Blogger; Status (Kelas) Sosial dari Dunia Maya

9 Desember , 2008 at 4:36 pm (Teh Hangat) (, , , , )

Oleh: Muhammad Zaini

Mungkin tak seberapa dalam saya mengenal dunia blog, namun saya sedikit  tergelitik, pasalnya minggu lalu tanggal 23 November, saya membaca uraian  menarik di Kompas dengan judul “Mabuk Dunia Maya, Sampai Lupa Etika”.  Saya tidak terlalu rajin membaca dan membeli koran, tetapi seketika koran  itu tergeletak di kamar salah seorang teman, mata saya merayap sampai di  judul itu. “Wah, etika dunia maya?” saya tertarik, sebab mungkin saya juga  punya blog di dunia maya atau seolah seolah-olah kata-kata itu menuding  saya “apa kamu beretika?” he..he..
Tapi etika bagaimana yang dimaksud? Namun terlepas dari persoalan tentang  etika (yang saya kurang memahami prihal etika), ada beberapa kesimpulan  yang di benak saya prihal dunia maya, terutama apa yang disebut dengan  blogger. Saya terbayang sosok dan pemikiran Marx (saya bukan Marxis, neo,  atau komunis) tentang status social. Mungkin ia harus hidup lagi di sini, di  dunia maya, dan mungkin ia akan terkejut, dan lebih parah lagi, ia akan  menambahkan footnote panjang untuk apa yang disebut dengan blogger di buku Das Kapitalnya. Bukan di dunia nyata, tapi di dunia maya. Saya kira sosiolog perlu meneliti ini lagi, dan menamakan komunitasnya sebagai masyarakat blogger, he..
Sekilas tentang blogger di mata saya, ia merupakan status baru dalam social yang entah sejak kapan ia lahir. Menurut Wicaksono salah satu wartawn Tempo yang juga mempunyai blog ndorokakung.com yang diurai di Kompas, di Indonesia, blog dikenal sejak tahun 2004 dan mulai sangat disenangi pada 2007. Sedang di dunia Internasional, blog dikenal sejak 1998. Lalu status seperti apakah sosok blogger di benak saya? Yang jelas bukan borjuis atau ploretar seperti yang dikatakan Marx. Sekali lagi atas dasar bayangan dan tanpa penelitian yang ilmiah, bagi saya sosok blogger hampir mirip dengan sosok borjuis tanpa exploitasi. Leptop atau komputer dimuka dengan segelas kopi dan beberapa bungkus rokok dan kacamata yang sedikit agak kusut, he..

Bukan, bukan sepenuhnya itu maksud saya. Kalau di dunia nyata ada sosok tokoh agama, kapitalis, rakyat miskin, ploretar dan semacamnya (entah apa bedanya??), di dunia maya ada yang namanya blogger. Seperti kata Yasraf yang menyebut dunia maya ini dunia hiperrealitas, maka mungkin saya menyebut status blogger, status hiperrealitas. Sebab, ketika saya serius membaca tentang dunia blogger di Kompas, saya seolah-olah berada pada dunia yang sebenarnya, benar-benar nyata. Tapi saya tidak tahu apa sebenarnya hiperrelitas, apakah nyata dari yang sebenarnya tidak nyata atau tidak nyata dari yang nyata. Entahlah.. (maaf pak Yasraf, saya gurau soal status hiperrealitas, he..). tapi bagaimana jika benar, akan berkembang suatu saat masyarakat blogger? Kelas seperti apakah yang akan disebut oleh Marx?
Seperti telah dijelaskan di Kompas, bahwa beberapa komunitas blogger telah bergerak di dalam kegiatan kemasyarakatan. Memang, mereka (blogger) merupakan bagian dari msyarakat di dunia nyata, akan tetapi saya melihat berbeda jika kegiatan itu mengatas namakan komunitas blogger. Oleh karena itu saya sedikit punya asumsi akan berkembangnya komunitas tersebut sebagai masyarakat baru yang hidup di dunia maya dan mengada di dunia nyata. Jadi tidakkah ini menarik untuk di kaji, walaupun apa yang saya utarakan tidak berdasar ilmiah (tanpa dasar) akan tetapi sekedar uneg-uneg. Akan tetapi mereka dan apa yang telah diperbuat, tak lain merupakan bagian dari budaya yang mulai berkembang di masyarakat kita.

Jadi, ada apa dengan etika dunia maya? Yang jelas sangat tidak bisa dipisahkan dengan dunia nyata. Etika dunia maya menentukan mental masyarakat kita.. begitukah yang disebut hiperrealitas pak Yasraf? (saya punya buku anda dan saya tidak paham, he..)

Permalink 5 Komentar