<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Budidaya Budaya &#187; Sapardi Djoko Damono</title>
	<atom:link href="http://tongkronganbudaya.wordpress.com/category/tokoh/sapardi-djoko-damono/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tongkronganbudaya.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 08 Oct 2009 18:10:52 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='tongkronganbudaya.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/41b4845e44081f6e1701e726b63a174e?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Budidaya Budaya &#187; Sapardi Djoko Damono</title>
		<link>http://tongkronganbudaya.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Biografi; Sapardi Djoko Damono</title>
		<link>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/08/16/biografi-sapardi-djoko-damono/</link>
		<comments>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/08/16/biografi-sapardi-djoko-damono/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Aug 2008 17:09:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nongkrong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Sapardi Djoko Damono]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[Damono]]></category>
		<category><![CDATA[Djoko]]></category>
		<category><![CDATA[Sapardi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tongkronganbudaya.wordpress.com/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[Prof Dr Sapardi Djoko Damono dikenal sebagai salah seorang sastrawan yang        memberi sumbangan besar kepada kebudayaan masyarakat modern di Indonesia.        Salah satu sumbangan terbesar Guru Besar Fakultas Sastra UI ini adalah        melanjutkan tradisi puisi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=74&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:Pqpoz8Hgq2U94M:http://media.isnet.org/sufi/Idries/SapardiDD.jpg"><img class="alignright" title="sapardi" src="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:Pqpoz8Hgq2U94M:http://media.isnet.org/sufi/Idries/SapardiDD.jpg" alt="" width="160" height="230" /></a>Prof Dr Sapardi Djoko Damono dikenal sebagai salah seorang sastrawan yang        memberi sumbangan besar kepada kebudayaan masyarakat modern di Indonesia.        Salah satu sumbangan terbesar Guru Besar Fakultas Sastra UI ini adalah        melanjutkan tradisi puisi lirik dan berupaya menghidupkan kembali sajak        empat seuntai atau kwatrin yang sudah muncul di jaman para pujangga baru        seperti Amir Hamzah dan Chairil Anwar.</p>
<p>Pria kelahiran Solo, Jawa Tengah pada 20 Maret 1940 ini, mengaku tak        pernah berencana menjadi penyair, karena dia berkenalan dengan puisi        secara tidak disengaja. Sejak masih belia putra Sadyoko dan Sapariyah itu,        sering membenamkan diri dalam tulisan-tulisannya. Bahkan, ia pernah        menulis sebanyak delapan belas sajak hanya dalam satu malam. Kegemarannya        pada sastra, sudah mulai tampak sejak ia masih duduk di bangku sekolah        menengah pertama. Kemudian, ketika duduk di SMA, ia memilih jurusan sastra        dan kemudian melanjutkan pendidikan di UGM, fakultas sastra.</p>
<p>Anak sulung dari dua bersaudara abdi dalem Keraton Surakarta itu mungkin        mewarisi kesenimanan dari kakek dan neneknya. Kakeknya dari pihak ayah        pintar membuat wayang—hanya sebagai kegemaran—dan pernah memberikan        sekotak wayang kepada sang cucu. Nenek dari pihak ibunya gemar menembang (menyanyikan        puisi Jawa) dari syair yang dibuat sendiri. “Tapi saya tidak bisa menyanyi,        suara saya jelek,” ujar bekas pemegang gitar melodi band FS UGM Yogyakarta        itu. Sadar akan kelemahannya, Sapardi kemudian mengembangkan diri sebagai        penyair.</p>
<p>Selain menjadi penyair, ia juga melaksanakan cita-cita lamanya: menjadi        dosen. “Jadi dosen ‘kan enak. Kalau pegawai kantor, harus duduk dari pagi        sampai petang,” ujar lulusan Jurusan Sastra Barat FS&amp;K UGM ini. Dan begitu        meraih gelar sarjana sastra, 1964, ia mengajar di IKIP Malang cabang        Madiun, selama empat tahun, dilanjutkan di Universitas Diponegoro,        Semarang, juga selama empat tahun. Sejak 1974, Sapardi mengajar di FS UI.</p>
<p>Sapardi menulis puisi sejak di kelas II SMA. Karyanya dimuat pertama kali        oleh sebuah surat kabar di Semarang. Tidak lama kemudian, karya sastranya        berupa puisi-puisi banyak diterbitkan di berbagai majalah sastra, majalah        budaya dan diterbitkan dalam buku-buku sastra. Beberapa karyanya yang        sudah berada di tengah masyarakat, antara lain Duka Mu Abadi (1969), Mata        Pisau dan Aquarium (1974).</p>
<p>Sebuah karya besar yang pernah ia buat adalah kumpulan sajak yang berjudul        Perahu Kertas dan memperoleh penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta dan        kumpulan sajak Sihir Hujan – yang ditulisnya ketika ia sedang sakit &#8211;        memperoleh Anugerah Puisi Poetra Malaysia. Kabarnya, hadiah sastra berupa        uang sejumlah Rp 6,3 juta saat memperoleh Anugerah Puisi Poetra Malaysia        langsung dibelanjakannya memborong buku. Selain itu ia pernah memperoleh        penghargaan SEA Write pada 1986 di Bangkok, Thailand.</p>
<p>Para pengamat menilai sajak-sajak Sapardi dekat dengan Tuhan dan kematian.        “Pada Sapardi, maut atau kematian dipandang sebagai bagian dari kehidupan;        bersama kehidupan itu pulalah maut tumbuh,” tulis Jakob Sumardjo dalam        harian Pikiran Rakyat, 19 Juli 1984.</p>
<p>Bekas anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) ini juga menulis esei dan        kritik. Sapardi, yang pernah menjadi redaktur Basis dan kini bekerja di        redaksi Horison, berpendapat, di dalam karya sastra ada dua segi: tematik        dan stilistik (gaya penulisan). Secara gaya, katanya, sudah ada pembaruan        di Indonesia. Tetapi di dalam tema, belum banyak.</p>
<p>Penyair yang pernah kuliah di Universitas Hawaii, Honolulu, AS, ini juga        menulis buku ilmiah, satu di antaranya Sosiologi Sastra, Sebuah Pengantar        Ringkas. (1978).</p>
<p>Selain melahirkan puisi-puisi, Sapardi juga aktif menulis esai, kritik        sastra, artikel serta menerjemahkan berbagai karya sastra asing. Dengan        terjemahannya itu, Sapardi mempunyai kontribusi penting terhadap        pengembangan sastra di Tanah Air. Selain dia menjembatani karya asing        kepada pembaca sastra, ia patut dihargai sebagai orang yang melahirkan        bentuk sastra baru.</p>
<p>Dengan kepekaan dan wawasan seorang sastrawan, Sapardi ikut mewarnai        karya-karya terjemahannya seperti Puisi Brasilia Modern, Puisi Cina Klasik        dan Puisi Parsi Klasik yang ditulis dalam bahasa Inggris. Selain itu dia        juga menerjemahkan karya asing seperti karya Hemmingway The Old Man and        the Sea, Daisy Manis (Henry James), semuanya pada 1970-an. Juga, sekitar        20 naskah drama seperti Syakuntala karya Kalidasa, Murder in Cathedral        karya TS Elliot, dan Morning Become Electra trilogi karya Eugene O&#8217;neil.</p>
<p>Sumbangsih Sapardi juga cukup besar kepada budaya dan sastra, dengan        melakukan penelitian, menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan aktif        sebagai administrator dan pengajar, serta menjadi dekan Fakultas Sastra UI        periode 1995-1999. Dia menjadi penggagas pengajaran mata kuliah Ilmu        Budaya Dasar di fakultas sastra.</p>
<p>Dia menyadari bahwa menjadi seorang sastrawan tidak akan memperoleh        kepuasan finansial. Kegiatan menulis adalah sebagai waktu istirahat, saat        dia ingin melepaskan diri dari rutinitas pekerjaannya sehari-hari. Menikah        dengan Wardiningsih, ia dikaruniai dua anak, Rasti Suryandani dan Rizki        Henriko.</p>
<p>Profil ini dilansir dari situs <a title="Sapardi Djoko Damono" href="http://www.tokohnasional.com/ensiklopedi/s/sapardi-damono/index.shtml" target="_blank"><strong>Tokoh Nasional</strong></a></p>
<p>Beberapa tulisan tentang Biografi Sapardi Djoko Damono:</p>
<p>- <a title="wikipedia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sapardi_Djoko_Damono" target="_blank"><strong>Wikipedia</strong></a></p>
<p>- <a href="www.pdat.co.id/hg/apasiapa/html/S/ads,20030701-04,S.html" target="_blank"><strong>Tempo</strong></a></p>
<p>Tulisan terkait Sapardi Djoko Damono: <a href="http://tongkronganbudaya.wordpress.com/category/tokoh/sapardi-djoko-damono/"><strong>Mencari Rupa Cinta dalam Sajak &#8220;Aku Ingin&#8221; Karya Sapardi Djoko Damono</strong></a></p>
<h2 class="posttitle"><a title="Taut Tetap keMencari Rupa Cinta Dalam Sajak “Aku Ingin”  Karya Sapardi Djoko Damono" href="../2008/03/08/mencari-rupa-cinta-dalam-sajak-aku-ingin-karya-sapardi-djoko-damono/"><br />
</a></h2>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tongkronganbudaya.wordpress.com/74/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tongkronganbudaya.wordpress.com/74/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tongkronganbudaya.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tongkronganbudaya.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tongkronganbudaya.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tongkronganbudaya.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/74/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=74&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/08/16/biografi-sapardi-djoko-damono/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8a4e003d1e5ac77fb4b04e490f5ca2b4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nongkrong</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:Pqpoz8Hgq2U94M:http://media.isnet.org/sufi/Idries/SapardiDD.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sapardi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mencari Rupa Cinta Dalam Sajak &#8220;Aku Ingin&#8221;  Karya Sapardi Djoko Damono</title>
		<link>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/03/08/mencari-rupa-cinta-dalam-sajak-aku-ingin-karya-sapardi-djoko-damono/</link>
		<comments>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/03/08/mencari-rupa-cinta-dalam-sajak-aku-ingin-karya-sapardi-djoko-damono/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Mar 2008 18:20:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nongkrong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sapardi Djoko Damono]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Tela'ah Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tongkronganbudaya.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Muhammad Zaini*
 
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikanya abu
Aku ingin mecintaimu dengan sederhana:
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Sapardi Djoko Damono, (1989)
Manusia adalah homo ludens yang punya hasrat, rangsangan dan ingin. Dalam perjalanannya, cinta adalah bagian yang tak bisa lepas dari perjumpaannya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=24&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><b>Oleh: Muhammad Zaini*</b></p>
<p><a TITLE="sapardi.jpg" HREF="http://tongkronganbudaya.files.wordpress.com/2008/03/sapardi.jpg"><img ALT="sapardi.jpg" SRC="http://tongkronganbudaya.files.wordpress.com/2008/03/sapardi.thumbnail.jpg" /></a> <a TITLE="love.jpg" HREF="http://tongkronganbudaya.files.wordpress.com/2008/03/love.jpg"><img ALT="love.jpg" SRC="http://tongkronganbudaya.files.wordpress.com/2008/03/love.thumbnail.jpg" /></a></p>
<div ALIGN="right"><i>Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:<br />
Dengan kata yang tak sempat diucapkan<br />
Kayu kepada api yang menjadikanya abu</i></div>
<div ALIGN="right"><i>Aku ingin mecintaimu dengan sederhana:<br />
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan<br />
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada</i><br />
Sapardi Djoko Damono, (1989)</div>
<p>Manusia adalah homo ludens yang punya hasrat, rangsangan dan ingin. Dalam perjalanannya, cinta adalah bagian yang tak bisa lepas dari perjumpaannya dengan &#8220;yang lain&#8221; yang terus saling tumpang tindih dengan rasa benci. Pada akhirnya cinta dan benci memiliki pengertiannya sendiri di benak masing-masing individu.<br />
Di antara hangar-bingar keanekaragaman yang terus menyeret kita ke dalamnya, arti cinta semakin sulit diterka dalam momen-momennya. Sinetron bilang cinta, pembunuhan menghunuskan cinta, koruptor menyelip cinta dan iklan pun menyatakan cinta. Seolah cinta terus menampak, mengolah dirinya dan muncul menjadi sesuatu itu. Bagaimana Sapardi (sebagai penyair) menorehkan rupa cinta?<br />
Saya sedikit bingung, apakah pembacaan saya atas puisi beliau merupakan &#8220;saya&#8221; atau puisi itu sendiri. Sebab Sapardi pernah bilang, (kurang lebih bagini maksudnya) jika puisi diterjemahkan maka hasil darinya adalah pengalaman penejemah sendiri atas puisi tersebut dan tidak lagi menghadirkan puisi itu utuh seperti sedia kala. Tapi bagaimanapun saya dibikin bingung oleh ungkapan-ungkapan yang seperti itu, saya tetap merayakannya.</p>
<p>Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:<br />
Dengan kata yang tak sempat diucapkan<br />
Kayu kepada api yang menjadikanya abu</p>
<p>Pada baris pertama dari bait pertama ini saya terfokus pada nuansa kata &#8220;sederhana&#8221;. Kata ini mengategorikan keadaan (sifat) dari ungkapan sebelumnya, yaitu &#8220;mencintai&#8221;. Terlepas dari keterkaitanya dengan kata yang lain, kita akan mengandaikan kata tersebut dengan keseharian yang kita temui. “Sederhana” dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, Cet. Ke-3: 1990) dikategorikan kata sifat yang memiliki arti: sedang, bersahaja, tidak banyak seluk-beluknya, dsb. Di sana dicontohkan: hidupnya selalu bersahaja. Dalam baris Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, mengahadirkan keinginan cinta dengan (sikap) yang sederhana. Cinta yang dihadirkan bukan cinta yang lain, pasif atau progresif, nafsu atau hal yang mengawang, dan ataupun wujud yang lain. &#8220;Mencinta&#8221; di sini hadir dengan wajah yang sederhana, sedang dan tak berseluk-beluk.<br />
Namun sebelum imaji saya beterbangan kemana-mana dengan kata &#8220;sederhana&#8221;, kembali saya dihadirkan dengan nuansa lain dari makna &#8220;sederhana&#8221;. Baris ke-2 dan ke-3 adalah semacam penjelasan akan kata &#8220;sederhana&#8221;, bagaimana ia menjadi sifat mencinta dalam puisi ini.<br />
Ada sebuah ketertundaan pada maksud &#8220;…kata yang tak sempat diucapkan…&#8221;, namun tetap dirasa sebagai sesuatu yang utuh. &#8220;kata&#8221; menjadi mendium dari sebuah ungkapan terimakasih, rasa kagum, ingin dari &#8220;kayu&#8221; yang sampai pada tahap tertentu lantaran &#8220;api&#8221;, yaitu &#8220;abu&#8221;. &#8220;kata&#8221; jika diucapkan akan menjadi ukuran, sejauh mana rasa terimaksih kayu akan tergambar. Bisa jadi uangkapan dari &#8220;kata&#8221; menjadi hal yang biasa, muluk-muluk ataupun tak sesuai dengan maksud perasaan dan menjadi hal yang tidak sederhana lagi. Ketika &#8220;kata&#8221; tak sempat di utarakan, maka ia akan menjadi hal yang tertangguh dalam benak, terbawa dalam sikap sehari-hari. Pada akhirnya sikap itulah yang benar-benar hidup dan menjadi ungkapan sebenarnya yang lebih utuh, tulus dan sederhana.</p>
<p>Yang Meniadakan</p>
<p>Aku ingin mecintaimu dengan sederhana:<br />
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan<br />
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada</p>
<p>Sedari tadi saya terusik dengan ungkapan metaforis© dari sajak ini. Saya bertanya-tanya, &#8220;kenapa ungkapanya menggunakan sesuatu yang saling meniadakan (api meniadakan kayu, hujan meniadakan awan)? Bukankah ini tentang cinta yang notabene tentang keutuhan?&#8221;. Namun saya tersadar setelah menyimak lebih lekat kata &#8220;sederhana&#8221;.  Karena menurut pandangan sementara saya, baris-baris selanjutnya bermuara pada kata itu. Di lain hal, penggunaan metafor tersebut tidak mengandaikan maksud saling meniadakan tetapi sebuah proses keberlanjuntan. Jadi keberlanjutan itu seolah kebutuhan yang mesti ada untuk sampai pada wujud selanjutnya. Kayu tidak akan menjadi abu tanpa api membakarnya begitupula awan tidak akan lenyap bila hujan tak mengurainya.<br />
Proses peniadaan seolah tak terhentikan, bahkan barang sedetik pun. Oleh karena itu, &#8220;penyampain&#8221; pada cerita dalam puisi itu seolah terhalang oleh berlangsungnya proses. Namun justru dengan metaforis yang seperti ini ungkapan tersebut menghadirkan macam-macam penafsiran tentang mencinta.<br />
Saya kira untuk menemukan yang lebih dalam tentang cinta, (dan mencinta) dalam sajak ini, selanjutnya adalah tugas anda. Karena bagaimana pun  pengalaman diri mencinta juga ikut terlibat dalam menemukan rupa cinta pada sajak ini. Apakah sesungguhnya yang terselip di balik ungkapan metaforis yang saling meniadakan dalam sajak di atas.</p>
<p><b>*Muhammad Zaini</b></p>
<p><b>Mahasiswa UIN Jogja. Berkhidmat di Teater ESKA UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta</b></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tongkronganbudaya.wordpress.com/24/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tongkronganbudaya.wordpress.com/24/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tongkronganbudaya.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tongkronganbudaya.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tongkronganbudaya.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tongkronganbudaya.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tongkronganbudaya.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tongkronganbudaya.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tongkronganbudaya.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tongkronganbudaya.wordpress.com&blog=2891079&post=24&subd=tongkronganbudaya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tongkronganbudaya.wordpress.com/2008/03/08/mencari-rupa-cinta-dalam-sajak-aku-ingin-karya-sapardi-djoko-damono/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8a4e003d1e5ac77fb4b04e490f5ca2b4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nongkrong</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>