawab terhadapnya berlaku kuat, yang berarti bahwa setiap sosok buruh yang berada di dalam konteks ini sama-sama bertanggungjawab atas pembentukan dan pemaknaan tuturan perlawanannya.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Mereka bertutur melalui satu suara tanpa membeda-bedakan status atau kepribadian karena mereka sangat membutuhkan kesatuan untuk menolak ketidakadilan yang tidak mampu mereka tolak. Konsekuensinya sudah sama-sama kita ketahui.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Sekarang kita akan pindah situasi untuk mendengarkan tuturan lagi tentang pabrik itu. Sari bersama dengan temannya sudah di PHK dan dituduh PKI oleh pasukan militer yang menungguinya di depan pabrik. Kira-kira dua minggu setelahnya, interaksi ini terjadi dengan mbakyunya, Atik, dan tetangganya, Yanti. Atik bekerja sebagai pegawai di sebuah SMP. Yanti, yang paling tua adalah guru SMP, dan memegang posisi paling terhormat dalam konteks ini. Kebertanggungjawaban muncul di sini sesuai dengan adat Jawa:</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><strong>(3)</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">17. <strong>Yanti</strong>: lha nggih</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">18. ning mikir awak.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">19. <strong>Sari</strong>: <span style="text-decoration:underline;">niki tha</span> gek jaman ting Taman Tirto tu</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">20. nganti nglembur niku</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">21. tekan jam loro bengi barang.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">22. <strong>Atik</strong> : <span style="text-decoration:underline;">nglembur</span> napa?</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">23. <strong>Sari</strong>: ha nek aku yo wegah.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">24. <strong>Atik</strong> : jam loro bengi!</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">25. lha kok le ngereh awak..</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">26. <strong>Sari</strong>: nek kula ngono.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">27. Mbok wis trima matur nuwun,</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">28. ha: mung ngga sepuluh ewu ta!</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">29. <strong>Yanti</strong>: ha nggih kula ta misale</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">30. tekan jam pitu ngono</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Setelah Yanti membuka topik pembicaraan, yaitu kesehatan, Sari menjelaskan bahwa dia pernah kerja lembur di pabrik garmennya sampai jam 2 malam. Posisi subjek pada baris 19 sampai 21 tidak menegaskan pengalaman pribadi, yaitu, tidak ada kata ganti orang pertama. Selain itu, Sari membuka tuturan dengan <em>niki tho</em> untuk mengikat ucapannya agar tergantung pada ucapan Yanti. Siasat ini memang biasa supaya yang berstatus rendah sedang menghormati yang berstatus tinggi. Sebagai tanda status rendah Sari, tuturan pabrik akan muncul sesuai dengan topik dan harapan yang sudah ditentukan oleh Yanti.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Hubungan kekuasaan berhierarkis masih berlaku di dalam keluarga sendiri dan dengan teman lama seperti terbukti di sini. Atik juga mengikuti topik Yanti dan geseran topik adiknya pada baris 22. Atik ulangi kata <em>nglembur</em> sambil menambahi tanda bertanya <em>nopo</em> dengan <em>basa madya</em>, yang membuktikan bahwa ucapan ini diungkapkan kepada Yanti dan bukan adiknya. Atik sedang minta ijin Yanti untuk menggeser topic kesehatan supaya juga menyentuh masalah nglembur. Yanti diam saja, berarti tidak berkeberatan.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Tuturan singkat Sari dan bagaimana dia menempatkan dirinya di dalamnya akan saya fokuskan:</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">23. <strong>Sari</strong>: ha nek aku yo wegah.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">26. <strong>Sari</strong>: nek kula ngono.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">27. Mbok wis trima matur nuwun,</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">28. ha: mung ngga sepuluh ewu ta!</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Tuturan Sari merupakan ekspresi pribadinya terhadap <em>nglembur</em> pada baris 23, &#8220;<em>ha nek aku ya, wegah!</em>&#8221; <em>Wegah</em> adalah kata yang menempatkan pembicara secara tegas. Sari memperlihatkan bahwa dia dengan tegas berhak menolak kerja <em>nglembur</em>nya. Lain dari tuturan protes di atas, posisi Sari ditegaskan melalui kata ganti pertama, <em>aku</em>, yang merupakan tanda utama <em>agency</em>nya (atau hak/kemampuan bertindak begitu).</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Di sini Sari menegakkan <em>agency</em>nya terhadap pabriknya mulai dengan baris 26, yang dilanjutkan oleh ucapannya yang sangat dramatik dan langsung menolak ketidakberdayaannya yang kita tahu sudah menimpanya di pabrik. Dengan istilah <em>trima</em> Sari menyentuh jantung alusnya wong cilik atau orang siapapun yang terpaksa ngalah sesuai dengan sistem sopan santun Jawa. Tapi perlawanannya ditandai dengan <em>Mbok</em>, sebuah penunjuk wacana yang menandai konflik pada tingkat wacana maupun konteks. Mbok menunjuk secara kontekstual bahwa penguasa pabrik mengharap kehendaknya akan diterima <em>toh</em>, dan yang keberatan akan diam saja (<em>nrima</em>). <em>Mbok</em> (irrealis= kecewa tapi tidak berdaya untuk membantah) memperlihatkan pada tingkat wacana juga bahwa ada konflik; <em>mbok</em> bertanda sarkasme yang muncul melalui ucapan yang berikutnya pada baris 28: <em>ha. mung ngga sepuluh ewu toh!</em></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Sesuai dengan struktur partisipasi, Sari menempatkan dirinya sendiri sebagai agen yang berkuasa sesuai dengan definisi <em>agency </em>barat. Padahal dia muncul sebagai agen di dalam peristiwa yang sama sekali berbeda dari yang kita lihat tadi. Sari sudah tahu bahwa Yanti dan Atik tidak pernah mengalami masalah <em>nglembur</em> seperti dia, maka dia tidak menuturkannya. Walaupun Yanti dan Atik pasti sudah tahu tentang masalah itu, Sari tidak menceritakannya karena dia tidak berani merusak kerukunan konteks. Daripada membicarakan topik yang sudah diketahui tetapi tidak dialami orang lain, Sari harus mengutamakan apa yang bersama antara anggota kelompok sosial ini. Maka Sari berbicara sebagai seorang yang juga menghadapi persoalan kantor yang bisa diatasi.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Penelitian partisipasi (barat) biasanya dimulai dengan golongan kepribadian yang terikat pada kata ganti, karena kata ganti tersebut dianggap petunjuk <em>agency </em>utama (Mühlhäusler &amp; Harré, 1990; Benveniste, 1971). Tetapi dalam wacana Sari, <em>agency </em>kelihatan tidak berfungsi sesuai dengan harapan itu karena Sari menempatkan dirinya sebagai orang yang berkuasa (agen), dan malah mampu melawan ketidakadilan-sedangkan kita sudah tahu bahwa ucapannya tidak betul. Menempatkan dirinya secara tegas, bisa disebut bahwa Sari sedang memamerkan sistem sopan santun Jawa sesuai dengan pengertiannya terhadap kepribadian Jawanya yang sangat rumit. Tuturan Sari tidak menempatkan dirinya secara fisik dan alami di dalam pabrik, tapi secara bertanggungjawab moral terhadap ketidakadilan yang menimpanya di pabrik sesuai dengan batasan konteks lokal yang ditafsirkannya sendiri. Kalau Sari menafsirkan konteks percakapan itu memerlukan sebuah tuturan maupun kepribadian tertentu, itulah juga membutuhkan dukungan penuh- dan pembohongan sama sekali tidak terhitung. Justru karena keluwesan seperti ini yang sangat diperlukan wong Jawa, saya mengutarakan teori <em>agency bertanggungjawab</em> ini.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Walaupun tidak satupun tuturan yang tertera di sini memamerkan Basa Jawa yang alus secara struktural, tuturan semuanya memamerkan sikap sopan santun melalui fungsi, yaitu <em>andhap asor, tepa slira</em>, yaitu kepekaan terhadap konteks sosial. Jelas sang pembicara semua sangat mengerti budi pekerti sesuai dengan keperluan sosial. <em>Agency </em>Sari di tuturan 3 bukan tanda petunjuk tempat kuat di dalam tuturannya, melainkan tanda kesediaannya untuk merendahkan dirinya sesuai dengan keperluan konteks. Maka, definisi umum tentang <em>basa ngoko</em> sebagai tingkat tutur tanpa tanda alus maupun sopan santun, terlalu sempit. Tanpa ucapan yang tergolong <em>basa</em>, Sari dan kawannya terbukti sangat terikat kepada sistem hormat sesuai dengan budi pekerti. Saya juga mau menanyakan apa artinya budi pekerti luhur. Dalam prakteknya, artinya adalah kemampuan pembicara untuk merendahkan dirinya (menghapus tanda kepribadiannya) sesuai dengan keperluan konteks. Apa mungkin budaya Jawa mampu menghilangkan unsur ketidakadilan dan penindasan dari praktek ini? Yang tertindas jelas melaksanakan budi pekerti sesuai dengan sistem sopan santun Jawa (lihat Berman 1998). Untuk betul-betul mencapai tujuan tema konferensi ini, yaitu membangun manusia Indonesia baru yang memiliki budi pekerti luhur, <em>wong gede</em> tidak boleh dibebaskan dari tindakan mulia itu seperti yang terlihat di pabrik &#8211; dan juga telihat dimana-mana dalam masyarakat.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Kutipan singkat dari proses penuturan perempuan Jawa bersama teman-temannya dan anggota keluarganya bisa memperlihatkan bagaimana ketatnya sistem kerukunan (semu) yang berlaku. Seperti ditulis Duranti tentang konteks paralel, &#8220;semakin tinggi status seseorang, semakin boleh menonjolkan kepribadianpembicara&#8221; (1993:44). Maka, sesuai dengan budi pekerti atau tahu dirinya a la Jawa, kita bisa melihat betapa pengalaman Sari sendiri terikat kepada rasa tanggung jawabnya kepada orang lain. Bukan masalah pribadi dan kebenaran yang penting, melainkan konteks sosial. Tetapi konteks yang dilestarikan adalah konteks yang serba tidak adil, yang melestarikan tindakan ABS (asal bapak seneng), dan kerukunan sosial yang semu. Semuanya didasarkan kepada hierarki dan penindasan wong cilik, karena justru yang paling tidak berdayalah yang paling bertanggungjawab membentuk kerukunan itu.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Dengan ketiga adegan yang tertera di sini, <em>agency bertanggungjawab</em> terlihat sebagai kontrak sosial yang menjamin kerukunan sesuai dengan tafsiran sang pembicara. Dengan analisa singkat ini, kita mulai melihat bahwa tuturan bahasa Jawa adalah sarana yang menunjukkan posisi sosial pembicara di dalam komunitas, di dalam konteks, dan di dalam konstruksi realitas yang diwujudkan melalui percakapan. Karena dasar hierarki ini, tuturan di konteks Jawa sangat berbeda dengan definisi tuturan baku (baca: barat). Di barat, narasi adalah semacam laporan tentang pengalaman dan tafsiran pribadi yang dituturkan oleh yang mengalaminya sendiri. Perbedaan dasar struktur dan fungsi narasi juga menyinggung perbedaan dalam konstruksi kepribadian dan identitas sosial, yang penting untuk meningkatkan pemahaman terhadap psikologi sosial dan kepribadian orang tertindas. Yang lebih mudah untuk diperlihatkan adalah bahwa kebiasaan interaksi sebagai tanggungjawab terhadap tatanan sosial melegitimasikan maupun memuliakan dominasi elit. Yang berkuasa boleh mengharap bawahan nrima terhadap ketidakadilan yang menimpanya. Dan kalau sudah terlewat batasan <em>nrima</em> itu, meletuskan konflik horizontal karena konflik vertikal itu tidak mungkin jadi.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Makalah ini menggambarkan secara singkat bagaimana tatanan sosial memaksakan warganya bertanggungjawab terhadap praksis percakapan sehari-hari yang juga membentuk bagaimana warganya memperlihatkan dirinya sendiri dan nota bene menghasilkan dan menghilangkan <em>agency </em> di Jawa Tengah. Walaupun tradisi Jawa sering disebut mulia, kebiasaan untuk menghargai tindakan alus lahir-batin bisa juga disamakan dengan semacam penindasan terhadap diri sendiri maupun masyarakat sekelilingnya.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Hasilnya adalah ketercekikan sosial yang mampu mengulangi tatanan sosial yang opresif sebagai nilai budaya luhur. Maka, dengan memakai pendekatan yang berdasar pada konteks dan bahasa sehari-hari, analisa wacana bisa mengutarakan kebenaran tanpa ditutupi oleh ideologi dan mitos.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><strong>Honolulu, 3 Maret 2001</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Makalah ini akan saya selenggarakan di Kongres Bahasa Jawa III, Juli 15-21, 2001.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><strong>PUSTAKA:</strong></p>
<p><span style="font-size:x-small;">Bakhtin, M. [1934]1981. The Dialogical Imagination. C. Emerson and M. Holquist eds. and trans. Austin: University of Texas Press.</span><br />
<span style="font-size:x-small;">Benveniste, E. 1971. The nature of pronouns. In Problems in General Linguistics. 217-222. Coral Gables, FL: University of Miami Press.</span><br />
<span style="font-size:x-small;">Berman, L. 1998. Speaking through the Silence: Narratives, Social Conventions and Power in Java. New York: Oxford University Press.</span><br />
<span style="font-size:x-small;">Davies, B. 1990. </span><span style="font-size:x-small;"><em>Agency </em></span><span style="font-size:x-small;"> as a form of discursive practice: A classroom scene observed. British Journal of Sociology of Education, 11 (3).</span><br />
<span style="font-size:x-small;">Duranti, A. 1993. Intentions, self and responsibility: An essay in Samoan ethnopragmatics. In Responsibility and evidence in oral discourse, ed., J. H. Hill and J. T. Irvine, 24-47. Cambridge University Press.</span><br />
<span style="font-size:x-small;">Errington, J. 1988. Structure and Style in Javanese. Philadelphia, PA: University of Pennsylvania Press.Graham, L. 1993. A public sphere in Amazonia?: The depersonalized collaborative construction of discourse in Xavante. American Ethnologist, 20:717-741.</span><br />
<span style="font-size:x-small;">Keeler, Ward. 1984. Javanese: A Cultural Approach. Ohio University SEAsian Series Monograph #69. Athens, OH: Ohio University Press.</span><br />
<span style="font-size:x-small;">Levinson, S. 1983 Pragmatics. Cambridge: Cambridge University Press.</span><br />
<span style="font-size:x-small;">Linde, C. 1993. Life stories: The creation of coherence. New York: Oxford University Press.</span><br />
<span style="font-size:x-small;">Mahoney, M and Yngvesson, B. 1992. The construction of subjectivity and the paradox of resistance: Reintegrating feminist anthropology and psychology. Signs, Journal of Women in Culture and Society. 18(1):45-72.</span><br />
<span style="font-size:x-small;">Mühlhäusler, P. and R. Harré. 1990. Personal pronouns. Oxford: Basil Blackwell.</span><br />
<span style="font-size:x-small;">O&#8217;Connor, P. 1994. Narratives of prisoners: A contribution to the grammar of </span><span style="font-size:x-small;"><em>agency </em></span><span style="font-size:x-small;">. Unpublished dissertation. Georgetown University, Washington, DC.</span><br />
<span style="font-size:x-small;">Schiffrin, D. 1987. Discourse markers. Cambridge: Cambridge University Press.</span><br />
<span style="font-size:x-small;">Scott, J. 1990. Domination and the Arts of Resistance. New Haven, CN: Yale University Press</span><br />
<span style="font-size:x-small;">Shuman, A. 1993. &#8220;Get outta my face&#8221;: Entitlement and authoritative discourse. In Responsibility and evidence in oral discourse, ed., J. H. Hill and J. T. Irvine, 135-160. Cambridge University Press.</span><br />
<span style="font-size:x-small;">Tannen, D. 1989. Talking voices: Repetition, dialogue, and imagery in conversational discourse. Cambridge University Press.</span><br />
<span style="font-size:x-small;">Wolff, J. and S. Poedjosoedarmo. 1982. Communicative Codes in Central Java. Data Paper #116 Southeast Asia Program. Ithaca: Cornell University Press.</span><br />
<span style="font-size:x-small;">Wolfowitz, Clare. 1991. Language style and social space: Stylistic choice in Suriname Javanese. Illinois Studies in Anthropology No. 18. Urbana: University of Illinois Press.</span><br />
<span style="font-size:x-small;"><strong>*BIODATA</strong></span><br />
<span style="font-size:x-small;"><strong>Nama</strong></span><span style="font-size:x-small;">: Dr. Laine Bermantempat: New York, USA</span><br />
<span style="font-size:x-small;"><strong>Tanggal</strong></span><span style="font-size:x-small;"> lahir: 20 Juli 1955</span><br />
<span style="font-size:x-small;"><strong>Pekerjaan</strong></span><span style="font-size:x-small;">: ketua jurusan Bahasa Indonesia, University of Hawaii</span><br />
<span style="font-size:x-small;"><strong>Karya-karya: Buku:</strong></span><br />
<span style="font-size:x-small;">Speaking through the Silence: Narratives, Social Conventions, and Power in Java. 1998. New York: Oxford University Press.</span><br />
<span style="font-size:x-small;"><strong>Jurnal:</strong></span><br />
<span style="font-size:x-small;">&#8220;Comics as social commentary in Java, Indonesia.&#8221; In press. In J. Lent (ed.) Illustrating Asia: Comics, Humor Magazines, and Picture Books. London: Curzon Press.</span><br />
<span style="font-size:x-small;">&#8220;Dignity in tragedy: How Javanese women speak of emotion.&#8221; In G. Palmer &amp; D. Occhi (eds.) Languages of Sentiment. Pp. 65-105. London: John Benjamins. 2000.</span><br />
<span style="font-size:x-small;">&#8220;Surviving on the streets of Java: Homeless children’s narratives of violence.&#8221; In Discourse &amp; Society. 11(2):149-174. 2000.</span><br />
<span style="font-size:x-small;">&#8220;The art of street politics in Indonesia.&#8221; In T. Lindsey &amp; H. O’Neill (eds.) Awas! Recent art from Indonesia. Pp. 75-84. Melbourne: Indonesian Arts Society. 1999.</span><br />
<span style="font-size:x-small;">&#8220;Strategies of positioning in ‘national’ discourses.&#8221; In L. van Langenhove &amp; R. Harré (eds.) Positioning Theory: Moral Contexts of Intentional Action. Pp. 138-159. Oxford: Blackwell. 1999.</span></p>
Posted in Linguistik  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tongkronganbudaya.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tongkronganbudaya.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tongkronganbudaya.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tongkronganbudaya.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/108/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=108&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2009/04/12/kepribadian-dalam-tuturan-bahasa-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8a4e003d1e5ac77fb4b04e490f5ca2b4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nongkrong</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bahasa Jawa versus Bahasa Madura</title>
		<link>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/04/28/bahasa-jawa-versus-bahasa-madura/</link>
		<comments>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/04/28/bahasa-jawa-versus-bahasa-madura/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 20:04:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nongkrong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Linguistik]]></category>
		<category><![CDATA[Teh Hangat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tongkronganbudaya.wordpress.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Musthafa Amin
Tamen magik tombu sokon—Tabing kerrep bennyak kalana
Mompong gik odik kotu parokon—Mak olle salamet tengka salana.
