Sair Sajak Moehammad Zaini (7)

13 November , 2008 at 5:28 pm (Puisi, Sastra) (, , , )

ANAK LUKA DAN ANAK TANGGA

Aku mengenal luka lagi, luka yang riang bermain anak tangga. Anak tangga selalu punya cerita di satu pertahapnya. Anak tangga dan aku yang anak luka. Riang di rumah. Melempar lemari ke bawah, atau membawa sofa ke atap rumah. Setiap tergelincir, aku tertawa, lalu anak tangga mengajakku ke teras rumah. Melihat jalanan kecil yang lupa pada luka. “Mereka lupa padamu, anak luka!”, anak tangga berteriak. Jalanan itu luka. Anak tangga terdiam lalu mengajakku tergelincir di tangga berikutnya. “Bawa tubuhmu sekalian, kita berhenti di dapur, dan makan tubuhmu bersama”, sambil berlari anak tangga menuju dapur, tergelincir, jatuh, bangun, lari, terjerembab, bangun.. lalu aku berteriak, “ kau teman paling setia anak tangga, selalu menyempatkan jatuh dan terluka saat kau berlari, kau selalu mengingatku..” ia hanya tersenyum.

Aku anak luka, terus bermain setiap bertemu anak tangga yang berikutnya..

30-10-2008

PAGI DI MATA YANG REDUP

Pagi di mata yang redup
Sepasang sandal melintas di tatapannya
Tubuh kumuh berbicara
Terseret-seret di langkah lunglai

Bocah itu dengan tanah apa beda
Tubuh terbungkus hitam
Sengatan matahari
Bercerita sepanjang jalan
Tentang doa yang bisu

Mata yang kabut
Oleh darah dan tanpa arah
Luka-luka kerikil
Dan pagi lenyap
Tertimbun di kuburan tua.

Yogyakarta, 18-10-2008

SENIN PETANG

Senin petang di pintu kamar
Kau duduk serupa majnun di hatiku
Terakhir kali kau menggantung di gantungan baju
Belakang pintu
Sesaat setelah bekas merah di mukena itu

Malam ini biarkan kamar memelukmu

20-10-2008

SETENGAH MENIT MENUNGGUMU

young-woman-with-silk-neckerchief-modiglianiAku menunggumu seperti batu di kamar ini. Batu yang lumut. Tapi yang aku kira aku adalah batu kecil yang tersangkut di jempol jari kakimu, ikut dan terjatuh di karpet kamar. Tapi tak salah jika aku ingin terbang ke rak-rak buku yang menggigil tak pernah peroleh dekap, ke baju-baju di lemari yang tak pernah hangat oleh setrika dan parfum, ke piring-sendok yang memikul sisa ludah dan butir dari mulut, atau kasur yang semalam ketumpahan teh sehabis kau mampir dan tidur di atasnya.

Aku menunggumu serupa kopyah di sajadah itu, selepas aku sembahyang, berlalu dan berdoa di bibirmu. Kopyah yang hanya bisa melihat kita berciuman dan segera menjadi penutup pagut bibir kita saat pintu tiba-tiba terbuka. Sebab dari luar hujan segera masuk tiba-tiba. “Di luar dingin”, kata hujan. Kopyah mengerti kita, menyembunyikan muka malu kita, dan tak memberitahukan pada siapapun sampai ia kembali di atas sajadah menjadi sujud bulan yang beku.

29-10-2008

3 Komentar

  1. warungkata said,

    ANAK LUKA DAN ANAK TANGGA
    ya luka bertahap, pengalman bertahap. atau Sisifus.
    saya suka. alasannya sangat subjektif. yaitu
    karena saya selalu ada luka pada setiap tangga.
    tapi, saya tidak punya permainan, atau rasa bermain, seperti
    dilakukan si penyair. ya selalu bermain.

  2. Dimas said,

    Aku suka banget sair ini tapi….. gak faham artinya, tolong dong dikasi artinya sekalian ya?…….

    • Nongkrong said,

      sila artikan sendiri mas Dimas. hehe. karena puisi ingin dibebaskan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: