Sair Sajak Edi Slenger (1)

19 Maret , 2009 at 4:26 pm (Puisi, Sastra)

NARASI XIX

(Sangsi)

Tidakkah kau saksikan

Burung-burung di atas gereja

Itu memeram rindu semisal

Aku yang kau tinggalkan dengan

Puisi tak jadi lantaran sebuah kata

Yang lupa aku rangkai

Namun entah mengapa kudapati jawabmu

— Takada seekor burungpun yang kusaksikan

di atas gereja itu —

Malang, 2007

NARASI XX

Gugur layu bunga

: Kemarau berdendang

di penghujung waktu

Malang, 2007

NARASI XXI

Bulan sabit di pinggir telaga

Mengeram kejora di kening ibu

Taukah kau? Kau tak menjawab

Malah berpaling ke semak-semak

Lalu beranjak

Malang, 2007

NARASI XXII

Gerimis di luar itu

Kini berganti hujan

“Ya berganti hujan, hujan

kata namanya” kemudian

menulis dauanan di halaman

bersama diammu

Malang, 2007

NARASI XXII

Hujan yang rintik menulismu pada

Daunan yang mengering, padahal

Tak kemarau

Kaupun memulainya dengan kuncup

Lalu kembang tanpa bertanya tentang layu

Malang, 2007

n1511464492_9978*Edi Slenger, lahri di Madura 1986, mahasiswa Aktif Studi Bahasa dan Sastra Inggris UIN Malang. Pegiat di sanggar sastra “Tinta Langit Malang”, Teater K2 UIN Malang. Publikasi Karya: Puisi “Nyanyian Ibu” (Koran Harian Malang Post), Puisi “Pijar Sabda” (Juara 1 Lomba sajak UIN Malang), Puisi “Perjalanan 1” (Majalah sastra el-Madani). Puisi “Narasi dan Kidung Senja” (Koran Harian Surya) Email: edislenger@telkom.net

Permalink 11 Komentar

Sajak Dan Anggapan Umum

19 Maret , 2009 at 3:06 pm (Sastra, Tela'ah Sastra)

Oleh: Edi Slenger*

Puisi bukanlah pameran sengkarut imaji atau sulapan bunyi, melainkan rangkaian sari

bening kata yang di suling dari dunia sehari-hari (osip mandelstam)

Berbicara tentang sebuah sajak memang tidak akan terlepas dari nilai-nilai ke indahan (estetik) sebab ia lahir dari kesunyian jiwa, rasa, hati seorang penyair, namun terkadang hal itu atau bahkan sudah lumrah dan nota bene-nya dijadikan streotipe bahwa sajak haruslah estetik (bahasa yang indah), jadi tidak heran ketika ada pemula yang menulis sebuah sajak dengan bahasa melangit ataupun yang terbiasa walaupun pada kenyataannya (esensi) kandungan atau nilai (pesan) yang akan disampaikan tidak sampai ketangan para pembaca dikarenakan semraut bahkan terlalu mendayu-dayu, hingga pembaca sendiri kebingungan menangkap apa yang disampaikan oleh si penulis.

Angapan umum (common sense) pada sajak disini sering dibuat pijakan hampir oleh mayoritas kalangan yang memahaminya secara parsial, ialah bahwa bahasa sajak harus indah. Dan anggapan ini adalah salah, seperti yang di ungkap oleh Abdul Hadi W. M. “Salah satu anggapan umum yang keliru mengenai sajak ialah bahwa bahasanya mesti indah ungkapannya atau dapat mengguncangkan pembaca. Maka tidak jarang penulis memenuhi sajaknyua dengan ungkapan atau kata-kata berbunga atau memenuhi dengan citraan-citraan liar. Padahal yang disebut pengucapan indah dalam sajak ialah terletak pada ketepatan dan ketajaman daya ucapnya dalam menghidupkan gagasan, perasaan atau suasana puitik”. Baca entri selengkapnya »

Permalink 6 Komentar