Ruang Tunggu

7 Januari , 2011 at 9:30 am (Puisi)

Oleh: Muhammad Zaini

 

Di ruang tunggu waktu adalah komponen sepi

Aku setia menyimak arus darah

Menghanyutkan doa-doa yang pergi

Ke pori-pori yang gelisah siang ini

 

Matahari menggelinding ke derajat didihku

Siang-siang membengkak

Tak sanggup lagi menampung tubuhku

Yang setiap kali merindumu

Partikel waktu mengucur

Menenggelamkan ruang tunggu

 

Sardjito, yogyakarta, 17-12-2010, 13:12

Iklan

Permalink 5 Komentar

Vagina yang Haus Sperma

22 Agustus , 2010 at 2:00 pm (Sastra, Tela'ah Sastra)

Vagina yang Haus Sperma:
Heteronormatifitas dan Falosentrisme dalam Novel Ayu Utami

oleh Katrin Bandel

Sumber: Penyair Nusantara Jogja

Beberapa waktu yang lalu saya sempat berdebat dengan seorang kawan mengenai karya Ayu Utami. Setelah membaca beberapa tulisan saya yang mengkritik karya itu dan mempertanyakan politik sastra seputarnya, kawan saya tersebut dapat memahami pandangan saya.

Tapi meskipun demikian, baginya novel Ayu Utami tetap memiliki sebuah kelebihan: Menurut pengamatannya, novel Saman merupakan karya pertama yang dengan cukup tepat merepresentasikan gaya hidup kelompok masyarakat tertentu, yaitu gaya hidup yang dipilih sebagian perempuan kelas menengah perkotaan di Indonesia (terutama Jakarta). “Memang seperti itulah gaya hidup dan pergaulan sebagian kerabat dan kenalan saya di Jakarta”, jelas kawan saya itu dengan merujuk pada deskripsi kehidupan keempat tokoh perempuan muda dalam novel Saman dan Larung. “Baru dalam novel Ayu Utami saya menemukan representasi realitas yang saya kenal tersebut.”

Mungkin penilaian kawan saya tersebut ada benarnya. Tidak banyak novel yang menggambarkan kehidupan perempuan kelas menengah perkotaan Indonesia sebelum terbitnya Saman (1998), apalagi dengan fokus perilaku seks. Menurut pandangan saya, pada dasarnya gaya hidup perempuan kelas menengah bukan tema yang tidak menarik atau tidak relevan sebagai tema utama sebuah novel Indonesia.

Namun ada hal yang bagi saya terasa sangat mengganggu pada novel Saman/Larung dan wacana seputarnya. Baik di Indonesia maupun di luar Indonesia, novel Ayu Utami tersebut umumnya tidak diperkenalkan dan dibicarakan sekadar sebagai representasi gaya hidup sekelompok perempuan perkotaan (yaitu kelompok masyarakat yang relatif kecil).

Karya Ayu Utami kerapkali diperkenalkan sebagai karya feminis yang dengan berani dan subversif menyuarakan perlawanan baik terhadap tabu seputar seksualitas maupun terhadap rejim Orde Baru. Disamping itu, bahasa dan gaya tulisnya konon mengandung pembaharuan yang mengagumkan.

Sejauh ini saya belum pernah membaca pembahasan yang dapat menerangkan secara argumentatif mengapa karya Ayu Utami dapat disebut feminis atau pembaharuan bahasa dan gaya tulis apa yang dilakukannya. Tulisan yang saya baca sering begitu saja mengasumsikan kelebihan-kelebihan tersebut. Baca entri selengkapnya »

Permalink 5 Komentar

Taufiq Ismail: Menulis dengan Keharuan Hati

22 April , 2010 at 12:38 am (Sastra, Taufiq Ismail, Tokoh) (, , )

Maman S Mahayana

Sumber: bangakbar.com

Taufiq Ismail, Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit 1—4 (Jakarta: Horison, 2008; xlii + 1076 hlm; xxxiv + 801 hlm; xxxii + 880 hlm; xxxviii + 101 hlm)

“Taufiq Ismail tak ingin memperingati usianya, tetapi perbuatannya. Sebab, hidup itu perbuatan,” begitu Fadli Zon, Ketua Panitia Peluncuran Buku Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit 1—4 (Jakarta: Horison, 2008; xlii + 1076 hlm; xxxiv + 801 hlm; xxxii + 880 hlm; xxxviii + 101 hlm) menegaskan semangat yang melandasi acara peluncuran keempat buku karya Taufiq Ismail (14 Mei 2008) di Aula Mahkamah Konstitusi, Jakarta. Keseluruhannya, keempat buku itu berjumlah 3004 halaman, termasuk halaman pelengkap dan indeks. Inilah rekor baru ketebalan buku karya seorang penyair.

Meskipun begitu, tentu saja yang jauh lebih penting bukanlah perkara tebal—tipisnya buku, melainkan isinya; kedalaman dan gagasannya dalam mencermati dan memandang berbagai persoalan dan mengungkapkannya dalam berbagai ragam tulisan—prosa, puisi, drama, esai yang sedap dibaca. Meski juga ketebalan itu belum dapat dianggap mewakili kesegenapan kiprah penyair Angkatan 66 itu dalam kesusastraan dan kebudayaan Indonesia, setidak-tidaknya, kita dapat memandang sebuah lanskap yang membentangkan dinamika sosio-kultural bangsa ini dalam bingkai perpsektif perjalanan berkebudayaan 55 tahun Taufiq Ismail.
*** Baca entri selengkapnya »

Permalink 1 Komentar

Kata Sebagai Unsur Paling Esensial dalam Sebuah Sajak

3 Oktober , 2009 at 6:49 pm (Budi Darma, Kritik Sastra, Sastra, Tela'ah Sastra) (, , , )

Oleh: Titon Rahmawan

Budi Darma dalam pengantar atas kumpulan cerpennya yang berjudul ‘Orang-Orang Bloomington’ menyatakan bahwa unsur utama yang paling berperanan dalam sebuah cerita pendek adalah tema, namun apakah tema memegang peranan yang sama esensialnya dalam sebuah sajak? Pertanyaan tersebut cukup sering dilontarkan oleh orang awam yang berminat terhadap karya sastra dan mereka yang ingin mendalami sajak pada khususnya, namun ironisnya pertanyaan itu belum tentu dapat dijawab oleh orang yang mengaku dirinya sebagai seorang penyair sekali pun. Mengapa muncul hal yang demikian adalah dikarenakan oleh begitu banyaknya calon penyair yang sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri. Para calon penyair itu terlampau sibuk dalam mengolah gagasan-gagasan untuk menjadikan karyanya sebagai sebuah karya yang fenomenal, sehingga terbebani oleh sejumlah misi untuk menyampaikan ‘sesuatu’ kepada pembacanya. Sesuatu itu bisa berupa pesan moral, khotbah, protes politik, kajian filsafat, kritik sosial, masalah cinta, masalah keluarga, atau laporan jurnalistik dengan berbagai gaya ungkap, akan tetapi si penyair lupa bahwa sesunguhnya ia tengah menulis sebuah sajak dan bukannya propaganda politik, pamflet, teks iklan, surat cinta atau berita koran. Banyak calon penyair lupa atau tidak tahu bahwa esensi sebuah sajak sesungguhnya bukan pada masalah tema atau gagasan tapi lebih pada kata-kata, sebagaimana ditegaskan oleh Sapardi Djoko Damono salah seorang penyair terkemuka kita bahwa kata-kata adalah segala-galanya dalam puisi.
Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Sair Sajak Edi Slenger (1)

19 Maret , 2009 at 4:26 pm (Puisi, Sastra)

NARASI XIX

(Sangsi)

Tidakkah kau saksikan

Burung-burung di atas gereja

Itu memeram rindu semisal

Aku yang kau tinggalkan dengan

Puisi tak jadi lantaran sebuah kata

Yang lupa aku rangkai

Namun entah mengapa kudapati jawabmu

— Takada seekor burungpun yang kusaksikan

di atas gereja itu —

Malang, 2007

NARASI XX

Gugur layu bunga

: Kemarau berdendang

di penghujung waktu

Malang, 2007

NARASI XXI

Bulan sabit di pinggir telaga

Mengeram kejora di kening ibu

Taukah kau? Kau tak menjawab

Malah berpaling ke semak-semak

Lalu beranjak

Malang, 2007

NARASI XXII

Gerimis di luar itu

Kini berganti hujan

“Ya berganti hujan, hujan

kata namanya” kemudian

menulis dauanan di halaman

bersama diammu

Malang, 2007

NARASI XXII

Hujan yang rintik menulismu pada

Daunan yang mengering, padahal

Tak kemarau

Kaupun memulainya dengan kuncup

Lalu kembang tanpa bertanya tentang layu

Malang, 2007

n1511464492_9978*Edi Slenger, lahri di Madura 1986, mahasiswa Aktif Studi Bahasa dan Sastra Inggris UIN Malang. Pegiat di sanggar sastra “Tinta Langit Malang”, Teater K2 UIN Malang. Publikasi Karya: Puisi “Nyanyian Ibu” (Koran Harian Malang Post), Puisi “Pijar Sabda” (Juara 1 Lomba sajak UIN Malang), Puisi “Perjalanan 1” (Majalah sastra el-Madani). Puisi “Narasi dan Kidung Senja” (Koran Harian Surya) Email: edislenger@telkom.net

Permalink 11 Komentar

Next page »