(Menanam biji asam tumbuh sukun—Geddhek yang rapat banyak kalajengkingnya
Mumpung masih hidup harus rukun—Agar selamat tingkah lakunya)

Parikan Madura yang dikidungkan Heru Pasetiyawan, pemenang ngremo tingkat Jawa Timur, Festival Cak Durasim, Surabaya 2007
Dari obrolan ringan ternyata menimbulkan banyak inti pokok permasalahan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=55&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Oleh: Musthafa Amin</strong></p>
<blockquote><p><em><strong>Tamen magik tombu sokon—Tabing kerrep bennyak kalana<br />
Mompong gik odik kotu parokon—Mak olle salamet tengka salana.<br />
(Menanam biji asam tumbuh sukun—Geddhek yang rapat banyak kalajengkingnya<br />
Mumpung masih hidup harus rukun—Agar selamat tingkah lakunya)<br />
</strong></em></p></blockquote>
<p style="text-align:center;">Parikan Madura yang dikidungkan Heru Pasetiyawan, pemenang ngremo tingkat Jawa Timur, Festival Cak Durasim, Surabaya 2007</p>
<p>Dari obrolan ringan ternyata menimbulkan banyak inti pokok permasalahan yang melanda diri, masyarakat dan dunia namun jarang sekali kita sadari. Hasilnya, jarang ada solusi yang tepat dan lebih banyak mengira-ngira dengan referensi yang cenderung dari lisan. Valid? Ah tidak mungkin, namanya juga obrolan menghabiskan malam.</p>
<p>Sekitar tengah malam, jam sebelas malam, di komisariat IPNU UIN Malang, penulis berbincang dengan salah satu kawan, yang berasal dari Pasuruan ditemani secangkir kopi dan separuh isi satu pak rokok. Ngelindur kesana kemari, tak juntrung serius membahas apapun. Lebih banyak bernostalgia daripada berdiskusi. Namun suasana cair itu tiba-tiba terhenti ketika sang madurese speaker (penulis) tidak menemukan kosa kata jawa untuk melanjutkan omongannya. Berhubung saya hidup di Jawa Timur, tentu saya harus bisa beradaptasi dengan bahasa jawa. Bentuk komunikasi bahasa yang terbangun di Malang adalah bahasa Jawa, baik dengan tiga model bahasa Jawa (ngoko, kromo, kromo inggil) ataupun bahasa jawa Malangan (cenderung dibolak-balik). Karena tidak menemukan kosa kata yang dimaksud, akhirnya saya mencampuradukkan (code-switching&#8211;CS) bahasa saya (madura) dengan bahasa Jawa yang baru saja saya ujarkan. Sedikit lama, dia mengernyitkan dahi, kemudian dia hanya tergelak dan mengangguk-angguk mengerti. Saya pun heran, apakah dia memahami arti bahasa madura yang saya ucapkan ataukah dia memahami perkataan saya berdasarkan konteks. Berdasarkan teori CS, tindakan ini dilakukan demi mempermudah komunikasi agar pembicara bahasa A (Jawa) tidak perlu terlalu lama memikirkan kosa kata yang sesuai, sehingga dia menggunakan bahasa B (Madura). CS pun bisa membantu etnik minoritas, seperti saya  mempertahankan identitas budaya saya, seperti bahasa slang yang digunakan untuk menunjukkan perbedaan identitas dan pula membedkan dari masyarakat yang lebih besar. Tapi saya lupa, bahasa A dan B itu khan seharusnya ada keselarasan, baik antara bahasa pertama (first language) dan bahasa kedua (second language) dan bahasa kedua orang yang berbicara, apakah sama atau tidak. Untung saja, sejak dia bergaul dengan madurese speaker seperti saya, dia memahami bahasa saya.</p>
<p>“Sepertinya ada kesamaan ya mus, antara Madura dan Jawa?”<br />
“Maksudnya?”<br />
“Ya, tadi khan kamu sebutkan, bahasa Madura pun dibagi menjadi tiga (enja’-iya, enggi-enten, enggi-bunten), sepertinya ada kesamaan. Bukankah dalam bahasa kromo inggil dan enggi-bunten (sebagai bahasa tertinggi keduanya) sering ada kosa kata yang serupa.  Seperti panjenengan (kosa kata untuk merujuk kepada lawan bicara dengan halus). Entah kenapa aku paham bahasamu tadi,”ujarnya sambil menggaruk kepala.</p>
<p>Aku pun garuk-garuk kepala. Gak paham juga. Memang sebagian ada yang sama. Begitu pula halnya antara bahasa Indonesia (BI) dan Bahasa Jawa (BJ) atau BI dan Bahasa Madura (BM). Kami bisa menerka, beberapa kata di BI adalah kata serapan dari kedua bahasa lokal tersebut. Pun begitu, kedua bahasa daerah tersebut, sekarang mulai cenderung menyerap BI. Atas hasil kelakar, tanpa ada penelitian menyeluruh, hasil bincangan kami merujuk ke sana. Sebut saja kata roma dan bungkoh, dua kosa kata BM ini sama-sama bermakna rumah. Ada keserupaan morfologis antara roma dan rumah. Kawanku pun meyimpulkan asal-asalan, roma adalah kata serapan BM dari BI. Bagaimana pula dengan omah (BJ yang juga berarti rumah). Kawanku menjawab, “itu karena BI menyerap BJ.” “Ah, dasar orang Jawa.” Dia pun menimpali celetukanku barusan, “Ah, dasar orang Madura.” Kami pun tertawa terbahak-bahak.</p>
<p>Beralih pada beberapa kesamaan antara BJ dan BM, hasil bincang ngalor-ngidul kami menyatakan. Kesamaan itu terjadi karena asal-muasal BM adalah BJ. Melihat struktur geografis, sangat mustahil manusia pertama adalah orang Madura, melainkan Jawa. Beberapa orang Jawa yang menemukan pulau Madura, akhirnya menetap di sana. Atas dasar konstruksi bahasa, mereka pun berkomunikasi seadanya dengan BJ dan jika menemukan suatu hal yang baru mereka pun membentuk bahasa baru sebagai naluri alamiah berbahasa mereka. Alasan kenapa mereka tidak menggunakan BJ, bisa jadi karena kosa kata BJ mereka tidak begitu lengkap dan akhirnya hasil perilaku bahasa mereka menjadi cikal bakal bahasa madura. Mereka yang barangkali terdampar di pulau Madura, sangat kesulitan untuk bepergian kembali ke Jawa karena kesulitan transportasi, sehingga mereka pun menetap di pulau Madura dan mencipta bahasa baru. yach, ini konsep pemerolehan bahasa yang mengacu pada human resourches (pola interaksi dengan manusia) dan natural resourches (pola interaksi dengan alam. Konsep milik Plato onomatopoeia (semua bahasa berasal dari peniruan bunyi-bunyi terakhir dengan ejekan dan karikatur) pun bisa dipakai di sini. Dan bisa jadi pula, manusia Jawa pertama berasal dari pulau Madura. Haha</p>
<p>Obrolan ringan ini berakhir tanpa penjelasan. Tiada bukti ilmiah yang bisa diajukan. Yang ada dibenak kami, bahasa lokal sudah dicemari bahasa Indonesia dan seterusnya, BI di-KO oleh bahasa Inggris dengan perilaku nginggris tokoh-tokoh bangsa.</p></blockquote>
</blockquote>
</blockquote>
</blockquote>
</blockquote>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tongkronganbudaya.wordpress.com/55/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tongkronganbudaya.wordpress.com/55/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tongkronganbudaya.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tongkronganbudaya.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tongkronganbudaya.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tongkronganbudaya.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=55&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/04/28/bahasa-jawa-versus-bahasa-madura/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8a4e003d1e5ac77fb4b04e490f5ca2b4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nongkrong</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tata Bahasa Generatif Transformatif</title>
		<link>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/03/08/tata-bahasa-generatif-transformatif/</link>
		<comments>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/03/08/tata-bahasa-generatif-transformatif/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Mar 2008 17:51:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nongkrong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Chomsky]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Linguistik]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tongkronganbudaya.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Harry Prasetyo*
Tata bahasa Generatif Trasformasi (TGT) adalah sebuah konsep kajian kebahasaan yang dipelopori oleh Chomsky. Namun, sebelum kita membahas lebih jauh tentang TGT ini, penulis akan mengajak pembaca untuk “melihat” kondisi kebahasaan yang berkembang sebelum TGT ini lahir.
Dalam tulisan ini, penulis akan menyajikan beberapa hal sebagai bahan diskusi, (1) latar belakang munculnya TGT, (2) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=23&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Oleh: Harry Prasetyo*</strong></p>
<p>Tata bahasa Generatif Trasformasi (TGT) adalah sebuah konsep kajian kebahasaan yang dipelopori oleh Chomsky. Namun, sebelum kita membahas lebih jauh tentang TGT ini, penulis akan mengajak pembaca untuk “melihat” kondisi kebahasaan yang berkembang sebelum TGT ini lahir.<br />
Dalam tulisan ini, penulis akan menyajikan beberapa hal sebagai bahan diskusi, (1) latar belakang munculnya TGT, (2) Konsep TGT, (3) Tokoh dalam TGT, dan (4) simpulan tentang fungsi TGT.</p>
<p><strong>Pendahuluan</strong><br />
Pada tahun 1931-1951, kajian linguistik pada saat itu diwarnai oleh aliran structural, yang kita kenal dengan nama Tata Bahasa Deskriptif. Dalam Tata Bahasa Deskriptif, ada 2 tokoh yang memengaruhinya, yaitu Bloomfield dan Harris. Bloomfield adalah salah satu tokoh strukturalisme Amerika yang pemikirannya banyak dipengaruhi oleh Boaz. Dalam tata bahasa jenis ini, kajian yang dikembangkan adalah kajian linguistik yang berhubungan dengan masalah-masalah praktis, dan langsung menjelaskan komponen serta struktur bahasa tertentu  berdasarkan realitas formalnya sebagai ujaran. Oleh karena itu, model kajian semacam ini disebut dengan istilah Tata bahasa Struktural.<br />
Model kajian semacam ini sesuai dengan konsep pengembangan teori yang sedang “menjamur” di Amerika Serikat, yaitu logika positivistisme. Bagi logika ini, sebuah teori bisa dianggap benar atau salah, jika telah diujikan pada data kajian secara konkrit.<br />
Pada tahun 1957, Chomsky mengenalkan gagasan barunya melalui sebuah buku yang berjudul Syntactic Structure. Gagasan barunya yang tertuang dalam buku itulah yang kemudian oleh para linguist disebut degnan Tata bahasa Generatif Transformasi.</p>
<p><strong>Konsep Tata Bahasa Generatif Tranformasi</strong><br />
Dalam uraian di atas disebutkan bahwa gagasan Chomsky tentang TGT tertuang dalam bukunya Syntactic Structure. Dalam tersebut, Chomsky menjelaskan bahwa dia melakukan penolakan terhadap asumsi utama strukturalisme yang beranggapan bahwa kelayakan kajian kebahasaan ditentukan oleh diskripsi data kebahasaan secara induktif.<br />
Data kebahasaan secara induktif di sini diartikan oleh penulis sebagai  data-data kebahasaan yang sudah paten dan dianggap selesai. Menurut Chomsky (dalam Samsuri, 1988:99) kajian linguistik berkaitan dengan aktivitas mental yang berkaitan dengan probabilitas, bukan berhadapan dengan data kajian tertutup dan selesai, sehingga dapat dianalisis dan didiskripsikan secara pasti. Oleh karena itu, teori linguistic seharusnya dikembangkan dengan bertolak dari cara kerja secara deduktif yang dibangun oleh konstruk hipotetik tertentu.<br />
Akibat dari konsep dasar tersebut di atas, dalam TGT teori diartikan sebagai seperangkat hipotesis yang memiliki hubungan secara internal antara yang satu dengan yang lainya. Dalam hal ini, hipotesis memiliki 2 ciri utama, (1) berisi pernyataan yang berfungsi untuk memahami sesuatu yang bersifat sementara, (2) merupakan kreasi intelek yang sistematis, teliti, tetapi  bersifat tentatif sehingga memungkinkan untuk dikembangkan atau ditolak.</p>
<p><strong>Tokoh Tata Bahasa Generatif tranformasi; Noam Chomsky</strong><br />
Dalam uraian di atas, terlihat jelas kontribusi pemikiran Chomsky dalam TGT. Dalam subjudul ini, penulis akan mengajak pembaca untuk berkenalan dengan Chomsky.<br />
Nama lengkapnya adalah Avram Noam Chomsky. Dia lahir pada tanggal 7 Desember 1928 di Philadelphia. Ayahnya, bernama William Chomsky, adalah seorang ahli bahasa Yahudi yang terkenal pada saat itu. Ketekunan Chomsky dalam membantu kegiatan kebahasaan ayahnya sangat membantu daya intelektualnya dalam kajian kebahasaan di kemudian hari.<br />
Chomsy dahulukala belajar di Universitas Pennsylvania. Pada awalnya ia berguru pada salah satu tokoh aliran struktural, yaitu Harris. Walaupun Haris adalah salah satu tokoh pengembang strukturalisme, tapi gagasannya tidak selalu mengekor pada konsep pemula strukturalisme, yaitu Bloomfield. Oleh karena itu, Harris disebut dengan …”who is a significant transitional figure between structural and generative transformational linguistics (Macly dalam Samsuri, 1988:100).<br />
Dalam studinya, Chomsky tidak hanya mengambil jurusan lingusitik saja, namun ia juga mengambil jurusan Matematika dan Filsafat. Kajian bidang matematikanya memengaruhi Chomsky dalam model penyusunan aksioma linguistik yang diformulasikan. Sedangkan filsafat memengaruhi Chomsky dalam menilai wawasan folisofis tata bahasa strukturalisme yang banyak bertumpuh pada paham empiris.</p>
<p><strong>Fungsi Tata Bahasa Generatif Transformasi</strong><br />
Berdasarkan uraian tentang TGT di atas, kita mengetahui bahwa Chomsky telah menuangkan idenya dalam sebuah buku yang berjudul Syntactic Structure. Setelah ia mengungkapkan konsep TGT secara mendalam, akhirnya Chomsky berkesimpulan bahwa tugas teori linguitik adalah menangkap perangkat kaidah yang terbatas, yang secara tuntas mampu menjelaskan ciri gramatikal dari sejumlah kalimat yang tak terbatas.Jadi dengan adanya TGT ini, kita bisa mengetahui seperangkat kaidah kalimat secara jelas.</p>
<p><strong>Penutup</strong><br />
Demikianlah diskusi kita tentang Tata Bahasa Generatif Transformasi. Singkatnya, dari gagasan tersebut, kita mengetahui bahwa mengkaji suatu bahasa tidak harus dihadapkan pada komponen-komponen kebahasaan yang sudah paten. Namun, pengkajian bahasa bisa dimulai dari cara kerja secara deduktif yang dibangun oleh konstruk hipotetik tertentu.</p>
<p>* Harry Prasetyo</p>
<p>Mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris UIN Malang. Sekarang menyambi sebagai Ketua IPNU UIN Malang. Pemuda asal Jombang ini juga bergiat di KLM (Komunitas Linguistik Mahasiswa) Malang</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tongkronganbudaya.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tongkronganbudaya.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tongkronganbudaya.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tongkronganbudaya.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tongkronganbudaya.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tongkronganbudaya.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=23&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/03/08/tata-bahasa-generatif-transformatif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8a4e003d1e5ac77fb4b04e490f5ca2b4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nongkrong</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fungsi Transformatif Bahasa</title>
		<link>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/03/08/fungsi-transformatif-bahasa/</link>
		<comments>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/03/08/fungsi-transformatif-bahasa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Mar 2008 17:30:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nongkrong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Linguistik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tongkronganbudaya.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[(Pembacaan Wacana Linguistik Pasca Strukturalisme)
Oleh: Musthafa Amin
Manusia adalah makhluk yang unik dan menarik untuk dikaji. Telah beragam disiplin ilmu telah lahir akibat meneliti mereka. Segala hal terkait, telah memunculkan diskursus yang hampir sulit tuntas untuk dibahas. Puncaknya, di zaman modern, fase pemikiran filsafat lebih cenderung atau bahkan totalitas menjadikan manusia sebagai objek wacana filosofis (antroposentris). Pada era [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=16&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>(Pembacaan Wacana Linguistik Pasca Strukturalisme)</strong></p>
<p>Oleh: Musthafa Amin</p>
<p>Manusia adalah makhluk yang unik dan menarik untuk dikaji. Telah beragam disiplin ilmu telah lahir akibat meneliti mereka. Segala hal terkait, telah memunculkan diskursus yang hampir sulit tuntas untuk dibahas. Puncaknya, di zaman modern, fase pemikiran filsafat lebih cenderung atau bahkan totalitas menjadikan manusia sebagai objek wacana filosofis (antroposentris). Pada era antroposentris, manusia secara tidak langsung mengukuhkan kekuatannya lewat rasio dan eksistensialisme-nya. Namun pada penghujung abad modern, yang lebih berkembang adalah pemikiran filsafat logosentris yang menempatkan bahasa sebagai centre (pusat) wacana. Perubahan yang tidak lain adalah sebagai  kelanjutan dari antroposentrisme karena bahasa sendiri adalah manifestasi totalitas pemikiran manusia yang dihasilkan dari kemampuan manusia untuk membentuk lambang dan memberi simbol untuk menandai realitas.</p>
<p>Johan P. Wisok (2003) menyatakan bahwa bahasa adalah ajang pertemuan pelbagai penelitian seperti fenomenologi, linguistik, filsafat bahasa, teologi, psikoanalisis, antropologi budaya, sosiologi, historiografi, ilmu perbandingan agama, dan seterusnya. Bahasa diletakkan sebagai medium manusia dalam berhubungan dengan dunia luar dirinya seperti alam, makhluk infrahuman, sesama manusia, sekaligus mengonstitusikan hal di luar dirinya. Bahkan menegaskan bahwa bahasa merupakan media justifikatif manusia itu sendiri.</p>
<p>Dalam literatur linguistik (wacana kebahasaan), dinyatakan bahwa sejak Plato hingga akhir abad ke-19 kajian kebahasaan bersifat diakronik, yaitu kajian yang membahas hubungan genetik pada tiap-tiap bahasa dan dicari ketersambungannya. Runtutannya pun diperjelaskan kembali sehingga ditemukan adanya hubungan antarbahasa di dunia.</p>
<p>Namun pada tahun 1960-an, kecenderungan itu mulai berubah. Seorang pakar linguistik kelahiran Swiss, Ferdinand de Sausurre membawa perubahan pada wacana linguistik. Karya monumentalnya, Cours de Linguitique Général, untuk kali pertama menjadikan bahasa sebagai objek ilmiah. Ia mengalihkan kajian kebahasaan menjadi bersifat sinkronik, dengan penelitian struktural-gramatikal menjadi titik tekannya. Perhatian utamanya adalah meneliti cara-cara dan mekanisme berbahasa yang meliputi tutur kata, dan bunyi dalam kaitannya dengan sejarah, institusi sosial, dan konteks di mana bahasa tersebut berkembang.</p>
<p><strong>Strukturalisme; Sebuah Ulasan Singkat</strong><br />
Pada awal kelahiran Strukturalisme, nama Ferdinand de Sausurre memang tidak bisa dilupakan begitu saja. Sebagai bapak linguistik modern, ia melakukan pendekatan struktural pada bahasa sebagai metode yang otonom. Salah satu gagasan de Saussure yang terkenal adalah perbedaan langue (bahasa sebagai sistem tanda atau kode) dan parole (bahasa sebagai wacana). Parole bersifat individual dan intensional (disengaja) sebab melalui ucapan seorang pembicara menyampaikan tentang sesuatu kepada orang lain; parole merupakan peristiwa yang kebetulan dan sewenang-wenang (arbitrary). Langue, sebaliknya, merupakan struktur kolektif dan anonim, yang relatif stabil dan merupakan aturan yang mengikat masyarakat bahasa. Akan tetapi sesudah membuat perbedaan mendasar ini, Saussure langsung mengambil keputusan epistemologis dengan memberi prioritas kepada langue.</p>
<p>Pendekatan struktural, pada mulanya, dipakai untuk meneliti satuan bahasa yang lebih kecil dari kalimat, seperti fonem dan morfem. Tetapi dengan cepat sekali meluas dan diterapkan pada bidang lainnya. Pertama, model ini dipakai untuk meneliti wacana yang lebih luas dari kalimat. Kedua, struktural selanjutnya dipakai untuk meneliti kebudayaan dalam arti yang seluas-luasnya melampaui studi bahasa yang langsung (Wisok: 2003). Perluasan aplikasi model struktural dari fonemik dan morfologi ke bidang kebudayaan dalam arti luas ini hanya mungkin dibuat dengan asumsi dasar dari pihak strukturalisme yaitu bahwa wacana dan pelbagai aspek kebudayaan tersusun menurut satuan bahasa yang lebih kecil dari kalimat.</p>
<p>Karena bahasa merupakan sebuah sistem tertutup, arti sebuah tanda bahasa tidak bergantung dari maksud subjektif pembicara ataupun dari referensinya pada dunia objektif. Dalam artian, lebih bergantung dari oposisi biner antara signifier (penanda) dan signified (tinanda)1. Dengan kata lain, makna sebuah tanda dalam pengertian strukturalis adalah nilai diferensialnya. Sebagaimana dilontarkan Fayyadl dengan mengutip Sausurre (2005, 37), penanda membentuk aspek material bahasa, sementara tinanda membentuk aspek material bahasa. Hubungan yang berkesinambungan antarkeduanya diperlukan untuk mengomunikasikan gagasan di antara sesama penutur. Kita contohkan dengan bunga. Sekuntum ranum bunga yang tumbuh liar di padang rumput ilalang bukanlah sebuah tanda. Tetapi, ketinga bunga tersebut ditabur di acara perkabungan, seketika ia menjadi tanda, yakni menimbulkan pesan bahwa yang bersangkutan berbelasungkawa.</p>
<p>Strukturalisme mencerminkan hasrat dan keinginan manusia untuk mengontrol dan menyimpulkan fenomena ke dalam sistem-sistem yang baku. Bahasa diandaikan sebagai satu kesatuan intensional yang bekerja secara organis dengan tatanan dan unit-unitnya yang dapat diramalkan. Paham ini menjelaskan bahwa produksi makna merupakan efek dari struktur terdalam dari bahasa, dan kebudayaan bersifat analog dengan struktur bahasa, yang diorganisasikan secara internal dalam oposisi biner: hitam-putih, baik-buruk, lelaki-perempuan, dan lain-lain. Karena itulah strukturalisme lebih bersifat eksklusif dengan satu pemaknaan bahasa. Ini berdasarkan struktur-struktur bahasa yang terjawantahkan sedemikian hierarkis dan memiliki tujuan yang jelas, yaitu menyampaikan makna tunggal yang dikehendaki the author (pengarang).</p>
<p><strong>Post strukturalisme; Kritik atas Strukturalisme</strong><br />
Bahasa yang pada permulaannya tidak lebih sebagai media komunikatif transformatif telah dibenturkan dengan sisi tak berujung. Ia melebar ke segala arah. Bahasa bukan lagi sebagai media komunikasi an sich. Karena bahasa berkembang sedemikian rupa. Dengan bahasa, manusia dapat berpikir sehingga tidak hanya dilihat sebagai kadar “medium” sebagaimana terdapat di dalam pemikiran konvensional tentang bahasa. Ia adalah media untuk mencari dan mengungkapkan kebenaran (logos).</p>
<p>Citra logos (kebenaran) yang sebelumnya berpusat pada satu titik telah hancur lebur. Keseragaman yang digembor-gemborkan strukturalisme menghilang tanpa jejak, dimulai dari Niescthe hingga Derrida. Pondasi modernisme yang dibangun dengan narasi-narasi besar—sebagaimana diungkapkan Lyotard—perlahan mulai runtuh dan telah didekontruksi secara besar-besaran. Awal kejayaan post strukturalismepun telah dimulai. Perubahan yang juga berpengaruh pada wacana kebahasaan.</p>
<p>Pandangan strukturalisme tentang makna yang diorganisasikan secara internal dalam oposisi biner, sama dengan mengatakan bahwa makna bersifat stabil. Kestabilan makna inilah yang menjadi pusat serangan post strukturalisme atau pascastrukturalisme atas strukturalisme. Tokoh-tokoh utama post strukturalisme, seperti Derrida dan Foucault, menyatakan bahwa makna tidaklah stabil, ia selalu dalam proses. Makna tidak bisa dibatasi dalam satu kata, kalimat atau teks khusus, tetapi ia merupakan hasil dari hubungan antarteks: intertektualitas.</p>
<p>Pada prinsipnya, hubungan antarteks di dalam bahasa akan selalu terjalin erat tidak akan pernah berhenti berproses. Teks semacam ini juga memiliki struktur, yang diistilahkan Derrida dengan structure of a becoming, struktur yang meliputi probabilities (kemungkinan-kemungkinan) baru dan membuka jalan untuk pemaknaan baru dan tidak terbatas. Secara sederhana saja, tak ada kata tunggal di dalam menafsiri bahasa, karena makna tanda bahasa akan selalu terkait dengan struktur yang menaunginya dan semuanya akan kembali pada setting sosial di mana bahasa tersebut berada dan digunakan.</p>
<p><strong>Manusia dan Bahasa; sebuah Akhir Tulisan</strong><br />
Manusia bisa mentransformasikan dunia melalui bahasa dan sebaliknya. Melalui bahasa pula dunia mentransformasikan manusia. Pemahaman terhadap bahasa menghasilkan problematika yang signifikan di dalam logosentrisme. Struktur bahasa telah menjadi objek pembahasan filsafat, bukan lagi manusia seperti masa modern, sehingga struktur bahasa telah melingkari manusia dengan sistem yang nota bene diciptakan oleh manusia sendiri, karena dalam masalah ini, manusia tidak berbicara sendiri melainkan dibicarakan, yaitu oleh struktur-struktur bahasa (Kaelan: 297).</p>
<p>Sudah sewajarnya, kita ikut serta dalam mengembangkan wacana kebahasaan karena tanpa bahasa kita bukanlah apa-apa, tidak lebih rendah dan lebih tinggi dari makluk lain. Bahasa adalah ciri utama yang membedakan kita dengan makhluk lainnya. Menurut Komaruddin Hidayat (2004), proses berbahasa melibatkan sejumlah saraf dalam otak yang meramu kata-kata agar dapat dipahami publik. Sebab itu, berbahasa juga dapat dipahami sebagai proses berpikir dan sepantasnyalah kita tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diperoleh untuk mempelajari bahasa.</p>
<p ALIGN="center"> <strong>Berikut adalah Tabel Pemikiran dan Karakteristik beberapa tokoh Strukturalisme</strong></p>
<p><a HREF="http://tongkronganbudaya.files.wordpress.com/2008/03/tabel.jpg" TITLE="tabel.jpg"></p>
<div STYLE="text-align: center"><a TITLE="tabel.jpg" HREF="http://tongkronganbudaya.files.wordpress.com/2008/03/tabel.jpg"><img ALT="tabel.jpg" SRC="http://tongkronganbudaya.files.wordpress.com/2008/03/tabel.jpg" /></a></div>
<p></a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tongkronganbudaya.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tongkronganbudaya.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tongkronganbudaya.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tongkronganbudaya.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tongkronganbudaya.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tongkronganbudaya.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=16&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/03/08/fungsi-transformatif-bahasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8a4e003d1e5ac77fb4b04e490f5ca2b4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nongkrong</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bahasaku (telah) Punah</title>
		<link>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/02/22/bahasaku-telah-punah/</link>
		<comments>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/02/22/bahasaku-telah-punah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Feb 2008 21:08:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nongkrong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Linguistik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tongkronganbudaya.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Musthafa Amin*
Fenomena bahasa sebuah bangsa berkembang seiring lanjut waktu yang berjalan. Ibarat musiman, wilayah bahasa dihadapkan pada realitas yang berkesinambungan. Berulang-ulang meski tahap solutif cenderung berbeda penanganan. Memang secara teoritis, laju framework kebahasaan tertata dan berpola dari langkah perjalanan sosial, hingga absah saja kajian sosial berbasis strukturalisme yang dipakarsai oleh sosiolog Tallcott Pearson menjadi pijakan awal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=11&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh: Musthafa Amin*</p>
