Sair Sajak Moehammad Zaini*

22 Februari , 2008 at 9:34 pm (Puisi, Sastra)

 0310tri_ziarah_acehb.jpg

Aku Berpuisi, Begitulah Aku Berziarah

aku hanya butir-butir kata
yang berkunjung ke tepi hari
hanya setelah ter-niat
“aku berziarah”

menemukan potongan-potongan
tubuhku

adakah hari menyimpannya
di rembang lindap antara hujan
dan terik bulat?

saat itu kata-kata
adalah perjalanan
lahir dari sepi
menemu diri
di titik tersepi

bukankah keterlemparan
itu
ziarah..

ziarahku..

2007

Di Kotamu

Sebuah kata
Yang mekar dari pohon lontar
Di rantingnya
Ada kotamu

Aku mau singgah
Memahami bulan sekerat
Yang katanya tertulis ajaran suci
Setiap malam terang
Melindap di kotamu

Ingin juga aku mengerami malam kotamu
Yang terus menggelembung
Di suara-suara jalan
Kadang mengalir di desau angin

Dalam duduk termenungku
Angin berhenbus monoton
Menyerah pada tanya

Tanya itu ingin aku bawa
Ke kotaku

2007

Lembayung

Aku di sini sebab campur dusta dan ingin tahu
Sebelum nanti aku menghisap layaknya candu

Sebab ia hanya lewat di kalender sehari saja
Selebihnya tak ada lagi yang bermimpi

Dan jika ‘ku buka lembaran ini
Ada lagi yang mati

Intiplah,
Karena semuanya terjadi hari ini

2008

*Muhammad Zaini

Penyair tinggal di Jogja

Iklan

Permalink 4 Komentar

Bahasaku (telah) Punah

22 Februari , 2008 at 9:08 pm (Linguistik)

Oleh: Musthafa Amin*

Fenomena bahasa sebuah bangsa berkembang seiring lanjut waktu yang berjalan. Ibarat musiman, wilayah bahasa dihadapkan pada realitas yang berkesinambungan. Berulang-ulang meski tahap solutif cenderung berbeda penanganan. Memang secara teoritis, laju framework kebahasaan tertata dan berpola dari langkah perjalanan sosial, hingga absah saja kajian sosial berbasis strukturalisme yang dipakarsai oleh sosiolog Tallcott Pearson menjadi pijakan awal kaum strukturalis bahasa awal.

Dari kacamata sosial, bahasa dan budaya adalah ketidakterpisahan tunggal, hubungan bahasa dan budaya bisa dirunut dari dua pandangan yang berbeda. Pertama, mengacu pada kesemestaan budaya mengatakan bahwa bahasa, seperti halnya kepercayaan dan mata pencaharian adalah komponen penting budaya. Jika budaya didefinisikan sebagai totalitas pola perilaku, seni, kepercayaan, lembaga serta hasil karya dan buah pemikiran manusia, signifikansi bahasa terletak pada kenyataan bahwa ia memegang peran yang penting sebagai alat transmisi budaya dari satu generasi ke generasi selanjutnya (Koentjaraningrat, 1983).

Bahasa dikaitkan dengan budaya, karena ia menjadi relasi simbolik budaya. Berbahasa Bali, misalnya, adalah lambang identitas Bali yang selanjutnya berimplikasi bahwa orang Bali yang tidak dapat berbicara tidaklah mewakili identitas Bali dan pada gilirannya tidak mewakili budaya Indonesia (Gunarwan, 2007)

Bangsa Indonesia, saat ini dihadapkan pada fenomena bahasa yang miris. Puluhan Bahasa daerah (BD) punah dan selainnya berpotensi besar punah. Begitu pula bahasa Indonesia (BI) yang mulai dijauhi oleh masyarakat Indonesia sendiri. Akankah Identitas Indonesia menghilang dengan hilangnya bahasa nasional?

Digulirkannya isu Rancangan Undang-Undang Bahasa oleh Pusat Bahasa tidak menafikan kepedulian beberapa tokoh nasional pada BI. Terlepas dari pro kontra RUU tersebut, kita harus kembali menumbuhkan semangat mempertahankan ragam bahasa bangsa kita.
Sebagai langkah awal, data yang dihimpun dalam buku Atlas of The World’s Languages in Danger of Disappearing tulisan Stephen A Wurm yang diterbitkan UNESCO bisa menjadi landasan pemikiran. Wurn menyebutkan potensi kepunahan bahasa-bahasa daerah di Indonesia sangat cepat. Kepunahan bahasa daerah di Indonesia dipetakan sebagai berikut: di Kalimantan 50 bahasa daerah terancam punah dan satu sudah punah. Dari 13 bahasa di Sumatra, dua terancam punah dan satu sudah punah. Sulawesi yang memiliki 110 bahasa, 36 terancam punah dan satu sudah punah. Dari 80 bahasa daerah di Maluku, 22 terancam punah dan 11 sudah punah. Di daerah Timor, Flores, Bima, dan Sumba dari 50 bahasa yang ada sebanyak delapan terancam punah. Di daerah Papua dan Halmahera dari 271 bahasa sebanyak 56 bahasa terancam punah. Di Jawa tidak ada bahasa daerah terancam punah (Kompas, 22 Mei 2007).

Dari data tersebut ragam BD sebenarnya terimarjinalkan oleh BI. Dengan ditetapkannya BI sebagai bahasa komunikasi nasional, BD menjadi bagian sekunder dalam ragam bahasa di Indonesia. Apalagi dengan media nasional yang selalu tampil dengan BI sehingga berlarut-larut BD akan semakin tenggelam.

Perlu dicermati kembali, dengan melemahnya BD, BI sebenarnya akan semakin terpuruk. Bisa dilihat dari kosa kata serapan BI sendiri yang beberapa merupakan hasil cerapan BD dan bahasa asing. Bahasa Belanda dan Bahasa Inggris merupakan dua dari bahasa asing yang menjadi penyokong terbanyak dalam kosa kata BI. Selebihnya adalah bahasa serapan dari BD di Indonesia.

Namun, alih-alih mempertahankan BD, sekarang BI mempunyai kendala serius dari segi penggunaannya. Serbuan bahasa asing membuat BI tidak berkutik. Penyerapannya pun terkesan seadanya sehingga kesan baku dalam penyerapan bahasa asing tidak kentara.

Begitu pula, penggunaan BI oleh masyarakat Indonesia semakin menurun. Menurut data Pusat Bahasa (Kompas, 17/11/2007), 220 juta jiwa penduduk Indonesia saat ini, sekitar 14,8 persen atau sekitar 25,775 juta jiwa merupakan kelompok masyarakat berbahasa ibu, bahasa Indonesia. Sedangkan pemakai bahasa Indonesia adalah sekitar 18,7 persen atau sebanyak 32,6 juta jiwa. Sisanya merupakan penduduk berbahasa daerah dan asing. Melihat data yang mengenaskan ini—tidak sepenuhnya masyarakat Indonesia menggunakan BI, mengingat BI sebagai bahasa nasional, harus segera dituntaskan dengan solusi yang sebaik dan semaksimal mungkin. Karena kalau tidak segera diantisipasi, serbuan massif bahasa asing perlahan akan melontarkan jati diri bangsa Indonesia dengan BI dari peredaran.

Menimbang permasalahan di atas, setidaknya bisa dipetakan runtut persoalan yang berkembang dalam fenomena bahasa di Indonesia. BD sebagai sumber kekayaan bahasa Indonesia semakin berkurang. Ini akan berdampak serius pada identitas bangsa. Setidaknya, komponen terkecil kebudayaan merupakan pondasi pemertahanan bahasa yang lebih besar, BI, kendati keberadaan BI menjadi bumerang tersendiri bagi eksistensi BD. Begitu pula BI yang diresmikan sebagai Bahasa Negara, mengalami demarkasi dengan dominasi bahasa asing.

Ditinjau dari perspektif Bakhtin (1986) dan Volosinov (1975), setiap penggunaan bahasa bersifat ideologis. Dengan pandangan itu, tidak terbantah bahwa bahasa Inggris merupakan perangkat ideologis globalisasi. Kesetiaan bahasa sendiri bisa menjadi benteng awal pertahanan menuju terciptanya bahasa Negara yang kuat dan mencerminkan martabat kita sebagai rakyat Indonesia. Segala sektor pertahanan, mulai dari sektor lokalisasi BD dalam BI, sektor pendidikan, sektor media, dan sektor terkait lain harus segera dibenahi agar masyarakat Indonesia masih bangga dan jumawa dengan kewibawaan bahasa mereka.
*
Musthafa Amin
Pemerhati Bahasa, Mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris UIN Malang konsentrasi Linguistik

Permalink 2 Komentar

Ke(te)la(n)jangan

22 Februari , 2008 at 8:44 pm (Cuplik, Filsafat, Teh Hangat)

690441.jpg

“Dan keduanya bertelanjang diri, seorang laki-laki dan istrinya, dan mereka tidak malu-malu,” Genesis, 2, 25.

[6 ayat selanjutnya]

“dia (hawa) mengambil buah dan memakannya, dan juga memberikannya pada suaminya, dia pun memakannya.

Dan mata mereka terbuka, dan mereka tahu bahwa mereka telah telanjang; mungkin terlalu banal untuk memastikan. karena keduanya diciptakan dari uraian yang sama dan waktu yang bersamaan

Satu menit sebelumnya, satu menit setelahnya dan di antaranya—momen pembuka rahasia, dihasilkan melalui metode yang bahkan seorang David Hume pun menerimanya—dan itulah mereka, Adam dan Hawa, yang memesrakan ketelanjangan, kebenaran yang saru—Tubuh.

Dan mereka menggabung dedaunan ara bersama, dan menutupi tubuhya

Bagaimanapun, pandangan pertama sangatlah mudah rusak. Dedaunan ara sangat sensitif pada tiupan angin, pada gerakan kasar, dan waktu seringkali mereka habiskan untuk menyembunyikan daging mereka, menutupi ketelanjangan mereka. Petanda [stabil] menjadi tidak stabil, referen terlihat di sini dan di sana.

Meminjam bahasa Lyotard ((The Postmodern Explained: Correspondence, 1982-1985), ketidakstabilan tanda ini menimbulkan ketakutan dan gemetar, penelanjangan referen dan kegagalan menyesuaikan tanda referen, yankni yang lain [the others], menasbihkan masalah identitas. Jika identitas orang lain tidak diselesaikan, begitupula identitas saya. Ini merupakan kemampuan ,megenali dan menerjemahkan makna tanda dengan cepat—bukan pada referennya, yang selalu disembunyikan—tetapi makna yang muncul dari konteksnya, keadaan struktural—yang membantu penciptaan kesadaran diri, dan identitas. Semakin cepat dan stabil proses penukaran dan pengenalan tanda ini, semakin stabil pula imbas realisme, semakin solid pula Fantasi Realitas.

Mengejutkan sekali. Titik pusat identitas yang berkenaan dengan tuhan dan membuatnya bereaksi dengan menyediakan Adan dan Hawa beberapa pengetahuan praktikal. Itulah bagaimana membentuk dan membangun tanda-tanda yang stabil.

“Bagi Adam dan juga Hawa, apakah Tuhan menciptakan mantel kulit dan menutupi tubuh mereka?”
Tidak Tuhan menganugerahkan kita dengan cahaya, atau kobaran api menyala; Dia juga menganugerahkan petunjuk tertentu. Satu-satunya praktik sistem yang Tuhan berikan adalah Sistem Kebiasaan atau Mode, Le Système de la mode, sebuah petanda-petanda bermakna: Fantasi menutupi tubuh kita.
(ditelanjangi, dialihbahasakan, disunting oleh tongkronganbudaya dari situs digitalphilosophy)

Melihat Ketelanjangan sekarang tidak saru lagi. Budaya Indonesia memang sudah benar-benar ditelanjangi dengan maraknya tradisi telanjang menelanjangi di indonesia. Kapan rasa malu-malu Adam melihat Hawa, dimiliki oleh para Adam Indonesia. Begitupun sebaliknya.

Permalink 11 Komentar

Chairil (Tidak) di Indonesia

22 Februari , 2008 at 7:13 pm (Chairil Anwar, Cuplik, Puisi, Sastra, Teh Hangat, Tokoh)

Andai Saja Tulisan ini terlihat di rumah-rumah di Indonesia. Tentu, Chairil Anwar tidak akan menjadi “kumpulan binatang jalang yang terbuang”

Barangkali nama beliau mulai menghilang dari peredaran. Riskan yang, entah, menjadi

ketidaksadaran.

anwar1.jpg

Grafiti ini terlihat memukau di Jalan Kernstraat 17a (zijgevel), Leiden Belanda. Kami kira di Indonesia pada awalnya. Kata Leiden di penjelasan situs sungguh merisaukan. Puja orang luar, Remuk Orang Dalam.

Ini cuplikan Puisinya:

Aku

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

(oleh Chairil Anwar, Maret 1943)

_____________________________________________________________________________________

Jika anda juga risau, berbagilah bersama kami. Asal Kopi dan Rokok beli sendiri.

_____________________________________________________________________________________

Data dicuplik dari

http://www.muurgedichten.nl/anwar.html

Permalink 2 Komentar