Sair Sajak Musthafa Amin (1)

8 Maret , 2008 at 6:52 pm (Puisi, Sastra)

KATAMU MATI

Kata-katamu tak lagi berarti
Sunyi dan mati
Tak ada lagi rasa ingin; mengetahui
maksud katamu yang menggurui

Dulu, katamu menyenangkan
Kala itu, tulismu mendebarkan
Meski, tidak seperti secarik
kertas menjadikanku tertarik
dan menarik

Selamilah kata
Bukan pada apa yang terlihat
Angankanlah kata
Bukan pada siapa yang terungkap

Hanya bagaimana
dan kenapa
Kemudian kata
akan mati raga

Malang, 14 Januari 2008

BAIT-BAIT KISAH DARI SURGA

I
Ah, kekosongan ini membuatku lupa
Ceruk batu beralirkan susu jernih puting itu
Terasa madu dan kental laiknya susu perah
Hamparan harmoni kubah hijau
Dengan cabang kokoh
dan ranting berbuah tak kunjung habis kupetik

Inilah surga, lahan kebebasan untuk semua
Yang haram boleh engkau rengkuh
Sedianya demi hasratmu
Menghempaskan segala ketertahananmu dulu
Lampiaskanlah di sini
Lepaskan ceceran-ceceran sesukamu
Biasakanlah kebinatanganmu di sini
Penghalang itu telah hancur
Bersama tubuhnya yang lebur

Sayang, aku belum mengenalmu
Mengetahui duniamu
Menjelajahi rerimbunan belukarmu
Aku baru di sini
Dengan kekosonganku

II
Sesaat demi sesaat, geloraku muncul
Nafsuku menggelora sangat
Hasratku tumbuh rancak bernafsu
Nantinya, nafsuku dikenal dengan cinta

Untung engkau datang
Menisbahkan tubuhmu untuk kukekang
Bermain dengan kecut peluh dan rembesan keringat
Kita beradu, memesrakan ketelanjangan
Menggabungkan dua tubuh banal
Demi syarat yang engkau sebut fitrah

Desahanmu begitu berarti
Yang sempa kunanti begitu lama
Jari-jariku telah habis untuk menghitungnya
Sekali lagi, untung engkau datang

III
Setelah kuucapkan terima kasih
Kau menggenggam tanganku dengan erat
Mengajakku mengelilingi surga yang begitu luas
Bagiku yang baru datang, engkau terlalu berpengalaman
Duniamu memang di sini
Dan kuanggap engkau sendiri adalah penghuni

Di depan pohon tinggi itu
Yang dikelilingi dedaunan ara hijau
Yang berpendar keperakan karena panas
Engkau memanjat ke atas
Sehingga lekuk tubuhmu semakin jelas
Membulatkan mataku yang sebenarnya sipit

Bersama, kita memakan buah itu
Kau sebut dengan buah cinta
Penghilang lapar, haus dan segala kekurangan
Kita berdua sangat menikmatinya
Sehingga …

Ku baru sadar ku masih telanjang
Dengan tanpa apapun menutupi
Kita berdua bertelanjang di bawah atap langit
Dengan jejak kaki berserakan di tanah berpasir ini
Aku melompat menuju balik rimbun daun
Kuhabiskan dedaunan itu untuk menanggalkan ketelanjangan
Kulihat dirimu juga melompat ke samping pohon
Semu merah pipimu merona bagai sisi buah yang telah kita makan
Kesadaran diri menjauhkan kita sekarang
Cukup lama kita berdiam berhadapan
Engkau melangkah setelah kulempar senyuman

Malang, 24 Januari 2008

14 Komentar

  1. hariesaja said,

    Begitulah…aq selalu gagal menilai puisi, tapi sekadar menikmatinya, puisi-puisi di atas berasa gurih untuk diresapi kedalamannya. Salam kenal dariku…

    Salam Kenal juga mas dari kami. Sukses selalu
    TB

  2. peyek said,

    wah.. sisi manusia dan kereligiusan, kalo disentil ngeri juga!

    Ternyata di balik tahu ada wortel, tauge plus cabe. Seperti nasi kucing yang ternyata bukan untuk kucing. Thanks tanggapannya Mas. Kabar Gresik gimana?
    TB

  3. langitjiwa said,

    mantap! gurih..eunak tenan!…kata-katanya.
    salam,
    langitjiwa

    Coretan Mas Jiwa semakin mantap saja
    TB

  4. achoey sang khilaf said,

    kutunggu puisi hati yang lin lagi
    di tepian harapan
    tentang kelapangan jiwa

    Trims atas kunjungannya mas Achoey. Semoga tetap Khilaf. Hehehe🙂
    TB

  5. hanggadamai said,

    wah puisiny dalam

  6. indra1082 said,

    Sang Pujangga

  7. Ersis W. Abbas said,

    Bait-bait kisah dari surga … bagus tenan

    Trims atas kunjungannya mas Ersis. Situs anda tempat tongkrong yang asyik untuk ngopi ilmu pengetahuan. Makasih
    TB

  8. Um Ibrahim said,

    Salaam,

    Manis tapi pedes ya …

    Terima kasih kunjungannya. Ada blog atau situs yang bisa dipantau dan dijadikan tongkrongan barangkali? Tempat bertukar pikiran…
    TB

  9. hanggadamai said,

    wah puisi yg bagus..
    bikin terus ya puisi yg sperti ini …

    InsyaAllah
    TB

  10. theloebizz said,

    ehmm….ini inspirasinya dari mana yah???
    saya kok ga mudeng hehehehe..😉

    Inspirasinya dari kitab suci. Hehehe
    Mudeng itu apaan mbak?🙂
    TB

  11. Sawali Tuhusetya said,

    puisi yang indah dan eksotis. sayangnya, masih banyak orang yang melihat siapa yang berbicara, bukan mendengar apa yang dikatakannya.

    Menurut Radar Panca Dahana, ini akibat tradisi lisan yang masih kuat di Indonesia. Apalagi media lebih cenderung menjual ketokohan ketimbang pemikiran.
    Menurut saya, Itulah gaya Indonesia. Hehe

  12. Kedainet said,

    Nice poetry …..

    Thaks alot
    TB

  13. HILMAN said,

    Lam kenal…kata memang MATI..

    Sama-sama mas Hilman. Hanya penafsirlah yang tidak…
    TB

  14. Agus Simatupang said,

    Halo Mas.
    Sepertinya anda ini Seniman ya.
    Salam kenal dari saya.
    Selamat berkarya.

    Bukan mas. kita ini tukang Nongkrong
    TB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: