Jati Diri (….) Indonesia; Titik dalam Tanda Kurung;

28 Maret , 2008 at 5:17 pm (Puisi, Sastra, Taufiq Ismail, Tela'ah Sastra)

Indonesia Di Bawah Awan Gelap dalam (Satu) Puisi Taufiq Ismail (Saja)
Oleh: Musthafa Amin

rokok.jpg

Tanda kurung di atas, bukanlah kesalahan ketik. Di dalamnya pun kami bermaksud memberikan rangkai titik. Dua tanda kurung (buka dan tutup) dan beberapa titik di judul bersinambung dengan tiga rangkai kata yang penulis beri judul di atas.

Ada nada sinisme di atas. Hal ini mengacu pada karakter bangsa Indonesia. Dahulu, kita dipaksa senyum dan bangga dengan sebutan bangsa ramah. Kali itu, wujud senyuman adalah perasan keramahan, kebaikan dan kasih sayang. Jauh, ketika bangsa luar telah meragamkan senyuman pada kategori senang, sinis dan benci, bangsa Indonesia masih menganggap senyum adalah rahmat. Tetapi itu masa silam.

Jikalau menilik judul, ada yang perlu dipahami, ia tidak hendak menjebak kita pada permainan definisi. Penggamblangan teoritis maupun epistemologis, sungguh, tak akan penulis berikan di sini. Paparan tentang jati diri Indonesia, sungguh begitu luas, dikaji dari sudut mana pun akan ada peristiwa dan monumen pengetahuan yang menggiurkan untuk ditafsirkan. Begitulah…

“Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok”

Sajak “Tuhan Sembilan Senti” Taufiq Ismail, penulis kira menjadi salah satu tautan untuk mengisi titik dalam tanda kurung. Lahan yang subur dengan sekali tancap langsung berbuah, telah berhasil menempatkan tembakau menjadi identitas bangsa Indonesia sebagai bangsa perokok tulen. Merokok, menjadi kebanggaan, klaim superior dan diperparah sebagai pembeda lelaki dengan perempuan.

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok
Rokok telah menjadi dewa, berhala, Tuhan baru, diam-diam menguasai kita
Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran, di toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok

Taufiq Ismail menyebut rokok adalah berhala-berhala kecil bukanlah tanpa alasan. Masyarakat Indonesia memandang rokok bukanlah pada lahan yang semestinya digarap, disemai dan dipanen hikmahnya. Ia secara simbolis adalah tuhan. Penjamin kepastian dalam episode surat kejantanan-meminjam istilah Wina Bojonegoro.

Mengikuti sabda Nietzsche, “Tuhan” hanyalah suatu model untuk menunjuk setiap bentuk jaminan kepastian untuk hidup dan manusia. Karena itu, tulis Nieztsche, manusia sendiri harus menciptakan dunia dan memberi nilai. Hal yang kurang lebih serupa disampaikan WS Rendra dalam puisi Sebatang Lisong, “kitalah yang harus merumuskan keadaan”.

Setidaknya nilai itu harus dibongkar. Diangkat hingga ke akar-akarnya. Seperti kanker, semua bibit-bibitnya harus dieksekusi sehingga mati dan terbuang. Tanpa terkecuali. Jati diri (perokok) manusia Indonesia sebenarnya nilai semu, ketika ia menjadi landasan kepastian berbias pertikaian dan memperparah perbedaan. Dengan jarak yang mematikan, jelasnya.

Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan…

Ditinjau dari agama pun begitu. Para ulama’ meracau demi kenikmatan sesaat. Dalih haram dan makruh yang diperkeruh kehalalan semakin ketat ditonjolkan. Semuanya demi satu hal, kepuasan menghisap, merengkuh resapan nikotin dalam rongga-rongga paru. Pernahkah kita berpusing ke belakang di ujung silam. Saat kali pertama manusia Indonesia memilin-milin tembakau dengan bebasnya, menghisapnya dengan kesadaran dan tanpa perlu melarang bahwa kenikmatan itu haram.

Apa yang telah digumamkan di atas, hanya tentang tembakau dibungkus kertas yang berada di Indonesia. Ini hanya dari rokok saja dan pernyataan seorang Taufiq Ismail saja dengan satu puisi pula. Belum lagi titik dalam tanda kurung itu ditautkan pada persepsi lain nama dan rujukan. Begitu ribetnya membahas jati diri Indonesia. Ah saya pun tidak paham dengan kelanjutan oretan ini…

Download Di sini
Sajak Tuhan Sembilan Senti Taufiq Ismail [Download]

Iklan

Permalink 19 Komentar

Sair Sajak Muhammad Zaini (4)

27 Maret , 2008 at 7:23 pm (Puisi, Sastra)

Puisi Telah Bosan

Kurajam kantuk mataku
Siapa yang tahan dengan suara rayu
Setiap kali menjulang ke atas
Telinga mekar bersiap menagkapnya

Kantuk mata ini karyamu
Yang tawar lagi
Menciptakan tanpa rasa
Kantukmu dan rasa tawarku

Kusimpan saja di bawah bantal
Kubuang setelah pagi kelupas mimpi
Segelas kopi mati tenggelam
Berita pagi cium keningku
Dan mengucapkan:
Selamat pagi

Ada yang menghitung sepanjang jalan
Lalu pulang dengan catatan
Ribuan orang pengguna motor
Berteriak mohon ampun

Jalan mengantar sebuah wejangan
Yang setiap pagi tak boleh bosan
Katanya mereka merajam kantuk
Sama sepertiku

Sebab karyamu tanpa rasa

Jogja 2008

Menyimpan Bau Parfummu

Selepas kau pergi melewati sela-sela angin
Aku masih di sini
Berebut bau parfummu
Mendahului angin

Aku ingin merangkai kenangan
Dari jarak yang kau ikat padaku

Masih di langkahmu
Tatapku terus berjatuhan

Jogja 2008

Permalink 8 Komentar

Sair Sajak Musthafa Amin (2)

27 Maret , 2008 at 7:20 pm (Puisi, Sastra)

Kuas(a)

Duniaku memang cukup remuk
Berkali-kali aku tumpah tindih
Lemakku dengan lemakmu mencipta lemak baru
Dipermak sedemikian rupa
Di atas kesucian yang malah mengharap kotor

Dulu aku dianggap keindahan
Arsiran, tepian, bayangan di kanvas kematian
Adalah ujung kenikmatan penglihatan
Dipuja, dikagumi dan diganti segepok uang

Selang semi runtut waktu menjengkang
Keindahanku bagai ilalang
Mengering karena kecapmu tak lagi mencerahkan
Membangkitkan gairah kehidupanku di pagi hari dan siang

Demi tuhanku, sempat aku bersumpah
Meski tidak serapah
Bukan kehendakku tertumpah
Di sini, di kanvas hidup yang bertebar sampah
Aku hanya menjalani takdir
Apa tidak boleh, aku menuruti kuasa sekali saja
Demi estetika puja tuhanku sayang

Malang sungguh tersayang
Di atas kuasa tuhanku masih ada kuasa
Kuasa manusia, yang sering kudengar paksa

Malang, 21 Februari 2008
09: 13

Muhammad

Kukenal engkau lewat nama
Kucintai engkau lewat pena
Wajahmu kabur saat kubayangkan
Lebih pada akalku yang mereka kekang

Engkau adalah utusan
Yang hadir menyambung keterputusan
Dari kaum-kaum militan pagan
Ajaranmu yang engkau sebarkan
Telah aku pahami lewat sajak
Kehidupan yang dipaparkan orang

Sekedar pinta dari pengagum
Aku ingin belajar langsung
Menyentuh tanganmu
Menatap rupa mapanmu
Menjejaki setiap detik
Detak jantungmu

Kuingin engkau melalui tangan ini
Meremas dengan kulit dan buluku
Bersentuhan dengan setiap nafas
Hanya aku sendiri
Melalui aku
Tanpa surat, tanpa ayat

21 Maret 2008

Malang, 02:11 AM

Permalink 3 Komentar

Sair Sajak Anas Shofwan Kholid (1)

27 Maret , 2008 at 7:16 pm (Puisi, Sastra)

Tuhan; Perempuan 

Tuhan adalah perempuanku
Saat kerinduan mencekik lehernya yang putih
akan dia kirim Izrail menjemputku
Keluar kutertawa
Matiku di matanya
Tauaku leburkan tauku

Jakarta, 12 Desember 2007

*Mahasiswa Jurusan PMH UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Permalink 1 Komentar

Sastra Religius; Paradoks Labelisasi Sastra

27 Maret , 2008 at 7:12 pm (Kritik Sastra, Sastra, Tela'ah Sastra)

Oleh: Musthafa Amin

Puritanisme adalah gejala keagaamaan yang mengedepankan keinginan untuk menjaga kemurnian dalam beragama dan hidup sesuai dengan nilai-nilai keagamaan yang ketat. Sejarah dunia dengan gamblang menggambarkan proses lahirnya puritanisme sebagai iringan terhadap reformasi Protestan dan berdirinya gereja Anglikan pada abad 16. Dalam referensi kesusasteraan inggris klasik, periode puritan (1620-1660) adalah tonggak pemicu lahirnya sastra yang berelevansi dengan agama. Ragam sastra yang muncul adalah puisi metafisis.1 Pelopornya adalah John Donne (1573-1631). Sumber inspirasi gaya metafisik ini adalah cinta dan agama.
Menyoal hubungan agama dan sastra adalah diskursus yang sudah langgam dibahas, baik di dalam sastra inggris maupun sastra Indonesia. Dikotomi antara sakral dan profan adalah salah satu ulasan yang kerap dilakukan kendati upaya menggabungkan keduanya dalam satu bentuk karya sastra juga pernah terjadi. Dalam artian labelisasi sastra telah melahirkan beberapa bentuk dan corak karya sastra yang berhubungan dengan agama dan nilai-nilai keagamaan, sebut saja dalam perkembangan kesusasteran Indonesia, sastra religius dan sastra sufi.2 Keduanya merupakan model karya kesusasteraan yang telah eksis. Sejak zaman Hamzah Fansuri, Balai Pustaka, tahun 1970-an, hingga sekarang; telah sering diselenggarakan diskusi atau tulisan lepas yang menekankan adanya religiusitas dalam karya sastra.

Baca entri selengkapnya »

Permalink 9 Komentar

Next page »