Sair Sajak I. G. Jali (2)

13 November , 2008 at 7:27 pm (Puisi, Sastra) (, , )

TAPI SAMPAI KAPAN

semua tahu
kita ini orang beriman
tapi sampai kapan

semua tahu
kita ini orang-orang pasrah
tapi sampai kapan

semua tahu
siapa kenal diri sendiri
akan kenal siapa tuhannya

tapi kapan

o orang sekarang
sudah kenal tuhan
hingga mereka lupa daratan

orang sekarang
kebanyakan ngobrol sama tuhan
dari pada tidur malam

o ya berbahagialah
orang yang lupa diri
dan selalu ingat tuhan

tapi sampai kapan

krapyak, 26 ramadan 1429

ROTI TAWAR

saat makan roti tawar
aku teringat hidupku
melekat di langit-langit
lengket di gigi dan guzi
sulit dikunyah secara kasar
dan tak mudah menelannya
aku kerepotan jadinya

tapi waktu menatap kau
justru hidup ingat padaku
kembali menyuguhiku pilihan
memberi sajakku suatu warna
dan aku baru sadar
bahwa puja-puji ini
telah kuulang ribuan kali

Krapyak, 07 Ramadan 1429
07 September 2008

TERBALAS IMPAS

terhenti lagi kenapa
gita cita cinta rindu
dan tak ada
padahal hanya tintaku
perlu geli dan baca

tuh terhenti lagi
tadi sudah sampai
di pintu rumah
tapi tiba-tiba menjauh
terdampar disini

melambung lagi
ke dalam sepi
mendalam
meluas
tak terangkum lagi

bagai jailangkung
ia berkata:
ini aku
kata yang tertulis
saban datang
kau acuhkan
kini kubalas
kutikam
dengan kerinduan

jogja, 22 nopember 2007
pagi rindukan hangat
padahal sesaat lagi
juga bakal datang
Baca entri selengkapnya »

Permalink 6 Komentar

Sair Sajak Moehammad Zaini (7)

13 November , 2008 at 5:28 pm (Puisi, Sastra) (, , , )

ANAK LUKA DAN ANAK TANGGA

Aku mengenal luka lagi, luka yang riang bermain anak tangga. Anak tangga selalu punya cerita di satu pertahapnya. Anak tangga dan aku yang anak luka. Riang di rumah. Melempar lemari ke bawah, atau membawa sofa ke atap rumah. Setiap tergelincir, aku tertawa, lalu anak tangga mengajakku ke teras rumah. Melihat jalanan kecil yang lupa pada luka. “Mereka lupa padamu, anak luka!”, anak tangga berteriak. Jalanan itu luka. Anak tangga terdiam lalu mengajakku tergelincir di tangga berikutnya. “Bawa tubuhmu sekalian, kita berhenti di dapur, dan makan tubuhmu bersama”, sambil berlari anak tangga menuju dapur, tergelincir, jatuh, bangun, lari, terjerembab, bangun.. lalu aku berteriak, “ kau teman paling setia anak tangga, selalu menyempatkan jatuh dan terluka saat kau berlari, kau selalu mengingatku..” ia hanya tersenyum.

Aku anak luka, terus bermain setiap bertemu anak tangga yang berikutnya..

30-10-2008

PAGI DI MATA YANG REDUP

Pagi di mata yang redup
Sepasang sandal melintas di tatapannya
Tubuh kumuh berbicara
Terseret-seret di langkah lunglai

Bocah itu dengan tanah apa beda
Tubuh terbungkus hitam
Sengatan matahari
Bercerita sepanjang jalan
Tentang doa yang bisu

Mata yang kabut
Oleh darah dan tanpa arah
Luka-luka kerikil
Dan pagi lenyap
Tertimbun di kuburan tua.

Yogyakarta, 18-10-2008

SENIN PETANG

Senin petang di pintu kamar
Kau duduk serupa majnun di hatiku
Terakhir kali kau menggantung di gantungan baju
Belakang pintu
Sesaat setelah bekas merah di mukena itu

Malam ini biarkan kamar memelukmu

20-10-2008

SETENGAH MENIT MENUNGGUMU

young-woman-with-silk-neckerchief-modiglianiAku menunggumu seperti batu di kamar ini. Batu yang lumut. Tapi yang aku kira aku adalah batu kecil yang tersangkut di jempol jari kakimu, ikut dan terjatuh di karpet kamar. Tapi tak salah jika aku ingin terbang ke rak-rak buku yang menggigil tak pernah peroleh dekap, ke baju-baju di lemari yang tak pernah hangat oleh setrika dan parfum, ke piring-sendok yang memikul sisa ludah dan butir dari mulut, atau kasur yang semalam ketumpahan teh sehabis kau mampir dan tidur di atasnya.

Aku menunggumu serupa kopyah di sajadah itu, selepas aku sembahyang, berlalu dan berdoa di bibirmu. Kopyah yang hanya bisa melihat kita berciuman dan segera menjadi penutup pagut bibir kita saat pintu tiba-tiba terbuka. Sebab dari luar hujan segera masuk tiba-tiba. “Di luar dingin”, kata hujan. Kopyah mengerti kita, menyembunyikan muka malu kita, dan tak memberitahukan pada siapapun sampai ia kembali di atas sajadah menjadi sujud bulan yang beku.

29-10-2008

Permalink 3 Komentar

Biografi; Chairil Anwar

7 November , 2008 at 6:13 pm (Biografi, Chairil Anwar, Sastra, Tokoh) (, , )

Chairil Anwar dilahirkan di Medan, 26 Julai 1922. Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup berantakan. Kedua ibu bapanya bercerai, dan ayahnya berkahwin lagi. Selepas perceraian itu, saat habis SMA, Chairil mengikut ibunya ke Jakarta.

Semasa kecil di Medan, Chairil sangat rapat dengan neneknya. Keakraban ini begitu memberi kesan kepada hidup Chairil. Dalam hidupnya yang amat jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat adalah saat neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang luar biasa pedih:

Bukan kematian benar yang menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertahta

Sesudah nenek, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil puja. Dia bahkan terbiasa membilang nama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu, sebagai tanda menyebelahi nasib si ibu. Dan di depan ibunya, Chairil acapkali kehilangan sisinya yang liar. Beberapa puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada ibunya.
Sejak kecil, semangat Chairil terkenal kedegilannya. Seorang teman dekatnya Sjamsul Ridwan, pernah membuat suatu tulisan tentang kehidupan Chairil Anwar ketika semasa kecil. Menurut dia, salah satu sifat Chairil pada masa kanak-kanaknya ialah pantang dikalahkan, baik pantang kalah dalam suatu persaingan, maupun dalam mendapatkan keinginan hatinya. Keinginan dan hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap, menyala-nyala, boleh dikatakan tidak pernah diam. Rekannya, Jassin pun punya kenangan tentang ini:

Kami pernah bermain bulu tangkis bersama, dan dia kalah. Tapi dia tak mengakui kekalahannya, dan mengajak bertanding terus. Akhirnya saya kalah. Semua itu kerana kami bertanding di depan para gadis.

Wanita adalah dunia Chairil sesudah buku. Tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Dan semua nama gadis itu bahkan masuk ke dalam puisi-puisi Chairil. Namun, kepada gadis Karawang, Hapsah, Chairil telah menikahinya.

Pernikahan itu tak berumur panjang. Disebabkan kesulitan ekonomi, dan gaya hidup Chairil yang tak berubah, Hapsah meminta cerai. Saat anaknya berumur 7 bulan, Chairil pun menjadi duda.
Tak lama setelah itu, pukul 15.15 WIB, 28 April 1949, Chairil meninggal dunia. Ada beberapa versi tentang sakitnya. Tapi yang pasti, TBC kronis dan sipilis.

Umur Chairil memang pendek, 27 tahun. Tapi kependekan itu meninggalkan banyak hal bagi perkembangan kesusasteraan Indonesia. Malah dia menjadi contoh terbaik, untuk sikap yang tidak bersungguh-sungguh di dalam menggeluti kesenian. Sikap inilah yang membuat anaknya, Evawani Chairil Anwar, seorang notaris di Bekasi, harus meminta maaf, saat mengenang kematian ayahnya, di tahun 1999, Saya minta maaf, karena kini saya hidup di suatu dunia yang bertentangan dengan dunia Chairil Anwar.

Tulisan ini dilansir dari indonesiaindonesia.com

Biografi Chairil Anwar juga bisa dilihat di:

wikipedia.com
mesiass.com
penyair.wordpress.com

Beberapa tulisan Tongkrongan Budaya tentang Chairil Anwar:
> Memaknai Kemiskinan Ala Chairil Anwar
> Chairil (Tidak) di Indonesia

Permalink 14 Komentar