<p>Fenomena bahasa sebuah bangsa berkembang seiring lanjut waktu yang berjalan. Ibarat musiman, wilayah bahasa dihadapkan pada realitas yang berkesinambungan. Berulang-ulang meski tahap solutif cenderung berbeda penanganan. Memang secara teoritis, laju framework kebahasaan tertata dan berpola dari langkah perjalanan sosial, hingga absah saja kajian sosial berbasis strukturalisme yang dipakarsai oleh sosiolog Tallcott Pearson menjadi pijakan awal kaum strukturalis bahasa awal.</p>
<p>Dari kacamata sosial, bahasa dan budaya adalah ketidakterpisahan tunggal, hubungan bahasa dan budaya bisa dirunut dari dua pandangan yang berbeda. Pertama, mengacu pada kesemestaan budaya mengatakan bahwa bahasa, seperti halnya kepercayaan dan mata pencaharian adalah komponen penting budaya. Jika budaya didefinisikan sebagai totalitas pola perilaku, seni, kepercayaan, lembaga serta hasil karya dan buah pemikiran manusia, signifikansi bahasa terletak pada kenyataan bahwa ia memegang peran yang penting sebagai alat transmisi budaya dari satu generasi ke generasi selanjutnya (Koentjaraningrat, 1983).</p>
<p>Bahasa dikaitkan dengan budaya, karena ia menjadi relasi simbolik budaya. Berbahasa Bali, misalnya, adalah lambang identitas Bali yang selanjutnya berimplikasi bahwa orang Bali yang tidak dapat berbicara tidaklah mewakili identitas Bali dan pada gilirannya tidak mewakili budaya Indonesia (Gunarwan, 2007)</p>
<p>Bangsa Indonesia, saat ini dihadapkan pada fenomena bahasa yang miris. Puluhan Bahasa daerah (BD) punah dan selainnya berpotensi besar punah. Begitu pula bahasa Indonesia (BI) yang mulai dijauhi oleh masyarakat Indonesia sendiri. Akankah Identitas Indonesia menghilang dengan hilangnya bahasa nasional?</p>
<p>Digulirkannya isu Rancangan Undang-Undang Bahasa oleh Pusat Bahasa tidak menafikan kepedulian beberapa tokoh nasional pada BI. Terlepas dari pro kontra RUU tersebut, kita harus kembali menumbuhkan semangat mempertahankan ragam bahasa bangsa kita.<br />
Sebagai langkah awal, data yang dihimpun dalam buku Atlas of The World’s Languages in Danger of Disappearing tulisan Stephen A Wurm yang diterbitkan UNESCO bisa menjadi landasan pemikiran. Wurn menyebutkan potensi kepunahan bahasa-bahasa daerah di Indonesia sangat cepat. Kepunahan bahasa daerah di Indonesia dipetakan sebagai berikut: di Kalimantan 50 bahasa daerah terancam punah dan satu sudah punah. Dari 13 bahasa di Sumatra, dua terancam punah dan satu sudah punah. Sulawesi yang memiliki 110 bahasa, 36 terancam punah dan satu sudah punah. Dari 80 bahasa daerah di Maluku, 22 terancam punah dan 11 sudah punah. Di daerah Timor, Flores, Bima, dan Sumba dari 50 bahasa yang ada sebanyak delapan terancam punah. Di daerah Papua dan Halmahera dari 271 bahasa sebanyak 56 bahasa terancam punah. Di Jawa tidak ada bahasa daerah terancam punah (Kompas, 22 Mei 2007).</p>
<p>Dari data tersebut ragam BD sebenarnya terimarjinalkan oleh BI. Dengan ditetapkannya BI sebagai bahasa komunikasi nasional, BD menjadi bagian sekunder dalam ragam bahasa di Indonesia. Apalagi dengan media nasional yang selalu tampil dengan BI sehingga berlarut-larut BD akan semakin tenggelam.</p>
<p>Perlu dicermati kembali, dengan melemahnya BD, BI sebenarnya akan semakin terpuruk. Bisa dilihat dari kosa kata serapan BI sendiri yang beberapa merupakan hasil cerapan BD dan bahasa asing. Bahasa Belanda dan Bahasa Inggris merupakan dua dari bahasa asing yang menjadi penyokong terbanyak dalam kosa kata BI. Selebihnya adalah bahasa serapan dari BD di Indonesia.</p>
<p>Namun, alih-alih mempertahankan BD, sekarang BI mempunyai kendala serius dari segi penggunaannya. Serbuan bahasa asing membuat BI tidak berkutik. Penyerapannya pun terkesan seadanya sehingga kesan baku dalam penyerapan bahasa asing tidak kentara.</p>
<p>Begitu pula, penggunaan BI oleh masyarakat Indonesia semakin menurun. Menurut data Pusat Bahasa (Kompas, 17/11/2007), 220 juta jiwa penduduk Indonesia saat ini, sekitar 14,8 persen atau sekitar 25,775 juta jiwa merupakan kelompok masyarakat berbahasa ibu, bahasa Indonesia. Sedangkan pemakai bahasa Indonesia adalah sekitar 18,7 persen atau sebanyak 32,6 juta jiwa. Sisanya merupakan penduduk berbahasa daerah dan asing. Melihat data yang mengenaskan ini—tidak sepenuhnya masyarakat Indonesia menggunakan BI, mengingat BI sebagai bahasa nasional, harus segera dituntaskan dengan solusi yang sebaik dan semaksimal mungkin. Karena kalau tidak segera diantisipasi, serbuan massif bahasa asing perlahan akan melontarkan jati diri bangsa Indonesia dengan BI dari peredaran.</p>
<p>Menimbang permasalahan di atas, setidaknya bisa dipetakan runtut persoalan yang berkembang dalam fenomena bahasa di Indonesia. BD sebagai sumber kekayaan bahasa Indonesia semakin berkurang. Ini akan berdampak serius pada identitas bangsa. Setidaknya, komponen terkecil kebudayaan merupakan pondasi pemertahanan bahasa yang lebih besar, BI, kendati keberadaan BI menjadi bumerang tersendiri bagi eksistensi BD. Begitu pula BI yang diresmikan sebagai Bahasa Negara, mengalami demarkasi dengan dominasi bahasa asing.</p>
<p>Ditinjau dari perspektif Bakhtin (1986) dan Volosinov (1975), setiap penggunaan bahasa bersifat ideologis. Dengan pandangan itu, tidak terbantah bahwa bahasa Inggris merupakan perangkat ideologis globalisasi. Kesetiaan bahasa sendiri bisa menjadi benteng awal pertahanan menuju terciptanya bahasa Negara yang kuat dan mencerminkan martabat kita sebagai rakyat Indonesia. Segala sektor pertahanan, mulai dari sektor lokalisasi BD dalam BI, sektor pendidikan, sektor media, dan sektor terkait lain harus segera dibenahi agar masyarakat Indonesia masih bangga dan jumawa dengan kewibawaan bahasa mereka.<br />
*<br />
Musthafa Amin<br />
Pemerhati Bahasa, Mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris UIN Malang konsentrasi Linguistik</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tongkronganbudaya.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tongkronganbudaya.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tongkronganbudaya.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tongkronganbudaya.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tongkronganbudaya.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tongkronganbudaya.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=11&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/02/22/bahasaku-telah-punah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8a4e003d1e5ac77fb4b04e490f5ca2b4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nongkrong</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>