Fungsi Transformatif Bahasa

8 Maret , 2008 at 5:30 pm (Filsafat, Linguistik)

(Pembacaan Wacana Linguistik Pasca Strukturalisme)

Oleh: Musthafa Amin

Manusia adalah makhluk yang unik dan menarik untuk dikaji. Telah beragam disiplin ilmu telah lahir akibat meneliti mereka. Segala hal terkait, telah memunculkan diskursus yang hampir sulit tuntas untuk dibahas. Puncaknya, di zaman modern, fase pemikiran filsafat lebih cenderung atau bahkan totalitas menjadikan manusia sebagai objek wacana filosofis (antroposentris). Pada era antroposentris, manusia secara tidak langsung mengukuhkan kekuatannya lewat rasio dan eksistensialisme-nya. Namun pada penghujung abad modern, yang lebih berkembang adalah pemikiran filsafat logosentris yang menempatkan bahasa sebagai centre (pusat) wacana. Perubahan yang tidak lain adalah sebagai kelanjutan dari antroposentrisme karena bahasa sendiri adalah manifestasi totalitas pemikiran manusia yang dihasilkan dari kemampuan manusia untuk membentuk lambang dan memberi simbol untuk menandai realitas.

Johan P. Wisok (2003) menyatakan bahwa bahasa adalah ajang pertemuan pelbagai penelitian seperti fenomenologi, linguistik, filsafat bahasa, teologi, psikoanalisis, antropologi budaya, sosiologi, historiografi, ilmu perbandingan agama, dan seterusnya. Bahasa diletakkan sebagai medium manusia dalam berhubungan dengan dunia luar dirinya seperti alam, makhluk infrahuman, sesama manusia, sekaligus mengonstitusikan hal di luar dirinya. Bahkan menegaskan bahwa bahasa merupakan media justifikatif manusia itu sendiri.

Dalam literatur linguistik (wacana kebahasaan), dinyatakan bahwa sejak Plato hingga akhir abad ke-19 kajian kebahasaan bersifat diakronik, yaitu kajian yang membahas hubungan genetik pada tiap-tiap bahasa dan dicari ketersambungannya. Runtutannya pun diperjelaskan kembali sehingga ditemukan adanya hubungan antarbahasa di dunia.

Namun pada tahun 1960-an, kecenderungan itu mulai berubah. Seorang pakar linguistik kelahiran Swiss, Ferdinand de Sausurre membawa perubahan pada wacana linguistik. Karya monumentalnya, Cours de Linguitique Général, untuk kali pertama menjadikan bahasa sebagai objek ilmiah. Ia mengalihkan kajian kebahasaan menjadi bersifat sinkronik, dengan penelitian struktural-gramatikal menjadi titik tekannya. Perhatian utamanya adalah meneliti cara-cara dan mekanisme berbahasa yang meliputi tutur kata, dan bunyi dalam kaitannya dengan sejarah, institusi sosial, dan konteks di mana bahasa tersebut berkembang.

Strukturalisme; Sebuah Ulasan Singkat
Pada awal kelahiran Strukturalisme, nama Ferdinand de Sausurre memang tidak bisa dilupakan begitu saja. Sebagai bapak linguistik modern, ia melakukan pendekatan struktural pada bahasa sebagai metode yang otonom. Salah satu gagasan de Saussure yang terkenal adalah perbedaan langue (bahasa sebagai sistem tanda atau kode) dan parole (bahasa sebagai wacana). Parole bersifat individual dan intensional (disengaja) sebab melalui ucapan seorang pembicara menyampaikan tentang sesuatu kepada orang lain; parole merupakan peristiwa yang kebetulan dan sewenang-wenang (arbitrary). Langue, sebaliknya, merupakan struktur kolektif dan anonim, yang relatif stabil dan merupakan aturan yang mengikat masyarakat bahasa. Akan tetapi sesudah membuat perbedaan mendasar ini, Saussure langsung mengambil keputusan epistemologis dengan memberi prioritas kepada langue.

Pendekatan struktural, pada mulanya, dipakai untuk meneliti satuan bahasa yang lebih kecil dari kalimat, seperti fonem dan morfem. Tetapi dengan cepat sekali meluas dan diterapkan pada bidang lainnya. Pertama, model ini dipakai untuk meneliti wacana yang lebih luas dari kalimat. Kedua, struktural selanjutnya dipakai untuk meneliti kebudayaan dalam arti yang seluas-luasnya melampaui studi bahasa yang langsung (Wisok: 2003). Perluasan aplikasi model struktural dari fonemik dan morfologi ke bidang kebudayaan dalam arti luas ini hanya mungkin dibuat dengan asumsi dasar dari pihak strukturalisme yaitu bahwa wacana dan pelbagai aspek kebudayaan tersusun menurut satuan bahasa yang lebih kecil dari kalimat.

Karena bahasa merupakan sebuah sistem tertutup, arti sebuah tanda bahasa tidak bergantung dari maksud subjektif pembicara ataupun dari referensinya pada dunia objektif. Dalam artian, lebih bergantung dari oposisi biner antara signifier (penanda) dan signified (tinanda)1. Dengan kata lain, makna sebuah tanda dalam pengertian strukturalis adalah nilai diferensialnya. Sebagaimana dilontarkan Fayyadl dengan mengutip Sausurre (2005, 37), penanda membentuk aspek material bahasa, sementara tinanda membentuk aspek material bahasa. Hubungan yang berkesinambungan antarkeduanya diperlukan untuk mengomunikasikan gagasan di antara sesama penutur. Kita contohkan dengan bunga. Sekuntum ranum bunga yang tumbuh liar di padang rumput ilalang bukanlah sebuah tanda. Tetapi, ketinga bunga tersebut ditabur di acara perkabungan, seketika ia menjadi tanda, yakni menimbulkan pesan bahwa yang bersangkutan berbelasungkawa.

Strukturalisme mencerminkan hasrat dan keinginan manusia untuk mengontrol dan menyimpulkan fenomena ke dalam sistem-sistem yang baku. Bahasa diandaikan sebagai satu kesatuan intensional yang bekerja secara organis dengan tatanan dan unit-unitnya yang dapat diramalkan. Paham ini menjelaskan bahwa produksi makna merupakan efek dari struktur terdalam dari bahasa, dan kebudayaan bersifat analog dengan struktur bahasa, yang diorganisasikan secara internal dalam oposisi biner: hitam-putih, baik-buruk, lelaki-perempuan, dan lain-lain. Karena itulah strukturalisme lebih bersifat eksklusif dengan satu pemaknaan bahasa. Ini berdasarkan struktur-struktur bahasa yang terjawantahkan sedemikian hierarkis dan memiliki tujuan yang jelas, yaitu menyampaikan makna tunggal yang dikehendaki the author (pengarang).

Post strukturalisme; Kritik atas Strukturalisme
Bahasa yang pada permulaannya tidak lebih sebagai media komunikatif transformatif telah dibenturkan dengan sisi tak berujung. Ia melebar ke segala arah. Bahasa bukan lagi sebagai media komunikasi an sich. Karena bahasa berkembang sedemikian rupa. Dengan bahasa, manusia dapat berpikir sehingga tidak hanya dilihat sebagai kadar “medium” sebagaimana terdapat di dalam pemikiran konvensional tentang bahasa. Ia adalah media untuk mencari dan mengungkapkan kebenaran (logos).

Citra logos (kebenaran) yang sebelumnya berpusat pada satu titik telah hancur lebur. Keseragaman yang digembor-gemborkan strukturalisme menghilang tanpa jejak, dimulai dari Niescthe hingga Derrida. Pondasi modernisme yang dibangun dengan narasi-narasi besar—sebagaimana diungkapkan Lyotard—perlahan mulai runtuh dan telah didekontruksi secara besar-besaran. Awal kejayaan post strukturalismepun telah dimulai. Perubahan yang juga berpengaruh pada wacana kebahasaan.

Pandangan strukturalisme tentang makna yang diorganisasikan secara internal dalam oposisi biner, sama dengan mengatakan bahwa makna bersifat stabil. Kestabilan makna inilah yang menjadi pusat serangan post strukturalisme atau pascastrukturalisme atas strukturalisme. Tokoh-tokoh utama post strukturalisme, seperti Derrida dan Foucault, menyatakan bahwa makna tidaklah stabil, ia selalu dalam proses. Makna tidak bisa dibatasi dalam satu kata, kalimat atau teks khusus, tetapi ia merupakan hasil dari hubungan antarteks: intertektualitas.

Pada prinsipnya, hubungan antarteks di dalam bahasa akan selalu terjalin erat tidak akan pernah berhenti berproses. Teks semacam ini juga memiliki struktur, yang diistilahkan Derrida dengan structure of a becoming, struktur yang meliputi probabilities (kemungkinan-kemungkinan) baru dan membuka jalan untuk pemaknaan baru dan tidak terbatas. Secara sederhana saja, tak ada kata tunggal di dalam menafsiri bahasa, karena makna tanda bahasa akan selalu terkait dengan struktur yang menaunginya dan semuanya akan kembali pada setting sosial di mana bahasa tersebut berada dan digunakan.

Manusia dan Bahasa; sebuah Akhir Tulisan
Manusia bisa mentransformasikan dunia melalui bahasa dan sebaliknya. Melalui bahasa pula dunia mentransformasikan manusia. Pemahaman terhadap bahasa menghasilkan problematika yang signifikan di dalam logosentrisme. Struktur bahasa telah menjadi objek pembahasan filsafat, bukan lagi manusia seperti masa modern, sehingga struktur bahasa telah melingkari manusia dengan sistem yang nota bene diciptakan oleh manusia sendiri, karena dalam masalah ini, manusia tidak berbicara sendiri melainkan dibicarakan, yaitu oleh struktur-struktur bahasa (Kaelan: 297).

Sudah sewajarnya, kita ikut serta dalam mengembangkan wacana kebahasaan karena tanpa bahasa kita bukanlah apa-apa, tidak lebih rendah dan lebih tinggi dari makluk lain. Bahasa adalah ciri utama yang membedakan kita dengan makhluk lainnya. Menurut Komaruddin Hidayat (2004), proses berbahasa melibatkan sejumlah saraf dalam otak yang meramu kata-kata agar dapat dipahami publik. Sebab itu, berbahasa juga dapat dipahami sebagai proses berpikir dan sepantasnyalah kita tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diperoleh untuk mempelajari bahasa.

 Berikut adalah Tabel Pemikiran dan Karakteristik beberapa tokoh Strukturalisme

tabel.jpg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: