<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Budidaya Budaya &#187; Tokoh</title>
	<atom:link href="http://tongkronganbudaya.wordpress.com/category/tokoh/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tongkronganbudaya.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 08 Oct 2009 18:10:52 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='tongkronganbudaya.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/41b4845e44081f6e1701e726b63a174e?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Budidaya Budaya &#187; Tokoh</title>
		<link>http://tongkronganbudaya.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Kata Sebagai Unsur Paling Esensial dalam Sebuah Sajak</title>
		<link>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2009/10/03/kata-sebagai-unsur-paling-esensial-dalam-sebuah-sajak/</link>
		<comments>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2009/10/03/kata-sebagai-unsur-paling-esensial-dalam-sebuah-sajak/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Oct 2009 18:49:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nongkrong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budi Darma]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Tela'ah Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Orang-Orang Bloominton]]></category>
		<category><![CDATA[Sajak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tongkronganbudaya.wordpress.com/?p=114</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Titon Rahmawan
Budi Darma dalam pengantar atas kumpulan cerpennya yang berjudul &#8216;Orang-Orang Bloomington&#8217; menyatakan bahwa unsur utama yang paling berperanan dalam sebuah cerita pendek adalah tema, namun apakah tema memegang peranan yang sama esensialnya dalam sebuah sajak? Pertanyaan tersebut cukup sering dilontarkan oleh orang awam yang berminat terhadap karya sastra dan mereka yang ingin mendalami [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=114&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh: Titon Rahmawan</p>
<p>Budi Darma dalam pengantar atas kumpulan cerpennya yang berjudul &#8216;Orang-Orang Bloomington&#8217; menyatakan bahwa unsur utama yang paling berperanan dalam sebuah cerita pendek adalah tema, namun apakah tema memegang peranan yang sama esensialnya dalam sebuah sajak? Pertanyaan tersebut cukup sering dilontarkan oleh orang awam yang berminat terhadap karya sastra dan mereka yang ingin mendalami sajak pada khususnya, namun ironisnya pertanyaan itu belum tentu dapat dijawab oleh orang yang mengaku dirinya sebagai seorang penyair sekali pun. Mengapa muncul hal yang demikian adalah dikarenakan oleh begitu banyaknya calon penyair yang sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri. Para calon penyair itu terlampau sibuk dalam mengolah gagasan-gagasan untuk menjadikan karyanya sebagai sebuah karya yang fenomenal, sehingga terbebani oleh sejumlah misi untuk menyampaikan &#8217;sesuatu&#8217; kepada pembacanya. Sesuatu itu bisa berupa pesan moral, khotbah, protes politik, kajian filsafat, kritik sosial, masalah cinta, masalah keluarga, atau laporan jurnalistik dengan berbagai gaya ungkap, akan tetapi si penyair lupa bahwa sesunguhnya ia tengah menulis sebuah sajak dan bukannya propaganda politik, pamflet, teks iklan, surat cinta atau berita koran. Banyak calon penyair lupa atau tidak tahu bahwa esensi sebuah sajak sesungguhnya bukan pada masalah tema atau gagasan tapi lebih pada kata-kata, sebagaimana ditegaskan oleh Sapardi Djoko Damono salah seorang penyair terkemuka kita bahwa kata-kata adalah segala-galanya dalam puisi.<br />
<span id="more-114"></span><!--more--><br />
Menurut Marjorie Boulton sebagaimana di kutip oleh Prof. M. Atar Semi unsur-unsur pembentuk sajak dapat di lihat dari dua segi yaitu dari bentuk fisik dan bentuk mental. Bentuk fisik itu meliputi tipografi, diksi, irama, intonasi, enjambemen, repetisi dan berbagai perangkat bahasa lainnya, sementara bentuk mental meliputi tema, asosiasi, simbol, pencitraan, dan emosi. Pembahasan atas setiap unsur-unsur dalam sajak adalah hal yang sangat rumit terutama bila kita tidak melihatnya dalam kaitannya dengan unsur-unsur yang lain, karena sebuah sajak merupakan sebuah totalitas yang unikum, akan tetapi kesadaran seorang penyair atas keberadaan kata sebagai unsur yang paling esensial dalam penulisan sajak akan membantu diri si penyair dalam memahami esensi dari proses kreatif penulisan sajak itu sendiri, sekali pun tentu saja seorang penyair dituntut pula memiliki pemahaman yang sama mendalamnya atas unsur-unsur sajak yang lain sehingga ia mampu melahirkan sajak yang bagus dan berhasil.</p>
<p>Perlu dipahami pula bahwa kata-kata di dalam sajak adalah kata-kata yang sama sekali berbeda dengan teks dalam bentuk yang lain. Kata-kata dalam sajak memiliki peran sangat esensial karena ia tidak saja harus mampu menyampaikan gagasan, tetapi juga dituntut untuk mampu menggambarkan imaji sang penyair dan memberikan impresi ke dalam diri pembacanya, karena itu kata-kata dalam puisi lebih mengutamakan intuisi, imajinasi, dan sintesis sebagaimana dapat kita lihat dari pendekatan puisi itu sendiri bertitik tolak dari bentuk organik puisi menurut Herbert Read yang di kutip oleh Prof. M. Atar Semi yang menyampaikan bahwa puisi adalah &#8216;predominantly intuitive, imaginative, and synthetic&#8217; sementara pilihan kata-kata dalam prosa lebih mengedepankan logika, bersifat konstruktif dan analitis.</p>
<p>Lebih lanjut Atar Semi menyampaikan bahwa intuisi di dalam sajak adalah mengacu pada kemampuan sajak itu untuk menyatakan kebenaran yang dapat diterima secara universal, jadi sajak yang baik mutlak mengandung nilai-nilai kebenaran universal (universal truth). Sementara imajinasi dalam sajak adalah merupakan upaya kreatif untuk memperkuat kesan suatu pengalaman puitik yang hendak disampaikan oleh seorang penyair, dengan kata lain proses penulisan sajak sepenuhnya harus lahir melalui sebuah proses kreatif. Selanjutnya Atar Semi menyatakan bahwa sajak adalah merupakan sebuah sintesis yang mengandung maksud bahwa kata-kata dalam sajak haruslah memiliki keunikan yang tidak langsung mengacu pada sesuatu yang diungkapkannya tapi mengandung pengertian yang luas dan mampu menimbulkan kesan rasa dan daya anggap yang jauh lebih mendalam.</p>
<p>Sapardi Djoko Damono dalam esainya &#8216;Puisi Indonesia Mutakhir: Beberapa Catatan&#8217; menegaskan pula bahwa kata-kata dalam sajak berfungsi sebagai jembatan penghubung antara gagasan penyair dengan lentik penafsiran pembacanya oleh karena itu kata-kata dalam sajak harus mampu membentangkan panorama keindahan yang ingin dilukiskan lewat intuisi si penyair. Kekuatan kata-kata tidak semata-mata dalam kemampuannya mengkomunikasikan diri tapi terlebih pada kemampuan menciptakan imaji dan impresi yang akan meninggalkan bekas di dalam diri pembacanya, sehingga kesan itu tetap hidup bergema dalam pikiran, bergetar dalam perasaan, yang menyebabkan pembaca tersentuh oleh rasa haru, sedih, atau pun gembira sesuai impresi sajak.</p>
<p>Hal inilah yang sering luput dari perhatian, bahwa kata-kata dalam percakapan sehari-hari yang bermakna denotatif dapat di pakai begitu saja dalam menulis sebuah sajak sehingga impresi yang muncul adalah sebuah realitas yang naif terlalu apa adanya, tak lebih daripada berita di surat kabar. Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai hal tersebut dapat kita lihat pada sajak karya Theora Agatha sebagai berikut:</p>
<p>BERITA ATAS NAMA</p>
<p>Televisi bukan lagi saluran mimpi, tapi sudah jadi kegeraman menyesak dada, dan koran bukan semata sumber berita tapi lebih banyak menjual kepedihan.</p>
<p>Coba lihat dan dengarkan;<br />
Berita pagi pukul 6 – atas nama cinta seorang wanita kehilangan nyawa<br />
Berita pagi pukul 7 – atas nama harta 2 orang bersaudara saling aniaya<br />
hingga sampai ajalnya<br />
Breaking news pukul 9 – atas nama dendam 1 keluarga tewas ditikam<br />
Breaking news pukul 11 – atas nama solidaritas 10 buruh tewas<br />
dalam aksi demo yang panas<br />
Berita siang pukul 12 – atas nama demokrasi 2 polisi binasa,<br />
8 mahasiswa terluka,<br />
15 orang lagi tak ketahuan rimbanya<br />
Berita kriminal pukul 20 – atas nama setan seorang wanita tewas dianiaya<br />
dan dimakan dagingnya<br />
Berita kriminal pukul 20 – atas nama kemelaratan seorang bayi dibuang ke<br />
tong sampah oleh orang yang tak mau mengaku<br />
sebagai ibunya<br />
Headline news pukul 21 – atas nama kemanusiaan 500,000 orang dipaksa<br />
mengungsi dari negerinya sendiri, tak terhitung<br />
yang tewas karena lapar dan peperangan<br />
Headline news pukul 21 – atas nama tuhan 80 orang tewas dalam ledakan<br />
1,000 orang tewas dalam kebakaran<br />
dan lebih 1,000,000 orang tewas oleh pembantaian</p>
<p>Atas nama apa lagi kita musti meratap dan menangis?</p>
<p>Jakarta, April 2000</p>
<p>Sajak di atas tak ubahnya sebuah laporan jurnalisme, yang sekali pun berupaya menggambarkan realitas dengan gaya ironis atas kondisi sosial masyarakat namun ia hanya berhenti hanya sebagai sebuah protes namun gagal sebagai sebuah sajak, karena tidak mampu menciptakan imaji dan impresi yang mendalam. Karya di atas tak lebih dari sekedar teks yang cukup dibaca sekali saja dan tidak meninggalkan kesan apa pun dalam diri pembaca, karena tak kita rasakan adanya misteri yang menyelubunginya, semua kata tampil demikian apa adanya. Ia hanya menyentuh bagian permukaan kesadaran kita, hanya berusaha menggugah emosi sejenak tanpa menukik lebih jauh ke dalam hati, karena sajak semacam itu hanya lebih menekankan aspek agitasi, tidak begitu orisinil dalam pengungkapan dan pengucapan, yaitu sebatas kutipan berita surat kabar atau berita televisi yang tampil terlalu apa adanya (naif). Pilihan kata-katanya pun terlampau klise karena banyak mengacu pada pendapat masyarakat umum. Tidak kita rasakan adanya sebuah proses kreatif di dalam penulisannya, dan tidak terasa pula adanya keunikan peran individu dalam mengolah karya itu sehingga karya di atas tak lebih dari sebuah kitsch yang tidak memiliki nilai sastra.</p>
<p>Perlu kita garis bawahi bahwa kata-kata dalam sajak mengemban peran yang lebih majemuk, oleh karenanya pemilihan kata-kata atau diksi dalam sajak haruslah melewati suatu proses kreatif dan bersifat distingtif yang sanggup mengkomunikasikan pikiran dan perasaan sekaligus. Kata-kata tidak berhenti sebagai gagasan namun harus diolah kembali untuk mencapai nilai keindahan atau estetika yang tinggi untuk sanggup melahirkan sebuah impresi yang utuh dan menyentuh ke dalam diri pembaca. Impresi atau kesan dapat diperoleh dari aspek bunyi seperti aliterasi (pengulangan konsonan) atau asonansi (pengulangan vokal), kata-kata tersebut lebih mengutamakan susunan atas bunyi yang menciptakan efek merdu dalam pendengaran dan memiliki sifat emotif, yaitu mampu menimbulkan emosi yang berfungsi sebagai frase yang liris atau musikal. Setiap kata yang dipilih diharapkan memiliki asosiasi kepada berbagai kemungkinan penafsiran yang dapat di tinjau dari sensitivitas, intonasi, bunyi, irama, simbol, yang dapat berdiri sendiri secara otonom atau mempunyai pengertian yang mandiri. Di samping itu kata di pakai untuk mampu menciptakan sugesti dan mampu membangkitkan suasana tertentu dalam diri pembacanya</p>
<p>Nilai estetis kata di dalam sajak itu biasanya merujuk kepada intuisi atau kepekaan dan pengalaman puitik seorang penyair sehingga mampu menciptakan pengertian kata dalam dimensinya yang baru, yang lebih segar dan hidup. Dimensi dalam perspektif yang lebih luas dari makna kata-kata itu sendiri dalam kandungan pengertiannya yang lama. Nilai kata-kata dalam sajak haruslah fleksibel atau lentur (plastis) dalam artian tidak semata–mata mengacu pada pengertian leksikon yang baku, tapi terlebih lagi mampu mewujudkan imaji puitis penyairnya. Perlu kita garis bawahi sekali lagi bahwa kata-kata dalam sajak harus memiliki karakter yang otonom dimana kata-kata sanggup berdiri sendiri secara utuh dan tidak tergantikan oleh kata lain bahkan oleh sinonimnya sekali pun dalam mendukung impresi sajak itu sendiri, sehingga kata itu tidak bisa kita hapus atau kita ganti begitu saja tanpa merusak arsitektur bangunan sajak secara keseluruhan.</p>
<p>Seorang penyair yang baik akan memusatkan perhatian sepenuhnya pada pilihan kata-kata untuk menyampaikan pengalaman puitiknya agar tidak terjebak kepada kitsch, slogan, protes, esai atau bahkan prosa. Di sini perlu kita pahami lebih lanjut perbedaan asasi antara sajak dan puisi, sebagaimana dinyatakan oleh Putu Arya Tirtawirya, &#8216;Sajak adalah puisi, tetapi puisi belum tentu sajak&#8217; sebab puisi adalah suatu pengungkapan secara implisit, samar dengan makna tersirat dimana kata-kata condong pada artinya yang konotatif sementara sajak adalah apa yang ada dibalik yang tersirat itu. Sajak adalah cermin tempat manusia berkaca, tampak sosok dirinya dalam masa lalu, masa kini dan masa depan sekaligus.</p>
<p>Dalam esainya &#8216;Arti Komunikasi Dalam Sebuah Sajak&#8217; Putu arya menjelaskan lebih lanjut bahwa di dalam sajak, kata tidak lagi berfungsi sebagai alat komunikasi semata tetapi sesungguhnya merupakan lagu penggambaran jiwa sang penyair sebagai sebuah pribadi yang utuh. Tatkala berhadapan dengan sajak kita tidak lagi berasosiasi dengan kalimat, tetapi justru kepada pemikiran, pengalaman, emosi dan cinta. Oleh karena itu sajak yang baik tidak tampil sebagai sebuah realitas harafiah, ia harus mengandung misteri, terselubung oleh kabut tipis yang gaib tapi tidak sepenuhnya gelap atau pelik, harus ada setitik cahaya yang mengantarkan kita pada pemaknaan, lentik api itu harus terbit untuk merangsang pemikiran dan mampu menggugah perasaan. Kata-kata dalam sajak dipilih untuk menggugah rasa keindahan dan sekaligus harus mengandung kejujuran, karena kejujuran adalah elemen penting dalam setiap karya sastra yang bermutu.</p>
<p>Sajak sebagai sebuah karya seni harus diciptakan dengan kreativitas yang melahirkan perjalanan jiwa seorang penyair, dan diksi di pilih dari unsur yang dihayati oleh sang penyair. Penyair harus dapat menemukan nilai-nilai yang ada dalam masyarakatnya dan mengangkatnya menjadi sebuah karya yang sanggup memberi manfaat bagi kemanusiaan. Budi Darma dalam esainya &#8216;Perkembangan Puisi Indonesia Mutakhir&#8217; menyatakan bahwa salah satu jaminan yang penting dalam kreativitas adalah kejujuran penyairnya terhadap apa yang dia kuasai. Boleh dibilang bobot sebuah sajak dan juga karya sastra lainnya adalah untuk mengungkapkan kebenaran universal. Dimana dalam sajak, kebenaran itu terbungkus oleh metafora layaknya sutera tipis yang indah dan halus motifnya. Disitulah tantangan utama bagi seorang penyair untuk melahirkan sebuah sajak yang bagus, ia harus melewati sebuah perjuangan kreatif yang tidak mudah. Perjuangan merangkai kata-kata menjadi suatu kesatuan unikum yang utuh yang mampu menggelorakan perasaan dan mampu menyentuh kalbu.</p>
<p>Anggapan bahwa esensi sajak adalah tema atau gagasan dan bukannya kata menjadi gugur dengan sendirinya manakala kita melihat kenyataan bahwa sajak bukan semata kerja intelektual tapi lebih merupakan kerja seni, sebagaimana contoh yang pernah dikemukakan oleh Sapardi Djoko Damono bahwa seorang cendekiawan dengan segudang ide belum tentu dapat dengan mudah menulis sebuah sajak yang bagus dan berhasil. Bagi penyair seharusnyalah sajak merupakan sebuah proses pencarian, yaitu sebuah proses mencoba terus menerus dalam usahanya untuk menaklukkan kata.</p>
<p>Setiap penyair yang baik pasti memiliki arah dan punya obsesi tertentu dalam berkarya di mana ia dengan setia dituntut terus menerus mengunyah kata demi kata untuk mencapai kesempurnaan estetiknya, sekali pun proses itu harus ia lewati berulang kali dengan susah payah. Mengolah gagasan yang sama terus menerus adalah merupakan bentuk obsesi, karena kata-kata bisa diciptakan kembali lewat sekian banyak pendekatan atau diproses kembali melalui segala aspek kreatif untuk mencapai sebuah impresi yang baru dan lebih segar dengan gaya pengucapan yang lebih bernas. Oleh sebab itu seorang penyair yang baik pada hakekatnya tidak pernah berhenti bereksperimen karena setiap bentuk percobaan penulisan pengalaman dan perenungan ke dalam sajak adalah upaya untuk memperoleh jawaban dari kegelisahan puitik seorang penyair untuk menemukan kata-kata yang tepat mewakili perasaan dan isi hatinya</p>
<p>Seperti dinyatakan pula oleh Budi Darma bahwa tantangan utama seorang penyair adalah mengasah kreativitas, dan salah satu ciri kreativitas adalah mencari, tetapi bobot utama kreativitas bukan terletak pada usaha mencari itu sendiri melainkan terletak pada keakraban terhadap apa yang dia pakai, garap dan temukan. Oleh sebab itu sudah seharusnya para penyair mengakrabi kata-kata, atau kalau perlu memperlakukan kata-kata sebagai seorang kekasih karena itu merupakan salah satu bentuk pendekatan yang efektif agar kata-kata dapat tampil hidup dalam sajak-sajaknya. Tema memang selalu saja berulang, seorang penyair bisa saja terus menerus menulis tentang cinta, hidup atau kematian tapi setiap kali pula ia bisa menghasilkan sajak yang berbeda sama sekali dari karya yang sebelumnya. Hal ini hanya mungkin berlaku bagi seorang penyair yang mau secara konsisten mengasah bakat, kepekaan dan pengalaman puitiknya sehingga setiap pengalaman, kejadian, maupun gagasan pemikiran yang paling sederhana sekali pun dapat ia ubah lewat inspirasi puitik menjadi sebuah sajak yang bagus tanpa merasa perlu kehabisan kosa kata.</p>
<p>Februari 2004</p>
<p>Bibliografi</p>
<p>Atar Semi, M. tanpa tahun. Anatomi Sastra. Padang: Angkasa Raya<br />
Damono, Sapardi Djoko. 1982. Kesusasteraan Indonesia Modern: Beberapa Catatan. Jakarta: Gramedia<br />
Darma, Budi. 1980. Orang-Orang Bloomington. Jakarta: Sinar Harapan<br />
Darma, Budi. 1995. Harmonium. Yogyakarta: Pustaka Pelajar<br />
Layun Rampan, Korrie. 1984. Kesusasteraan Tanpa Kehadiran Sastra. Jakarta: Gunung Jati<br />
Suwondo, Tirto. 2003. Study Sastra, Beberapa Alternatif. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya<br />
Teeuw. A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia<br />
Tirtawirya, Putu Arya. 1978. Apresiasi Sastra dan Prosa. Ende-Flores: Nusa Indah</p>
<p>Dilansir dari <a href="http://www.ebloggy.com/blog.php?username=Putirenobaiak&amp;id=1&amp;start=80" target="_blank">http://www.ebloggy.com/</a></p>
Posted in Budi Darma, Kritik Sastra, Sastra, Tela'ah Sastra  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tongkronganbudaya.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tongkronganbudaya.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tongkronganbudaya.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tongkronganbudaya.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/114/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=114&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2009/10/03/kata-sebagai-unsur-paling-esensial-dalam-sebuah-sajak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8a4e003d1e5ac77fb4b04e490f5ca2b4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nongkrong</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Senjakala Kematian Danarto dan Budi Darma</title>
		<link>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2009/01/09/senjakala-kematian-danarto-dan-budi-darma/</link>
		<comments>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2009/01/09/senjakala-kematian-danarto-dan-budi-darma/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jan 2009 22:04:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nongkrong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budi Darma]]></category>
		<category><![CDATA[Danarto]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Tela'ah Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tongkronganbudaya.wordpress.com/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Musthafa Amin*

Kematian adalah sesuatu yang tidak terelakkan. Sebagai salah satu prima pincipia kehidupan, kematian adalah pilihan yang tidak memiliki opsi. Ia adalah hal yang tak terelakkan bagi manusia. Satu kepastian tunggal dengan proses yang beragam. Sejenak bila membaca tulisan Fayyadl di dalam Blognya, dengan tema Filsafat Kematian (Philosophy of Death): Sebuah Hantaran Metodologis Awal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=94&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-family:Garamond,serif;"><strong>Oleh: Musthafa Amin*</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<div id="attachment_95" class="wp-caption alignleft" style="width: 130px"><img class="size-medium wp-image-95" title="danarto-darma" src="http://tongkronganbudaya.files.wordpress.com/2009/01/baca-buku-2.jpg?w=120&#038;h=185" alt="danarto-darma" width="120" height="185" /><p class="wp-caption-text">Kacapiring, Laki-Laki Lain Dalam Secarik Surat</p></div>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Kematian adalah sesuatu yang tidak terelakkan. Sebagai salah satu <em>prima pincipia</em> kehidupan, kematian adalah pilihan yang tidak memiliki opsi. Ia adalah hal yang tak terelakkan bagi manusia. Satu kepastian tunggal dengan proses yang beragam. Sejenak bila membaca tulisan Fayyadl di dalam Blognya, dengan tema <em>Filsafat Kematian (Philosophy of Death): Sebuah Hantaran Metodologis Awal </em>ada satu hal yang menggelikan, bahkan saya pun sempat tertegun ketika teringat tentang banyak orang yang membicarakan kematian. Manusia sebenarnya membicarakan kematian secara apriori. Bagaimana kita berbicara tentang kematian, sementara kita belum pernah mengalaminya? </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Toh, kemudian, landasan filosofis masih belum bisa menghentikan keinginan manusia untuk selalu menguraikan tentang kematian bahkan proses setelah itu, melangkah jauh hingga ke bagian eskatologi, tentang hari pembalasan sebagai batasan-batasan perilaku manusia sebagai makhluk unggul. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Tulisan ini, dengan sekedarnya, ingin memaparkan bagaimana ketika seorang sastrawan berkehendak melakukan eskplorasi tentang “kematian” dalam karyanya, bagaimana mereka menyikapi kematian sebagai pilihan hidup yang tidak bisa ditawar. Pilihan tokoh sastrawan berikut tidak memiliki landasan ilmiah apapun, karena ini adalah sebuah kebetulan saja penulis menemukan sebuah karya dua orang sastrawan yang menjadikan “kematian” sebagai tema dalam salah satu prosanya. Keduanya adalah Danarto dan Budi Darma.<span id="more-94"></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Dalam cerpen pembuka <em>Jantung Hati</em>, dalam buku kumpulan cerpen <em>Kacapiring</em> (2008), Danarto memosisikan keakuannya dalam kematian. Tokoh utama adalah aku-lirik yang jasadnya sudah mati dikebumikan. Ia meninggal karena serangan jantung. Jantungnya berhenti berdetak karena ledakan bom di dekatnya. Dalam karya ini, dikisahkan tentang perjalanan sang tokoh utama setelah meninggal. Jadi, cerita ini dimulai dengan aku-lirik yang “hidup” di alam baka atau lebih tepatnya proses penafsiran Danarto tentang alam kubur. Bagaimana proses dia sampai menuju akhirat, akhir segala sesuatu, akhir di mana segala perbuatan dipertanggungjawabkan, akhir ditentukannya seseorang akan berakhir di mana dan akan diapakan; disiksa atau dijamu. Meski, pada akhirnya, di luar dugaan adalah bagaimana rupa surga ketika diwajahkan Danarto di akhir cerita. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 118px"><span><span><img title="danarto" src="http://www.tamanismailmarzuki.com/tokoh/danarto_files/image004.jpg" alt="Danarto" width="108" height="162" /></span></span><p class="wp-caption-text">Danarto</p></div>
<p>Beliau, Danarto, bila disebut sebagai pelopor realisme magis—sebagaimana ditulis Goenawan Muhammad di pengantar, cukup beralasan, sebab tema yang diangkat Danarto adalah fenomena sehari-hari dengan diselingi dengan perjalanan yang sering membuat pembaca menganga, perjalanan yang bernuansa mitos dan metafisik. Apalagi <em>suspense </em>yang diberikan di akhir cerita, sering mengejutkan dan menggiring kita ke pelabuhan yang tidak kita tuju pada awalnya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Kematian diuraikan oleh Sastrawan yang cukup religius ini sebagai sebuah kendaraan. Tidak ada beda antara hidup dan mati, keduanya adalah kendaraan yang hanya berbeda nama. Kematian itu hanyalah perpindahan ke alam lain. Dengan demikian, “kematian’ itu bisa dipahami sebagai akhir satu kehidupan dan awal dari kehidupan yang baru. Toh, kenapa kematian itu harus ditakuti bilama kita masih akan hidup dengan jasad yang sama, meski dengan alam yang berbeda dengan alam yang kita diami sebelumnya. Apalagi, ditilik lebih lanjut, sebenarnya, merujuk pada kepercayaan Islam, kita diajarkan tentang lima alam yang akan kita lewati, yaitu alam roh, alam rahim, alam dunia, alam kubur, dan alam akhirat. Toh, walau begitu cerpen ini hanya mengimajinasikan tiga alam terakhir. </span></span></p>
<blockquote>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Ternyata kematian itu membahagiakan. Sungguh di luar dugaan. Kematian itu tidak terbatas. Luas bagai cakrawala. Mengapa harus ditangisi? Jelas ini salah tafsir (Danarto, 2008: 10). </span></span></span></p>
</blockquote>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Cerpen pertama <em>Jantung Hati</em> karya Danarto sangat lekat dengan wilayah doktriner-doktriner keagamaan. Meski bertabur metafor, dari awal kalimat hingga cerpen berkesudahan masih erat mengglambyarkan nuansa doktriner agama, agama Islam tentunya. Tapi di sinilah cerdiknya Danarto, kesan doktrin agama yang kaku berubah menjadi menarik dan unik, tiada kesan instruktif tetapi menyelami kesadaran dan merubahnya. Taburan metafor itu terungkap dari kalimat berikut. </span></span></p>
<blockquote>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Tubuh malaikat itu dipenuhi mata yang bukan main banyaknya, boleh jadi tak terhitung…Setiap satu mata Izrail mengedip, satu nyawa tercabut dari tubuh manusia…(Danarto, 2008: 08 )</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="color:#ff0000;"> </span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Tiba-tiba Izrail lenyap digantikan oleh sekuntum malaikat lain yang berbeda. Tubuh malaikat yang muncul tiba-tiba itu berubah bentuknya, dari mawar, lalu melati, kemudian kenanga, lantas bunga matahari, lalu berubah lagi menjadi anggrek putih dengan sejumlah noktah berwarna violet, hijau dan oranye. Kembang-kembang itu ukurannya lebih besar ketimbang manusia. Kadang mekar besar sekali memenuhi angkasa. (Danarto, 2008: 09) </span></span></span></p>
</blockquote>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Izrail adalah suatu lambang kematian, dialah malaikat pencabut nyawa. Imaji banyak mata di atas identik dengan sikap Izrail yang terkesan tanpa belas kasihan, hanya berlandaskan ketetapan yang termaktub dalam <em>lauh mahfudz</em>, dan tanpa tedeng aling-aling dia mencabut nyawa manusia dengan mudah ibarat seseorang yang mengedipkan mata. Meski begitu, analogi tercerabutnya nyawa dengan kedipan mata yang dilakukan Izrail bukannya menjelaskan bahwa tiada kontrol darinya, namun itu adalah sebuah keteraturan tunggal. Hal tersebut melambangkan tentang tidak berdayanya ikhtiar manusia atas keniscayaan universal (takdir?). </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Sementara imaji bunga sebagai rupa tubuh Izrail ketika menemui sang aku-lirik menggambarkan sosok kelembutan, sebagaimana sosok bunga dalam karya sastra lain yang identik dengan cinta, kelembutan, keramahan dan cinta. Bentuk bunga ini dimaknai sebagai pertanda Izrail pun bisa berlaku ramah, karena sang aku-lirik meninggal dengan keadaan syahid. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Tokoh Izrail tersebut memiliki dua identitas berbeda dan kesan yang berbeda pula, berdasarkan bentuknya. Dengan demikian, ada oposisi sejajar di sini atau homologi empat terma (<em>four-term homology</em>)—jika meminjam istilah Kris Budiman, atau kaum strukturalis—yang bisa diskemakan sebagai berikut.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Mata : Bunga		—		Kedip : Mekar </strong></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Predikat yang melekat dengan subjek bunga adalah kedip (berkedip) yang mana mata berkedip adalah tanda hilangnya satu nyawa. Sebuah kematian yang menyisakan duka banyak orang. Sementara bunga memiliki predikat atau verba mekar, yang seringkali dimaknai dengan keindahan. Kecantikan sering dipandang dengan bunga yang mekar karena bau harum yang akan tercium. Terlepas bentuk Izrail yang sebenarnya, sosok yang ditawarkan Danarto ini cukup mengubah citra Izrail yang menakutkan. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Ini adalah bentuk penafsiran baru Danarto tentang dunia selanjutnya, dunia kubur dan akhirat. Apa yang ditawarkan Danarto dalam karyanya ini adalah pengungkapan bahwa dunia gaib tidak selamanya identik dengan wajah yang sudah digambarkan banyak tokoh keagamaan. Sebut lagi contoh, adalah akhir perjalanan sang aku-lirik di dalam cerpen ini. Sangat tidak terduga. Dengan diselingi kabut tebal pertanda begitu rahasia dan tertutup, rupa surga—sepenafsiran saya, ternyata tidak dipenuhi bidadari-bidadari atau dayang-dayang dari Kahyangan. Yang hadir di sana adalah keluarga sang aku-lirik yang terdiri dari istri dan anak-anaknya. Memang tidak bisa dipungkiri, dan lagi-lagi memang beralasan, keluarga lah yang menjadikan hidup lebih berarti, lebih sedap dan menyenangkan. Kira-kira itulah bentuk surga, berkumpul dengan keluarga di alam fana. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Akhirnya, dapat saya temukan relasi judul (<em>lead</em>) dengan tubuh cerita (<em>story</em>). Saya dapat mengait-kelindankan hubungan keluarga ini dengan judul cerpen itu sendiri. Jantung Hati, dalam bahasa sehari-hari memang identik dengan putra atau putri kita. Barangkali cukup menjebak pada awalnya, dengan judul <em>Jantung Hati</em>, ditambah lagi dengan sebab meninggalnya tokoh utama, aku-lirik, karena penyakit jantung, seolah menjelaskan bahwa kematian itu adalah jantung kehidupan itu sendiri. Kematian adalah proses lahirnya putra yang kita idam-idamkan. Kelahiran dunia baru, dunia penuh rahasia yang kita harapkan sebelumnya. Namun pada kenyataannya, <em>Jantung Hati</em> memang bermakna secara literlek sebagai putra atau keluarga, bagaimana pentingnya arti keluarga. Sehingga di dalam “surga” pun keluarga dihadirkan untuk mendampingi. Dengan demikian, proses penempuhan alam kubur itu adalah perantara untuk memahami hal tersebut. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 131px"><span><span><img title="darma" src="http://www.pusatbahasa.diknas.go.id/laman/images/tokoh/budi_darma.jpg" alt="Budi Darma" width="121" height="134" /></span></span><p class="wp-caption-text">Budi Darma</p></div>
<p>Sementara, beralih pada karya Budi Darma, <em>Krematorium Itu untukku, </em>dalam buku kumpulan <em>Laki-Laki Lain dalam Secarik Surat</em> (2008), Budi Darma memberikan saya perjalanan yang melelahkan, untuk menemukan inti cerita tentang kematian. Tokoh utama yang juga digayakan dengan aku-lirik, mengeksplorasi banyak hal tentang tentang hal-hal yang berelasi dengan persoalan sosial. Misalkan pekuburan, yang menjadi peristirahatan terakhir, tidak mendapat perhatian penuh pemerintah. Lahan-lahan tempat berbaring orang mati itu menjadi wilayah kekuasaan kaum miskin untuk mengais nafkah. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Tokoh utama, aku-lirik, diceritakan sebagai pemuda yang sakitnya belum pulih benar. Dia sedang menunggu pemakaman ayah sahabatnya. Lama dia berdiam di pekuburan, sampai akhirnya dia tahu bahwa ayah sahabatnya itu tidak dimakamkan melainkan dikremasi. Akhirnya, dibantu anak-anak kecil pencari nafkah di kuburan, dia menuju krematorium untuk menjemput takdirnya di sana; di bakar hidup-hidup. Itulah secara sekilas gambaran cerita ini.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Cerita ini penuh sosok-sosok manusia ganjil, aneh, amoral dengan gaya penceritaan yang kadangkala absurd, kendati Budi Darma juga menyodorkan problematika sosial yang sedang berkembang semisal legalisasi tempat pelacuran oleh pemerintah kota dalam suatu kawasan. Sehingga bisa jadi, perkuburan pun menjadi alternatif transaksi seksual dan persetubuhannya.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Sedangkan dari sudut memaknai kematian, Budi Darma menciptakan dikotomi muda dan tua. Dia memaparkan bahwa sikap manusia menangapi kematian seseorang tergantung pada umurnya. Apakah dia mati muda atau tua. Hal ini bisa dieksplorasi dalam kalimat berikut. </span></span></p>
<blockquote>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span style="color:#ff0000;">Dan setiap orang muda mati pasti dia ditangisi sejadi-jadinya. Dan kalau yang mati orang yang sudah tua yang sudah tidak dibutuhkan tenaganya, yang hanya menjadi beban orang lain saja karena sudah tidak mampu lagi bekerja, tak akan banyak orang yang menangisi (Darma, 2008: 03).</span></span></span></p>
</blockquote>
<blockquote>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><span style="color:#ff0000;">Dan rupa-rupanya orang-orang yang mengiringkan jenazah ini tidak menunjukkan rasa duka. Yang meninggal pasti bukan orang yang masih muda (Darma, 2008: 03).</span> </span></span></p>
</blockquote>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Jikalau demikian, pemahaman yang ada dari teks tersebut di atas, adalah orang yang mati muda lebih meninggalkan duka ketimbang orang mati tua, karena dianggap memang sudah seharusnya mati. Dengan demikian, kita juga menemukan oposisi sejajar di sini atau homologi empat terma, yaitu:</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Tua : muda		—  	tidak ditangisi : ditangisi</strong></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Danarto pun, meski tidak menjadikannya tema utama dan hanya sekedarnya saja menuliskannya di paragraf pertama, menceritakan tentang kehilangan keluarga sang tokoh utama karena dia masih muda. Seperti yang tertulis dalam kalimat <span style="color:#ff0000;">[<em>Mereka seperti tidak percaya bahwa hari ini tubuh saya yang masih segar dimasukkan ke liang lahat. Mereka sangat kehilangan karena kepergian saya yang tiba-tiba dalam usia muda</em> (Danarto, 2008: 07)]</span>.  Meskipun demikian, dua oposisi ini masih perlu dipertanyakan bilamana melihat konstruksi kalimat majemuk di dua paragraf cerpen <em>Krematorium Itu untukku</em> di atas. Seolah-olah oposisi ini akan hancur jika orang tua yang mati itu masih dibutuhkan tenaganya, tidak menjadi beban. Dengan demikian homologi empat terma ini pun mengalami substitusi, sebagaimana berikut. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Lemah : Kuat		—	Harus Mati : Jangan Mati </strong></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Secara keseluruhan, substitusi ini sebenarnya adalah model pemaknaan ulang terhadap runtutan cerita di mana tokoh utama ini akhirnya pun dibakar hidup-hidup di dalam krematorium itu bersama jasad ayah Corie. Dan disebutkan sejak awal, bahwa dengan keadaan dia yang masih belum pulih, pucat dan kurang sehat dia, diceritakan, dipandang orang dengan aneh. Apalagi umpatan-umpatan yang keluar dari penjaga krematorium yang membuatnya naik darah, dan meludahi wajah sang penjaga berulang-ulang. Juga, ketika dia sedang diusung ramai-ramai untuk dibakar, salah seorang sahabatnya berteriak bahwa dia sedang sakit. Hingga hemat penulis, sosok tua atau muda pun bukan masalah besar karena orang meninggal, dia akan ditangisi atau tidak berdasarkan dia mampu memberikan kenangan manis bukan beban. Pun tidak memandang dia tua ataupun muda, yang seharusnya meninggal jika memang harus ada, adalah mereka yang lemah dan tertindas. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Epilog </strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Dua karya berbeda dengan sastrawan yang beda karakter tentu akan menghasilkan karya yang berbeda meski tema yang diangkat secara umum sama. Penulis bisa klasifikasikan kematian diangkat kedua sastrawan sebagai peristiwa sebelum dan setelah. Memang jelas, dengan kematian sebagai keniscayaan universal memiliki ragam proses dan kesudahan. Bila Danarto menyederhanakan imaji-imaji perjalanan alam kubur dengan mendalam yang estetis, Budi Darma dengan model cerita yang abnormal dan kadang cenderung absurd, baik tokoh atau alur cerita lebih menekankan pada realita sosio-kultural masyarakat. Lebih-lebih perihal dominasi kaum-kaum elit dan kesengsaraan kaum bawah.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><strong><span style="font-family:Garamond,serif;"><span style="font-size:x-small;">* Mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris UIN Malang. Kontributor Blog Tongkrongan Budaya (TB) wilayah Malang.<span style="font-size:x-small;"> </span></span></span></strong></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Tulisan ini sekedarnya, meski tidak mengada-ada. Berikut adalah puisi Moehammad Zaini tentang “kematian”—jika memang itu yang dimaksud. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><strong><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">PAGI DI MATA YANG REDUP</span></span></strong></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Pagi di mata yang redup</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Sepasang sandal melintas di tatapannya</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Tubuh kumuh berbicara</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Terseret-seret di langkah lunglai</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Bocah itu dengan tanah apa beda</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Tubuh terbungkus hitam</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Sengatan matahari</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Bercerita sepanjang jalan</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Tentang doa yang bisu</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Mata yang kabut</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Oleh darah dan tanpa arah</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Luka-luka kerikil</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Dan pagi lenyap</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Tertimbun di kuburan tua.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Yogyakarta, 18-10-2008</span></span></p>
Posted in Budi Darma, Danarto, Kritik Sastra, Sastra, Tela'ah Sastra, Tokoh  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tongkronganbudaya.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tongkronganbudaya.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tongkronganbudaya.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tongkronganbudaya.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/94/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=94&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2009/01/09/senjakala-kematian-danarto-dan-budi-darma/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8a4e003d1e5ac77fb4b04e490f5ca2b4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nongkrong</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tongkronganbudaya.files.wordpress.com/2009/01/baca-buku-2.jpg?w=194" medium="image">
			<media:title type="html">danarto-darma</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.tamanismailmarzuki.com/tokoh/danarto_files/image004.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">danarto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.pusatbahasa.diknas.go.id/laman/images/tokoh/budi_darma.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">darma</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Biografi; Chairil Anwar</title>
		<link>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/11/07/biografi-chairil-anwar/</link>
		<comments>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/11/07/biografi-chairil-anwar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 18:13:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nongkrong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Chairil Anwar]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Binatang Jalang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tongkronganbudaya.wordpress.com/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[Chairil Anwar dilahirkan di Medan, 26 Julai 1922. Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup berantakan. Kedua ibu bapanya bercerai, dan ayahnya berkahwin lagi. Selepas perceraian itu, saat habis SMA, Chairil mengikut ibunya ke Jakarta.
Semasa kecil di Medan, Chairil sangat rapat dengan neneknya. Keakraban ini begitu memberi kesan kepada hidup Chairil. Dalam hidupnya yang amat jarang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=80&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://www.indonesiaindonesia.com/imagehosting/images/7737/large/1_chairil.jpg"><img class="alignleft" title="chairil" src="http://www.indonesiaindonesia.com/imagehosting/images/7737/large/1_chairil.jpg" alt="" width="145" height="200" /></a>Chairil Anwar dilahirkan di Medan, 26 Julai 1922. Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup berantakan. Kedua ibu bapanya bercerai, dan ayahnya berkahwin lagi. Selepas perceraian itu, saat habis SMA, Chairil mengikut ibunya ke Jakarta.</p>
<p>Semasa kecil di Medan, Chairil sangat rapat dengan neneknya. Keakraban ini begitu memberi kesan kepada hidup Chairil. Dalam hidupnya yang amat jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat adalah saat neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang luar biasa pedih:</p>
<blockquote><p>Bukan kematian benar yang menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertahta</p></blockquote>
<p>Sesudah nenek, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil puja. Dia bahkan terbiasa membilang nama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu, sebagai tanda menyebelahi nasib si ibu. Dan di depan ibunya, Chairil acapkali kehilangan sisinya yang liar. Beberapa puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada ibunya.<br />
Sejak kecil, semangat Chairil terkenal kedegilannya. Seorang teman dekatnya Sjamsul Ridwan, pernah membuat suatu tulisan tentang kehidupan Chairil Anwar ketika semasa kecil. Menurut dia, salah satu sifat Chairil pada masa kanak-kanaknya ialah pantang dikalahkan, baik pantang kalah dalam suatu persaingan, maupun dalam mendapatkan keinginan hatinya. Keinginan dan hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap, menyala-nyala, boleh dikatakan tidak pernah diam. Rekannya, Jassin pun punya kenangan tentang ini:</p>
<blockquote><p>Kami pernah bermain bulu tangkis bersama, dan dia kalah. Tapi dia tak mengakui kekalahannya, dan mengajak bertanding terus. Akhirnya saya kalah. Semua itu kerana kami bertanding di depan para gadis.</p></blockquote>
<p>Wanita adalah dunia Chairil sesudah buku. Tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Dan semua nama gadis itu bahkan masuk ke dalam puisi-puisi Chairil. Namun, kepada gadis Karawang, Hapsah, Chairil telah menikahinya.</p>
<p><a href="http://tongkronganbudaya.files.wordpress.com/2008/02/anwar1.jpg"><img class="aligncenter" title="chairil 2" src="http://tongkronganbudaya.files.wordpress.com/2008/02/anwar1.jpg?w=420&#038;h=315" alt="" width="420" height="315" /></a>Pernikahan itu tak berumur panjang. Disebabkan kesulitan ekonomi, dan gaya hidup Chairil yang tak berubah, Hapsah meminta cerai. Saat anaknya berumur 7 bulan, Chairil pun menjadi duda.<br />
Tak lama setelah itu, pukul 15.15 WIB, 28 April 1949, Chairil meninggal dunia. Ada beberapa versi tentang sakitnya. Tapi yang pasti, TBC kronis dan sipilis.</p>
<p>Umur Chairil memang pendek, 27 tahun. Tapi kependekan itu meninggalkan banyak hal bagi perkembangan kesusasteraan Indonesia. Malah dia menjadi contoh terbaik, untuk sikap yang tidak bersungguh-sungguh di dalam menggeluti kesenian. Sikap inilah yang membuat anaknya, Evawani Chairil Anwar, seorang notaris di Bekasi, harus meminta maaf, saat mengenang kematian ayahnya, di tahun 1999,  Saya minta maaf, karena kini saya hidup di suatu dunia yang bertentangan dengan dunia Chairil Anwar.</p>
<p>Tulisan ini dilansir dari <a title="chairil" href="http://www.indonesiaindonesia.com/f/28393-chairil-anwar/" target="_blank">indonesiaindonesia.com</a></p>
<p>Biografi Chairil Anwar juga bisa dilihat di:</p>
<p>- <a href="id.wikipedia.org/wiki/Chairil_Anwar" target="_blank">wikipedia.com</a><br />
- <a href="www.mesias.8k.com/chairil.htm" target="_blank">mesiass.com</a><br />
- <a href="penyair.wordpress.com/2007/02/05/biografi-chairil-anwar-1922-1949/" target="_blank">penyair.wordpress.com</a></p>
<p>Beberapa tulisan Tongkrongan Budaya tentang Chairil Anwar:<br />
&gt; <a href="http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/07/24/memaknai-kemiskinan-ala-chairil-anwar/" target="_blank">Memaknai Kemiskinan Ala Chairil Anwar</a><br />
&gt; <a href="http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/02/22/6/" target="_blank">Chairil (Tidak) di Indonesia</a></p>
Posted in Biografi, Chairil Anwar, Sastra, Tokoh  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tongkronganbudaya.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tongkronganbudaya.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tongkronganbudaya.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tongkronganbudaya.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/80/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=80&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/11/07/biografi-chairil-anwar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8a4e003d1e5ac77fb4b04e490f5ca2b4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nongkrong</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.indonesiaindonesia.com/imagehosting/images/7737/large/1_chairil.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">chairil</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tongkronganbudaya.files.wordpress.com/2008/02/anwar1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">chairil 2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Biografi; Sapardi Djoko Damono</title>
		<link>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/08/16/biografi-sapardi-djoko-damono/</link>
		<comments>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/08/16/biografi-sapardi-djoko-damono/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Aug 2008 17:09:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nongkrong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Sapardi Djoko Damono]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Damono]]></category>
		<category><![CDATA[Djoko]]></category>
		<category><![CDATA[Sapardi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tongkronganbudaya.wordpress.com/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[Prof Dr Sapardi Djoko Damono dikenal sebagai salah seorang sastrawan yang        memberi sumbangan besar kepada kebudayaan masyarakat modern di Indonesia.        Salah satu sumbangan terbesar Guru Besar Fakultas Sastra UI ini adalah        melanjutkan tradisi puisi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=74&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:Pqpoz8Hgq2U94M:http://media.isnet.org/sufi/Idries/SapardiDD.jpg"><img class="alignright" title="sapardi" src="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:Pqpoz8Hgq2U94M:http://media.isnet.org/sufi/Idries/SapardiDD.jpg" alt="" width="160" height="230" /></a>Prof Dr Sapardi Djoko Damono dikenal sebagai salah seorang sastrawan yang        memberi sumbangan besar kepada kebudayaan masyarakat modern di Indonesia.        Salah satu sumbangan terbesar Guru Besar Fakultas Sastra UI ini adalah        melanjutkan tradisi puisi lirik dan berupaya menghidupkan kembali sajak        empat seuntai atau kwatrin yang sudah muncul di jaman para pujangga baru        seperti Amir Hamzah dan Chairil Anwar.</p>
<p>Pria kelahiran Solo, Jawa Tengah pada 20 Maret 1940 ini, mengaku tak        pernah berencana menjadi penyair, karena dia berkenalan dengan puisi        secara tidak disengaja. Sejak masih belia putra Sadyoko dan Sapariyah itu,        sering membenamkan diri dalam tulisan-tulisannya. Bahkan, ia pernah        menulis sebanyak delapan belas sajak hanya dalam satu malam. Kegemarannya        pada sastra, sudah mulai tampak sejak ia masih duduk di bangku sekolah        menengah pertama. Kemudian, ketika duduk di SMA, ia memilih jurusan sastra        dan kemudian melanjutkan pendidikan di UGM, fakultas sastra.</p>
<p>Anak sulung dari dua bersaudara abdi dalem Keraton Surakarta itu mungkin        mewarisi kesenimanan dari kakek dan neneknya. Kakeknya dari pihak ayah        pintar membuat wayang—hanya sebagai kegemaran—dan pernah memberikan        sekotak wayang kepada sang cucu. Nenek dari pihak ibunya gemar menembang (menyanyikan        puisi Jawa) dari syair yang dibuat sendiri. “Tapi saya tidak bisa menyanyi,        suara saya jelek,” ujar bekas pemegang gitar melodi band FS UGM Yogyakarta        itu. Sadar akan kelemahannya, Sapardi kemudian mengembangkan diri sebagai        penyair.</p>
<p>Selain menjadi penyair, ia juga melaksanakan cita-cita lamanya: menjadi        dosen. “Jadi dosen ‘kan enak. Kalau pegawai kantor, harus duduk dari pagi        sampai petang,” ujar lulusan Jurusan Sastra Barat FS&amp;K UGM ini. Dan begitu        meraih gelar sarjana sastra, 1964, ia mengajar di IKIP Malang cabang        Madiun, selama empat tahun, dilanjutkan di Universitas Diponegoro,        Semarang, juga selama empat tahun. Sejak 1974, Sapardi mengajar di FS UI.</p>
<p>Sapardi menulis puisi sejak di kelas II SMA. Karyanya dimuat pertama kali        oleh sebuah surat kabar di Semarang. Tidak lama kemudian, karya sastranya        berupa puisi-puisi banyak diterbitkan di berbagai majalah sastra, majalah        budaya dan diterbitkan dalam buku-buku sastra. Beberapa karyanya yang        sudah berada di tengah masyarakat, antara lain Duka Mu Abadi (1969), Mata        Pisau dan Aquarium (1974).</p>
<p>Sebuah karya besar yang pernah ia buat adalah kumpulan sajak yang berjudul        Perahu Kertas dan memperoleh penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta dan        kumpulan sajak Sihir Hujan – yang ditulisnya ketika ia sedang sakit &#8211;        memperoleh Anugerah Puisi Poetra Malaysia. Kabarnya, hadiah sastra berupa        uang sejumlah Rp 6,3 juta saat memperoleh Anugerah Puisi Poetra Malaysia        langsung dibelanjakannya memborong buku. Selain itu ia pernah memperoleh        penghargaan SEA Write pada 1986 di Bangkok, Thailand.</p>
<p>Para pengamat menilai sajak-sajak Sapardi dekat dengan Tuhan dan kematian.        “Pada Sapardi, maut atau kematian dipandang sebagai bagian dari kehidupan;        bersama kehidupan itu pulalah maut tumbuh,” tulis Jakob Sumardjo dalam        harian Pikiran Rakyat, 19 Juli 1984.</p>
<p>Bekas anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) ini juga menulis esei dan        kritik. Sapardi, yang pernah menjadi redaktur Basis dan kini bekerja di        redaksi Horison, berpendapat, di dalam karya sastra ada dua segi: tematik        dan stilistik (gaya penulisan). Secara gaya, katanya, sudah ada pembaruan        di Indonesia. Tetapi di dalam tema, belum banyak.</p>
<p>Penyair yang pernah kuliah di Universitas Hawaii, Honolulu, AS, ini juga        menulis buku ilmiah, satu di antaranya Sosiologi Sastra, Sebuah Pengantar        Ringkas. (1978).</p>
<p>Selain melahirkan puisi-puisi, Sapardi juga aktif menulis esai, kritik        sastra, artikel serta menerjemahkan berbagai karya sastra asing. Dengan        terjemahannya itu, Sapardi mempunyai kontribusi penting terhadap        pengembangan sastra di Tanah Air. Selain dia menjembatani karya asing        kepada pembaca sastra, ia patut dihargai sebagai orang yang melahirkan        bentuk sastra baru.</p>
<p>Dengan kepekaan dan wawasan seorang sastrawan, Sapardi ikut mewarnai        karya-karya terjemahannya seperti Puisi Brasilia Modern, Puisi Cina Klasik        dan Puisi Parsi Klasik yang ditulis dalam bahasa Inggris. Selain itu dia        juga menerjemahkan karya asing seperti karya Hemmingway The Old Man and        the Sea, Daisy Manis (Henry James), semuanya pada 1970-an. Juga, sekitar        20 naskah drama seperti Syakuntala karya Kalidasa, Murder in Cathedral        karya TS Elliot, dan Morning Become Electra trilogi karya Eugene O&#8217;neil.</p>
<p>Sumbangsih Sapardi juga cukup besar kepada budaya dan sastra, dengan        melakukan penelitian, menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan aktif        sebagai administrator dan pengajar, serta menjadi dekan Fakultas Sastra UI        periode 1995-1999. Dia menjadi penggagas pengajaran mata kuliah Ilmu        Budaya Dasar di fakultas sastra.</p>
<p>Dia menyadari bahwa menjadi seorang sastrawan tidak akan memperoleh        kepuasan finansial. Kegiatan menulis adalah sebagai waktu istirahat, saat        dia ingin melepaskan diri dari rutinitas pekerjaannya sehari-hari. Menikah        dengan Wardiningsih, ia dikaruniai dua anak, Rasti Suryandani dan Rizki        Henriko.</p>
<p>Profil ini dilansir dari situs <a title="Sapardi Djoko Damono" href="http://www.tokohnasional.com/ensiklopedi/s/sapardi-damono/index.shtml" target="_blank"><strong>Tokoh Nasional</strong></a></p>
<p>Beberapa tulisan tentang Biografi Sapardi Djoko Damono:</p>
<p>- <a title="wikipedia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sapardi_Djoko_Damono" target="_blank"><strong>Wikipedia</strong></a></p>
<p>- <a href="www.pdat.co.id/hg/apasiapa/html/S/ads,20030701-04,S.html" target="_blank"><strong>Tempo</strong></a></p>
<p>Tulisan terkait Sapardi Djoko Damono: <a href="http://tongkronganbudaya.wordpress.com/category/tokoh/sapardi-djoko-damono/"><strong>Mencari Rupa Cinta dalam Sajak &#8220;Aku Ingin&#8221; Karya Sapardi Djoko Damono</strong></a></p>
<h2 class="posttitle"><a title="Taut Tetap keMencari Rupa Cinta Dalam Sajak “Aku Ingin”  Karya Sapardi Djoko Damono" href="../2008/03/08/mencari-rupa-cinta-dalam-sajak-aku-ingin-karya-sapardi-djoko-damono/"><br />
</a></h2>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tongkronganbudaya.wordpress.com/74/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tongkronganbudaya.wordpress.com/74/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tongkronganbudaya.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tongkronganbudaya.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tongkronganbudaya.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tongkronganbudaya.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/74/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=74&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/08/16/biografi-sapardi-djoko-damono/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8a4e003d1e5ac77fb4b04e490f5ca2b4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nongkrong</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:Pqpoz8Hgq2U94M:http://media.isnet.org/sufi/Idries/SapardiDD.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sapardi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memaknai Kemiskinan Ala Chairil Anwar</title>
		<link>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/07/24/memaknai-kemiskinan-ala-chairil-anwar/</link>
		<comments>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/07/24/memaknai-kemiskinan-ala-chairil-anwar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jul 2008 17:38:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nongkrong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Chairil Anwar]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Tela'ah Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Anwar]]></category>
		<category><![CDATA[Chairil]]></category>
		<category><![CDATA[Deru Campur debu]]></category>
		<category><![CDATA[Kepada Peminta-Minta]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tongkronganbudaya.wordpress.com/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[Baik, baik aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku
Jangan lagi kau bercerita
Sudah tercacar semua di muka
Nanah meleleh dari luka
Sambil berjalan kau usap juga.
Bersuara tiap kau melangkah
Mengerang tiap kau memandang
Menetes dari suasana kau datang
Sembarang kau merebah.
Mengganggu dalam mimpiku
Menghempas aku di bumi keras
Di bibirku terasa pedas
Mengaum di telingaku.
Baik, baik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=71&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div class="wp-caption alignleft" style="width: 226px"><a href="http://www.geocities.com/amemorikaze/chairil_anwar.jpg"><img src="http://www.geocities.com/amemorikaze/chairil_anwar.jpg" alt="Chairil_Anwar" width="216" height="313" /></a><p class="wp-caption-text">Chairil_Anwar</p></div>
<p style="margin-bottom:0;"><em>Baik, baik aku akan menghadap Dia<br />
Menyerahkan diri dan segala dosa<br />
Tapi jangan tentang lagi aku<br />
Nanti darahku jadi beku</em></p>
<p><em>Jangan lagi kau bercerita<br />
Sudah tercacar semua di muka<br />
Nanah meleleh dari luka<br />
Sambil berjalan kau usap juga.</em></p>
<p><em>Bersuara tiap kau melangkah<br />
Mengerang tiap kau memandang<br />
Menetes dari suasana kau datang<br />
Sembarang kau merebah.</em></p>
<p><em>Mengganggu dalam mimpiku<br />
Menghempas aku di bumi keras</em></p>
<p style="margin-bottom:0;"><em>Di bibirku terasa pedas<br />
Mengaum di telingaku.</em></p>
<p><em>Baik, baik aku akan menghadap Dia<br />
Menyerahkan diri dan segala dosa<br />
Tapi jangan tentang lagi aku<br />
Nanti darahku jadi beku</em></p>
<p><em>Juni 1943</em></p>
<p style="margin-bottom:0;">Sebenarnya bagaimana seharusnya kita memaknai kemiskinan. Bagi kalangan politikus, kemiskinan adalah selempang jalan yang mulus untuk menggerakkan dan meningkatkan popularitas mereka. Kemiskinan adalah lahan komoditas yang selalu menjadi acuan politis di mana mereka setelah menjabat, ia menjadi berkas-berkas paling bawah dan ditindih berkas soal lain ironisnya hanya dipegang oleh sekpri-nya saja.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Atau bagi pemuka agama, kemiskinan adalah kondisi yang harus disikapi dengan ketabahan dan keikhlasan. Merujuk pada ajaran-ajaran agama, kemiskinan adalah wujud kasih sayang Tuhan pada hambanya agar dilalui dengan penuh arif dan sabar. Sederhananya, kemiskinan adalah jalan menuju kekayaan di hari akhir kelak.<span id="more-71"></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">Di ujung kamera fotografer, kemiskinan pun sama halnya dengan politikus, menjadi komoditas dagang yang dapat diperjual-belikan dan dilombakan. Semakin menyedihkan foto tersebut, semakin nyata uang yang dapat diperoleh nantinya. Paling tidak sepintar-pintar seorang kameramen memoles kemiskinan menjadi cerita menarik dalam wujud gambar.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Namun bagi Chairil Anwar, kemiskinan adalah hantu yang selalu mengejarnya. Setidaknya hal tersebut yang dapat ditangkap dari puisinya Kepada Peminta-Minta (Deru Campur Debu: 1959). Chairil seperti sedang bergumam dalam sajak tersebut. Keberingasan dan kejalangannya luluh saat menyadari onak-onak kemiskinan. Chairil menjadi bisu saat menyuarakan kemiskinan dan berlari ke pojok teduh ketundukan. “Baik-baik, aku akan menghadap Dia/Menyerahkan diri dan segala dosa/Tapi jangan tentang lagi aku/Nanti darahku jadi beku.” Entah, menjelma seperti apakah wajah sang peminta-minta di mata Chairil sehingga sehingga argumen-argumennya hilang kala dihadapkan kepada kesengsaraan yang dia lihat dari seorang pengemis (pemaknaan penulis—red). Kalimat Baik-baik, aku akan menghadap Dia/Menyerahkan diri dan segala dosa, serupa di sajak Doa, dia terlihat begitu lembek dan menunjukkan kekerdilannya di hadapan Tuhan, “Aku hilang bentuk/Remuk..”</p>
<p style="margin-bottom:0;">Kata Dosa menjadi problem dilematis di sini. Sejauh mana peran Chairil di dalamnya sehingga dia merasa berdosa dengan mengguritanya kemiskinan di masyarakat. Atau sejauh mana dia terlibat dalam sistem yang semakin memperkuat dominasi sang kuat pada sang lemah, si kaya pada si miskin. Sejauh pemahaman penulis, Chairil sejatinya dapat membantu, minimal dengan menyuarakannya dalam puisinya, namun sepertinya dia berkendala sehingga di sisi lain dia tidak mampu melakukan apa yang bisa dia lakukan. Tetapi lagi-lagi, kadar kemampuan seperti apakah yang dimiliki Chairil sehingga dia begitu lelah dan sengkarut menyikapi kemiskinan. Dia miris tapi tidak tahu berbuat apa. Humanisnenya tergugah sehingga wajah memelas itu selalu menghantuinya. “Mengganggu dalam mimpinya/Menghempas aku di bumi keras/Di bibirku terasa pedas/Mengaum di telingaku.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Kata “Bumi Keras”, penulis maknai sebagai sistem kehidupan yang telas dikuasai oleh kelompok dominan penindas. Kemiskinan adalah keniscayaan, tetapi bagi Chairil sungguh mengenaskan jika kemiskinan ini sudah terstruktur rapi dan seolah menjadi struktur yang sejatinya harus ada dan paling tidak selalu beroposisi dengan kekayaan. Kemiskinan adalah situasi yang harus dihilangkan dan juga dilestarikan, tergantung siapakah yang akan menyikapinya. Dua perspektif yang memiliki pengaruh signifikan bagi kemanusiaan.</p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Musthafa Amin</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;"><strong>Komuni di OASE BUDAYA Malang</strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tongkronganbudaya.wordpress.com/71/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tongkronganbudaya.wordpress.com/71/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tongkronganbudaya.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tongkronganbudaya.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tongkronganbudaya.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tongkronganbudaya.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/71/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=71&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/07/24/memaknai-kemiskinan-ala-chairil-anwar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8a4e003d1e5ac77fb4b04e490f5ca2b4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nongkrong</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.geocities.com/amemorikaze/chairil_anwar.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Chairil_Anwar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rumput di Seberang Itu Semakin Hijau</title>
		<link>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/05/24/rumput-di-seberang-itu-semakin-hijau/</link>
		<comments>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/05/24/rumput-di-seberang-itu-semakin-hijau/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 May 2008 17:42:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nongkrong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gesang]]></category>
		<category><![CDATA[Teh Hangat]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[100 tahun Kebangkitan Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Bangkit]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tongkronganbudaya.wordpress.com/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[Potret (Satu) Khazanah Indonesia (Saja)

TongkronganBudaya&#8211;Di salah satu koran harian Indonesia, SURYA, ada kabar menarik. Tercatat tanggal 13 April 2008, diberitakan (meski hanya berbentuk kolom kecil) bahwa lagu Bengawan Solo hasil cipta kreatif Gesang Martohartono, ternyata menarik minat kesenian dan digandrungi masyarakat Jepang. Lelaki sepuh berumur 91 tahun ini dianggap sebagai ikon penghubung persahabatan antara kedua [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=61&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Potret (Satu) Khazanah Indonesia (Saja)</strong><br />
<img class="alignright" style="float:right;border:2px solid #000000;" src="http://www.kapanlagi.com/p/gesang1.jpg" alt="" width="150" height="205" /><br />
TongkronganBudaya&#8211;Di salah satu koran harian Indonesia, SURYA, ada kabar menarik. Tercatat tanggal 13 April 2008, diberitakan (meski hanya berbentuk kolom kecil) bahwa lagu Bengawan Solo hasil cipta kreatif Gesang Martohartono, ternyata menarik minat kesenian dan digandrungi masyarakat Jepang. Lelaki sepuh berumur 91 tahun ini dianggap sebagai ikon penghubung persahabatan antara kedua Negara, Indonesia dan Jepang. Beliau diberi kopi DVD film drama-dokumenter berjudul Benang Merah yang baru saja diterimanya dari Komite Hubungan Diplomatik-Jepang 50 tahun di Solo, Jawa Tengah, Sabtu12 April 2008.</p>
<p>Kabar ini begitu mencerahkan. Meski kisah-kisah sedih dan memilukan tentang penyerobotan cipta kreatif kebudayaan masih belum terselesaikan sepenuhnya. Lebih sederhana, sebut saja kasus dua Negara bertetangga, Indonesia dan Malaysia. Belum kelar rasa sakit hati akibat direbutnya pulau Ligitan oleh Malaysia, Indonesia kembali menuai cemas dan dibuat gemas oleh ulah negeri Jiran tersebut dengan dipampangkannya lagu Rasa Sayange dan Kesenian Reog Ponorogo di dalam situs pariwisata mereka. Bangsa Indonesia seperti kebakaran jenggot. Begitulah, sifat bangsa ini cenderung tidak berubah atau malah membingungkan. Kita seperti terbiasa melawan setelah tindakan, bukan bertindak untuk melawan atau penanggulangan. Kita sering terjebak dalam isu bukannya mencipta isu dan gagasan. Seringkali, kita tidak pernah menawarkan isu, yang kelak akan menjadi perhatian dan kajian tentang Indonesia oleh kawasan Negara lain. Ajaran yang sebenarnya tertanam bagi mereka yang telah mengecap pendidikan dasar, lebih baik mencegah daripada mengatasi, tak lebih sebagai kembang hias yang selalu diletakkan ketika acara, kemudian hilang entah di mana.</p>
<p>Coba menghitung kembali kebudayaan yang tersebar di seluruh penjuru nusantara. Di bagian jawa timur saja—tanpa perlu melibatkan pulau lainnya, begitu banyak ragam Budaya yang perlu dicagarkan kembali. Di pulau Madura, nuansa tradisional masih begitu kental, dengan perilaku masyarakat yang masih dominan dikuasai oleh Budaya lokal. Kerapan madura, pencak, carok, parikan, kejung (lagu berima khas madura) dan lainnya, seyogyanya terus dilestarikan dan mendapatkan perhatian dari institusi pemerintah regional serta nasional. Bilamana madura seperti itu, apalagi Jawa. Tiap kabupaten memiliki tindak Budaya dan ritus Budaya yang berbeda pula, nilai historis dan nilai kedaerahan itu seterusnya harus tertanam di benak segala publik dan dilestarikan hingga ke anak cucu. Marilah di Momen Kebangkitan ini, semuanya bangkit. Sektor ekonomi, sektor ekologi dan sektor Budaya. Bangkit Indonesia!!!</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tongkronganbudaya.wordpress.com/61/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tongkronganbudaya.wordpress.com/61/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tongkronganbudaya.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tongkronganbudaya.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tongkronganbudaya.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tongkronganbudaya.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/61/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=61&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/05/24/rumput-di-seberang-itu-semakin-hijau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8a4e003d1e5ac77fb4b04e490f5ca2b4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nongkrong</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.kapanlagi.com/p/gesang1.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Biografi; Soetardji Calzoum Bachri</title>
		<link>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/05/24/biografi-soetardji-calzoum-bachri/</link>
		<comments>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/05/24/biografi-soetardji-calzoum-bachri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 May 2008 16:57:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nongkrong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Soetardji Calzoum Bachri]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[profil]]></category>
		<category><![CDATA[sastrawan]]></category>
		<category><![CDATA[soetardji]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tongkronganbudaya.wordpress.com/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[
Nama         : Sotardji Calzoum Bachri
Lahir          : Riau, 24 Juni 1941
Pendidikan : FISIP Unpad jurusan Administrasi Negara
Profesi        : Redaktur, Penyair
 Karya Tulis :
O (1973),
Amuk (1977),
Amuk (1979),
O Amuk Kapak (1981)
 Hujan Menulis Ayam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=57&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft" style="float:left;" src="http://www.ukzn.ac.za/cca/images/pa/PA2004/poets/poetpics/5Sutardji_Calzoum_Bachri_2004.jpg" alt="" width="241" height="359" /></p>
<p>Nama         : Sotardji Calzoum Bachri<br />
Lahir          : Riau, 24 Juni 1941<br />
Pendidikan : FISIP Unpad jurusan Administrasi Negara<br />
Profesi        : Redaktur, Penyair</p>
<p><strong> Karya Tulis :</strong><br />
O (1973),<br />
Amuk (1977),<br />
Amuk (1979),<br />
O Amuk Kapak (1981)<br />
<a href="http://indonesiatera.com/index.php?option=com_virtuemart&amp;page=shop.product_details&amp;flypage=shop.flypage&amp;category_id=9&amp;product_id=73&amp;Itemid=30"> Hujan Menulis Ayam (Kumpulan Cerpen, 2001)</a><br />
<a href="http://indonesiatera.com/index.php?option=com_virtuemart&amp;page=shop.product_details&amp;flypage=&amp;category_id=8&amp;product_id=33&amp;Itemid=30"> Isyarat (Kumpulan Esai)</a></p>
<p><strong> Penghargaan</strong><br />
Kumpulan sajak Amuk (1977), memenagkan hadiah puisi DKJ 1976/  1977,<br />
Hadiah Sastra ASEAN (1979),<br />
Hadiah Seni (1993),<br />
Anugerah Sastra Chairil Anwar dan dianggap sebagai pelopor  angkatan 70-an (1998),<br />
Anugerah Akademi Jakarta (2007)</p>
<p>Pria kelahiran Riau, 24 Juni 1941 ini digelari Presiden Penyair Indonesia. Dalam karyanya yang berjudul Ayo tahun 1998, dia bertanya, “Adakah yang lebih taubat dibanding air mata, adakah yang lebih mengucap dibanding air mata, adakah yang lebih lembut adakah yang lebih dahsyat dibanding air mata.” Soetardji membacakan puisinya pada malam terakhir dalam rangkaian Festival Nopember 1999. Eforia reformasi ditangan penyair sepertinya telah mencapai titik antiklimaks. Kalaulah Soetardji menyempatkan diri mengemukakan keprihatinannya atas perjuangan para mahasiswa melalui sajak Ayo, itu masih dalam jumlah yang kecil dibanding puisi-puisi lain yang juga dibacanya. Pembacaan puisi-puisi kontemplatif itu terasa menyejukkan dan lebih mengena secara universal ketimbang sekedar sajak-sajak yang mereaksikan peristiwa sosial-politik yang tengah terjadi di masyarakat.</p>
<p>Namun, kalau berbicara soal gaya dan pembawaan bersajak, Soetardji tetaplah Soetardji. Edan, namun bermakna dalam. “Setiap orang harus membikin sidik jarinya sendiri, karakternya sendiri. Biar tak tenggelam dan bisa memberi warna,” katanya. Gelar sebagai ‘Presiden’ penyair tampaknya memang begitu melekat pada sosok penyair modern Indonesia kelahiran Riau ini. Suka tidak suka, predikat yang diberikan kepada penyair Soetardji Calzoum Bachri ini sepertinya cukup signifikan atas segala upaya yang telah dilakukannya dalam dunia kepenyairannya di Indonesia. Ternyata gelar tersebut terus melembaga dan memang seperti tidak terbantahkan karena pencapaian Soetardji mengolah bahasa sebagai bahan pengucapan sajak-sajaknya.</p>
<p>Sajak-sajak Soetardji Caloum Bachri dianggap fenomenal karena ia menemukan bahasa pengucapannya sendiri dan sekaligus menciptakan konsep dan pengertian baru tentang bahasa sajak. Ia terus berpetualang dalam mengolah bahasa pengucapan sajaknya. Pada awal kepenyairannya, kira-kira akhir tahun 1960-an dan awal 1970-an, karya-karya Soetardji Calzoum Bachri tidak saja sekedar fenomenal, tetapi juga sekaligus kontroversial.</p>
<p>Karya-karya sajaknya menjadi perdebatan antara yang setuju dan yang menolak karya-karyanya. Meskipun secara keseluruhan pengabdian Soetardji di bidang kesusastraan lebih tampak pada persoalan kepenyairan, tetapi tidaklah berarti ia hanya semata-mata menulis sajak. Soterdji beberapa kali mempublikasikan cerita pendeknya. Sebagai penyair Soetardji hanya menjaga sepanjang tidak mengganggu kebebasannya agar kehadirannya yang bebas sebagai pembentuk pengertiannya sendiri dan bisa mendapatkan aksentuasi yang maksimal.</p>
<p><strong>Tulisan ini dilansir dari situs:</strong><br />
<a href="http://www.tamanismailmarzuki.com/tokoh/soetardjicalzoumbachri.html">http://www.tamanismailmarzuki.com/tokoh/soetardjicalzoumbachri.html</a></p>
<p><strong>Beberapa Tulisan tentang Profil Soetardji Calzoum Bahri</strong></p>
<p>- di<a href="http://indonesiatera.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=71"> Penerbit Indonesia Tera </a></p>
<p>- di<a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sutardji_Calzoum_Bachri"> Wikipedia Indonesia</a></p>
<p>- di <a href="http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/s/soetardji-calzoum-bachri/index.shtml">Tokoh Indonesia</a></p>
<p><strong>Tentang Soetardji</strong><br />
<a href="Tentang Soetardji  Penyair Harus Setia pada Kata dan Estetika!  Review Buku Hujan Menulis Ayam">Penyair Harus Setia pada Kata dan Estetika!</a></p>
<p><a href="http://leojuliawan.wordpress.com/2007/02/04/sutardji-calzoum-bachri-hujan-menulis-ayam/">Review Buku Hujan Menulis Ayam</a></p>
<p>Beberapa Karya Puisi Soetardji Calzoum Bahri. Silahkan unduh di Halaman Unduh/Download atau unduh di <a href="http://www.geocities.com/musth_fabio/sutardji.zip">SINI </a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tongkronganbudaya.wordpress.com/57/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tongkronganbudaya.wordpress.com/57/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tongkronganbudaya.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tongkronganbudaya.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tongkronganbudaya.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tongkronganbudaya.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/57/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=57&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/05/24/biografi-soetardji-calzoum-bachri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8a4e003d1e5ac77fb4b04e490f5ca2b4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nongkrong</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.ukzn.ac.za/cca/images/pa/PA2004/poets/poetpics/5Sutardji_Calzoum_Bachri_2004.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Biografi; Taufiq Ismail</title>
		<link>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/03/08/biografi-taufiq-ismail/</link>
		<comments>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/03/08/biografi-taufiq-ismail/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Mar 2008 18:45:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nongkrong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Taufiq Ismail]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tongkronganbudaya.wordpress.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[
Taufiq Ismail lahir di Bukittinggi, 25 Juni 1935. Masa kanak-kanak sebelum sekolah dilalui di Pekalongan. Ia pertama masuk sekolah rakyat di Solo. Selanjutnya, ia berpindah ke Semarang, Salatiga, dan menamatkan sekolah rakyat di Yogya. Ia masuk SMP di Bukittinggi, SMA di Bogor, dan kembali ke Pekalongan. Pada tahun 1956&#8211;1957 ia memenangkan beasiswa American Field Service [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=29&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a title="taufik00.gif" href="http://tongkronganbudaya.files.wordpress.com/2008/03/taufik00.gif"><img src="http://tongkronganbudaya.files.wordpress.com/2008/03/taufik00.gif" alt="taufik00.gif" /></a></p>
<p>Taufiq Ismail lahir di Bukittinggi, 25 Juni 1935. Masa kanak-kanak sebelum sekolah dilalui di Pekalongan. Ia pertama masuk sekolah rakyat di Solo. Selanjutnya, ia berpindah ke Semarang, Salatiga, dan menamatkan sekolah rakyat di Yogya. Ia masuk SMP di Bukittinggi, SMA di Bogor, dan kembali ke Pekalongan. Pada tahun 1956&#8211;1957 ia memenangkan beasiswa American Field Service Interntional School guna mengikuti Whitefish Bay High School di Milwaukee, Wisconsin, AS, angkatan pertama dari Indonesia.</p>
<p>Ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan, Universitas Indonesia (sekarang IPB), dan tamat pada tahun1963. Pada tahun 1971&#8211;1972 dan 1991&#8211;1992 ia mengikuti International Writing Program, University of Iowa, Iowa City, Amerika Serikat. Ia juga belajar pada Faculty of Languange and Literature, American University in Cairo, Mesir, pada tahun 1993. Karena pecah Perang Teluk, Taufiq pulang ke Indonesia sebelum selesai studi bahasanya.</p>
<p>Semasa mahasiswa Taufiq Ismail aktif dalam berbagai kegiatan. Tercatat, ia pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa FKHP UI (1960&#8211;1961) dan Wakil Ketua Dewan Mahasiswa (1960&#8211;1962).<br />
Ia pernah mengajar sebagai guru bahasa di SMA Regina Pacis, Bogor (1963-1965), guru Ilmu Pengantar Peternakan di Pesantren Darul Fallah, Ciampea (1962), dan asisten dosen Manajemen Peternakan Fakultas Peternakan, Universitas Indonesia Bogor dan IPB (1961-1964). Karena menandatangani Manifes Kebudayaan, yang dinyatakan terlarang oleh Presiden Soekarno, ia batal dikirim untuk studi lanjutan ke Universitas Kentucky dan Florida. Ia kemudian dipecat sebagai pegawai negeri pada tahun 1964.</p>
<p>Taufiq menjadi kolumnis Harian KAMI pada tahun 1966-1970. Kemudian, Taufiq bersama Mochtar Lubis, P.K. Oyong, Zaini, dan Arief Budiman mendirikan Yayasan Indonesia, yang kemudian juga melahirkan majalah sastra Horison (1966). Sampai sekarang ini ia memimpin majalah itu.</p>
<p>Taufiq merupakan salah seorang pendiri Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Taman Ismail Marzuki (TIM), dan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) (1968). Di ketiga lembaga itu Taufiq mendapat berbagai tugas, yaitu Sekretaris Pelaksana DKJ, Pj. Direktur TIM, dan Rektor LPKJ (1968&#8211;1978). Setelah berhenti dari tugas itu, Taufiq bekerja di perusahaan swasta, sebagai Manajer Hubungan Luar PT Unilever Indonesia (1978-1990).</p>
<p>Pada tahun 1993 Taufiq diundang menjadi pengarang tamu di Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, Malaysia.<br />
Sebagai penyair, Taufiq telah membacakan puisinya di berbagai tempat, baik di luar negeri maupun di dalam negeri. Dalam setiap peristiwa yang bersejarah di Indonesia Taufiq selalu tampil dengan membacakan puisi-puisinya, seperti jatuhnya Rezim Soeharto, peristiwa Trisakti, dan peristiwa Pengeboman Bali.</p>
<p>Hasil karya:</p>
<p>1. Tirani, Birpen KAMI Pusat (1966)<br />
2. Benteng, Litera ( 1966)<br />
3. Buku Tamu Musium Perjuangan, Dewan Kesenian Jakarta (buklet baca puisi) (1972)<br />
4. Sajak Ladang Jagung, Pustaka Jaya (1974)<br />
5. Kenalkan, Saya Hewan (sajak anak-anak), Aries Lima (1976)<br />
6. Puisi-puisi Langit, Yayasan Ananda (buklet baca puisi) (1990)<br />
7. Tirani dan Benteng, Yayasan Ananda (cetak ulang gabungan) (1993)<br />
8. Prahara Budaya (bersama D.S. Moeljanto), Mizan (1995)<br />
9. Ketika Kata Ketika Warna (editor bersama Sutardji Calzoum Bachri, Hamid Jabbar, Amri Yahya, dan Agus Dermawan, antologi puisi 50 penyair dan repoduksi lukisan 50 pelukis, dua bahasa, memperingati ulangtahun ke-50 RI), Yayasan Ananda (1995)<br />
10. Seulawah Â— Antologi Sastra Aceh (editor bersama L.K. Ara dan Hasyim K.S.), Yayasan Nusantara bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Khusus Istimewa Aceh (1995)<br />
11. Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Yayasan Ananda (1998)<br />
12. Dari Fansuri ke Handayani (editor bersama Hamid Jabbar, Herry Dim, Agus R. Sarjono, Joni Ariadinata, Jamal D. Rahman, Cecep Syamsul Hari, dan Moh. Wan Anwar, antologi sastra Indonesia dalam program SBSB 2001), Horison-Kakilangit-Ford Foundation (2001)<br />
13. Horison Sastra Indonesia, empat jilid meliputi Kitab Puisi (1), Kitab Cerita Pendek (2), Kitab Nukilan Novel (3), dan Kitab Drama (4) (editor bersama Hamid Jabbar, Agus R. Sarjono, Joni Ariadinata, Herry Dim, Jamal D. Rahman, Cecep Syamsul Hari, dan Moh. Wan Anwar, antologi sastra Indonesia dalam program SBSB 2000-2001, Horison-Kakilangit-Ford Foundation (2002)</p>
<p>Karya terjemahan:<br />
1. Banjour Tristesse (terjemahan novel karya Francoise Sagan, 1960)<br />
2. Cerita tentang Atom (terjemahan karya Mau Freeman, 1962)<br />
3. Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam (dari buku The Reconstruction of Religious Thought in Islam, M. Iqbal (bersama Ali Audah dan Goenawan Mohamad), Tintamas (1964)</p>
<p>Atas kerja sama dengan musisi sejak 1974, terutama dengan Himpunan Musik Bimbo (Hardjakusumah bersaudara), Chrisye, Ian Antono, dan Ucok Harahap, Taufiq telah menghasilkan sebanyak 75 lagu.</p>
<p>Ia pernah mewakili Indonesia baca puisi dan festival sastra di 24 kota di Asia, Amerika, Australia, Eropa, dan Afrika sejak 1970. Puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa, Sunda, Bali, Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, dan Cina.</p>
<p>Kegiatan kemasyarakatan yang dilakukannnya, antara lain menjadi pengurus perpustakaan PII, Pekalongan (1954-56), bersama S.N. Ratmana merangkap sekretaris PII Cabang Pekalongan, Ketua Lembaga Kesenian Alam Minangkabau (1984-86), Pendiri Badan Pembina Yayasan Bina Antarbudaya (1985) dan kini menjadi ketuanya, serta bekerja sama dengan badan beasiswa American Field Service, AS menyelenggarakan pertukaran pelajar. Pada tahun 1974&#8211;1976 ia terpilih sebagai anggota Dewan Penyantun Board of Trustees AFS International, New York.</p>
<p>Ia juga membantu LSM Geram (Gerakan Antimadat, pimpinan Sofyan Ali). Dalam kampanye antinarkoba ia menulis puisi dan lirik lagu Â“Genderang Perang Melawan NarkobaÂ” dan Â“Himne Anak Muda Keluar dari NerakaÂ” dan digubah Ian Antono). Dalam kegiatan itu, bersama empat tokoh masyarakat lain, Taufiq mendapat penghargaan dari Presiden Megawati (2002).</p>
<p>Kini Taufiq menjadi anggota Badan Pertimbangan Bahasa, Pusat Bahasa dan konsultan Balai Pustaka, di samping aktif sebagai redaktur senior majalah Horison.</p>
<p>Anugerah yang diterima:</p>
<p>1. Anugerah Seni dari Pemerintah RI (1970)<br />
2. Cultural Visit Award dari Pemerintah Australia (1977)<br />
3.South East Asia (SEA) Write Award dari Kerajaan Thailand (1994)<br />
4. Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa (1994)<br />
5. Sastrawan Nusantara dari Negeri Johor,<br />
Malaysia (1999)<br />
6. Doctor honoris causa dari Universitas Negeri Yogyakarta (2003)</p>
<p>Taufiq Ismail menikah dengan Esiyati Yatim pada tahun 1971 dan dikaruniai seorang anak laki-laki, Bram Ismail. Bersama keluarga ia tinggal di Jalan Utan Kayu Raya 66-E, Jakarta 13120.<br />
Telepon (021) 8504959<br />
Faksimile (021) 8583190<br />
Pos-el: Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya</p>
<p><strong>Dilansir dari situs <a href="http://balaibahasabandung.web.id/bdg/">Balai Bahasa Bandung</a></strong></p>
<p>Berikut alamat situs yang mengulas tentang biografi Taufiq Ismail</p>
<p><strong> <a href="http://www.figurpublik.com/cetak/maestro/showmaestro.php?id=4">TAUFIQ ISMAIL di Figur Publik</a></strong></p>
<p><strong><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Taufiq_Ismail">TAUFIQ ISMAIL di Wiikipedia Indonesia</a></strong></p>
<p><strong><a href="http://www.bahasa-sastra.web.id/BrowseTokoh.asp?index=semua">TAUFIQ ISMAIL di Forum Bahasa &amp; Sastra</a></strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tongkronganbudaya.wordpress.com/29/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tongkronganbudaya.wordpress.com/29/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tongkronganbudaya.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tongkronganbudaya.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tongkronganbudaya.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tongkronganbudaya.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=29&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/03/08/biografi-taufiq-ismail/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8a4e003d1e5ac77fb4b04e490f5ca2b4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nongkrong</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tongkronganbudaya.files.wordpress.com/2008/03/taufik00.gif" medium="image">
			<media:title type="html">taufik00.gif</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mencari Rupa Cinta Dalam Sajak &#8220;Aku Ingin&#8221;  Karya Sapardi Djoko Damono</title>
		<link>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/03/08/mencari-rupa-cinta-dalam-sajak-aku-ingin-karya-sapardi-djoko-damono/</link>
		<comments>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/03/08/mencari-rupa-cinta-dalam-sajak-aku-ingin-karya-sapardi-djoko-damono/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Mar 2008 18:20:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nongkrong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sapardi Djoko Damono]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Tela'ah Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tongkronganbudaya.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Muhammad Zaini*
 
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikanya abu
Aku ingin mecintaimu dengan sederhana:
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Sapardi Djoko Damono, (1989)
Manusia adalah homo ludens yang punya hasrat, rangsangan dan ingin. Dalam perjalanannya, cinta adalah bagian yang tak bisa lepas dari perjumpaannya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=24&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><b>Oleh: Muhammad Zaini*</b></p>
<p><a TITLE="sapardi.jpg" HREF="http://tongkronganbudaya.files.wordpress.com/2008/03/sapardi.jpg"><img ALT="sapardi.jpg" SRC="http://tongkronganbudaya.files.wordpress.com/2008/03/sapardi.thumbnail.jpg" /></a> <a TITLE="love.jpg" HREF="http://tongkronganbudaya.files.wordpress.com/2008/03/love.jpg"><img ALT="love.jpg" SRC="http://tongkronganbudaya.files.wordpress.com/2008/03/love.thumbnail.jpg" /></a></p>
<div ALIGN="right"><i>Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:<br />
Dengan kata yang tak sempat diucapkan<br />
Kayu kepada api yang menjadikanya abu</i></div>
<div ALIGN="right"><i>Aku ingin mecintaimu dengan sederhana:<br />
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan<br />
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada</i><br />
Sapardi Djoko Damono, (1989)</div>
<p>Manusia adalah homo ludens yang punya hasrat, rangsangan dan ingin. Dalam perjalanannya, cinta adalah bagian yang tak bisa lepas dari perjumpaannya dengan &#8220;yang lain&#8221; yang terus saling tumpang tindih dengan rasa benci. Pada akhirnya cinta dan benci memiliki pengertiannya sendiri di benak masing-masing individu.<br />
Di antara hangar-bingar keanekaragaman yang terus menyeret kita ke dalamnya, arti cinta semakin sulit diterka dalam momen-momennya. Sinetron bilang cinta, pembunuhan menghunuskan cinta, koruptor menyelip cinta dan iklan pun menyatakan cinta. Seolah cinta terus menampak, mengolah dirinya dan muncul menjadi sesuatu itu. Bagaimana Sapardi (sebagai penyair) menorehkan rupa cinta?<br />
Saya sedikit bingung, apakah pembacaan saya atas puisi beliau merupakan &#8220;saya&#8221; atau puisi itu sendiri. Sebab Sapardi pernah bilang, (kurang lebih bagini maksudnya) jika puisi diterjemahkan maka hasil darinya adalah pengalaman penejemah sendiri atas puisi tersebut dan tidak lagi menghadirkan puisi itu utuh seperti sedia kala. Tapi bagaimanapun saya dibikin bingung oleh ungkapan-ungkapan yang seperti itu, saya tetap merayakannya.</p>
<p>Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:<br />
Dengan kata yang tak sempat diucapkan<br />
Kayu kepada api yang menjadikanya abu</p>
<p>Pada baris pertama dari bait pertama ini saya terfokus pada nuansa kata &#8220;sederhana&#8221;. Kata ini mengategorikan keadaan (sifat) dari ungkapan sebelumnya, yaitu &#8220;mencintai&#8221;. Terlepas dari keterkaitanya dengan kata yang lain, kita akan mengandaikan kata tersebut dengan keseharian yang kita temui. “Sederhana” dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, Cet. Ke-3: 1990) dikategorikan kata sifat yang memiliki arti: sedang, bersahaja, tidak banyak seluk-beluknya, dsb. Di sana dicontohkan: hidupnya selalu bersahaja. Dalam baris Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, mengahadirkan keinginan cinta dengan (sikap) yang sederhana. Cinta yang dihadirkan bukan cinta yang lain, pasif atau progresif, nafsu atau hal yang mengawang, dan ataupun wujud yang lain. &#8220;Mencinta&#8221; di sini hadir dengan wajah yang sederhana, sedang dan tak berseluk-beluk.<br />
Namun sebelum imaji saya beterbangan kemana-mana dengan kata &#8220;sederhana&#8221;, kembali saya dihadirkan dengan nuansa lain dari makna &#8220;sederhana&#8221;. Baris ke-2 dan ke-3 adalah semacam penjelasan akan kata &#8220;sederhana&#8221;, bagaimana ia menjadi sifat mencinta dalam puisi ini.<br />
Ada sebuah ketertundaan pada maksud &#8220;…kata yang tak sempat diucapkan…&#8221;, namun tetap dirasa sebagai sesuatu yang utuh. &#8220;kata&#8221; menjadi mendium dari sebuah ungkapan terimakasih, rasa kagum, ingin dari &#8220;kayu&#8221; yang sampai pada tahap tertentu lantaran &#8220;api&#8221;, yaitu &#8220;abu&#8221;. &#8220;kata&#8221; jika diucapkan akan menjadi ukuran, sejauh mana rasa terimaksih kayu akan tergambar. Bisa jadi uangkapan dari &#8220;kata&#8221; menjadi hal yang biasa, muluk-muluk ataupun tak sesuai dengan maksud perasaan dan menjadi hal yang tidak sederhana lagi. Ketika &#8220;kata&#8221; tak sempat di utarakan, maka ia akan menjadi hal yang tertangguh dalam benak, terbawa dalam sikap sehari-hari. Pada akhirnya sikap itulah yang benar-benar hidup dan menjadi ungkapan sebenarnya yang lebih utuh, tulus dan sederhana.</p>
<p>Yang Meniadakan</p>
<p>Aku ingin mecintaimu dengan sederhana:<br />
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan<br />
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada</p>
<p>Sedari tadi saya terusik dengan ungkapan metaforis© dari sajak ini. Saya bertanya-tanya, &#8220;kenapa ungkapanya menggunakan sesuatu yang saling meniadakan (api meniadakan kayu, hujan meniadakan awan)? Bukankah ini tentang cinta yang notabene tentang keutuhan?&#8221;. Namun saya tersadar setelah menyimak lebih lekat kata &#8220;sederhana&#8221;.  Karena menurut pandangan sementara saya, baris-baris selanjutnya bermuara pada kata itu. Di lain hal, penggunaan metafor tersebut tidak mengandaikan maksud saling meniadakan tetapi sebuah proses keberlanjuntan. Jadi keberlanjutan itu seolah kebutuhan yang mesti ada untuk sampai pada wujud selanjutnya. Kayu tidak akan menjadi abu tanpa api membakarnya begitupula awan tidak akan lenyap bila hujan tak mengurainya.<br />
Proses peniadaan seolah tak terhentikan, bahkan barang sedetik pun. Oleh karena itu, &#8220;penyampain&#8221; pada cerita dalam puisi itu seolah terhalang oleh berlangsungnya proses. Namun justru dengan metaforis yang seperti ini ungkapan tersebut menghadirkan macam-macam penafsiran tentang mencinta.<br />
Saya kira untuk menemukan yang lebih dalam tentang cinta, (dan mencinta) dalam sajak ini, selanjutnya adalah tugas anda. Karena bagaimana pun  pengalaman diri mencinta juga ikut terlibat dalam menemukan rupa cinta pada sajak ini. Apakah sesungguhnya yang terselip di balik ungkapan metaforis yang saling meniadakan dalam sajak di atas.</p>
<p><b>*Muhammad Zaini</b></p>
<p><b>Mahasiswa UIN Jogja. Berkhidmat di Teater ESKA UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta</b></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tongkronganbudaya.wordpress.com/24/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tongkronganbudaya.wordpress.com/24/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tongkronganbudaya.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tongkronganbudaya.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tongkronganbudaya.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tongkronganbudaya.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=24&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/03/08/mencari-rupa-cinta-dalam-sajak-aku-ingin-karya-sapardi-djoko-damono/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8a4e003d1e5ac77fb4b04e490f5ca2b4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nongkrong</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tata Bahasa Generatif Transformatif</title>
		<link>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/03/08/tata-bahasa-generatif-transformatif/</link>
		<comments>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/03/08/tata-bahasa-generatif-transformatif/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Mar 2008 17:51:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nongkrong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Chomsky]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Linguistik]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tongkronganbudaya.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Harry Prasetyo*
Tata bahasa Generatif Trasformasi (TGT) adalah sebuah konsep kajian kebahasaan yang dipelopori oleh Chomsky. Namun, sebelum kita membahas lebih jauh tentang TGT ini, penulis akan mengajak pembaca untuk “melihat” kondisi kebahasaan yang berkembang sebelum TGT ini lahir.
Dalam tulisan ini, penulis akan menyajikan beberapa hal sebagai bahan diskusi, (1) latar belakang munculnya TGT, (2) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=23&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Oleh: Harry Prasetyo*</strong></p>
<p>Tata bahasa Generatif Trasformasi (TGT) adalah sebuah konsep kajian kebahasaan yang dipelopori oleh Chomsky. Namun, sebelum kita membahas lebih jauh tentang TGT ini, penulis akan mengajak pembaca untuk “melihat” kondisi kebahasaan yang berkembang sebelum TGT ini lahir.<br />
Dalam tulisan ini, penulis akan menyajikan beberapa hal sebagai bahan diskusi, (1) latar belakang munculnya TGT, (2) Konsep TGT, (3) Tokoh dalam TGT, dan (4) simpulan tentang fungsi TGT.</p>
<p><strong>Pendahuluan</strong><br />
Pada tahun 1931-1951, kajian linguistik pada saat itu diwarnai oleh aliran structural, yang kita kenal dengan nama Tata Bahasa Deskriptif. Dalam Tata Bahasa Deskriptif, ada 2 tokoh yang memengaruhinya, yaitu Bloomfield dan Harris. Bloomfield adalah salah satu tokoh strukturalisme Amerika yang pemikirannya banyak dipengaruhi oleh Boaz. Dalam tata bahasa jenis ini, kajian yang dikembangkan adalah kajian linguistik yang berhubungan dengan masalah-masalah praktis, dan langsung menjelaskan komponen serta struktur bahasa tertentu  berdasarkan realitas formalnya sebagai ujaran. Oleh karena itu, model kajian semacam ini disebut dengan istilah Tata bahasa Struktural.<br />
Model kajian semacam ini sesuai dengan konsep pengembangan teori yang sedang “menjamur” di Amerika Serikat, yaitu logika positivistisme. Bagi logika ini, sebuah teori bisa dianggap benar atau salah, jika telah diujikan pada data kajian secara konkrit.<br />
Pada tahun 1957, Chomsky mengenalkan gagasan barunya melalui sebuah buku yang berjudul Syntactic Structure. Gagasan barunya yang tertuang dalam buku itulah yang kemudian oleh para linguist disebut degnan Tata bahasa Generatif Transformasi.</p>
<p><strong>Konsep Tata Bahasa Generatif Tranformasi</strong><br />
Dalam uraian di atas disebutkan bahwa gagasan Chomsky tentang TGT tertuang dalam bukunya Syntactic Structure. Dalam tersebut, Chomsky menjelaskan bahwa dia melakukan penolakan terhadap asumsi utama strukturalisme yang beranggapan bahwa kelayakan kajian kebahasaan ditentukan oleh diskripsi data kebahasaan secara induktif.<br />
Data kebahasaan secara induktif di sini diartikan oleh penulis sebagai  data-data kebahasaan yang sudah paten dan dianggap selesai. Menurut Chomsky (dalam Samsuri, 1988:99) kajian linguistik berkaitan dengan aktivitas mental yang berkaitan dengan probabilitas, bukan berhadapan dengan data kajian tertutup dan selesai, sehingga dapat dianalisis dan didiskripsikan secara pasti. Oleh karena itu, teori linguistic seharusnya dikembangkan dengan bertolak dari cara kerja secara deduktif yang dibangun oleh konstruk hipotetik tertentu.<br />
Akibat dari konsep dasar tersebut di atas, dalam TGT teori diartikan sebagai seperangkat hipotesis yang memiliki hubungan secara internal antara yang satu dengan yang lainya. Dalam hal ini, hipotesis memiliki 2 ciri utama, (1) berisi pernyataan yang berfungsi untuk memahami sesuatu yang bersifat sementara, (2) merupakan kreasi intelek yang sistematis, teliti, tetapi  bersifat tentatif sehingga memungkinkan untuk dikembangkan atau ditolak.</p>
<p><strong>Tokoh Tata Bahasa Generatif tranformasi; Noam Chomsky</strong><br />
Dalam uraian di atas, terlihat jelas kontribusi pemikiran Chomsky dalam TGT. Dalam subjudul ini, penulis akan mengajak pembaca untuk berkenalan dengan Chomsky.<br />
Nama lengkapnya adalah Avram Noam Chomsky. Dia lahir pada tanggal 7 Desember 1928 di Philadelphia. Ayahnya, bernama William Chomsky, adalah seorang ahli bahasa Yahudi yang terkenal pada saat itu. Ketekunan Chomsky dalam membantu kegiatan kebahasaan ayahnya sangat membantu daya intelektualnya dalam kajian kebahasaan di kemudian hari.<br />
Chomsy dahulukala belajar di Universitas Pennsylvania. Pada awalnya ia berguru pada salah satu tokoh aliran struktural, yaitu Harris. Walaupun Haris adalah salah satu tokoh pengembang strukturalisme, tapi gagasannya tidak selalu mengekor pada konsep pemula strukturalisme, yaitu Bloomfield. Oleh karena itu, Harris disebut dengan …”who is a significant transitional figure between structural and generative transformational linguistics (Macly dalam Samsuri, 1988:100).<br />
Dalam studinya, Chomsky tidak hanya mengambil jurusan lingusitik saja, namun ia juga mengambil jurusan Matematika dan Filsafat. Kajian bidang matematikanya memengaruhi Chomsky dalam model penyusunan aksioma linguistik yang diformulasikan. Sedangkan filsafat memengaruhi Chomsky dalam menilai wawasan folisofis tata bahasa strukturalisme yang banyak bertumpuh pada paham empiris.</p>
<p><strong>Fungsi Tata Bahasa Generatif Transformasi</strong><br />
Berdasarkan uraian tentang TGT di atas, kita mengetahui bahwa Chomsky telah menuangkan idenya dalam sebuah buku yang berjudul Syntactic Structure. Setelah ia mengungkapkan konsep TGT secara mendalam, akhirnya Chomsky berkesimpulan bahwa tugas teori linguitik adalah menangkap perangkat kaidah yang terbatas, yang secara tuntas mampu menjelaskan ciri gramatikal dari sejumlah kalimat yang tak terbatas.Jadi dengan adanya TGT ini, kita bisa mengetahui seperangkat kaidah kalimat secara jelas.</p>
<p><strong>Penutup</strong><br />
Demikianlah diskusi kita tentang Tata Bahasa Generatif Transformasi. Singkatnya, dari gagasan tersebut, kita mengetahui bahwa mengkaji suatu bahasa tidak harus dihadapkan pada komponen-komponen kebahasaan yang sudah paten. Namun, pengkajian bahasa bisa dimulai dari cara kerja secara deduktif yang dibangun oleh konstruk hipotetik tertentu.</p>
<p>* Harry Prasetyo</p>
<p>Mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris UIN Malang. Sekarang menyambi sebagai Ketua IPNU UIN Malang. Pemuda asal Jombang ini juga bergiat di KLM (Komunitas Linguistik Mahasiswa) Malang</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tongkronganbudaya.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tongkronganbudaya.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tongkronganbudaya.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tongkronganbudaya.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tongkronganbudaya.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tongkronganbudaya.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=23&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/03/08/tata-bahasa-generatif-transformatif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8a4e003d1e5ac77fb4b04e490f5ca2b4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nongkrong</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>