Ruang Tunggu

7 Januari , 2011 at 9:30 am (Puisi)

Oleh: Muhammad Zaini

 

Di ruang tunggu waktu adalah komponen sepi

Aku setia menyimak arus darah

Menghanyutkan doa-doa yang pergi

Ke pori-pori yang gelisah siang ini

 

Matahari menggelinding ke derajat didihku

Siang-siang membengkak

Tak sanggup lagi menampung tubuhku

Yang setiap kali merindumu

Partikel waktu mengucur

Menenggelamkan ruang tunggu

 

Sardjito, yogyakarta, 17-12-2010, 13:12

Permalink 4 Komentar

Sair Sajak Edi Slenger (1)

19 Maret , 2009 at 4:26 pm (Puisi, Sastra)

NARASI XIX

(Sangsi)

Tidakkah kau saksikan

Burung-burung di atas gereja

Itu memeram rindu semisal

Aku yang kau tinggalkan dengan

Puisi tak jadi lantaran sebuah kata

Yang lupa aku rangkai

Namun entah mengapa kudapati jawabmu

— Takada seekor burungpun yang kusaksikan

di atas gereja itu —

Malang, 2007

NARASI XX

Gugur layu bunga

: Kemarau berdendang

di penghujung waktu

Malang, 2007

NARASI XXI

Bulan sabit di pinggir telaga

Mengeram kejora di kening ibu

Taukah kau? Kau tak menjawab

Malah berpaling ke semak-semak

Lalu beranjak

Malang, 2007

NARASI XXII

Gerimis di luar itu

Kini berganti hujan

“Ya berganti hujan, hujan

kata namanya” kemudian

menulis dauanan di halaman

bersama diammu

Malang, 2007

NARASI XXII

Hujan yang rintik menulismu pada

Daunan yang mengering, padahal

Tak kemarau

Kaupun memulainya dengan kuncup

Lalu kembang tanpa bertanya tentang layu

Malang, 2007

n1511464492_9978*Edi Slenger, lahri di Madura 1986, mahasiswa Aktif Studi Bahasa dan Sastra Inggris UIN Malang. Pegiat di sanggar sastra “Tinta Langit Malang”, Teater K2 UIN Malang. Publikasi Karya: Puisi “Nyanyian Ibu” (Koran Harian Malang Post), Puisi “Pijar Sabda” (Juara 1 Lomba sajak UIN Malang), Puisi “Perjalanan 1” (Majalah sastra el-Madani). Puisi “Narasi dan Kidung Senja” (Koran Harian Surya) Email: edislenger@telkom.net

Permalink 11 Komentar

Sair Sajak I. G. Jali (2)

13 November , 2008 at 7:27 pm (Puisi, Sastra) (, , )

TAPI SAMPAI KAPAN

semua tahu
kita ini orang beriman
tapi sampai kapan

semua tahu
kita ini orang-orang pasrah
tapi sampai kapan

semua tahu
siapa kenal diri sendiri
akan kenal siapa tuhannya

tapi kapan

o orang sekarang
sudah kenal tuhan
hingga mereka lupa daratan

orang sekarang
kebanyakan ngobrol sama tuhan
dari pada tidur malam

o ya berbahagialah
orang yang lupa diri
dan selalu ingat tuhan

tapi sampai kapan

krapyak, 26 ramadan 1429

ROTI TAWAR

saat makan roti tawar
aku teringat hidupku
melekat di langit-langit
lengket di gigi dan guzi
sulit dikunyah secara kasar
dan tak mudah menelannya
aku kerepotan jadinya

tapi waktu menatap kau
justru hidup ingat padaku
kembali menyuguhiku pilihan
memberi sajakku suatu warna
dan aku baru sadar
bahwa puja-puji ini
telah kuulang ribuan kali

Krapyak, 07 Ramadan 1429
07 September 2008

TERBALAS IMPAS

terhenti lagi kenapa
gita cita cinta rindu
dan tak ada
padahal hanya tintaku
perlu geli dan baca

tuh terhenti lagi
tadi sudah sampai
di pintu rumah
tapi tiba-tiba menjauh
terdampar disini

melambung lagi
ke dalam sepi
mendalam
meluas
tak terangkum lagi

bagai jailangkung
ia berkata:
ini aku
kata yang tertulis
saban datang
kau acuhkan
kini kubalas
kutikam
dengan kerinduan

jogja, 22 nopember 2007
pagi rindukan hangat
padahal sesaat lagi
juga bakal datang
Baca entri selengkapnya »

