Senjakala Kematian Danarto dan Budi Darma
Oleh: Musthafa Amin*

Kacapiring, Laki-Laki Lain Dalam Secarik Surat
Kematian adalah sesuatu yang tidak terelakkan. Sebagai salah satu prima pincipia kehidupan, kematian adalah pilihan yang tidak memiliki opsi. Ia adalah hal yang tak terelakkan bagi manusia. Satu kepastian tunggal dengan proses yang beragam. Sejenak bila membaca tulisan Fayyadl di dalam Blognya, dengan tema Filsafat Kematian (Philosophy of Death): Sebuah Hantaran Metodologis Awal ada satu hal yang menggelikan, bahkan saya pun sempat tertegun ketika teringat tentang banyak orang yang membicarakan kematian. Manusia sebenarnya membicarakan kematian secara apriori. Bagaimana kita berbicara tentang kematian, sementara kita belum pernah mengalaminya?
Toh, kemudian, landasan filosofis masih belum bisa menghentikan keinginan manusia untuk selalu menguraikan tentang kematian bahkan proses setelah itu, melangkah jauh hingga ke bagian eskatologi, tentang hari pembalasan sebagai batasan-batasan perilaku manusia sebagai makhluk unggul.
Tulisan ini, dengan sekedarnya, ingin memaparkan bagaimana ketika seorang sastrawan berkehendak melakukan eskplorasi tentang “kematian” dalam karyanya, bagaimana mereka menyikapi kematian sebagai pilihan hidup yang tidak bisa ditawar. Pilihan tokoh sastrawan berikut tidak memiliki landasan ilmiah apapun, karena ini adalah sebuah kebetulan saja penulis menemukan sebuah karya dua orang sastrawan yang menjadikan “kematian” sebagai tema dalam salah satu prosanya. Keduanya adalah Danarto dan Budi Darma. Baca entri selengkapnya »
Blogger; Status (Kelas) Sosial dari Dunia Maya
Oleh: Muhammad Zaini
Mungkin tak seberapa dalam saya mengenal dunia blog, namun saya sedikit tergelitik, pasalnya minggu lalu tanggal 23 November, saya membaca uraian menarik di Kompas dengan judul “Mabuk Dunia Maya, Sampai Lupa Etika”. Saya tidak terlalu rajin membaca dan membeli koran, tetapi seketika koran itu tergeletak di kamar salah seorang teman, mata saya merayap sampai di judul itu. “Wah, etika dunia maya?” saya tertarik, sebab mungkin saya juga punya blog di dunia maya atau seolah seolah-olah kata-kata itu menuding saya “apa kamu beretika?” he..he..
Tapi etika bagaimana yang dimaksud? Namun terlepas dari persoalan tentang etika (yang saya kurang memahami prihal etika), ada beberapa kesimpulan yang di benak saya prihal dunia maya, terutama apa yang disebut dengan blogger. Saya terbayang sosok dan pemikiran Marx (saya bukan Marxis, neo, atau komunis) tentang status social. Mungkin ia harus hidup lagi di sini, di dunia maya, dan mungkin ia akan terkejut, dan lebih parah lagi, ia akan menambahkan footnote panjang untuk apa yang disebut dengan blogger di buku Das Kapitalnya. Bukan di dunia nyata, tapi di dunia maya. Saya kira sosiolog perlu meneliti ini lagi, dan menamakan komunitasnya sebagai masyarakat blogger, he..
Sekilas tentang blogger di mata saya, ia merupakan status baru dalam social yang entah sejak kapan ia lahir. Menurut Wicaksono salah satu wartawn Tempo yang juga mempunyai blog ndorokakung.com yang diurai di Kompas, di Indonesia, blog dikenal sejak tahun 2004 dan mulai sangat disenangi pada 2007. Sedang di dunia Internasional, blog dikenal sejak 1998. Lalu status seperti apakah sosok blogger di benak saya? Yang jelas bukan borjuis atau ploretar seperti yang dikatakan Marx. Sekali lagi atas dasar bayangan dan tanpa penelitian yang ilmiah, bagi saya sosok blogger hampir mirip dengan sosok borjuis tanpa exploitasi. Leptop atau komputer dimuka dengan segelas kopi dan beberapa bungkus rokok dan kacamata yang sedikit agak kusut, he..
Bukan, bukan sepenuhnya itu maksud saya. Kalau di dunia nyata ada sosok tokoh agama, kapitalis, rakyat miskin, ploretar dan semacamnya (entah apa bedanya??), di dunia maya ada yang namanya blogger. Seperti kata Yasraf yang menyebut dunia maya ini dunia hiperrealitas, maka mungkin saya menyebut status blogger, status hiperrealitas. Sebab, ketika saya serius membaca tentang dunia blogger di Kompas, saya seolah-olah berada pada dunia yang sebenarnya, benar-benar nyata. Tapi saya tidak tahu apa sebenarnya hiperrelitas, apakah nyata dari yang sebenarnya tidak nyata atau tidak nyata dari yang nyata. Entahlah.. (maaf pak Yasraf, saya gurau soal status hiperrealitas, he..). tapi bagaimana jika benar, akan berkembang suatu saat masyarakat blogger? Kelas seperti apakah yang akan disebut oleh Marx?
Seperti telah dijelaskan di Kompas, bahwa beberapa komunitas blogger telah bergerak di dalam kegiatan kemasyarakatan. Memang, mereka (blogger) merupakan bagian dari msyarakat di dunia nyata, akan tetapi saya melihat berbeda jika kegiatan itu mengatas namakan komunitas blogger. Oleh karena itu saya sedikit punya asumsi akan berkembangnya komunitas tersebut sebagai masyarakat baru yang hidup di dunia maya dan mengada di dunia nyata. Jadi tidakkah ini menarik untuk di kaji, walaupun apa yang saya utarakan tidak berdasar ilmiah (tanpa dasar) akan tetapi sekedar uneg-uneg. Akan tetapi mereka dan apa yang telah diperbuat, tak lain merupakan bagian dari budaya yang mulai berkembang di masyarakat kita.
Jadi, ada apa dengan etika dunia maya? Yang jelas sangat tidak bisa dipisahkan dengan dunia nyata. Etika dunia maya menentukan mental masyarakat kita.. begitukah yang disebut hiperrealitas pak Yasraf? (saya punya buku anda dan saya tidak paham, he..)
Sair Sajak I. G. Jali (2)
TAPI SAMPAI KAPAN
semua tahu
kita ini orang beriman
tapi sampai kapan
semua tahu
kita ini orang-orang pasrah
tapi sampai kapan
semua tahu
siapa kenal diri sendiri
akan kenal siapa tuhannya
tapi kapan
o orang sekarang
sudah kenal tuhan
hingga mereka lupa daratan
orang sekarang
kebanyakan ngobrol sama tuhan
dari pada tidur malam
o ya berbahagialah
orang yang lupa diri
dan selalu ingat tuhan
tapi sampai kapan
krapyak, 26 ramadan 1429
ROTI TAWAR
saat makan roti tawar
aku teringat hidupku
melekat di langit-langit
lengket di gigi dan guzi
sulit dikunyah secara kasar
dan tak mudah menelannya
aku kerepotan jadinya
tapi waktu menatap kau
justru hidup ingat padaku
kembali menyuguhiku pilihan
memberi sajakku suatu warna
dan aku baru sadar
bahwa puja-puji ini
telah kuulang ribuan kali
Krapyak, 07 Ramadan 1429
07 September 2008
TERBALAS IMPAS
terhenti lagi kenapa
gita cita cinta rindu
dan tak ada
padahal hanya tintaku
perlu geli dan baca
tuh terhenti lagi
tadi sudah sampai
di pintu rumah
tapi tiba-tiba menjauh
terdampar disini
melambung lagi
ke dalam sepi
mendalam
meluas
tak terangkum lagi
bagai jailangkung
ia berkata:
ini aku
kata yang tertulis
saban datang
kau acuhkan
kini kubalas
kutikam
dengan kerinduan
jogja, 22 nopember 2007
pagi rindukan hangat
padahal sesaat lagi
juga bakal datang
Baca entri selengkapnya »
Sair Sajak Moehammad Zaini (7)
ANAK LUKA DAN ANAK TANGGA
Aku mengenal luka lagi, luka yang riang bermain anak tangga. Anak tangga selalu punya cerita di satu pertahapnya. Anak tangga dan aku yang anak luka. Riang di rumah. Melempar lemari ke bawah, atau membawa sofa ke atap rumah. Setiap tergelincir, aku tertawa, lalu anak tangga mengajakku ke teras rumah. Melihat jalanan kecil yang lupa pada luka. “Mereka lupa padamu, anak luka!”, anak tangga berteriak. Jalanan itu luka. Anak tangga terdiam lalu mengajakku tergelincir di tangga berikutnya. “Bawa tubuhmu sekalian, kita berhenti di dapur, dan makan tubuhmu bersama”, sambil berlari anak tangga menuju dapur, tergelincir, jatuh, bangun, lari, terjerembab, bangun.. lalu aku berteriak, “ kau teman paling setia anak tangga, selalu menyempatkan jatuh dan terluka saat kau berlari, kau selalu mengingatku..” ia hanya tersenyum.
Aku anak luka, terus bermain setiap bertemu anak tangga yang berikutnya..
30-10-2008
PAGI DI MATA YANG REDUP
Pagi di mata yang redup
Sepasang sandal melintas di tatapannya
Tubuh kumuh berbicara
Terseret-seret di langkah lunglai
Bocah itu dengan tanah apa beda
Tubuh terbungkus hitam
Sengatan matahari
Bercerita sepanjang jalan
Tentang doa yang bisu
Mata yang kabut
Oleh darah dan tanpa arah
Luka-luka kerikil
Dan pagi lenyap
Tertimbun di kuburan tua.
Yogyakarta, 18-10-2008
SENIN PETANG
Senin petang di pintu kamar
Kau duduk serupa majnun di hatiku
Terakhir kali kau menggantung di gantungan baju
Belakang pintu
Sesaat setelah bekas merah di mukena itu
Malam ini biarkan kamar memelukmu
20-10-2008
SETENGAH MENIT MENUNGGUMU
Aku menunggumu seperti batu di kamar ini. Batu yang lumut. Tapi yang aku kira aku adalah batu kecil yang tersangkut di jempol jari kakimu, ikut dan terjatuh di karpet kamar. Tapi tak salah jika aku ingin terbang ke rak-rak buku yang menggigil tak pernah peroleh dekap, ke baju-baju di lemari yang tak pernah hangat oleh setrika dan parfum, ke piring-sendok yang memikul sisa ludah dan butir dari mulut, atau kasur yang semalam ketumpahan teh sehabis kau mampir dan tidur di atasnya.
Aku menunggumu serupa kopyah di sajadah itu, selepas aku sembahyang, berlalu dan berdoa di bibirmu. Kopyah yang hanya bisa melihat kita berciuman dan segera menjadi penutup pagut bibir kita saat pintu tiba-tiba terbuka. Sebab dari luar hujan segera masuk tiba-tiba. “Di luar dingin”, kata hujan. Kopyah mengerti kita, menyembunyikan muka malu kita, dan tak memberitahukan pada siapapun sampai ia kembali di atas sajadah menjadi sujud bulan yang beku.
29-10-2008
Biografi; Chairil Anwar
Chairil Anwar dilahirkan di Medan, 26 Julai 1922. Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup berantakan. Kedua ibu bapanya bercerai, dan ayahnya berkahwin lagi. Selepas perceraian itu, saat habis SMA, Chairil mengikut ibunya ke Jakarta.
Semasa kecil di Medan, Chairil sangat rapat dengan neneknya. Keakraban ini begitu memberi kesan kepada hidup Chairil. Dalam hidupnya yang amat jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat adalah saat neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang luar biasa pedih:
Bukan kematian benar yang menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertahta
Sesudah nenek, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil puja. Dia bahkan terbiasa membilang nama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu, sebagai tanda menyebelahi nasib si ibu. Dan di depan ibunya, Chairil acapkali kehilangan sisinya yang liar. Beberapa puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada ibunya.
Sejak kecil, semangat Chairil terkenal kedegilannya. Seorang teman dekatnya Sjamsul Ridwan, pernah membuat suatu tulisan tentang kehidupan Chairil Anwar ketika semasa kecil. Menurut dia, salah satu sifat Chairil pada masa kanak-kanaknya ialah pantang dikalahkan, baik pantang kalah dalam suatu persaingan, maupun dalam mendapatkan keinginan hatinya. Keinginan dan hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap, menyala-nyala, boleh dikatakan tidak pernah diam. Rekannya, Jassin pun punya kenangan tentang ini:
Kami pernah bermain bulu tangkis bersama, dan dia kalah. Tapi dia tak mengakui kekalahannya, dan mengajak bertanding terus. Akhirnya saya kalah. Semua itu kerana kami bertanding di depan para gadis.
Wanita adalah dunia Chairil sesudah buku. Tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Dan semua nama gadis itu bahkan masuk ke dalam puisi-puisi Chairil. Namun, kepada gadis Karawang, Hapsah, Chairil telah menikahinya.
Pernikahan itu tak berumur panjang. Disebabkan kesulitan ekonomi, dan gaya hidup Chairil yang tak berubah, Hapsah meminta cerai. Saat anaknya berumur 7 bulan, Chairil pun menjadi duda.
Tak lama setelah itu, pukul 15.15 WIB, 28 April 1949, Chairil meninggal dunia. Ada beberapa versi tentang sakitnya. Tapi yang pasti, TBC kronis dan sipilis.
Umur Chairil memang pendek, 27 tahun. Tapi kependekan itu meninggalkan banyak hal bagi perkembangan kesusasteraan Indonesia. Malah dia menjadi contoh terbaik, untuk sikap yang tidak bersungguh-sungguh di dalam menggeluti kesenian. Sikap inilah yang membuat anaknya, Evawani Chairil Anwar, seorang notaris di Bekasi, harus meminta maaf, saat mengenang kematian ayahnya, di tahun 1999, Saya minta maaf, karena kini saya hidup di suatu dunia yang bertentangan dengan dunia Chairil Anwar.
Tulisan ini dilansir dari indonesiaindonesia.com
Biografi Chairil Anwar juga bisa dilihat di:
- wikipedia.com
- mesiass.com
- penyair.wordpress.com
Beberapa tulisan Tongkrongan Budaya tentang Chairil Anwar:
> Memaknai Kemiskinan Ala Chairil Anwar
> Chairil (Tidak) di Indonesia







