Sair Sajak Moehammad Zaini (05)

28 April , 2008 at 8:12 pm (Puisi, Sastra)

Sudah…

Aku belum bisa menjawab, ketika pecahan wajah-wajah
Melukis hasrat yang tak lagi punya derita atau suka
Seperti tergusur ke tanah asing tanpa bentuk
Di sinilah tempat adam dulu bertanya tentang rusuk

Sediakalanya telah ku cecap kata tuamu itu
Merenung dalam segala yang tak habis isyarat
Ku lupa dan kau mencerca di bagian terbusuk
Sedang yang tak tercipta terus kau layati

Laut yang telah terkurung angin telah pasrah
Tanah yang telah basah berlumur tinta merah
Yang kemudian menjadi sajak kematian
Tidakkah kau saksikan lendir hujan pagi ini

Baik, kita sepakati wajah muram ini
Dari rupa para kematian yang semakin terkelam
Menyanyi lalu menangis seperti tak ada apa
Sedang para peri kehidupan telah mati sebagai lambang

Jogja, Maret 2008

Pulanglah

Pulanglah!

Pangilmu dari seberang pulau
Membawa ribuan wahyu yang menebar di angin-angin
Tiupan seruling bidadari ikut mengalun
Menebar irama sejuk
Doa yang kau panjatkan sebelum tercipta kata
Pulang

Pulanglah!

Aku segera pulang
Dengan wahyu yang hampir menubuh
Mencincang nafsu yang bergelombang
Menjinakkannya di perjalanan
Hingga tubuhku sebening air matamu

Pulanglah!

Di hatimu aku segera pulang
Sebagai anak kecil yang teduh di pangkuan
Walaupun masih terselip di tidurku
Brontak nafsu-nafsu yang belum bisa
Aku pulangkan

Jogja, 21 April 2008

7 Komentar

  1. hanggadamai said,

    jadi ingin pulang ke rumah😥

  2. achoey sang khilaf said,

    penyair yang mengagumi penyair lain
    salut🙂

  3. azaxs said,

    Mas syair2 di blog ini luarbiasa! Jadi pingin belajar dan mendalami sastra🙂

  4. Sawali Tuhusetya said,

    puisi yang sarat dengan ketragisan hidup, dikemas dg diksi yang bagus dan rancak, eksotis dan memberikan kesempatan kepada pembaca utk menafsirkan secara imajiner. puisi yang bagus! salut!

  5. sijilintang said,

    Berhasil menampilkan kepalsuan yang lengkap. Dengan kekecewaan sederhanan tapi kurang ajar. Berlutut pada kenyataan, bukan hormat namun mengumpat. Ini terasa oleh saya dalam [sudah…]:
    “Laut yang telah terkurung angin telah pasrah
    Tanah yang telah basah berlumur tinta merah
    Yang kemudian menjadi sajak kematian
    Tidakkah kau saksikan lendir hujan pagi ini”

    Sungguh ganjil. Dalam perjalanan, dijumpai pelajaran baru. Lantas, si penyair yang memang asem ini, memberi perintah–mungkin harapan atau segenggam doa. Memberi perintah pada bala tentarannya: pikiran, imaji, angan, semangat dan semisalnya. ini terlihat pada [pulanglah]:
    “Di hatimu aku segera pulang
    Sebagai anak kecil yang teduh di pangkuan”

    Namun, ada satu prajurit yang membangkang. Saya menyebutnya nafsu, atau kasarnya, rasa. siapa yang dapat mengendalikan rasa? Ini tergambar dalam kata “walaupun…” berpadu dengan imbuhan ter-, yang memberi ilustrasi diluar kesengajaan, di luar kesadaran. Sehingga
    “aku akan segera pulang…
    walaupun masih terselip di tidurku
    brontak nafsu-nafsu yang belum bisa aku pulangkan”

    Maaf, bila komentar ini tidak ijaz, tidak ringkas. ini lantaran saya tidak mau asal komentar. Asal nulis, asal kagum, dan asal-asalan. Mungkin terlihat mengada-ngada. Tapi, jujur saja, saya tidak berpura-pura. Tapi “kepura-puraan bukanlah tindakan mengada-ngada.” [Noor Javesyarqy, dalam Kantring Genjer-genjer, novel karya Teguh Winarso]

    “Ada tindakan-tindakan yang jauh di belakangnya tersusun alasan- dengan rapi dan rinci. Dan ada juga alasan-alasan yang baru tersusun setelah tindakan-tindakan.” [Puthut EA, dalam kumpulan cerpennya Dua Tangis dalam Semalam]. Manakah alasan yang lebih jujur. Ha ha. Selamat buat Jejeng, sapaan akrab untuk M. Zaini AW, yang kini mulai serius….us…us. Dan, kini mulai ‘pulang’ menuju pangkuan tanah ibu yang tak marah bila dikencingi, tak berontak bila diinjak-injak ribuan kaki, tak pula dendam oleh cibir bibir yang nyinyir. Ketawa dong, Jeng?! Sebab, tak perlu ada yang lucu untuk sekedar tertawa.

    Sekali lagi, maaf kalau mengotori halaman blog. AhA!

  6. RhyzQ said,

    sajak-sajaknya semakin bagus saja.

    salam.

  7. Rindu said,

    Bagus …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: