Memaknai Kemiskinan Ala Chairil Anwar

24 Juli , 2008 at 5:38 pm (Chairil Anwar, Sastra, Tela'ah Sastra, Tokoh) (, , , , )

Chairil_Anwar

Chairil_Anwar

Baik, baik aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku

Jangan lagi kau bercerita
Sudah tercacar semua di muka
Nanah meleleh dari luka
Sambil berjalan kau usap juga.

Bersuara tiap kau melangkah
Mengerang tiap kau memandang
Menetes dari suasana kau datang
Sembarang kau merebah.

Mengganggu dalam mimpiku
Menghempas aku di bumi keras

Di bibirku terasa pedas
Mengaum di telingaku.

Baik, baik aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku

Juni 1943

Sebenarnya bagaimana seharusnya kita memaknai kemiskinan. Bagi kalangan politikus, kemiskinan adalah selempang jalan yang mulus untuk menggerakkan dan meningkatkan popularitas mereka. Kemiskinan adalah lahan komoditas yang selalu menjadi acuan politis di mana mereka setelah menjabat, ia menjadi berkas-berkas paling bawah dan ditindih berkas soal lain ironisnya hanya dipegang oleh sekpri-nya saja.

Atau bagi pemuka agama, kemiskinan adalah kondisi yang harus disikapi dengan ketabahan dan keikhlasan. Merujuk pada ajaran-ajaran agama, kemiskinan adalah wujud kasih sayang Tuhan pada hambanya agar dilalui dengan penuh arif dan sabar. Sederhananya, kemiskinan adalah jalan menuju kekayaan di hari akhir kelak.

Di ujung kamera fotografer, kemiskinan pun sama halnya dengan politikus, menjadi komoditas dagang yang dapat diperjual-belikan dan dilombakan. Semakin menyedihkan foto tersebut, semakin nyata uang yang dapat diperoleh nantinya. Paling tidak sepintar-pintar seorang kameramen memoles kemiskinan menjadi cerita menarik dalam wujud gambar.

Namun bagi Chairil Anwar, kemiskinan adalah hantu yang selalu mengejarnya. Setidaknya hal tersebut yang dapat ditangkap dari puisinya Kepada Peminta-Minta (Deru Campur Debu: 1959). Chairil seperti sedang bergumam dalam sajak tersebut. Keberingasan dan kejalangannya luluh saat menyadari onak-onak kemiskinan. Chairil menjadi bisu saat menyuarakan kemiskinan dan berlari ke pojok teduh ketundukan. “Baik-baik, aku akan menghadap Dia/Menyerahkan diri dan segala dosa/Tapi jangan tentang lagi aku/Nanti darahku jadi beku.” Entah, menjelma seperti apakah wajah sang peminta-minta di mata Chairil sehingga sehingga argumen-argumennya hilang kala dihadapkan kepada kesengsaraan yang dia lihat dari seorang pengemis (pemaknaan penulis—red). Kalimat Baik-baik, aku akan menghadap Dia/Menyerahkan diri dan segala dosa, serupa di sajak Doa, dia terlihat begitu lembek dan menunjukkan kekerdilannya di hadapan Tuhan, “Aku hilang bentuk/Remuk..”

Kata Dosa menjadi problem dilematis di sini. Sejauh mana peran Chairil di dalamnya sehingga dia merasa berdosa dengan mengguritanya kemiskinan di masyarakat. Atau sejauh mana dia terlibat dalam sistem yang semakin memperkuat dominasi sang kuat pada sang lemah, si kaya pada si miskin. Sejauh pemahaman penulis, Chairil sejatinya dapat membantu, minimal dengan menyuarakannya dalam puisinya, namun sepertinya dia berkendala sehingga di sisi lain dia tidak mampu melakukan apa yang bisa dia lakukan. Tetapi lagi-lagi, kadar kemampuan seperti apakah yang dimiliki Chairil sehingga dia begitu lelah dan sengkarut menyikapi kemiskinan. Dia miris tapi tidak tahu berbuat apa. Humanisnenya tergugah sehingga wajah memelas itu selalu menghantuinya. “Mengganggu dalam mimpinya/Menghempas aku di bumi keras/Di bibirku terasa pedas/Mengaum di telingaku.

Kata “Bumi Keras”, penulis maknai sebagai sistem kehidupan yang telas dikuasai oleh kelompok dominan penindas. Kemiskinan adalah keniscayaan, tetapi bagi Chairil sungguh mengenaskan jika kemiskinan ini sudah terstruktur rapi dan seolah menjadi struktur yang sejatinya harus ada dan paling tidak selalu beroposisi dengan kekayaan. Kemiskinan adalah situasi yang harus dihilangkan dan juga dilestarikan, tergantung siapakah yang akan menyikapinya. Dua perspektif yang memiliki pengaruh signifikan bagi kemanusiaan.

Musthafa Amin

Komuni di OASE BUDAYA Malang

4 Komentar

  1. ardansirodjuddin said,

    Tulisan yang keren dan bagus. Kalau mau silahkan mampir ke blog saya di http://www.ardansirodjuddin.wordpress.com. Thank yu

  2. hanggadamai said,

    yang miskin makin miskin😦

  3. Generasi Biru - Biografi: Chairil Anwar said,

    […] tulisan Tongkrongan Budaya tentang Chairil Anwar: > Memaknai Kemiskinan Ala Chairil Anwar > Chairil (Tidak) di […]

  4. sobur said,

    seorang pendobrak yang akan tetap hidup seribu tahun lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: