Sair Sajak Anas Shofwan Kholid (1)

27 Maret , 2008 at 7:16 pm (Puisi, Sastra)

Tuhan; Perempuan 

Tuhan adalah perempuanku
Saat kerinduan mencekik lehernya yang putih
akan dia kirim Izrail menjemputku
Keluar kutertawa
Matiku di matanya
Tauaku leburkan tauku

Jakarta, 12 Desember 2007

*Mahasiswa Jurusan PMH UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

1 Komentar

  1. sijilintang said,

    bahwa ruang sastra tak tersentuh kode-kode resmi bahasa, itu saya rasakan saat membaca syair penggemar berat ‘tuhan telah mati’ ini, sobat yang sip. saya sebenarnya mau nulis netse. tapi, saya tidak tahu. jadi, ya itu saja ungkapan terkenalnya. pun saya tidak tahu soal itu. hanya saja, kenyataa kematian dilihat sebagai ungkapan sayang sang kekasih, itulah yang diinginkan seseorang. dalam pewayangan dengan lakon bimo topo–atau apalah, yang jelas temanya begitu–sang kekaseh adalah kematian.

    sip dah.

    Memang seperti itu. Saya sempat terkaget bertemu dengan Anas. Dia sekarang lagi sibuk jadi panitia Pameran Lukisan para Seniman Lekra di Jakarta. Wah, semakin merah aja Anas Ini. Hehehe
    TB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: