Sair Sajak Moehammad Zaini (05)

28 April , 2008 at 8:12 pm (Puisi, Sastra)

Sudah…

Aku belum bisa menjawab, ketika pecahan wajah-wajah
Melukis hasrat yang tak lagi punya derita atau suka
Seperti tergusur ke tanah asing tanpa bentuk
Di sinilah tempat adam dulu bertanya tentang rusuk

Sediakalanya telah ku cecap kata tuamu itu
Merenung dalam segala yang tak habis isyarat
Ku lupa dan kau mencerca di bagian terbusuk
Sedang yang tak tercipta terus kau layati

Laut yang telah terkurung angin telah pasrah
Tanah yang telah basah berlumur tinta merah
Yang kemudian menjadi sajak kematian
Tidakkah kau saksikan lendir hujan pagi ini

Baik, kita sepakati wajah muram ini
Dari rupa para kematian yang semakin terkelam
Menyanyi lalu menangis seperti tak ada apa
Sedang para peri kehidupan telah mati sebagai lambang

Jogja, Maret 2008

Pulanglah

Pulanglah!

Pangilmu dari seberang pulau
Membawa ribuan wahyu yang menebar di angin-angin
Tiupan seruling bidadari ikut mengalun
Menebar irama sejuk
Doa yang kau panjatkan sebelum tercipta kata
Pulang

Pulanglah!

Aku segera pulang
Dengan wahyu yang hampir menubuh
Mencincang nafsu yang bergelombang
Menjinakkannya di perjalanan
Hingga tubuhku sebening air matamu

Pulanglah!

Di hatimu aku segera pulang
Sebagai anak kecil yang teduh di pangkuan
Walaupun masih terselip di tidurku
Brontak nafsu-nafsu yang belum bisa
Aku pulangkan

Jogja, 21 April 2008

Permalink 7 Komentar

Bahasa Jawa versus Bahasa Madura

28 April , 2008 at 8:04 pm (Linguistik, Teh Hangat)

Oleh: Musthafa Amin

Tamen magik tombu sokon—Tabing kerrep bennyak kalana
Mompong gik odik kotu parokon—Mak olle salamet tengka salana.
(Menanam biji asam tumbuh sukun—Geddhek yang rapat banyak kalajengkingnya
Mumpung masih hidup harus rukun—Agar selamat tingkah lakunya)

Parikan Madura yang dikidungkan Heru Pasetiyawan, pemenang ngremo tingkat Jawa Timur, Festival Cak Durasim, Surabaya 2007

Dari obrolan ringan ternyata menimbulkan banyak inti pokok permasalahan yang melanda diri, masyarakat dan dunia namun jarang sekali kita sadari. Hasilnya, jarang ada solusi yang tepat dan lebih banyak mengira-ngira dengan referensi yang cenderung dari lisan. Valid? Ah tidak mungkin, namanya juga obrolan menghabiskan malam.

Sekitar tengah malam, jam sebelas malam, di komisariat IPNU UIN Malang, penulis berbincang dengan salah satu kawan, yang berasal dari Pasuruan ditemani secangkir kopi dan separuh isi satu pak rokok. Ngelindur kesana kemari, tak juntrung serius membahas apapun. Lebih banyak bernostalgia daripada berdiskusi. Namun suasana cair itu tiba-tiba terhenti ketika sang madurese speaker (penulis) tidak menemukan kosa kata jawa untuk melanjutkan omongannya. Berhubung saya hidup di Jawa Timur, tentu saya harus bisa beradaptasi dengan bahasa jawa. Bentuk komunikasi bahasa yang terbangun di Malang adalah bahasa Jawa, baik dengan tiga model bahasa Jawa (ngoko, kromo, kromo inggil) ataupun bahasa jawa Malangan (cenderung dibolak-balik). Karena tidak menemukan kosa kata yang dimaksud, akhirnya saya mencampuradukkan (code-switching–CS) bahasa saya (madura) dengan bahasa Jawa yang baru saja saya ujarkan. Sedikit lama, dia mengernyitkan dahi, kemudian dia hanya tergelak dan mengangguk-angguk mengerti. Saya pun heran, apakah dia memahami arti bahasa madura yang saya ucapkan ataukah dia memahami perkataan saya berdasarkan konteks. Berdasarkan teori CS, tindakan ini dilakukan demi mempermudah komunikasi agar pembicara bahasa A (Jawa) tidak perlu terlalu lama memikirkan kosa kata yang sesuai, sehingga dia menggunakan bahasa B (Madura). CS pun bisa membantu etnik minoritas, seperti saya mempertahankan identitas budaya saya, seperti bahasa slang yang digunakan untuk menunjukkan perbedaan identitas dan pula membedkan dari masyarakat yang lebih besar. Tapi saya lupa, bahasa A dan B itu khan seharusnya ada keselarasan, baik antara bahasa pertama (first language) dan bahasa kedua (second language) dan bahasa kedua orang yang berbicara, apakah sama atau tidak. Untung saja, sejak dia bergaul dengan madurese speaker seperti saya, dia memahami bahasa saya.

“Sepertinya ada kesamaan ya mus, antara Madura dan Jawa?”
“Maksudnya?”
“Ya, tadi khan kamu sebutkan, bahasa Madura pun dibagi menjadi tiga (enja’-iya, enggi-enten, enggi-bunten), sepertinya ada kesamaan. Bukankah dalam bahasa kromo inggil dan enggi-bunten (sebagai bahasa tertinggi keduanya) sering ada kosa kata yang serupa. Seperti panjenengan (kosa kata untuk merujuk kepada lawan bicara dengan halus). Entah kenapa aku paham bahasamu tadi,”ujarnya sambil menggaruk kepala.

Aku pun garuk-garuk kepala. Gak paham juga. Memang sebagian ada yang sama. Begitu pula halnya antara bahasa Indonesia (BI) dan Bahasa Jawa (BJ) atau BI dan Bahasa Madura (BM). Kami bisa menerka, beberapa kata di BI adalah kata serapan dari kedua bahasa lokal tersebut. Pun begitu, kedua bahasa daerah tersebut, sekarang mulai cenderung menyerap BI. Atas hasil kelakar, tanpa ada penelitian menyeluruh, hasil bincangan kami merujuk ke sana. Sebut saja kata roma dan bungkoh, dua kosa kata BM ini sama-sama bermakna rumah. Ada keserupaan morfologis antara roma dan rumah. Kawanku pun meyimpulkan asal-asalan, roma adalah kata serapan BM dari BI. Bagaimana pula dengan omah (BJ yang juga berarti rumah). Kawanku menjawab, “itu karena BI menyerap BJ.” “Ah, dasar orang Jawa.” Dia pun menimpali celetukanku barusan, “Ah, dasar orang Madura.” Kami pun tertawa terbahak-bahak.

Beralih pada beberapa kesamaan antara BJ dan BM, hasil bincang ngalor-ngidul kami menyatakan. Kesamaan itu terjadi karena asal-muasal BM adalah BJ. Melihat struktur geografis, sangat mustahil manusia pertama adalah orang Madura, melainkan Jawa. Beberapa orang Jawa yang menemukan pulau Madura, akhirnya menetap di sana. Atas dasar konstruksi bahasa, mereka pun berkomunikasi seadanya dengan BJ dan jika menemukan suatu hal yang baru mereka pun membentuk bahasa baru sebagai naluri alamiah berbahasa mereka. Alasan kenapa mereka tidak menggunakan BJ, bisa jadi karena kosa kata BJ mereka tidak begitu lengkap dan akhirnya hasil perilaku bahasa mereka menjadi cikal bakal bahasa madura. Mereka yang barangkali terdampar di pulau Madura, sangat kesulitan untuk bepergian kembali ke Jawa karena kesulitan transportasi, sehingga mereka pun menetap di pulau Madura dan mencipta bahasa baru. yach, ini konsep pemerolehan bahasa yang mengacu pada human resourches (pola interaksi dengan manusia) dan natural resourches (pola interaksi dengan alam. Konsep milik Plato onomatopoeia (semua bahasa berasal dari peniruan bunyi-bunyi terakhir dengan ejekan dan karikatur) pun bisa dipakai di sini. Dan bisa jadi pula, manusia Jawa pertama berasal dari pulau Madura. Haha

Obrolan ringan ini berakhir tanpa penjelasan. Tiada bukti ilmiah yang bisa diajukan. Yang ada dibenak kami, bahasa lokal sudah dicemari bahasa Indonesia dan seterusnya, BI di-KO oleh bahasa Inggris dengan perilaku nginggris tokoh-tokoh bangsa.

Permalink 3 Komentar

Kritik Sastra Marxis

28 April , 2008 at 7:55 pm (Filsafat, Kritik Sastra, Marxisme, Sastra)

Pendahuluan
Kritik sastra Marxis didasarkan pada teori politik dan ekonomi filsuf berkebangsaan Jerman, Karl Marx. Pada karya The German Ideology and The Communist Manifesto (Ideologi Jerman dan Manifesto Komunisme), yang ditulis bersama Frederich Engels, Marx menawarkan suatu model historis di mana kondisi-kondisi politik dan ekonomi mempengaruhi kondisi-kondisi sosial. Marx dan Engels menanggapi ketimpangan sosial yang terjadi karena perkembangan Kapitalisme. Secara khusus, teori-teori mereka terbentuk untuk menganalisa bagaimana fungsi masyarakat di dalam keadaan revolusi dan perubahan yang konstan (terus-menerus).

Perspektif Materialis pada Sejarah
Marx dan Engels menggunakan teori dialektika Hegel yang menyatakan bahwa sejarah berlangsung melalui resolusi atas pertentangan di dalam beberapa aspek realitas tertentu dan keduanya mengedepankan deskripsi para materialis tentang sejarah yang berpusat pada pergolakan dan penekanan pada masyarakat. Karena masyarakat membentuk model-model produksi yang rumit, mengakibatkan peningkatan stratifikasi dan ketegangan yang terjadi dan menyebabkan perubahan di dalam masyarakat. Contohnya ialah penggunaan mesin-mesin berat ke dalam sistem ekonomi feodal telah menyebabkan timbulnya struktur sosial dan pergerakan ke arah Kapitalisme.

Dasar dan bentuk superstruktur
Di dalam dialektika sejarah Marx terdapat gagasan yang menyatakan bahwa kehidupan sosial individu dipengaruhi kekuatan politik dan ekonomi. Marx menulis, “bukan kesadaran manusia yang mebentuk realita, tetapi, sebaliknya, realitas sosial yang membentuk kesadaran.” Secara sederhana, kelas sosial seseorang terlahir berdasarkan sudut pandangnya.
Marx, kemudian, memperluas konsep determinasi tersebut sebagai konsep sentral Marxisme—yaitu sistem dasar dan superstruktur. Sistem dasar adalah sistem ekonomi dimana superstruktur berada; aktivitas cultural—termasuk filsafat dan literatur—adalah bagian superstruktur. Pada kritik Marxis, sistem dasar ekonomi masyarakat membentuk atau mempengaruhi kecenderungan dan corak literatur; ini merupakan relasi antara pengaruh sistem dasar dan superstruktur yang keduanya merupakan inti kritik Marxis.

Ideologi
Menurut Marx, karena superstruktur ditentukan oleh nilai dasar, maka bisa dipastikan ia menyokong ideologi-ideologi nilai dasar tersebut. Ideologi-ideologi adalah beberapa ide, gagasan dan kecenderungan yang merubah dan didapat individu melalui kehidupan bermasyarakat. Ia menampilkan nilai-nilai dan gagasan dominan sebagai sistem kepercayaan masyarakat secara keseluruhan, dan juga mencegah individu memandang bagaimana sebenarnya fungsi masyarakat. Literatur, sebagai produk budaya, adalah suatu bentuk ideologi, yang memperkuat kekuasaan kelas atas. Sebagai contoh, pada abad ke-18, literatur telah digunakan oleh sekelompok golongan berbahasa Inggris kelas atas untuk menunjukkan dan memperlihatkan sistem nilai dominan kepada golongan yang lebih rendah.

Georg Lukacs dan Realis Sosial
Ada banyak perbedaan pendapat antarkritikus sastra Marxist berkaitan dengan hubungan antara ideologi dan literatur. Karena sejak adanya karya Marx, teoritikus dan Realis sosial Soviet/Rusia, Georg Lukacs, dan Louis Althusser secara berangsur-angsur telah memodifikasi atau memperluas konsep awal Marx. Realis sosial Soviet percaya bahwa ideologi sebagai bagian superstruktural (bangunan struktural), harus sesuai dan berlandaskan pada nilai dasar ekonomi masyarakat. Menurut mereka, literatur haruslah secara jelas mencerminkan nilai dasar ekonomi sebab ia tidak akan berfungsi ketika bernaung di luar nilai dasar yang sudah jelas atau model superstruktural. Sebagaimana realis sosial dan kritikus Georg Lukacs yang merasakan bahwa hanya format fiksi realistis yang secara artistik dan politis lebih sah dan valid. Tetapi Lukacs dan para realis sosial memiliki perspektif yang terbatas. Mereka tidak sadar telah menyimpang keluar dengan karya mereka termasuk pembacaan literal tentang sistem nilai dan bentuk superstruktural.
Hal ini sangat meragukan bahwa Marx dan Engels menggunakan pendekatan deterministik pada literatur. Di dalam karya mereka, literatur bukanlah melulu suatu refleksi pasif dari dasar-dasar ekonomi. Meskipun mereka mengakui literatur tidak bisa merubah sistem dan masyarakat dengan sendirinya, mereka menganggap bahwa literatur dapat menjadi unsur aktif dalam beberapa perubahan.

Antonio Gramsci
Teoritikus Italia, Antonio Gramsci dengan konsep hegemoninya, mempertimbangkan untuk melakukan pembacaan yang fleksibel pada model sistem dasar dan superstruktur. Gramsci percaya bahwa ideologi tidak dapat menjelaskan tingkatan manusia di dalam menerima nilai-nilai dominan. Dia juga menyadari, dengan kritisi Marxis lainnya bahwa model sistem dasar dan superstruktur sangalah kaku untuk meliputi produk-produk budaya yang tidak menggunakan nilai-nilai dominan.
Sejalan dengan hal tersebut, gagasan hegemoni Gramsci adalah suatu kelanjutan konsep di balik ideologi. Hegemoni adalah sejenis penipuan di mana individu melupakan keinginannya sendiri dan menerima nilai-nilai dominan sebagai pikiran mereka. Sebagai contoh bahwa pada realitas sosial pikiran mereka telah dikonstruksi adalah seseorang berpikir bahwa belajar di perguruan tinggi adalah hal yang benar dan langkah penting dalam kehidupan. Kemudian literatur, mungkin akan dipandang sebagai sesuatu yang menguatkan nilai-nilai dominan dan adakalanya mempertanyakannya. Sebagai contoh, para penulis perempuan tentang fiksi sentimentil pada abad ke-19 menggunakan konvensi naratif tertentu untuk menguatkan nilai-nilai dominan, sementara penulis seperti Jane Austen menggunakan konvensi yang sama untuk mengikis nilai-nilai dominan serupa.

Louis Althusser
Teoritikus Perancis, Louis Althusser mempertimbangkan hubungan antara literatur dan ideologi. Baginya, hal ini juga meliputi pemahaman tentang hegemoni. Althusser menyatakan bahwa ideologi dan hegemoni—seperti halnya literatur—memperlihatkan suatu versi konstruksi realitas, di mana tidak merefleksikan kondisi aktual kehidupan. Jadi, literatur disamping tidak hanya menggambarkan ideologi, namun juga dapat direduksi menjadi bagian dari ideologi. Literatur mungkin dapat diposisikan di dalam ideologi, tetapi juga terdapat jarak antarkeduanya. Hal sedemikian dengan membiarkan pembaca itu untuk memperoleh suatu kesadaran ideologis di mana ia disandarkan. Sebagai contoh, sebuah novel boleh menampilkan dunia dengan segala cara untuk mendukung ideologi- ideologi dominan. Dan sebagai karya fiksi, ia juga harus menampilkan ideologi tersebut. Jadi, sekali lagi, meskipun literatur tidak dapat menrubah masyarakat, ia dapat menjadi bagian dari suatu perubahan.

Konsep Sentral Marxis
Walaupun para kritisi Marxis telah menafsirkan Teori Marx dalam cara berbeda, sebagai Marxis mereka akhirnya tetap kembali pada beberapa konsep sentral Marx: gagasan tentang keadaan sosial mempengaruhi kesadaran, dan sistem dasar atau bentuk superstruktur. contohnya, Kritikus Inggris, Raymond Williams menggunakan beberapa istilah sebagai budaya peninggalan dan budaya berkembang untuk merubah sistem dasar atau bentuk superstruktur, bukan mempertanyakannya. Sepintas, istilah-istilah seperti hegemoni, yang bukan bagian dari Teori Marx, digunakan kritikus untuk memenuhi aplikasi Konsep Marxis yang lebih besar.
Marxisme dan Literatur
Kritik sastra Marxis lebih cenderung pada tekanan-tekanan dan kontradiksi di dalam karya sastra. Hal Ini sesuai sebab Marxisme pada awalnya dirumuskan untuk menganalisa suatu tekanan dan pertentangan di dalam masyarakat. Kritik sastra Marxis juga memandang literatur sangat dekat terhubung dengan kekuatan sosial dan analisa mereka atas literatur yang berhubungan dengan pertanyaan-pertanyaan sosial paling besar. Sejak Marxisme sebagai sistem kepercayan yang dapat digunakan untuk analisa masyarakat pada tingkat level paling besar dan terperinci, Kritik sastra Marxis sejatinya adalah bagian dari upaya dan usaha besar untuk membongkar bagian dalm masyarakat.

Marxisme dan Teori Lain
Kritik sastra Marxis dapat dianggap sebagai reaksi pada teori-teori rigid para New Critics (Kritisi Baru). Tidak seperti mereka, yang memandang teks sebagai kesatuan yang utuh, Marxis secara umum memusatkan pada tensi (ketegangan) yang tak terpecahkan dalam karya literatur.
Walaupun kritik Marxis sama-sama mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kritik Strukturalis dan kritik post-strukturalis, ia sangatlah berbeda di dalam penolakan untuk memisahkan literatur dan bahasa dari masyarakat. Krtitk Marxis adalah materialis, karena itu ia lebih umum dengan teori yang berpusat pada bagaimana fungsi literatur di dalam sosial, politik dan strukutr ekonomi dibandingkan dengan teori yang hanya bertumpu pada teks. Kritik Marxis mempunyai pengaruh besar pada feminisme, historisisme baru, dan cultural studies (studi kultural).
Sebagai sistem yang mencari sebab di bawah permukaan masyarakat, kritik Marxis mempunyai kesamaan secara umum dengan kritik psikoanalisa. Faktanya, adalah kemungkinan untuk membuat perbandingan tajam antara corak Dasar dan Superstruktur Marxis dan pemikiran Freudian tentang ketidaksadaran dan kesadaran.

Referensi
Eagleton, Terry. Marxism and Literary Criticism. London: Metheun Books, 1976.
Selden, Ramden. A Reader’s Guide to Contemporary Literary Theory. Lexington: University Press of Kentucky, 1985.
Williams, Raymond. Marxism and Literatur. Oxford: Oxford University Press, 1977.

Bacaan lebih lanjut

Baxandall, et al. Marx and Engels on Literatur and Art. New York: International General, 1973.
Meski Marx dan Engels tidak menfokuskann diri pada literatur di dalam teori dasar mereka, mereka sangat tertarik dan yang dipengaruhi oleh literatur. Buku ini mengumpulkan sebagian tulisan mereka dan pendapat tentang literatur.
Craig, David, ed. Marxists on Literatur. Harmondsworth: Penguin, 1975.
Buku ini adalah koleksi esei oleh berbagai Kritikus Marxist. Ia menawarkan berbagai pendekatan literatur dari perspektif Marxist.
Eagleton, Terry. Criticism and Ideology. London: New Left Books, 1976.
Meski secara spesifik bukan tentang kritik berkaitan kesusasteraan Marxist, buku ini menawarkan deskripsi dari banyak teori kontemporer dari Perspektif Marxist.
Eagleton, Terry. Marxism and Literary Criticism. London: Methuen, 1976.
Buku ini adalah pengenalan yang sangat jelas terhadap aplikasi teori Marx pada studi literatur.
Forgacs, David. “Marxist Literary Theories.” Modern Literary Theory, eds. Jefferson and Robey. London: Batsford, 1986.
Buku ini menguraikan berbagai jenis teori kesusasteraan; dan bab tentang Teori Marxist adalah pengenalan yang cukup bagus.
Williams, Raymond. Marxism and Literatur. Oxford: Oxford University Press, 1977.
Dalam buku ini, Williams mencoba memodifikasi konsep dasar Marxisme untuk memungkinkan pembacaan lebih rumit pada literatur.

Artikel ini di-Alihbahasakan oleh TB….dari situs wikipedia.com

Permalink 3 Komentar

Sair Sajak Musthafa Amin (3)

28 April , 2008 at 7:16 pm (Puisi, Sastra)

Darah Perempuan itu

Darah perempuan itu bercecer di pori-pori kehidupan
Meresap ke dalam palungnya yang terdalam
Dia terkesima karena sakitnya telah tiada
Di selangkangan bukan
Di punggung bukan
Tetapi di rongga dada
Bercampur aduk mengental membeku
Seketika hancur dan memancar
Memburat menutupi kulitnya yang juga berpori
Darah perempuan itu telah keluar
Memerahkan sekujur tubuh kehidupan
Dengan darahnya yang kotor berselimut pandangan
Menjijikkan
Kehidupan telah berdarah
Ia terus berdarah ketika darah perempuan itu tidak lagi mengucur
Kehidupan mengerang dan pingsan
Merasakan kesakitan yang tak berperikan
Ternyata melihat lebih mudah daripada mengalami sendiri kesakitan

Malang, 14 April 2008

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Orang Ketiga Yang Raib Di Meja Makan

9 April , 2008 at 6:26 pm (Teh Hangat) (, )

Oleh: Muhammad Zaini

Makan itu kebutuhan. Ia telah “hadir” dan “menjadi” sejak   mulanya manusia diciptakan. Ya, makan, hal yang tak   terpisahkan dari hidup. Makan, kalaupun hendak   diuraikan, adalah hal yang di luar tubuh. Tubuh   membutuhkan makan. Tetapi, makan, benar-benar   menjadi bagian yang utuh, tak terpisahkan dari tubuh.   Sebab, makan, tanpanya hidup tak lagi bisa diteruskan.   Agama Islam menjadikannya kewajiban di urutan pertama   dalam perkara muamalat (keseharian).
Namun di sela-sela sebuah sajian makan, ada hal yang   keberadaannya tidak mesti tapi juga tidak meriah   (hambar) tanpa menghadirkannya. “Orang ketiga yang   raib” (OR), sebut saja begitu. Pada prinsipnya, hal itu (OR)   tidaklah sama dengan kebutuhan akan makan. Namun,   sepertinya, ketuaannya hampir menyamai dengan usia   akan kebutuhan makan. Bahkan, di zaman yang semakin super canggih sekarang ini, menghadirkan OR hampir menempati posisi sama wajibnya dengan makan, disadari ataupun tidak.
Saat ini, kita tidak hanya menjumpai OR di meja makan dan menemukannya pun tidak sesulit mencari gajah di tumpukan jerami. OR kerap hadir dalam setiap perjumpaan, di kedai, diteras, bahkan di setiap kali perbincangan. Fenomena seperti itu memang alamiah, kalau bisa saya katakan, itu fitrah manusia. Tetapi akan menjadi sangat aneh bila OR dijadikan sebagai menu hidangan, apalagi mengkonsumsinya pun gratis. Terlebih lagi, kita tak perlu bingung membayangkan seperti apakah wajah dan perangai OR yang di sajikan. Dalam menu sajian, semuanya komplit. Kita benar-benar di manja sampai kita tak bisa bilang tidak untuk terus mengkonsumsinya.
Seperti itulah gambaran televisi. Cukup anda hidupkan kotak ajaib itu, lalu hitung seberapa banyak acara gossip, anda akan memahami, seberapa pentingkah menghadirkan OR di keseharian kita.

***

Ada hal yang tak terjawab dengan tepat, kalaupun ada , itu hanya kira-kira, asumsi. Pada malam di suatu kedai kopi, “kenapa setiap kali obarolan, selalu butuh kehadiran orang ke tiga yang raib?” Tanya teman satu mejaku dengan menggumam. Ya, di berkata seperti itu, seolah tak peduli ada jawaban atau tidak, kata-kata terbang lalu pergi.
Sama seperti aku yang tak sengaja ikut mendengar. Aku pun tak harus menjawabnya, bahkan tak boleh menjawabnya. Sebab, tak ada yang menginginkannya, tak juga diriku. Tetapi, bagaimanapun, tanya itu seperti terlampar tanpa sesuatu memantulkannya, dan entah, apakah pertanyaan itu terlempar menembus jawabannya sendiri. Apakah kita juga telah membunuhnya di meja makan???

Permalink 6 Komentar