Bahasaku (telah) Punah

22 Februari , 2008 at 9:08 pm (Linguistik)

Oleh: Musthafa Amin*

Fenomena bahasa sebuah bangsa berkembang seiring lanjut waktu yang berjalan. Ibarat musiman, wilayah bahasa dihadapkan pada realitas yang berkesinambungan. Berulang-ulang meski tahap solutif cenderung berbeda penanganan. Memang secara teoritis, laju framework kebahasaan tertata dan berpola dari langkah perjalanan sosial, hingga absah saja kajian sosial berbasis strukturalisme yang dipakarsai oleh sosiolog Tallcott Pearson menjadi pijakan awal kaum strukturalis bahasa awal.

Dari kacamata sosial, bahasa dan budaya adalah ketidakterpisahan tunggal, hubungan bahasa dan budaya bisa dirunut dari dua pandangan yang berbeda. Pertama, mengacu pada kesemestaan budaya mengatakan bahwa bahasa, seperti halnya kepercayaan dan mata pencaharian adalah komponen penting budaya. Jika budaya didefinisikan sebagai totalitas pola perilaku, seni, kepercayaan, lembaga serta hasil karya dan buah pemikiran manusia, signifikansi bahasa terletak pada kenyataan bahwa ia memegang peran yang penting sebagai alat transmisi budaya dari satu generasi ke generasi selanjutnya (Koentjaraningrat, 1983).

Bahasa dikaitkan dengan budaya, karena ia menjadi relasi simbolik budaya. Berbahasa Bali, misalnya, adalah lambang identitas Bali yang selanjutnya berimplikasi bahwa orang Bali yang tidak dapat berbicara tidaklah mewakili identitas Bali dan pada gilirannya tidak mewakili budaya Indonesia (Gunarwan, 2007)

Bangsa Indonesia, saat ini dihadapkan pada fenomena bahasa yang miris. Puluhan Bahasa daerah (BD) punah dan selainnya berpotensi besar punah. Begitu pula bahasa Indonesia (BI) yang mulai dijauhi oleh masyarakat Indonesia sendiri. Akankah Identitas Indonesia menghilang dengan hilangnya bahasa nasional?

Digulirkannya isu Rancangan Undang-Undang Bahasa oleh Pusat Bahasa tidak menafikan kepedulian beberapa tokoh nasional pada BI. Terlepas dari pro kontra RUU tersebut, kita harus kembali menumbuhkan semangat mempertahankan ragam bahasa bangsa kita.
Sebagai langkah awal, data yang dihimpun dalam buku Atlas of The World’s Languages in Danger of Disappearing tulisan Stephen A Wurm yang diterbitkan UNESCO bisa menjadi landasan pemikiran. Wurn menyebutkan potensi kepunahan bahasa-bahasa daerah di Indonesia sangat cepat. Kepunahan bahasa daerah di Indonesia dipetakan sebagai berikut: di Kalimantan 50 bahasa daerah terancam punah dan satu sudah punah. Dari 13 bahasa di Sumatra, dua terancam punah dan satu sudah punah. Sulawesi yang memiliki 110 bahasa, 36 terancam punah dan satu sudah punah. Dari 80 bahasa daerah di Maluku, 22 terancam punah dan 11 sudah punah. Di daerah Timor, Flores, Bima, dan Sumba dari 50 bahasa yang ada sebanyak delapan terancam punah. Di daerah Papua dan Halmahera dari 271 bahasa sebanyak 56 bahasa terancam punah. Di Jawa tidak ada bahasa daerah terancam punah (Kompas, 22 Mei 2007).

Dari data tersebut ragam BD sebenarnya terimarjinalkan oleh BI. Dengan ditetapkannya BI sebagai bahasa komunikasi nasional, BD menjadi bagian sekunder dalam ragam bahasa di Indonesia. Apalagi dengan media nasional yang selalu tampil dengan BI sehingga berlarut-larut BD akan semakin tenggelam.

Perlu dicermati kembali, dengan melemahnya BD, BI sebenarnya akan semakin terpuruk. Bisa dilihat dari kosa kata serapan BI sendiri yang beberapa merupakan hasil cerapan BD dan bahasa asing. Bahasa Belanda dan Bahasa Inggris merupakan dua dari bahasa asing yang menjadi penyokong terbanyak dalam kosa kata BI. Selebihnya adalah bahasa serapan dari BD di Indonesia.

Namun, alih-alih mempertahankan BD, sekarang BI mempunyai kendala serius dari segi penggunaannya. Serbuan bahasa asing membuat BI tidak berkutik. Penyerapannya pun terkesan seadanya sehingga kesan baku dalam penyerapan bahasa asing tidak kentara.

Begitu pula, penggunaan BI oleh masyarakat Indonesia semakin menurun. Menurut data Pusat Bahasa (Kompas, 17/11/2007), 220 juta jiwa penduduk Indonesia saat ini, sekitar 14,8 persen atau sekitar 25,775 juta jiwa merupakan kelompok masyarakat berbahasa ibu, bahasa Indonesia. Sedangkan pemakai bahasa Indonesia adalah sekitar 18,7 persen atau sebanyak 32,6 juta jiwa. Sisanya merupakan penduduk berbahasa daerah dan asing. Melihat data yang mengenaskan ini—tidak sepenuhnya masyarakat Indonesia menggunakan BI, mengingat BI sebagai bahasa nasional, harus segera dituntaskan dengan solusi yang sebaik dan semaksimal mungkin. Karena kalau tidak segera diantisipasi, serbuan massif bahasa asing perlahan akan melontarkan jati diri bangsa Indonesia dengan BI dari peredaran.

Menimbang permasalahan di atas, setidaknya bisa dipetakan runtut persoalan yang berkembang dalam fenomena bahasa di Indonesia. BD sebagai sumber kekayaan bahasa Indonesia semakin berkurang. Ini akan berdampak serius pada identitas bangsa. Setidaknya, komponen terkecil kebudayaan merupakan pondasi pemertahanan bahasa yang lebih besar, BI, kendati keberadaan BI menjadi bumerang tersendiri bagi eksistensi BD. Begitu pula BI yang diresmikan sebagai Bahasa Negara, mengalami demarkasi dengan dominasi bahasa asing.

Ditinjau dari perspektif Bakhtin (1986) dan Volosinov (1975), setiap penggunaan bahasa bersifat ideologis. Dengan pandangan itu, tidak terbantah bahwa bahasa Inggris merupakan perangkat ideologis globalisasi. Kesetiaan bahasa sendiri bisa menjadi benteng awal pertahanan menuju terciptanya bahasa Negara yang kuat dan mencerminkan martabat kita sebagai rakyat Indonesia. Segala sektor pertahanan, mulai dari sektor lokalisasi BD dalam BI, sektor pendidikan, sektor media, dan sektor terkait lain harus segera dibenahi agar masyarakat Indonesia masih bangga dan jumawa dengan kewibawaan bahasa mereka.
*
Musthafa Amin
Pemerhati Bahasa, Mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris UIN Malang konsentrasi Linguistik

2 Komentar

  1. Albutuuni said,

    Pemerintah Indonesia tidak boleh hanya berdiam diri memikirkan kepentingan diri dan posisi. Itu tanggungjawab Pemerintah.

  2. ACI said,

    Orang tua kadang bingung dan pusing ketika membaca “bahasa sms” dari “anak gaul” Kalao kita protes, mereka malah bilang, “Ah, bapak jadul dan gak gaul deh”😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: