Sair Sajak Muhammad Zaini (3)

13 Maret , 2008 at 8:18 pm (Puisi, Sastra)

SEJELAS JEJAK?

Pada mulanya sebuah manni, lalu timbullah serangkain saraf-saraf.

Keterlemparan, adakah hidup hanya antah berantah
Yang melemparkan setumpukan daging-daging?
Malaikat lupa bertanya untuk apa hidup,
Ketika Tuhan mengutus Adam bersama kata-kata ke bumi
Adam heran, apa yang salah pada kata “Khuldi”
Heran yang di bawa Muhammad, apa yang salah pada segelas arak?

Lalu apa itu hidup?
Jejakkah?

Malang, 2007

RETAK

Aku membiarkan retak itu, tak lebih
Tergeletak begitu saja
Menemukanku sebagai bagian yang terlepas
Yang letih untuk pulang

Setiap ujung mengiris
Jerit yang tertahan
Pada retak beranting
Menusuk dari masa lalu

Langkah itu sendiri
Yang sendiri yang abadi
Hidup hanya menegaskan kesendirian
Mengalir pada luka

Luka itu indah
Entah sejak kapan aku menyukainya
Dan pada tepi ini semua tak terjawab
Dari retak ke retak, ujungnya mengiris

Yang terluka yang berkata-kata..

Probolinggo, 2008

5 Komentar

  1. langitjiwa said,

    menyelam pada kata terangkai yang kau buat meledak saya punya jiwa.saya suka puisi ini
    salamku,
    langitjiwa…

  2. langitjiwa said,

    menyelam pada kata terangkai yang kau buat seakan saya menyelam pd tinta yg ada dipena kamu dan saya suka puisi ini
    salamku,
    langitjiwa…

    Thanks atas tanggapannya mas Langit Jiwa
    TB

  3. artja said,

    salam kenal… blognya bagus🙂

    Sama-sama. Punya anda juga
    TB

  4. sijilintang said,

    setelah sejenak saja menyentuh-nyentuh sajak Muhammad Z. A., saya curiga. Bukan tentang baik dan buruk, atau suka tidak suka. Tapi, tentang diksi. Jamal D. Rahman, D. Zawawi Imron__sementara ini yang saya ingat__mimiliki ciri khas sendiri dalam berdiksi. Dua orang berdarah Madura. Pilihan katanya ada uniknya terasa di hati. ‘hanya antah brantah yang melemparkan’ dan ‘yang letih pulang’ dua kalimat. Bukan maksud saya mensejajarkan Muhammad Z. A. deng dua penyair Madura tersebut. Tapi, sekali lagi, ini murni soal iri dan kecurigaanku menyangkut diksi. Jangan-jangan darah madura adalah diksi. Itu curigaku saja. Dan ‘daun ara hijau yang berpendar’ atau ‘hasratku tumbuh rancak’ , penggal saja Musthafa A., dua keping kalimat ini menambah benar curiga saya saja.

    Kagum mungkin lantaran tidak mengerti, menurut sementara orang. Tapi, kagum saya lantaran rasa. Bukan mengerti. Bukan paham. Terlalu sulit buat saya mengerti dan paham tentang makna. Cinta saya tergelincir hanya dengan kecoa’, itu cukuplah sudah jadi cemeti amarasuli. Ha Ha. Selamat berkarya. Moga jangan jadi kalau itu berarti berhenti. Dan mampuslah kalau itu dipahamai berjalan dan mengalir.

    Doa’mu kuamini bib. Tidak ada unsur Madura apapun, karena sebagai pijakan, di bandingkan Zawawi atau Jamal, puisi-puisi di sini bukan apa-apa. Ini barangkali kredo kami yang barangkali sudah terlanjur sama dengan mereka. kami kira, meski kami dan mereka berdua sama-sama keturunan madura, tidak bisa menyebutnya satu ras, satu rasa puisi. Haahaha kok jadi serius….

    Ketidakpahamanmu adalah berkah bagiku. Karena kulihat ketekunan pada dirimu di saat tidak paham. Dasar anak….

    Apa aja kerjamu di Krapyak Bib?

    Mus–TB

  5. hanggadamai said,

    luka itu memang indah ya mas..

    Iya…Tapi saya gak mau terus-terusan luka.🙂
    TB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: