Muhammad Yang Telah Hilang

11 Januari , 2011 at 10:13 pm (Linguistik)

Oleh: Muhammad Zaini

 


Aku merindukanmu oh, Muhammadku


-Musthafa Bisri


Aku merindukanmu oh, Muhammadku

Sepanjang jalan kulihat wajah-wajah yang kalah

Menatap mataku yang tak berdaya

Sementara tangan-tangan perkasa terus mempermainkan kelemahan

Air mataku pun mengalir mengikuti panjang jalan

Mencari-cari tangan lembut wibawamu

Dari dada-dada tipis papan

Terus kudengar suara serutan derita mengiris berkepanjangan

Dan kepongahan tingkah meningkah

Telingaku pun kutelengkan berharap sesekali mendengar merdu menghibur suaramu

Aku merindukanmu

Oh, Muhammadku

Ribuan tangan gurita keserakahan menjulur-julur kesana-kemari

Mencari mangsa memakan korban

Melilit bumi meretas harapan

Akupun dengan sisa-sisa suaraku mencoba memanggil-manggil

Oh, Muhammadku

Oh, Muhammadku

Dimana-mana sesama saudara saling cakar berebut benar sambil terus berbuat kesalahan

Qur’an dan sabdamu hanyalah kendaraan masing-masing mereka yang berkepentingan

Akupun meninggalkan mereka

Mencoba mencarimu dalam sepi rinduku

Aku merindukanmu oh, Muhammadku

Sekian banyak Abu Jahal Abu Lahab

Menitis ke sekian banyak ummatmu

Oh, Muhammadku

Shalawat dan salam bagimu

Bagaimana melawan gelombang kebodohan dan kecongkakan yang telah terkayakan

Bagaimana melawan ummat sendiri

Oh, Muhammadku

Aku merindukanmu

Oh, Muhammadku

Aku sungguh merindukanmu

1416

 


Kita masih akan mendengar dendang kerinduan kepada Muhammad yang menggema di sound-sound masjid. Kita masih akan mendengar sejarah perjuangan Muhammad dalam membangun Islam di bangku sekolah sampai kampus-kampus. Akan tetapi dalam puisi Musthafa Bisri ini, Muhammad tak ada lagi, Ia lenyap dari pori-pori kehidupan manusia, Ia telah terbuang dari cara berpikir manusia, Muhammad hanya menjadi kerinduan atas ketiadaannya.

Kerinduan dalam puisi ini sebenarnya bukan keinginan akan kembalinya Muhammad ke dunia, tetapi sebagai bentuk harapan dari kekecewaan yang sangat mendalam. Manusia memang masih bersyahadat bahwa Muhammad adalah utusan Allah di muka bumi untuk menghilangkan prilaku jahiliyah, akan tetapi syahadat mereka tidak terejawantahkan dalam kehidupan. Hal itu disaksikan oleh Bisri, “Sepanjang jalan kulihat wajah-wajah yang kalah / Menatap mataku yang tak berdaya / Sementara tangan-tangan perkasa terus mempermainkan kelemahan.” Apa agama para koruptor di Indonesia? Mereka beragama Islam, akan tetapi cara berpolitiknya tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Belum lagi, jika kita melihat kenyataan bahwa yang berperilaku buruk dalam bernegara adalah dari kalangan ‘alim ulama’, saling mengkafirkan di antara mereka dengan berlandaskn al Qur’an dan al Hadits demi kepentingan pribadi, “Dimana-mana sesama saudara saling cakar berebut benar sambil terus berbuat kesalahan / Qur’an dan sabdamu hanyalah kendaraan masing-masing mereka yang berkepentingan.” Setelah sampai pada puncak kepemimpinan, mereka (ulama’) tidak amanah pada apa yang menjadi tugas mereka. Miris.

Muhammad, dalam pandangan penyair, sudah tidak ada lagi dalam diri “umat muslim”, walaupun sembari “Telingaku pun kutelengkan berharap sesekali mendengar merdu menghibur suaramu.” Di tengah-tengah keputusasaannya, penyair tetap berusaha memuaskan kerinduannya, “Akupun dengan sisa-sisa suaraku mencoba memanggil-manggil / Oh, Muhammadku / Oh, Muhammadku”, pada akhirnya penyair menyerah “Akupun meninggalkan mereka,” dan “Mencoba mencarimu dalam sepi rinduku.”

Puisi ini menjadi kerinduan akan keadilan di tengah-tengah generasi yang tanpa moral yang merupakan reinkarnasi utuh dari “Sekian banyak Abu Jahal Abu Lahab / Menitis ke sekian banyak ummatmu”, Muhammad menjadi ketiadaan yang sangat dirindukan, “Oh, Muhammadku / Aku sungguh merindukanmu”

12 Januari 2011

 

Permalink 2 Komentar

Kepribadian dalam Tuturan Bahasa Jawa

12 April , 2009 at 2:30 pm (Linguistik)

Oleh: Laine Berman*

University of Hawaii

Abstrak:

Makalah ini bermaksud menganalisa wacana sehari-hari (sesrawungan sakdina-dinane) untuk memahami bagaimana wong cilik mewujudkan makna di dalam konteks lokal, dan di dalam sistem masyarakat yang sampai kini masih serba tidak adil, meski sudah jaman “reformasi”. Dengan menerapkan teori-teori konstruksi sosial (social constructionism), analisis saya mencerminkan bagaimana sekelompok wong cilik, yaitu tenaga kerja wanita dari kota Yogyakarta, mewujudkan identitasnya melalui penggunaan Bahasa Jawa. Untuk tujuan ini, saya menggunakan teori agency , yaitu tanggungjawab pribadi terhadap apa yang dituturkan, kepada lawan bicara, dan siapa yang dibicarakan, yang semuanya dicerminkan dalam wacana. Tampak dari analisis ini bahwa kelompok tersebut menkonstruksikan diri sendiri sesuai dengan hierarki sosial yang berlaku, yang memaksakan mereka nrima ketidakadilan yang dihadapi. Mereka nrima karena memang tidak ada jalan keluar. Hal ini tidak mengherankan bagi mereka yang paham budaya Jawa dan sistem kekuasaan Orde Baru. Namun yang hendak saya tekankan di sini adalah bahwa wong ciliknya sendiri merelakan dirinya tertindas, bahkan memuliakan kebungkaman itu terhadap yang dianggap ‘nasib’. Penindasan ini adalah penindasan psikologis internal dan kepribadian wong cilik tersebut terwujud oleh kebiasaan ini. Karena begitu terbiasa tertindas (yang terwujud dalam struktur “sopan santun”), posisi ketidak berdayaan (disempowered) ini juga muncul dalam bahasa ngoko yang sering dianggap kasar, tidak sopan, dan tidak mencerminkan hormat. Hal ini akan saya buktikan dari segi fungsi bahasa dan tidak sekedar struktur (krama, krama inggil, dan sebagainya), yang sampai sekarang masih menguasai analisa Bahasa. Tujuan lain dari makalah ini adalah untuk memperkenalkan pendekatan yang saya pakai, yaitu antropologi linguistik, yang sejauh saya ketahui, belum umum digunakan di dalam bidang akademis maupun penelitian di Indonesia.

Pembukaan :

Analisis wacana yang dipergunakan di sini dimulai dengan merekam dan mentranskripsikan bahasa sehari-hari yang secara alami muncul dari sekelompok perempuan yang bekerja di suatu pabrik di Kota Yogyakarta. Tujuan saya dengan analisis ini adalah menggambarkan bagaimana kelompok tersebut mewujudkan makna dalam konteks lokal. Yang penting di sini adalah penggunaan bahasa sehari-hari,pergaulan manusia yang muncul tanpa tanya-jawab, tanpa intervensi peneliti. Teori yang dianut oleh analisis wacana (dari segi antropologis linguistik dan analisis wacana kritis) menegaskan bahwa bahasa adalah sumber budaya dan wacana adalah praktis budaya. Melalui bahasa, budaya diciptakan, diberi arti, dipelajari, dibentuk, dan direproduksi. Melalui bahasa kita menegakkan hubungan antara sistem budaya dan berbagai bentuk tatanan sosial. Kita juga bisa melihat secara langsung keberadaan (posisi) sekelompok manusia di dalam tatanan sosial tersebut, dan pengertian mereka terhadap dunia/lingkungan sekelilingnya. Baca entri selengkapnya »

Permalink 4 Komentar

Bahasa Jawa versus Bahasa Madura

28 April , 2008 at 8:04 pm (Linguistik, Teh Hangat)

Oleh: Musthafa Amin

Tamen magik tombu sokon—Tabing kerrep bennyak kalana
Mompong gik odik kotu parokon—Mak olle salamet tengka salana.
(Menanam biji asam tumbuh sukun—Geddhek yang rapat banyak kalajengkingnya
Mumpung masih hidup harus rukun—Agar selamat tingkah lakunya)

Parikan Madura yang dikidungkan Heru Pasetiyawan, pemenang ngremo tingkat Jawa Timur, Festival Cak Durasim, Surabaya 2007

Dari obrolan ringan ternyata menimbulkan banyak inti pokok permasalahan yang melanda diri, masyarakat dan dunia namun jarang sekali kita sadari. Hasilnya, jarang ada solusi yang tepat dan lebih banyak mengira-ngira dengan referensi yang cenderung dari lisan. Valid? Ah tidak mungkin, namanya juga obrolan menghabiskan malam.

Sekitar tengah malam, jam sebelas malam, di komisariat IPNU UIN Malang, penulis berbincang dengan salah satu kawan, yang berasal dari Pasuruan ditemani secangkir kopi dan separuh isi satu pak rokok. Ngelindur kesana kemari, tak juntrung serius membahas apapun. Lebih banyak bernostalgia daripada berdiskusi. Namun suasana cair itu tiba-tiba terhenti ketika sang madurese speaker (penulis) tidak menemukan kosa kata jawa untuk melanjutkan omongannya. Berhubung saya hidup di Jawa Timur, tentu saya harus bisa beradaptasi dengan bahasa jawa. Bentuk komunikasi bahasa yang terbangun di Malang adalah bahasa Jawa, baik dengan tiga model bahasa Jawa (ngoko, kromo, kromo inggil) ataupun bahasa jawa Malangan (cenderung dibolak-balik). Karena tidak menemukan kosa kata yang dimaksud, akhirnya saya mencampuradukkan (code-switching–CS) bahasa saya (madura) dengan bahasa Jawa yang baru saja saya ujarkan. Sedikit lama, dia mengernyitkan dahi, kemudian dia hanya tergelak dan mengangguk-angguk mengerti. Saya pun heran, apakah dia memahami arti bahasa madura yang saya ucapkan ataukah dia memahami perkataan saya berdasarkan konteks. Berdasarkan teori CS, tindakan ini dilakukan demi mempermudah komunikasi agar pembicara bahasa A (Jawa) tidak perlu terlalu lama memikirkan kosa kata yang sesuai, sehingga dia menggunakan bahasa B (Madura). CS pun bisa membantu etnik minoritas, seperti saya mempertahankan identitas budaya saya, seperti bahasa slang yang digunakan untuk menunjukkan perbedaan identitas dan pula membedkan dari masyarakat yang lebih besar. Tapi saya lupa, bahasa A dan B itu khan seharusnya ada keselarasan, baik antara bahasa pertama (first language) dan bahasa kedua (second language) dan bahasa kedua orang yang berbicara, apakah sama atau tidak. Untung saja, sejak dia bergaul dengan madurese speaker seperti saya, dia memahami bahasa saya.

“Sepertinya ada kesamaan ya mus, antara Madura dan Jawa?”
“Maksudnya?”
“Ya, tadi khan kamu sebutkan, bahasa Madura pun dibagi menjadi tiga (enja’-iya, enggi-enten, enggi-bunten), sepertinya ada kesamaan. Bukankah dalam bahasa kromo inggil dan enggi-bunten (sebagai bahasa tertinggi keduanya) sering ada kosa kata yang serupa. Seperti panjenengan (kosa kata untuk merujuk kepada lawan bicara dengan halus). Entah kenapa aku paham bahasamu tadi,”ujarnya sambil menggaruk kepala.

Aku pun garuk-garuk kepala. Gak paham juga. Memang sebagian ada yang sama. Begitu pula halnya antara bahasa Indonesia (BI) dan Bahasa Jawa (BJ) atau BI dan Bahasa Madura (BM). Kami bisa menerka, beberapa kata di BI adalah kata serapan dari kedua bahasa lokal tersebut. Pun begitu, kedua bahasa daerah tersebut, sekarang mulai cenderung menyerap BI. Atas hasil kelakar, tanpa ada penelitian menyeluruh, hasil bincangan kami merujuk ke sana. Sebut saja kata roma dan bungkoh, dua kosa kata BM ini sama-sama bermakna rumah. Ada keserupaan morfologis antara roma dan rumah. Kawanku pun meyimpulkan asal-asalan, roma adalah kata serapan BM dari BI. Bagaimana pula dengan omah (BJ yang juga berarti rumah). Kawanku menjawab, “itu karena BI menyerap BJ.” “Ah, dasar orang Jawa.” Dia pun menimpali celetukanku barusan, “Ah, dasar orang Madura.” Kami pun tertawa terbahak-bahak.

Beralih pada beberapa kesamaan antara BJ dan BM, hasil bincang ngalor-ngidul kami menyatakan. Kesamaan itu terjadi karena asal-muasal BM adalah BJ. Melihat struktur geografis, sangat mustahil manusia pertama adalah orang Madura, melainkan Jawa. Beberapa orang Jawa yang menemukan pulau Madura, akhirnya menetap di sana. Atas dasar konstruksi bahasa, mereka pun berkomunikasi seadanya dengan BJ dan jika menemukan suatu hal yang baru mereka pun membentuk bahasa baru sebagai naluri alamiah berbahasa mereka. Alasan kenapa mereka tidak menggunakan BJ, bisa jadi karena kosa kata BJ mereka tidak begitu lengkap dan akhirnya hasil perilaku bahasa mereka menjadi cikal bakal bahasa madura. Mereka yang barangkali terdampar di pulau Madura, sangat kesulitan untuk bepergian kembali ke Jawa karena kesulitan transportasi, sehingga mereka pun menetap di pulau Madura dan mencipta bahasa baru. yach, ini konsep pemerolehan bahasa yang mengacu pada human resourches (pola interaksi dengan manusia) dan natural resourches (pola interaksi dengan alam. Konsep milik Plato onomatopoeia (semua bahasa berasal dari peniruan bunyi-bunyi terakhir dengan ejekan dan karikatur) pun bisa dipakai di sini. Dan bisa jadi pula, manusia Jawa pertama berasal dari pulau Madura. Haha

Obrolan ringan ini berakhir tanpa penjelasan. Tiada bukti ilmiah yang bisa diajukan. Yang ada dibenak kami, bahasa lokal sudah dicemari bahasa Indonesia dan seterusnya, BI di-KO oleh bahasa Inggris dengan perilaku nginggris tokoh-tokoh bangsa.

Permalink 3 Komentar

Tata Bahasa Generatif Transformatif

8 Maret , 2008 at 5:51 pm (Chomsky, Filsafat, Linguistik, Tokoh)

Oleh: Harry Prasetyo*

Tata bahasa Generatif Trasformasi (TGT) adalah sebuah konsep kajian kebahasaan yang dipelopori oleh Chomsky. Namun, sebelum kita membahas lebih jauh tentang TGT ini, penulis akan mengajak pembaca untuk “melihat” kondisi kebahasaan yang berkembang sebelum TGT ini lahir.
Dalam tulisan ini, penulis akan menyajikan beberapa hal sebagai bahan diskusi, (1) latar belakang munculnya TGT, (2) Konsep TGT, (3) Tokoh dalam TGT, dan (4) simpulan tentang fungsi TGT.

Pendahuluan
Pada tahun 1931-1951, kajian linguistik pada saat itu diwarnai oleh aliran structural, yang kita kenal dengan nama Tata Bahasa Deskriptif. Dalam Tata Bahasa Deskriptif, ada 2 tokoh yang memengaruhinya, yaitu Bloomfield dan Harris. Bloomfield adalah salah satu tokoh strukturalisme Amerika yang pemikirannya banyak dipengaruhi oleh Boaz. Dalam tata bahasa jenis ini, kajian yang dikembangkan adalah kajian linguistik yang berhubungan dengan masalah-masalah praktis, dan langsung menjelaskan komponen serta struktur bahasa tertentu berdasarkan realitas formalnya sebagai ujaran. Oleh karena itu, model kajian semacam ini disebut dengan istilah Tata bahasa Struktural.
Model kajian semacam ini sesuai dengan konsep pengembangan teori yang sedang “menjamur” di Amerika Serikat, yaitu logika positivistisme. Bagi logika ini, sebuah teori bisa dianggap benar atau salah, jika telah diujikan pada data kajian secara konkrit.
Pada tahun 1957, Chomsky mengenalkan gagasan barunya melalui sebuah buku yang berjudul Syntactic Structure. Gagasan barunya yang tertuang dalam buku itulah yang kemudian oleh para linguist disebut degnan Tata bahasa Generatif Transformasi.

Konsep Tata Bahasa Generatif Tranformasi
Dalam uraian di atas disebutkan bahwa gagasan Chomsky tentang TGT tertuang dalam bukunya Syntactic Structure. Dalam tersebut, Chomsky menjelaskan bahwa dia melakukan penolakan terhadap asumsi utama strukturalisme yang beranggapan bahwa kelayakan kajian kebahasaan ditentukan oleh diskripsi data kebahasaan secara induktif.
Data kebahasaan secara induktif di sini diartikan oleh penulis sebagai data-data kebahasaan yang sudah paten dan dianggap selesai. Menurut Chomsky (dalam Samsuri, 1988:99) kajian linguistik berkaitan dengan aktivitas mental yang berkaitan dengan probabilitas, bukan berhadapan dengan data kajian tertutup dan selesai, sehingga dapat dianalisis dan didiskripsikan secara pasti. Oleh karena itu, teori linguistic seharusnya dikembangkan dengan bertolak dari cara kerja secara deduktif yang dibangun oleh konstruk hipotetik tertentu.
Akibat dari konsep dasar tersebut di atas, dalam TGT teori diartikan sebagai seperangkat hipotesis yang memiliki hubungan secara internal antara yang satu dengan yang lainya. Dalam hal ini, hipotesis memiliki 2 ciri utama, (1) berisi pernyataan yang berfungsi untuk memahami sesuatu yang bersifat sementara, (2) merupakan kreasi intelek yang sistematis, teliti, tetapi bersifat tentatif sehingga memungkinkan untuk dikembangkan atau ditolak.

Tokoh Tata Bahasa Generatif tranformasi; Noam Chomsky
Dalam uraian di atas, terlihat jelas kontribusi pemikiran Chomsky dalam TGT. Dalam subjudul ini, penulis akan mengajak pembaca untuk berkenalan dengan Chomsky.
Nama lengkapnya adalah Avram Noam Chomsky. Dia lahir pada tanggal 7 Desember 1928 di Philadelphia. Ayahnya, bernama William Chomsky, adalah seorang ahli bahasa Yahudi yang terkenal pada saat itu. Ketekunan Chomsky dalam membantu kegiatan kebahasaan ayahnya sangat membantu daya intelektualnya dalam kajian kebahasaan di kemudian hari.
Chomsy dahulukala belajar di Universitas Pennsylvania. Pada awalnya ia berguru pada salah satu tokoh aliran struktural, yaitu Harris. Walaupun Haris adalah salah satu tokoh pengembang strukturalisme, tapi gagasannya tidak selalu mengekor pada konsep pemula strukturalisme, yaitu Bloomfield. Oleh karena itu, Harris disebut dengan …”who is a significant transitional figure between structural and generative transformational linguistics (Macly dalam Samsuri, 1988:100).
Dalam studinya, Chomsky tidak hanya mengambil jurusan lingusitik saja, namun ia juga mengambil jurusan Matematika dan Filsafat. Kajian bidang matematikanya memengaruhi Chomsky dalam model penyusunan aksioma linguistik yang diformulasikan. Sedangkan filsafat memengaruhi Chomsky dalam menilai wawasan folisofis tata bahasa strukturalisme yang banyak bertumpuh pada paham empiris.

Fungsi Tata Bahasa Generatif Transformasi
Berdasarkan uraian tentang TGT di atas, kita mengetahui bahwa Chomsky telah menuangkan idenya dalam sebuah buku yang berjudul Syntactic Structure. Setelah ia mengungkapkan konsep TGT secara mendalam, akhirnya Chomsky berkesimpulan bahwa tugas teori linguitik adalah menangkap perangkat kaidah yang terbatas, yang secara tuntas mampu menjelaskan ciri gramatikal dari sejumlah kalimat yang tak terbatas.Jadi dengan adanya TGT ini, kita bisa mengetahui seperangkat kaidah kalimat secara jelas.

Penutup
Demikianlah diskusi kita tentang Tata Bahasa Generatif Transformasi. Singkatnya, dari gagasan tersebut, kita mengetahui bahwa mengkaji suatu bahasa tidak harus dihadapkan pada komponen-komponen kebahasaan yang sudah paten. Namun, pengkajian bahasa bisa dimulai dari cara kerja secara deduktif yang dibangun oleh konstruk hipotetik tertentu.

* Harry Prasetyo

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris UIN Malang. Sekarang menyambi sebagai Ketua IPNU UIN Malang. Pemuda asal Jombang ini juga bergiat di KLM (Komunitas Linguistik Mahasiswa) Malang

Permalink 11 Komentar

Fungsi Transformatif Bahasa

8 Maret , 2008 at 5:30 pm (Filsafat, Linguistik)

(Pembacaan Wacana Linguistik Pasca Strukturalisme)

Oleh: Musthafa Amin

Manusia adalah makhluk yang unik dan menarik untuk dikaji. Telah beragam disiplin ilmu telah lahir akibat meneliti mereka. Segala hal terkait, telah memunculkan diskursus yang hampir sulit tuntas untuk dibahas. Puncaknya, di zaman modern, fase pemikiran filsafat lebih cenderung atau bahkan totalitas menjadikan manusia sebagai objek wacana filosofis (antroposentris). Pada era antroposentris, manusia secara tidak langsung mengukuhkan kekuatannya lewat rasio dan eksistensialisme-nya. Namun pada penghujung abad modern, yang lebih berkembang adalah pemikiran filsafat logosentris yang menempatkan bahasa sebagai centre (pusat) wacana. Perubahan yang tidak lain adalah sebagai kelanjutan dari antroposentrisme karena bahasa sendiri adalah manifestasi totalitas pemikiran manusia yang dihasilkan dari kemampuan manusia untuk membentuk lambang dan memberi simbol untuk menandai realitas.

Johan P. Wisok (2003) menyatakan bahwa bahasa adalah ajang pertemuan pelbagai penelitian seperti fenomenologi, linguistik, filsafat bahasa, teologi, psikoanalisis, antropologi budaya, sosiologi, historiografi, ilmu perbandingan agama, dan seterusnya. Bahasa diletakkan sebagai medium manusia dalam berhubungan dengan dunia luar dirinya seperti alam, makhluk infrahuman, sesama manusia, sekaligus mengonstitusikan hal di luar dirinya. Bahkan menegaskan bahwa bahasa merupakan media justifikatif manusia itu sendiri.

Dalam literatur linguistik (wacana kebahasaan), dinyatakan bahwa sejak Plato hingga akhir abad ke-19 kajian kebahasaan bersifat diakronik, yaitu kajian yang membahas hubungan genetik pada tiap-tiap bahasa dan dicari ketersambungannya. Runtutannya pun diperjelaskan kembali sehingga ditemukan adanya hubungan antarbahasa di dunia.

Namun pada tahun 1960-an, kecenderungan itu mulai berubah. Seorang pakar linguistik kelahiran Swiss, Ferdinand de Sausurre membawa perubahan pada wacana linguistik. Karya monumentalnya, Cours de Linguitique Général, untuk kali pertama menjadikan bahasa sebagai objek ilmiah. Ia mengalihkan kajian kebahasaan menjadi bersifat sinkronik, dengan penelitian struktural-gramatikal menjadi titik tekannya. Perhatian utamanya adalah meneliti cara-cara dan mekanisme berbahasa yang meliputi tutur kata, dan bunyi dalam kaitannya dengan sejarah, institusi sosial, dan konteks di mana bahasa tersebut berkembang.

Strukturalisme; Sebuah Ulasan Singkat
Pada awal kelahiran Strukturalisme, nama Ferdinand de Sausurre memang tidak bisa dilupakan begitu saja. Sebagai bapak linguistik modern, ia melakukan pendekatan struktural pada bahasa sebagai metode yang otonom. Salah satu gagasan de Saussure yang terkenal adalah perbedaan langue (bahasa sebagai sistem tanda atau kode) dan parole (bahasa sebagai wacana). Parole bersifat individual dan intensional (disengaja) sebab melalui ucapan seorang pembicara menyampaikan tentang sesuatu kepada orang lain; parole merupakan peristiwa yang kebetulan dan sewenang-wenang (arbitrary). Langue, sebaliknya, merupakan struktur kolektif dan anonim, yang relatif stabil dan merupakan aturan yang mengikat masyarakat bahasa. Akan tetapi sesudah membuat perbedaan mendasar ini, Saussure langsung mengambil keputusan epistemologis dengan memberi prioritas kepada langue.

Pendekatan struktural, pada mulanya, dipakai untuk meneliti satuan bahasa yang lebih kecil dari kalimat, seperti fonem dan morfem. Tetapi dengan cepat sekali meluas dan diterapkan pada bidang lainnya. Pertama, model ini dipakai untuk meneliti wacana yang lebih luas dari kalimat. Kedua, struktural selanjutnya dipakai untuk meneliti kebudayaan dalam arti yang seluas-luasnya melampaui studi bahasa yang langsung (Wisok: 2003). Perluasan aplikasi model struktural dari fonemik dan morfologi ke bidang kebudayaan dalam arti luas ini hanya mungkin dibuat dengan asumsi dasar dari pihak strukturalisme yaitu bahwa wacana dan pelbagai aspek kebudayaan tersusun menurut satuan bahasa yang lebih kecil dari kalimat.

Karena bahasa merupakan sebuah sistem tertutup, arti sebuah tanda bahasa tidak bergantung dari maksud subjektif pembicara ataupun dari referensinya pada dunia objektif. Dalam artian, lebih bergantung dari oposisi biner antara signifier (penanda) dan signified (tinanda)1. Dengan kata lain, makna sebuah tanda dalam pengertian strukturalis adalah nilai diferensialnya. Sebagaimana dilontarkan Fayyadl dengan mengutip Sausurre (2005, 37), penanda membentuk aspek material bahasa, sementara tinanda membentuk aspek material bahasa. Hubungan yang berkesinambungan antarkeduanya diperlukan untuk mengomunikasikan gagasan di antara sesama penutur. Kita contohkan dengan bunga. Sekuntum ranum bunga yang tumbuh liar di padang rumput ilalang bukanlah sebuah tanda. Tetapi, ketinga bunga tersebut ditabur di acara perkabungan, seketika ia menjadi tanda, yakni menimbulkan pesan bahwa yang bersangkutan berbelasungkawa.

Strukturalisme mencerminkan hasrat dan keinginan manusia untuk mengontrol dan menyimpulkan fenomena ke dalam sistem-sistem yang baku. Bahasa diandaikan sebagai satu kesatuan intensional yang bekerja secara organis dengan tatanan dan unit-unitnya yang dapat diramalkan. Paham ini menjelaskan bahwa produksi makna merupakan efek dari struktur terdalam dari bahasa, dan kebudayaan bersifat analog dengan struktur bahasa, yang diorganisasikan secara internal dalam oposisi biner: hitam-putih, baik-buruk, lelaki-perempuan, dan lain-lain. Karena itulah strukturalisme lebih bersifat eksklusif dengan satu pemaknaan bahasa. Ini berdasarkan struktur-struktur bahasa yang terjawantahkan sedemikian hierarkis dan memiliki tujuan yang jelas, yaitu menyampaikan makna tunggal yang dikehendaki the author (pengarang).

Post strukturalisme; Kritik atas Strukturalisme
Bahasa yang pada permulaannya tidak lebih sebagai media komunikatif transformatif telah dibenturkan dengan sisi tak berujung. Ia melebar ke segala arah. Bahasa bukan lagi sebagai media komunikasi an sich. Karena bahasa berkembang sedemikian rupa. Dengan bahasa, manusia dapat berpikir sehingga tidak hanya dilihat sebagai kadar “medium” sebagaimana terdapat di dalam pemikiran konvensional tentang bahasa. Ia adalah media untuk mencari dan mengungkapkan kebenaran (logos).

Citra logos (kebenaran) yang sebelumnya berpusat pada satu titik telah hancur lebur. Keseragaman yang digembor-gemborkan strukturalisme menghilang tanpa jejak, dimulai dari Niescthe hingga Derrida. Pondasi modernisme yang dibangun dengan narasi-narasi besar—sebagaimana diungkapkan Lyotard—perlahan mulai runtuh dan telah didekontruksi secara besar-besaran. Awal kejayaan post strukturalismepun telah dimulai. Perubahan yang juga berpengaruh pada wacana kebahasaan.

Pandangan strukturalisme tentang makna yang diorganisasikan secara internal dalam oposisi biner, sama dengan mengatakan bahwa makna bersifat stabil. Kestabilan makna inilah yang menjadi pusat serangan post strukturalisme atau pascastrukturalisme atas strukturalisme. Tokoh-tokoh utama post strukturalisme, seperti Derrida dan Foucault, menyatakan bahwa makna tidaklah stabil, ia selalu dalam proses. Makna tidak bisa dibatasi dalam satu kata, kalimat atau teks khusus, tetapi ia merupakan hasil dari hubungan antarteks: intertektualitas.

Pada prinsipnya, hubungan antarteks di dalam bahasa akan selalu terjalin erat tidak akan pernah berhenti berproses. Teks semacam ini juga memiliki struktur, yang diistilahkan Derrida dengan structure of a becoming, struktur yang meliputi probabilities (kemungkinan-kemungkinan) baru dan membuka jalan untuk pemaknaan baru dan tidak terbatas. Secara sederhana saja, tak ada kata tunggal di dalam menafsiri bahasa, karena makna tanda bahasa akan selalu terkait dengan struktur yang menaunginya dan semuanya akan kembali pada setting sosial di mana bahasa tersebut berada dan digunakan.

Manusia dan Bahasa; sebuah Akhir Tulisan
Manusia bisa mentransformasikan dunia melalui bahasa dan sebaliknya. Melalui bahasa pula dunia mentransformasikan manusia. Pemahaman terhadap bahasa menghasilkan problematika yang signifikan di dalam logosentrisme. Struktur bahasa telah menjadi objek pembahasan filsafat, bukan lagi manusia seperti masa modern, sehingga struktur bahasa telah melingkari manusia dengan sistem yang nota bene diciptakan oleh manusia sendiri, karena dalam masalah ini, manusia tidak berbicara sendiri melainkan dibicarakan, yaitu oleh struktur-struktur bahasa (Kaelan: 297).

Sudah sewajarnya, kita ikut serta dalam mengembangkan wacana kebahasaan karena tanpa bahasa kita bukanlah apa-apa, tidak lebih rendah dan lebih tinggi dari makluk lain. Bahasa adalah ciri utama yang membedakan kita dengan makhluk lainnya. Menurut Komaruddin Hidayat (2004), proses berbahasa melibatkan sejumlah saraf dalam otak yang meramu kata-kata agar dapat dipahami publik. Sebab itu, berbahasa juga dapat dipahami sebagai proses berpikir dan sepantasnyalah kita tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diperoleh untuk mempelajari bahasa.

 Berikut adalah Tabel Pemikiran dan Karakteristik beberapa tokoh Strukturalisme

tabel.jpg

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Next page »