Permalink 6 Komentar

Sair Sajak Moehammad Zaini (7)

13 November , 2008 at 5:28 pm (Puisi, Sastra) (, , , )

ANAK LUKA DAN ANAK TANGGA

Aku mengenal luka lagi, luka yang riang bermain anak tangga. Anak tangga selalu punya cerita di satu pertahapnya. Anak tangga dan aku yang anak luka. Riang di rumah. Melempar lemari ke bawah, atau membawa sofa ke atap rumah. Setiap tergelincir, aku tertawa, lalu anak tangga mengajakku ke teras rumah. Melihat jalanan kecil yang lupa pada luka. “Mereka lupa padamu, anak luka!”, anak tangga berteriak. Jalanan itu luka. Anak tangga terdiam lalu mengajakku tergelincir di tangga berikutnya. “Bawa tubuhmu sekalian, kita berhenti di dapur, dan makan tubuhmu bersama”, sambil berlari anak tangga menuju dapur, tergelincir, jatuh, bangun, lari, terjerembab, bangun.. lalu aku berteriak, “ kau teman paling setia anak tangga, selalu menyempatkan jatuh dan terluka saat kau berlari, kau selalu mengingatku..” ia hanya tersenyum.

Aku anak luka, terus bermain setiap bertemu anak tangga yang berikutnya..

30-10-2008

PAGI DI MATA YANG REDUP

Pagi di mata yang redup
Sepasang sandal melintas di tatapannya
Tubuh kumuh berbicara
Terseret-seret di langkah lunglai

Bocah itu dengan tanah apa beda
Tubuh terbungkus hitam
Sengatan matahari
Bercerita sepanjang jalan
Tentang doa yang bisu

Mata yang kabut
Oleh darah dan tanpa arah
Luka-luka kerikil
Dan pagi lenyap
Tertimbun di kuburan tua.

Yogyakarta, 18-10-2008

SENIN PETANG

Senin petang di pintu kamar
Kau duduk serupa majnun di hatiku
Terakhir kali kau menggantung di gantungan baju
Belakang pintu
Sesaat setelah bekas merah di mukena itu

Malam ini biarkan kamar memelukmu

20-10-2008

SETENGAH MENIT MENUNGGUMU

young-woman-with-silk-neckerchief-modiglianiAku menunggumu seperti batu di kamar ini. Batu yang lumut. Tapi yang aku kira aku adalah batu kecil yang tersangkut di jempol jari kakimu, ikut dan terjatuh di karpet kamar. Tapi tak salah jika aku ingin terbang ke rak-rak buku yang menggigil tak pernah peroleh dekap, ke baju-baju di lemari yang tak pernah hangat oleh setrika dan parfum, ke piring-sendok yang memikul sisa ludah dan butir dari mulut, atau kasur yang semalam ketumpahan teh sehabis kau mampir dan tidur di atasnya.

Aku menunggumu serupa kopyah di sajadah itu, selepas aku sembahyang, berlalu dan berdoa di bibirmu. Kopyah yang hanya bisa melihat kita berciuman dan segera menjadi penutup pagut bibir kita saat pintu tiba-tiba terbuka. Sebab dari luar hujan segera masuk tiba-tiba. “Di luar dingin”, kata hujan. Kopyah mengerti kita, menyembunyikan muka malu kita, dan tak memberitahukan pada siapapun sampai ia kembali di atas sajadah menjadi sujud bulan yang beku.

29-10-2008

Permalink 3 Komentar

Sair Sajak I. G. Jali

26 Juni , 2008 at 6:51 pm (Puisi, Sastra)

Batu di Dadaku
buat F. Kamandobat, Rekki Z. dan dia

aku belajar melukis pada bunga
bagaimana memadukan warna
kala sedih atau berbunga-bunga
hanya dengan satu tinta

aku juga belajar mengukir
pada pohon jati tua
bagaimana mengungkapakan umur
tanpa kata
hanya dengan garis-garis
pada daging dan uratnya

tapi belum juga aku mampu
mengukir nama-nama pada batu di dadaku
sekedar untuk prasasti

entah pena ukirku tak tangguh
atau batu di dadaku yang angkuh

kau bawakan aku baja sebagai kertas
untuk mengoreksi pena ukirku
kau suruh aku mengisinya dengan kata
kau tahu, penaku menari sangat lincah
menggoreskan ribuan kata per kedip
menyala dan mendalam
sedalam luka tikam sajakmu
pada peilipis purnama

aku tak berharap tulis kata-kata
aku hanya ingin ukir nama-nama
pada batu di dadaku

batu di dadaku
pun tak luput dari pemriksaanmu:
hanya kau mantrai dengan puisi
pudar sudah angkuhnya

tapi bagaimana aku ini:
tak mampu mengukir meski hanya nama-nama
pada batu di dadaku
sekedar untuk prasasti

aku lantas bertanya kenapa pada bunga
ia beri aku isyarat lewat ranting
tumbuh mengahadap raut matahari
tersenyum menatap panas yang akrab
seakan yakin tak akan membakar

aku tanyakan lagi pada pohon jati tua
ia hanya menggugurkan daun-daun
dengan akar tak bergeming
meski dipaksa topan matang
untuk mengalah pada nama-nama

tiba-tiba kulihat namamu terbang
pena ukirku mengejarnya
tanpa seizinku
dan saat aku terjaga
ada ukiran satu tinta satu warna
pada batu di dadaku
bergerak memadukan senja dan pagi
dalam satu waktu yang rumit

Jogja, 01 Juni 2008 M.
26 J. I 1429 H.
tepat saat air perigi
memintaku mandi kata
bukan nama

Ejaan Lama di Tepi Pagi

pagi lelah melukis rautmuFoto oleh Laila Lalami
pada kanvas embun anti sakit
kau di sini membelah angan
sambil bersendawa dan tertawa
pukulkan bibirmu pada malam
sebab aku merasa kurang kelam

ini terima
kuambilkan kau sebilah kata
untuk kau kuburkan sampah
aku tak tahan ditinju kemarin
layaknya kekenyangan

tolong ambilkan sedikit sinar
aku merasa kurang terang
ini gambar matahari
sedang melongo pada laut
di sini ada kau
di sini aku
di sini dia
kita berhenti pada gores
kenapa berhenti, kau bertanya
karena merah muda habis, jawabku
di sana, di dekat malam, ada toko
coba kau belikan aku mawar
biar warnanya saja yang menghias

Jogja, 29 R. II 1429 H.
06 Mei 2008 M.
saat menatap campuran warnaku
diaduk dengan durian siang

Matahari Menggigil

Foto leh Jendela Hatirupanya matahari hari ini tengah kedinginan
mendung menyelimutinya dengan ayatayat awan
deraiderai airmatanya menyulamkan sutra lugu
dengan sederet embunrela yang memapah hati sang pagi buta

demi yang maha mendendam aku bersumpah
matahari akan kembali terbakar…sehat dari demam
hanyasaja menunggu bagai memakan mentah
bangkai sumpah

maaf, jiwaku
aku merindukanmu dengan segenggam duka
dan setapak debu ragu

Kudus, 31 Januari 2007
saat tujuh mutiara berkumandang
dengan dendang-dendang malam

Kabut Tebal Gunung Hairan

belajar hatiku mencincang kabut tebal harapan
mulai pagi buta kala itu dengan tabasan kemelaratan
terkadang ada saja kecolongan di siang bolong
tepat ketika srigalambisi melolong
sebab kekecewaan akan segera membadai
manakala perahu telah berlabuh di laut tiada berpantai

dugalah dengan kuat, malam langit tiada perlu kau rakit
dengan olesan tinta, apalagi kelam harap yang penuh parit

katak saja mengerti kapan ia musti berdzikir
ikhlas. tanpa gaji—meski hanya itulah yang ia bisa
nyaman didengar atau tidak, berjawaban gum gom
suaranya menjasad sekian banyak watak penjilat tuhan
bersama madu perjalanan meniti gunung hairan

Semarang, 25 Pebbruari 2007
waktu tergelantung tanya
inikah puncak gunung hairan

I. G. Jali

http://www.sijilintang.wordpress.com/

Permalink 7 Komentar

Next page »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.