Senjakala Kematian Danarto dan Budi Darma

9 Januari , 2009 at 10:04 pm (Budi Darma, Danarto, Kritik Sastra, Sastra, Tela'ah Sastra, Tokoh)

Oleh: Musthafa Amin*

danarto-darma

Kacapiring, Laki-Laki Lain Dalam Secarik Surat

Kematian adalah sesuatu yang tidak terelakkan. Sebagai salah satu prima pincipia kehidupan, kematian adalah pilihan yang tidak memiliki opsi. Ia adalah hal yang tak terelakkan bagi manusia. Satu kepastian tunggal dengan proses yang beragam. Sejenak bila membaca tulisan Fayyadl di dalam Blognya, dengan tema Filsafat Kematian (Philosophy of Death): Sebuah Hantaran Metodologis Awal ada satu hal yang menggelikan, bahkan saya pun sempat tertegun ketika teringat tentang banyak orang yang membicarakan kematian. Manusia sebenarnya membicarakan kematian secara apriori. Bagaimana kita berbicara tentang kematian, sementara kita belum pernah mengalaminya?

Toh, kemudian, landasan filosofis masih belum bisa menghentikan keinginan manusia untuk selalu menguraikan tentang kematian bahkan proses setelah itu, melangkah jauh hingga ke bagian eskatologi, tentang hari pembalasan sebagai batasan-batasan perilaku manusia sebagai makhluk unggul.

Tulisan ini, dengan sekedarnya, ingin memaparkan bagaimana ketika seorang sastrawan berkehendak melakukan eskplorasi tentang “kematian” dalam karyanya, bagaimana mereka menyikapi kematian sebagai pilihan hidup yang tidak bisa ditawar. Pilihan tokoh sastrawan berikut tidak memiliki landasan ilmiah apapun, karena ini adalah sebuah kebetulan saja penulis menemukan sebuah karya dua orang sastrawan yang menjadikan “kematian” sebagai tema dalam salah satu prosanya. Keduanya adalah Danarto dan Budi Darma. Baca entri selengkapnya »

Permalink 6 Komentar

Biografi; Chairil Anwar

7 Nopember , 2008 at 6:13 pm (Biografi, Chairil Anwar, Sastra, Tokoh) (, , )

Chairil Anwar dilahirkan di Medan, 26 Julai 1922. Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup berantakan. Kedua ibu bapanya bercerai, dan ayahnya berkahwin lagi. Selepas perceraian itu, saat habis SMA, Chairil mengikut ibunya ke Jakarta.

Semasa kecil di Medan, Chairil sangat rapat dengan neneknya. Keakraban ini begitu memberi kesan kepada hidup Chairil. Dalam hidupnya yang amat jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat adalah saat neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang luar biasa pedih:

Bukan kematian benar yang menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertahta

Sesudah nenek, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil puja. Dia bahkan terbiasa membilang nama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu, sebagai tanda menyebelahi nasib si ibu. Dan di depan ibunya, Chairil acapkali kehilangan sisinya yang liar. Beberapa puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada ibunya.
Sejak kecil, semangat Chairil terkenal kedegilannya. Seorang teman dekatnya Sjamsul Ridwan, pernah membuat suatu tulisan tentang kehidupan Chairil Anwar ketika semasa kecil. Menurut dia, salah satu sifat Chairil pada masa kanak-kanaknya ialah pantang dikalahkan, baik pantang kalah dalam suatu persaingan, maupun dalam mendapatkan keinginan hatinya. Keinginan dan hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap, menyala-nyala, boleh dikatakan tidak pernah diam. Rekannya, Jassin pun punya kenangan tentang ini:

Kami pernah bermain bulu tangkis bersama, dan dia kalah. Tapi dia tak mengakui kekalahannya, dan mengajak bertanding terus. Akhirnya saya kalah. Semua itu kerana kami bertanding di depan para gadis.

Wanita adalah dunia Chairil sesudah buku. Tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Dan semua nama gadis itu bahkan masuk ke dalam puisi-puisi Chairil. Namun, kepada gadis Karawang, Hapsah, Chairil telah menikahinya.

Pernikahan itu tak berumur panjang. Disebabkan kesulitan ekonomi, dan gaya hidup Chairil yang tak berubah, Hapsah meminta cerai. Saat anaknya berumur 7 bulan, Chairil pun menjadi duda.
Tak lama setelah itu, pukul 15.15 WIB, 28 April 1949, Chairil meninggal dunia. Ada beberapa versi tentang sakitnya. Tapi yang pasti, TBC kronis dan sipilis.

Umur Chairil memang pendek, 27 tahun. Tapi kependekan itu meninggalkan banyak hal bagi perkembangan kesusasteraan Indonesia. Malah dia menjadi contoh terbaik, untuk sikap yang tidak bersungguh-sungguh di dalam menggeluti kesenian. Sikap inilah yang membuat anaknya, Evawani Chairil Anwar, seorang notaris di Bekasi, harus meminta maaf, saat mengenang kematian ayahnya, di tahun 1999, Saya minta maaf, karena kini saya hidup di suatu dunia yang bertentangan dengan dunia Chairil Anwar.

Tulisan ini dilansir dari indonesiaindonesia.com

Biografi Chairil Anwar juga bisa dilihat di:

- wikipedia.com
- mesiass.com
- penyair.wordpress.com

Beberapa tulisan Tongkrongan Budaya tentang Chairil Anwar:
> Memaknai Kemiskinan Ala Chairil Anwar
> Chairil (Tidak) di Indonesia

Permalink 11 Komentar

Biografi; Sapardi Djoko Damono

16 Agustus , 2008 at 5:09 pm (Biografi, Sapardi Djoko Damono, Tokoh) (, , , )

Prof Dr Sapardi Djoko Damono dikenal sebagai salah seorang sastrawan yang memberi sumbangan besar kepada kebudayaan masyarakat modern di Indonesia. Salah satu sumbangan terbesar Guru Besar Fakultas Sastra UI ini adalah melanjutkan tradisi puisi lirik dan berupaya menghidupkan kembali sajak empat seuntai atau kwatrin yang sudah muncul di jaman para pujangga baru seperti Amir Hamzah dan Chairil Anwar.

Pria kelahiran Solo, Jawa Tengah pada 20 Maret 1940 ini, mengaku tak pernah berencana menjadi penyair, karena dia berkenalan dengan puisi secara tidak disengaja. Sejak masih belia putra Sadyoko dan Sapariyah itu, sering membenamkan diri dalam tulisan-tulisannya. Bahkan, ia pernah menulis sebanyak delapan belas sajak hanya dalam satu malam. Kegemarannya pada sastra, sudah mulai tampak sejak ia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Kemudian, ketika duduk di SMA, ia memilih jurusan sastra dan kemudian melanjutkan pendidikan di UGM, fakultas sastra.

Anak sulung dari dua bersaudara abdi dalem Keraton Surakarta itu mungkin mewarisi kesenimanan dari kakek dan neneknya. Kakeknya dari pihak ayah pintar membuat wayang—hanya sebagai kegemaran—dan pernah memberikan sekotak wayang kepada sang cucu. Nenek dari pihak ibunya gemar menembang (menyanyikan puisi Jawa) dari syair yang dibuat sendiri. “Tapi saya tidak bisa menyanyi, suara saya jelek,” ujar bekas pemegang gitar melodi band FS UGM Yogyakarta itu. Sadar akan kelemahannya, Sapardi kemudian mengembangkan diri sebagai penyair.

Selain menjadi penyair, ia juga melaksanakan cita-cita lamanya: menjadi dosen. “Jadi dosen ‘kan enak. Kalau pegawai kantor, harus duduk dari pagi sampai petang,” ujar lulusan Jurusan Sastra Barat FS&K UGM ini. Dan begitu meraih gelar sarjana sastra, 1964, ia mengajar di IKIP Malang cabang Madiun, selama empat tahun, dilanjutkan di Universitas Diponegoro, Semarang, juga selama empat tahun. Sejak 1974, Sapardi mengajar di FS UI.

Sapardi menulis puisi sejak di kelas II SMA. Karyanya dimuat pertama kali oleh sebuah surat kabar di Semarang. Tidak lama kemudian, karya sastranya berupa puisi-puisi banyak diterbitkan di berbagai majalah sastra, majalah budaya dan diterbitkan dalam buku-buku sastra. Beberapa karyanya yang sudah berada di tengah masyarakat, antara lain Duka Mu Abadi (1969), Mata Pisau dan Aquarium (1974).

Sebuah karya besar yang pernah ia buat adalah kumpulan sajak yang berjudul Perahu Kertas dan memperoleh penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta dan kumpulan sajak Sihir Hujan – yang ditulisnya ketika ia sedang sakit – memperoleh Anugerah Puisi Poetra Malaysia. Kabarnya, hadiah sastra berupa uang sejumlah Rp 6,3 juta saat memperoleh Anugerah Puisi Poetra Malaysia langsung dibelanjakannya memborong buku. Selain itu ia pernah memperoleh penghargaan SEA Write pada 1986 di Bangkok, Thailand.

Para pengamat menilai sajak-sajak Sapardi dekat dengan Tuhan dan kematian. “Pada Sapardi, maut atau kematian dipandang sebagai bagian dari kehidupan; bersama kehidupan itu pulalah maut tumbuh,” tulis Jakob Sumardjo dalam harian Pikiran Rakyat, 19 Juli 1984.

Bekas anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) ini juga menulis esei dan kritik. Sapardi, yang pernah menjadi redaktur Basis dan kini bekerja di redaksi Horison, berpendapat, di dalam karya sastra ada dua segi: tematik dan stilistik (gaya penulisan). Secara gaya, katanya, sudah ada pembaruan di Indonesia. Tetapi di dalam tema, belum banyak.

Penyair yang pernah kuliah di Universitas Hawaii, Honolulu, AS, ini juga menulis buku ilmiah, satu di antaranya Sosiologi Sastra, Sebuah Pengantar Ringkas. (1978).

Selain melahirkan puisi-puisi, Sapardi juga aktif menulis esai, kritik sastra, artikel serta menerjemahkan berbagai karya sastra asing. Dengan terjemahannya itu, Sapardi mempunyai kontribusi penting terhadap pengembangan sastra di Tanah Air. Selain dia menjembatani karya asing kepada pembaca sastra, ia patut dihargai sebagai orang yang melahirkan bentuk sastra baru.

Dengan kepekaan dan wawasan seorang sastrawan, Sapardi ikut mewarnai karya-karya terjemahannya seperti Puisi Brasilia Modern, Puisi Cina Klasik dan Puisi Parsi Klasik yang ditulis dalam bahasa Inggris. Selain itu dia juga menerjemahkan karya asing seperti karya Hemmingway The Old Man and the Sea, Daisy Manis (Henry James), semuanya pada 1970-an. Juga, sekitar 20 naskah drama seperti Syakuntala karya Kalidasa, Murder in Cathedral karya TS Elliot, dan Morning Become Electra trilogi karya Eugene O’neil.

Sumbangsih Sapardi juga cukup besar kepada budaya dan sastra, dengan melakukan penelitian, menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan aktif sebagai administrator dan pengajar, serta menjadi dekan Fakultas Sastra UI periode 1995-1999. Dia menjadi penggagas pengajaran mata kuliah Ilmu Budaya Dasar di fakultas sastra.

Dia menyadari bahwa menjadi seorang sastrawan tidak akan memperoleh kepuasan finansial. Kegiatan menulis adalah sebagai waktu istirahat, saat dia ingin melepaskan diri dari rutinitas pekerjaannya sehari-hari. Menikah dengan Wardiningsih, ia dikaruniai dua anak, Rasti Suryandani dan Rizki Henriko.

Profil ini dilansir dari situs Tokoh Nasional

Beberapa tulisan tentang Biografi Sapardi Djoko Damono:

- Wikipedia

- Tempo

Tulisan terkait Sapardi Djoko Damono: Mencari Rupa Cinta dalam Sajak “Aku Ingin” Karya Sapardi Djoko Damono


Permalink 3 Komentar

Memaknai Kemiskinan Ala Chairil Anwar

24 Juli , 2008 at 5:38 pm (Chairil Anwar, Sastra, Tela'ah Sastra, Tokoh) (, , , , )

Chairil_Anwar

Chairil_Anwar

Baik, baik aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku

Jangan lagi kau bercerita
Sudah tercacar semua di muka
Nanah meleleh dari luka
Sambil berjalan kau usap juga.

Bersuara tiap kau melangkah
Mengerang tiap kau memandang
Menetes dari suasana kau datang
Sembarang kau merebah.

Mengganggu dalam mimpiku
Menghempas aku di bumi keras

Di bibirku terasa pedas
Mengaum di telingaku.

