Muhammad Yang Telah Hilang

11 Januari , 2011 at 10:13 pm (Linguistik)

Oleh: Muhammad Zaini

 


Aku merindukanmu oh, Muhammadku


-Musthafa Bisri


Aku merindukanmu oh, Muhammadku

Sepanjang jalan kulihat wajah-wajah yang kalah

Menatap mataku yang tak berdaya

Sementara tangan-tangan perkasa terus mempermainkan kelemahan

Air mataku pun mengalir mengikuti panjang jalan

Mencari-cari tangan lembut wibawamu

Dari dada-dada tipis papan

Terus kudengar suara serutan derita mengiris berkepanjangan

Dan kepongahan tingkah meningkah

Telingaku pun kutelengkan berharap sesekali mendengar merdu menghibur suaramu

Aku merindukanmu

Oh, Muhammadku

Ribuan tangan gurita keserakahan menjulur-julur kesana-kemari

Mencari mangsa memakan korban

Melilit bumi meretas harapan

Akupun dengan sisa-sisa suaraku mencoba memanggil-manggil

Oh, Muhammadku

Oh, Muhammadku

Dimana-mana sesama saudara saling cakar berebut benar sambil terus berbuat kesalahan

Qur’an dan sabdamu hanyalah kendaraan masing-masing mereka yang berkepentingan

Akupun meninggalkan mereka

Mencoba mencarimu dalam sepi rinduku

Aku merindukanmu oh, Muhammadku

Sekian banyak Abu Jahal Abu Lahab

Menitis ke sekian banyak ummatmu

Oh, Muhammadku

Shalawat dan salam bagimu

Bagaimana melawan gelombang kebodohan dan kecongkakan yang telah terkayakan

Bagaimana melawan ummat sendiri

Oh, Muhammadku

Aku merindukanmu

Oh, Muhammadku

Aku sungguh merindukanmu

1416

 


Kita masih akan mendengar dendang kerinduan kepada Muhammad yang menggema di sound-sound masjid. Kita masih akan mendengar sejarah perjuangan Muhammad dalam membangun Islam di bangku sekolah sampai kampus-kampus. Akan tetapi dalam puisi Musthafa Bisri ini, Muhammad tak ada lagi, Ia lenyap dari pori-pori kehidupan manusia, Ia telah terbuang dari cara berpikir manusia, Muhammad hanya menjadi kerinduan atas ketiadaannya.

Kerinduan dalam puisi ini sebenarnya bukan keinginan akan kembalinya Muhammad ke dunia, tetapi sebagai bentuk harapan dari kekecewaan yang sangat mendalam. Manusia memang masih bersyahadat bahwa Muhammad adalah utusan Allah di muka bumi untuk menghilangkan prilaku jahiliyah, akan tetapi syahadat mereka tidak terejawantahkan dalam kehidupan. Hal itu disaksikan oleh Bisri, “Sepanjang jalan kulihat wajah-wajah yang kalah / Menatap mataku yang tak berdaya / Sementara tangan-tangan perkasa terus mempermainkan kelemahan.” Apa agama para koruptor di Indonesia? Mereka beragama Islam, akan tetapi cara berpolitiknya tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Belum lagi, jika kita melihat kenyataan bahwa yang berperilaku buruk dalam bernegara adalah dari kalangan ‘alim ulama’, saling mengkafirkan di antara mereka dengan berlandaskn al Qur’an dan al Hadits demi kepentingan pribadi, “Dimana-mana sesama saudara saling cakar berebut benar sambil terus berbuat kesalahan / Qur’an dan sabdamu hanyalah kendaraan masing-masing mereka yang berkepentingan.” Setelah sampai pada puncak kepemimpinan, mereka (ulama’) tidak amanah pada apa yang menjadi tugas mereka. Miris.

Muhammad, dalam pandangan penyair, sudah tidak ada lagi dalam diri “umat muslim”, walaupun sembari “Telingaku pun kutelengkan berharap sesekali mendengar merdu menghibur suaramu.” Di tengah-tengah keputusasaannya, penyair tetap berusaha memuaskan kerinduannya, “Akupun dengan sisa-sisa suaraku mencoba memanggil-manggil / Oh, Muhammadku / Oh, Muhammadku”, pada akhirnya penyair menyerah “Akupun meninggalkan mereka,” dan “Mencoba mencarimu dalam sepi rinduku.”

Puisi ini menjadi kerinduan akan keadilan di tengah-tengah generasi yang tanpa moral yang merupakan reinkarnasi utuh dari “Sekian banyak Abu Jahal Abu Lahab / Menitis ke sekian banyak ummatmu”, Muhammad menjadi ketiadaan yang sangat dirindukan, “Oh, Muhammadku / Aku sungguh merindukanmu”

12 Januari 2011

 

2 Komentar

  1. Watch The Cape said,

    Mantab tuh puisinya, penuh makna,,,!

  2. akhmad muhaimin azzet said,

    Puisinya baguuusss…. ulasannya juga oke….
    Salam kreatif dan selamat terus berkarya ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: