Taufiq Ismail: Menulis dengan Keharuan Hati

22 April , 2010 at 12:38 am (Sastra, Taufiq Ismail, Tokoh) (, , )

Maman S Mahayana

Sumber: bangakbar.com

Taufiq Ismail, Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit 1—4 (Jakarta: Horison, 2008; xlii + 1076 hlm; xxxiv + 801 hlm; xxxii + 880 hlm; xxxviii + 101 hlm)

“Taufiq Ismail tak ingin memperingati usianya, tetapi perbuatannya. Sebab, hidup itu perbuatan,” begitu Fadli Zon, Ketua Panitia Peluncuran Buku Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit 1—4 (Jakarta: Horison, 2008; xlii + 1076 hlm; xxxiv + 801 hlm; xxxii + 880 hlm; xxxviii + 101 hlm) menegaskan semangat yang melandasi acara peluncuran keempat buku karya Taufiq Ismail (14 Mei 2008) di Aula Mahkamah Konstitusi, Jakarta. Keseluruhannya, keempat buku itu berjumlah 3004 halaman, termasuk halaman pelengkap dan indeks. Inilah rekor baru ketebalan buku karya seorang penyair.

Meskipun begitu, tentu saja yang jauh lebih penting bukanlah perkara tebal—tipisnya buku, melainkan isinya; kedalaman dan gagasannya dalam mencermati dan memandang berbagai persoalan dan mengungkapkannya dalam berbagai ragam tulisan—prosa, puisi, drama, esai yang sedap dibaca. Meski juga ketebalan itu belum dapat dianggap mewakili kesegenapan kiprah penyair Angkatan 66 itu dalam kesusastraan dan kebudayaan Indonesia, setidak-tidaknya, kita dapat memandang sebuah lanskap yang membentangkan dinamika sosio-kultural bangsa ini dalam bingkai perpsektif perjalanan berkebudayaan 55 tahun Taufiq Ismail.
*** Baca entri selengkapnya »

Permalink 1 Komentar

Jati Diri (….) Indonesia; Titik dalam Tanda Kurung;

28 Maret , 2008 at 5:17 pm (Puisi, Sastra, Taufiq Ismail, Tela'ah Sastra)

Indonesia Di Bawah Awan Gelap dalam (Satu) Puisi Taufiq Ismail (Saja)
Oleh: Musthafa Amin

rokok.jpg

Tanda kurung di atas, bukanlah kesalahan ketik. Di dalamnya pun kami bermaksud memberikan rangkai titik. Dua tanda kurung (buka dan tutup) dan beberapa titik di judul bersinambung dengan tiga rangkai kata yang penulis beri judul di atas.

Ada nada sinisme di atas. Hal ini mengacu pada karakter bangsa Indonesia. Dahulu, kita dipaksa senyum dan bangga dengan sebutan bangsa ramah. Kali itu, wujud senyuman adalah perasan keramahan, kebaikan dan kasih sayang. Jauh, ketika bangsa luar telah meragamkan senyuman pada kategori senang, sinis dan benci, bangsa Indonesia masih menganggap senyum adalah rahmat. Tetapi itu masa silam.

Jikalau menilik judul, ada yang perlu dipahami, ia tidak hendak menjebak kita pada permainan definisi. Penggamblangan teoritis maupun epistemologis, sungguh, tak akan penulis berikan di sini. Paparan tentang jati diri Indonesia, sungguh begitu luas, dikaji dari sudut mana pun akan ada peristiwa dan monumen pengetahuan yang menggiurkan untuk ditafsirkan. Begitulah…

“Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok”

Sajak “Tuhan Sembilan Senti” Taufiq Ismail, penulis kira menjadi salah satu tautan untuk mengisi titik dalam tanda kurung. Lahan yang subur dengan sekali tancap langsung berbuah, telah berhasil menempatkan tembakau menjadi identitas bangsa Indonesia sebagai bangsa perokok tulen. Merokok, menjadi kebanggaan, klaim superior dan diperparah sebagai pembeda lelaki dengan perempuan.

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok
Rokok telah menjadi dewa, berhala, Tuhan baru, diam-diam menguasai kita
Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran, di toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok

Taufiq Ismail menyebut rokok adalah berhala-berhala kecil bukanlah tanpa alasan. Masyarakat Indonesia memandang rokok bukanlah pada lahan yang semestinya digarap, disemai dan dipanen hikmahnya. Ia secara simbolis adalah tuhan. Penjamin kepastian dalam episode surat kejantanan-meminjam istilah Wina Bojonegoro.

Mengikuti sabda Nietzsche, “Tuhan” hanyalah suatu model untuk menunjuk setiap bentuk jaminan kepastian untuk hidup dan manusia. Karena itu, tulis Nieztsche, manusia sendiri harus menciptakan dunia dan memberi nilai. Hal yang kurang lebih serupa disampaikan WS Rendra dalam puisi Sebatang Lisong, “kitalah yang harus merumuskan keadaan”.

Setidaknya nilai itu harus dibongkar. Diangkat hingga ke akar-akarnya. Seperti kanker, semua bibit-bibitnya harus dieksekusi sehingga mati dan terbuang. Tanpa terkecuali. Jati diri (perokok) manusia Indonesia sebenarnya nilai semu, ketika ia menjadi landasan kepastian berbias pertikaian dan memperparah perbedaan. Dengan jarak yang mematikan, jelasnya.

Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan…

Ditinjau dari agama pun begitu. Para ulama’ meracau demi kenikmatan sesaat. Dalih haram dan makruh yang diperkeruh kehalalan semakin ketat ditonjolkan. Semuanya demi satu hal, kepuasan menghisap, merengkuh resapan nikotin dalam rongga-rongga paru. Pernahkah kita berpusing ke belakang di ujung silam. Saat kali pertama manusia Indonesia memilin-milin tembakau dengan bebasnya, menghisapnya dengan kesadaran dan tanpa perlu melarang bahwa kenikmatan itu haram.

Apa yang telah digumamkan di atas, hanya tentang tembakau dibungkus kertas yang berada di Indonesia. Ini hanya dari rokok saja dan pernyataan seorang Taufiq Ismail saja dengan satu puisi pula. Belum lagi titik dalam tanda kurung itu ditautkan pada persepsi lain nama dan rujukan. Begitu ribetnya membahas jati diri Indonesia. Ah saya pun tidak paham dengan kelanjutan oretan ini…

Download Di sini
Sajak Tuhan Sembilan Senti Taufiq Ismail [Download]

Permalink 19 Komentar

Biografi; Taufiq Ismail

8 Maret , 2008 at 6:45 pm (Biografi, Sastra, Taufiq Ismail, Tokoh)

taufik00.gif

Taufiq Ismail lahir di Bukittinggi, 25 Juni 1935. Masa kanak-kanak sebelum sekolah dilalui di Pekalongan. Ia pertama masuk sekolah rakyat di Solo. Selanjutnya, ia berpindah ke Semarang, Salatiga, dan menamatkan sekolah rakyat di Yogya. Ia masuk SMP di Bukittinggi, SMA di Bogor, dan kembali ke Pekalongan. Pada tahun 1956–1957 ia memenangkan beasiswa American Field Service Interntional School guna mengikuti Whitefish Bay High School di Milwaukee, Wisconsin, AS, angkatan pertama dari Indonesia.

Ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan, Universitas Indonesia (sekarang IPB), dan tamat pada tahun1963. Pada tahun 1971–1972 dan 1991–1992 ia mengikuti International Writing Program, University of Iowa, Iowa City, Amerika Serikat. Ia juga belajar pada Faculty of Languange and Literature, American University in Cairo, Mesir, pada tahun 1993. Karena pecah Perang Teluk, Taufiq pulang ke Indonesia sebelum selesai studi bahasanya.

Semasa mahasiswa Taufiq Ismail aktif dalam berbagai kegiatan. Tercatat, ia pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa FKHP UI (1960–1961) dan Wakil Ketua Dewan Mahasiswa (1960–1962).
Ia pernah mengajar sebagai guru bahasa di SMA Regina Pacis, Bogor (1963-1965), guru Ilmu Pengantar Peternakan di Pesantren Darul Fallah, Ciampea (1962), dan asisten dosen Manajemen Peternakan Fakultas Peternakan, Universitas Indonesia Bogor dan IPB (1961-1964). Karena menandatangani Manifes Kebudayaan, yang dinyatakan terlarang oleh Presiden Soekarno, ia batal dikirim untuk studi lanjutan ke Universitas Kentucky dan Florida. Ia kemudian dipecat sebagai pegawai negeri pada tahun 1964.

Taufiq menjadi kolumnis Harian KAMI pada tahun 1966-1970. Kemudian, Taufiq bersama Mochtar Lubis, P.K. Oyong, Zaini, dan Arief Budiman mendirikan Yayasan Indonesia, yang kemudian juga melahirkan majalah sastra Horison (1966). Sampai sekarang ini ia memimpin majalah itu.

Taufiq merupakan salah seorang pendiri Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Taman Ismail Marzuki (TIM), dan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) (1968). Di ketiga lembaga itu Taufiq mendapat berbagai tugas, yaitu Sekretaris Pelaksana DKJ, Pj. Direktur TIM, dan Rektor LPKJ (1968–1978). Setelah berhenti dari tugas itu, Taufiq bekerja di perusahaan swasta, sebagai Manajer Hubungan Luar PT Unilever Indonesia (1978-1990).

Pada tahun 1993 Taufiq diundang menjadi pengarang tamu di Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, Malaysia.
Sebagai penyair, Taufiq telah membacakan puisinya di berbagai tempat, baik di luar negeri maupun di dalam negeri. Dalam setiap peristiwa yang bersejarah di Indonesia Taufiq selalu tampil dengan membacakan puisi-puisinya, seperti jatuhnya Rezim Soeharto, peristiwa Trisakti, dan peristiwa Pengeboman Bali.

Hasil karya:

1. Tirani, Birpen KAMI Pusat (1966)
2. Benteng, Litera ( 1966)
3. Buku Tamu Musium Perjuangan, Dewan Kesenian Jakarta (buklet baca puisi) (1972)
4. Sajak Ladang Jagung, Pustaka Jaya (1974)
5. Kenalkan, Saya Hewan (sajak anak-anak), Aries Lima (1976)
6. Puisi-puisi Langit, Yayasan Ananda (buklet baca puisi) (1990)
7. Tirani dan Benteng, Yayasan Ananda (cetak ulang gabungan) (1993)
8. Prahara Budaya (bersama D.S. Moeljanto), Mizan (1995)
9. Ketika Kata Ketika Warna (editor bersama Sutardji Calzoum Bachri, Hamid Jabbar, Amri Yahya, dan Agus Dermawan, antologi puisi 50 penyair dan repoduksi lukisan 50 pelukis, dua bahasa, memperingati ulangtahun ke-50 RI), Yayasan Ananda (1995)
10. Seulawah — Antologi Sastra Aceh (editor bersama L.K. Ara dan Hasyim K.S.), Yayasan Nusantara bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Khusus Istimewa Aceh (1995)
11. Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Yayasan Ananda (1998)
12. Dari Fansuri ke Handayani (editor bersama Hamid Jabbar, Herry Dim, Agus R. Sarjono, Joni Ariadinata, Jamal D. Rahman, Cecep Syamsul Hari, dan Moh. Wan Anwar, antologi sastra Indonesia dalam program SBSB 2001), Horison-Kakilangit-Ford Foundation (2001)
13. Horison Sastra Indonesia, empat jilid meliputi Kitab Puisi (1), Kitab Cerita Pendek (2), Kitab Nukilan Novel (3), dan Kitab Drama (4) (editor bersama Hamid Jabbar, Agus R. Sarjono, Joni Ariadinata, Herry Dim, Jamal D. Rahman, Cecep Syamsul Hari, dan Moh. Wan Anwar, antologi sastra Indonesia dalam program SBSB 2000-2001, Horison-Kakilangit-Ford Foundation (2002)

Karya terjemahan:
1. Banjour Tristesse (terjemahan novel karya Francoise Sagan, 1960)
2. Cerita tentang Atom (terjemahan karya Mau Freeman, 1962)
3. Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam (dari buku The Reconstruction of Religious Thought in Islam, M. Iqbal (bersama Ali Audah dan Goenawan Mohamad), Tintamas (1964)

Atas kerja sama dengan musisi sejak 1974, terutama dengan Himpunan Musik Bimbo (Hardjakusumah bersaudara), Chrisye, Ian Antono, dan Ucok Harahap, Taufiq telah menghasilkan sebanyak 75 lagu.

Ia pernah mewakili Indonesia baca puisi dan festival sastra di 24 kota di Asia, Amerika, Australia, Eropa, dan Afrika sejak 1970. Puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa, Sunda, Bali, Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, dan Cina.

Kegiatan kemasyarakatan yang dilakukannnya, antara lain menjadi pengurus perpustakaan PII, Pekalongan (1954-56), bersama S.N. Ratmana merangkap sekretaris PII Cabang Pekalongan, Ketua Lembaga Kesenian Alam Minangkabau (1984-86), Pendiri Badan Pembina Yayasan Bina Antarbudaya (1985) dan kini menjadi ketuanya, serta bekerja sama dengan badan beasiswa American Field Service, AS menyelenggarakan pertukaran pelajar. Pada tahun 1974–1976 ia terpilih sebagai anggota Dewan Penyantun Board of Trustees AFS International, New York.

Ia juga membantu LSM Geram (Gerakan Antimadat, pimpinan Sofyan Ali). Dalam kampanye antinarkoba ia menulis puisi dan lirik lagu “Genderang Perang Melawan Narkoba” dan “Himne Anak Muda Keluar dari Neraka” dan digubah Ian Antono). Dalam kegiatan itu, bersama empat tokoh masyarakat lain, Taufiq mendapat penghargaan dari Presiden Megawati (2002).

Kini Taufiq menjadi anggota Badan Pertimbangan Bahasa, Pusat Bahasa dan konsultan Balai Pustaka, di samping aktif sebagai redaktur senior majalah Horison.

Anugerah yang diterima:

1. Anugerah Seni dari Pemerintah RI (1970)
2. Cultural Visit Award dari Pemerintah Australia (1977)
3.South East Asia (SEA) Write Award dari Kerajaan Thailand (1994)
4. Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa (1994)
5. Sastrawan Nusantara dari Negeri Johor,
Malaysia (1999)
6. Doctor honoris causa dari Universitas Negeri Yogyakarta (2003)

Taufiq Ismail menikah dengan Esiyati Yatim pada tahun 1971 dan dikaruniai seorang anak laki-laki, Bram Ismail. Bersama keluarga ia tinggal di Jalan Utan Kayu Raya 66-E, Jakarta 13120.
Telepon (021) 8504959
Faksimile (021) 8583190
Pos-el: Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya

Dilansir dari situs Balai Bahasa Bandung

Berikut alamat situs yang mengulas tentang biografi Taufiq Ismail

TAUFIQ ISMAIL di Figur Publik

TAUFIQ ISMAIL di Wiikipedia Indonesia

TAUFIQ ISMAIL di Forum Bahasa & Sastra

Permalink 45 Komentar