Baik, baik aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku

Juni 1943

Sebenarnya bagaimana seharusnya kita memaknai kemiskinan. Bagi kalangan politikus, kemiskinan adalah selempang jalan yang mulus untuk menggerakkan dan meningkatkan popularitas mereka. Kemiskinan adalah lahan komoditas yang selalu menjadi acuan politis di mana mereka setelah menjabat, ia menjadi berkas-berkas paling bawah dan ditindih berkas soal lain ironisnya hanya dipegang oleh sekpri-nya saja.

Atau bagi pemuka agama, kemiskinan adalah kondisi yang harus disikapi dengan ketabahan dan keikhlasan. Merujuk pada ajaran-ajaran agama, kemiskinan adalah wujud kasih sayang Tuhan pada hambanya agar dilalui dengan penuh arif dan sabar. Sederhananya, kemiskinan adalah jalan menuju kekayaan di hari akhir kelak. Baca entri selengkapnya »

Permalink 4 Komentar

Rumput di Seberang Itu Semakin Hijau

24 Mei , 2008 at 5:42 pm (Gesang, Teh Hangat, Tokoh) (, , , )

Potret (Satu) Khazanah Indonesia (Saja)

TongkronganBudaya–Di salah satu koran harian Indonesia, SURYA, ada kabar menarik. Tercatat tanggal 13 April 2008, diberitakan (meski hanya berbentuk kolom kecil) bahwa lagu Bengawan Solo hasil cipta kreatif Gesang Martohartono, ternyata menarik minat kesenian dan digandrungi masyarakat Jepang. Lelaki sepuh berumur 91 tahun ini dianggap sebagai ikon penghubung persahabatan antara kedua Negara, Indonesia dan Jepang. Beliau diberi kopi DVD film drama-dokumenter berjudul Benang Merah yang baru saja diterimanya dari Komite Hubungan Diplomatik-Jepang 50 tahun di Solo, Jawa Tengah, Sabtu12 April 2008.

Kabar ini begitu mencerahkan. Meski kisah-kisah sedih dan memilukan tentang penyerobotan cipta kreatif kebudayaan masih belum terselesaikan sepenuhnya. Lebih sederhana, sebut saja kasus dua Negara bertetangga, Indonesia dan Malaysia. Belum kelar rasa sakit hati akibat direbutnya pulau Ligitan oleh Malaysia, Indonesia kembali menuai cemas dan dibuat gemas oleh ulah negeri Jiran tersebut dengan dipampangkannya lagu Rasa Sayange dan Kesenian Reog Ponorogo di dalam situs pariwisata mereka. Bangsa Indonesia seperti kebakaran jenggot. Begitulah, sifat bangsa ini cenderung tidak berubah atau malah membingungkan. Kita seperti terbiasa melawan setelah tindakan, bukan bertindak untuk melawan atau penanggulangan. Kita sering terjebak dalam isu bukannya mencipta isu dan gagasan. Seringkali, kita tidak pernah menawarkan isu, yang kelak akan menjadi perhatian dan kajian tentang Indonesia oleh kawasan Negara lain. Ajaran yang sebenarnya tertanam bagi mereka yang telah mengecap pendidikan dasar, lebih baik mencegah daripada mengatasi, tak lebih sebagai kembang hias yang selalu diletakkan ketika acara, kemudian hilang entah di mana.

Coba menghitung kembali kebudayaan yang tersebar di seluruh penjuru nusantara. Di bagian jawa timur saja—tanpa perlu melibatkan pulau lainnya, begitu banyak ragam Budaya yang perlu dicagarkan kembali. Di pulau Madura, nuansa tradisional masih begitu kental, dengan perilaku masyarakat yang masih dominan dikuasai oleh Budaya lokal. Kerapan madura, pencak, carok, parikan, kejung (lagu berima khas madura) dan lainnya, seyogyanya terus dilestarikan dan mendapatkan perhatian dari institusi pemerintah regional serta nasional. Bilamana madura seperti itu, apalagi Jawa. Tiap kabupaten memiliki tindak Budaya dan ritus Budaya yang berbeda pula, nilai historis dan nilai kedaerahan itu seterusnya harus tertanam di benak segala publik dan dilestarikan hingga ke anak cucu. Marilah di Momen Kebangkitan ini, semuanya bangkit. Sektor ekonomi, sektor ekologi dan sektor Budaya. Bangkit Indonesia!!!

Permalink 4 Komentar

Next page »