Sajak Dan Anggapan Umum

19 Maret , 2009 at 3:06 pm (Sastra, Tela'ah Sastra)

Oleh: Edi Slenger*

Puisi bukanlah pameran sengkarut imaji atau sulapan bunyi, melainkan rangkaian sari

bening kata yang di suling dari dunia sehari-hari (osip mandelstam)

Berbicara tentang sebuah sajak memang tidak akan terlepas dari nilai-nilai ke indahan (estetik) sebab ia lahir dari kesunyian jiwa, rasa, hati seorang penyair, namun terkadang hal itu atau bahkan sudah lumrah dan nota bene-nya dijadikan streotipe bahwa sajak haruslah estetik (bahasa yang indah), jadi tidak heran ketika ada pemula yang menulis sebuah sajak dengan bahasa melangit ataupun yang terbiasa walaupun pada kenyataannya (esensi) kandungan atau nilai (pesan) yang akan disampaikan tidak sampai ketangan para pembaca dikarenakan semraut bahkan terlalu mendayu-dayu, hingga pembaca sendiri kebingungan menangkap apa yang disampaikan oleh si penulis.

Angapan umum (common sense) pada sajak disini sering dibuat pijakan hampir oleh mayoritas kalangan yang memahaminya secara parsial, ialah bahwa bahasa sajak harus indah. Dan anggapan ini adalah salah, seperti yang di ungkap oleh Abdul Hadi W. M. “Salah satu anggapan umum yang keliru mengenai sajak ialah bahwa bahasanya mesti indah ungkapannya atau dapat mengguncangkan pembaca. Maka tidak jarang penulis memenuhi sajaknyua dengan ungkapan atau kata-kata berbunga atau memenuhi dengan citraan-citraan liar. Padahal yang disebut pengucapan indah dalam sajak ialah terletak pada ketepatan dan ketajaman daya ucapnya dalam menghidupkan gagasan, perasaan atau suasana puitik”.

Permasalahan yang sangat fundamental dan krusial sekali adalah, bagaimana kita bisa menghilangkan dan menghapus padangan-pandangan —asumsi— atau klaim yang tidak pas terhadap sejatinya sajak, supaya mereka mengerti betul kalau bahasa sebuah sajak yang digunakan tidak mesti dan selalu indah, khususnya pada semua mereka yang masih dini mempelajari dan mengetahuinya. Seperti yang juga di ungkap oleh Nawal El-Sadawi “Saatnya membawa pembaca membaca diatas kesadarannya, bukan lagi dibawah kesadarannya dalam artian bagaimana kita menyuguhkan karya kita yang baik sehingga pembaca tidak kebingungan dalam mersepon serta mereka tetap membaca diatas kesadaran —memahami karya sastra secara utuh— dan tidak taken for granted.

Maka dari itu —sebuah tuntutan bagi kita— kita harus paham betul ketika kita mau menulis sajak agar apa yang akan kita tulis dan sampaikan bisa di tangkap dengan mudah yaitu dalam membangun citraan. Mengapa demikian, sebab citraan disini sangat penting untuk membangun ketajaman serta terlahirnya sajak yang memiliki ruh bagi khalayak dan mudah di tangkap.

Satu contoh sajak sederhana tapi menakjubkan yaitu dalam sajaknya Sapardi Joko Damono, yang dibangun dengan citraan dan tidak memprioritaskan kata yang berbunga namun aksentuasinya langsung pada sinergisitas penciptaan dan nilai dalam sajak yang akan disampaikan pada pembaca, “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, lewat kata yang tak sempat di ucapkan kayu pada api yang menjadikannya abu, aku ingin mencintaimu dengan sederhana, lewat isyarat yang taksempat disampaikan awan pada hujan yang menjadikannya tiada” sajak ini lahir dari spritualitas kontemplatif aku (lirik) dalam memenuhi ruang sejatinya sajak, yaitu citraan dan bukan semata-mata pada sejatinya kata, sebab jika dibangun dengan sejatinya kata maka yang di prioritaskan adalah bahasa dan kata yang berbunga serta melangit tapi alpa dari makna.

Paparan diatas ini adalah gambaran sekilas bagi kita dan ruang publik agar dalam merespon dan menginterpretasikan juga memahami karya sastra (sajak) tidak menyimpang, meskipun secara faktual ketika sebuah tulisan berada ditangan para pembaca, adalah hak atau otoritas pembaca itu sendiri. Wallahu a’lam

*Edi Slenger, mahasiswa Aktif Studi Bahasa dan Sastra Inggris UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Pegiat di sanggar sastra “Tinta Langit Malang” Teater K2. email: edislenger@telkom.net

6 Komentar

  1. masmpep said,

    saya suka novel dan cerpen. masih sulit mencerna sanjak. apalagi membuatnya.

    salam blogger.
    masmpep.wordpress.com

  2. madagumilang said,

    bicara sajak, bicara kaidah-kaidah
    lalu aku bertanya: “lo, ada tho dalil-dalil nulis puisi?”
    jawabku, emang gue pikirin
    terimakasih

  3. Nongkrong said,

    @ masmpep
    Salam juga

    @ madagumilang
    ngomong puisi itu sama dengan ngomong ngelantur. kalo ngelantur masih ngikut-
    ngikut kaidah berarti gak ngelantur lagi dong.
    kaidah itu bagi orang yang gak ngelantur sedang berbicara dengan orang ngelantur.

  4. kopi cina said,

    kalo bicara menyampaikan ‘pesan’ atau ‘esensi’ dalam berbahasa, kita nggak akan berhenti sahut2an….

  5. Kang Nur said,

    🙂 masih belajar menulis prosa dulu.. menulis sajak kan harus bernas, kalo prosa mah bebaas.. menulis sajak butuh waktu lama meskipun yg ditulis sedikit

  6. Ras Brawijaya said,

    Website dan materinya sangat bagus, saya suka namun belum sempat lihat-lihat semua nih, tapi saya sudah bookmark website Anda, jadi nanti akan seing berkunjung.. terima kasih

    Ras Brawijaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: