Kepribadian dalam Tuturan Bahasa Jawa

12 April , 2009 at 2:30 pm (Linguistik)

Oleh: Laine Berman*

University of Hawaii

Abstrak:

Makalah ini bermaksud menganalisa wacana sehari-hari (sesrawungan sakdina-dinane) untuk memahami bagaimana wong cilik mewujudkan makna di dalam konteks lokal, dan di dalam sistem masyarakat yang sampai kini masih serba tidak adil, meski sudah jaman “reformasi”. Dengan menerapkan teori-teori konstruksi sosial (social constructionism), analisis saya mencerminkan bagaimana sekelompok wong cilik, yaitu tenaga kerja wanita dari kota Yogyakarta, mewujudkan identitasnya melalui penggunaan Bahasa Jawa. Untuk tujuan ini, saya menggunakan teori agency , yaitu tanggungjawab pribadi terhadap apa yang dituturkan, kepada lawan bicara, dan siapa yang dibicarakan, yang semuanya dicerminkan dalam wacana. Tampak dari analisis ini bahwa kelompok tersebut menkonstruksikan diri sendiri sesuai dengan hierarki sosial yang berlaku, yang memaksakan mereka nrima ketidakadilan yang dihadapi. Mereka nrima karena memang tidak ada jalan keluar. Hal ini tidak mengherankan bagi mereka yang paham budaya Jawa dan sistem kekuasaan Orde Baru. Namun yang hendak saya tekankan di sini adalah bahwa wong ciliknya sendiri merelakan dirinya tertindas, bahkan memuliakan kebungkaman itu terhadap yang dianggap ‘nasib’. Penindasan ini adalah penindasan psikologis internal dan kepribadian wong cilik tersebut terwujud oleh kebiasaan ini. Karena begitu terbiasa tertindas (yang terwujud dalam struktur “sopan santun”), posisi ketidak berdayaan (disempowered) ini juga muncul dalam bahasa ngoko yang sering dianggap kasar, tidak sopan, dan tidak mencerminkan hormat. Hal ini akan saya buktikan dari segi fungsi bahasa dan tidak sekedar struktur (krama, krama inggil, dan sebagainya), yang sampai sekarang masih menguasai analisa Bahasa. Tujuan lain dari makalah ini adalah untuk memperkenalkan pendekatan yang saya pakai, yaitu antropologi linguistik, yang sejauh saya ketahui, belum umum digunakan di dalam bidang akademis maupun penelitian di Indonesia.

Pembukaan :

Analisis wacana yang dipergunakan di sini dimulai dengan merekam dan mentranskripsikan bahasa sehari-hari yang secara alami muncul dari sekelompok perempuan yang bekerja di suatu pabrik di Kota Yogyakarta. Tujuan saya dengan analisis ini adalah menggambarkan bagaimana kelompok tersebut mewujudkan makna dalam konteks lokal. Yang penting di sini adalah penggunaan bahasa sehari-hari,pergaulan manusia yang muncul tanpa tanya-jawab, tanpa intervensi peneliti. Teori yang dianut oleh analisis wacana (dari segi antropologis linguistik dan analisis wacana kritis) menegaskan bahwa bahasa adalah sumber budaya dan wacana adalah praktis budaya. Melalui bahasa, budaya diciptakan, diberi arti, dipelajari, dibentuk, dan direproduksi. Melalui bahasa kita menegakkan hubungan antara sistem budaya dan berbagai bentuk tatanan sosial. Kita juga bisa melihat secara langsung keberadaan (posisi) sekelompok manusia di dalam tatanan sosial tersebut, dan pengertian mereka terhadap dunia/lingkungan sekelilingnya.

Interaksi sosial merupakan sarana pokok bagi masyarakat untuk menafsirkan peristiwa-peristiwa sehari-hari dan menggunakan makna tersebut sebagai sumber pemahaman terhadap berbagai kegiatan, baik yang penting maupun yang sepele. Kita semua disosialisasikan melalui bahasa. Percakapan tidak terpisah dari interaksi sosial, kebudayaan, dan kepribadian. Analisa perilaku manusia seharusnya memperhatikan struktur dan fungsi percakapan yang muncul bersamaan dengan apa yang sedang ditelusurinya. Namun dalam kenyataan dan dalam teori bahasa, posisi kekekuasaanlah yang mendominasi. Sangat terbukti ada berbagai hal yang mampu membentuk atau mengontrol bahasa. Siapa yang menguasai bahasa, juga menguasai makna kehidupan.

Selain memperluas pengetahuan kita terhadap Basa Jawa, tujuan makalah ini adalah untuk membuka kesadaran terhadap masalah kekuasaan dalam bahasa dan nota bene terhadap kepribadian pembicara di bawah beban kekuasaan tersebut. Menurut teori analisa wacana, setiap sosok manusia adalah ahli bahasa (sangat bertentangan dengan teori Chomsky). Maksudnya, kita tidak usah menelaah atau mengecam kemampuan (competence) berbicara seseorang, tetapi menerima apa saja yang diucapkan olehnya sebagai ucapan yang baik, benar, sempurna dan bahkan brilian di dalam konteks aslinya. Lebih penting lagi, dengan teori ini, fokus analisa digeser dari kalimat dan tata bahasa bahasa baku di luar konteks, kepada pembicara dan ucapannya yang tidak dipisahkan dari konteks. Ucapan manusia jelas sangat tergantung pada konteks untuk produksi dan tafsirannya. Tujuannya jelas bukan untuk menggolongkan tingkat tutur atau mengkoreksi bahasa supaya baik dan benar, melainkan untuk memberdayakan pembicara sebagai makluk yang uwis dadi uwong. Dengan kata lain, tujuannya adalah untuk melihat bagaimana mereka menafsirkan keperluan sosial sekelilingnya. Secara struktural, dapat dibuktikan bahwa setiap ucapan membentuk atau membatasi ucapan berikutnya. Contohnya, sebuah pertanyaan mesti diikuti oleh sebuah jawaban yang pantas. Kita bisa yakin bahwa pertanyaan ‘apa kabar’ tidak akan dijawab dengan ‘belok kiri’.

Secara fungsional, percakapan juga tersusun secara teratur oleh pembicaranya sendiri. Penataan ini merupakan sumber analisa yang mencerminkan bagaimana pembicara sendiri menafsirkan percakapan yang sedang muncul sesuai dengan norma-norma sosial-budaya yang juga membentuk wacananya. Misalnya peraturan bicara, siapa yang bicara, apa yang bisa dibicarakan, siapa yang berhak bicara lebih banyak, dan lain lain. Melalui analisa ini, bisa ditemukan apa yang harus diketahui atau diikuti agar seseorang mampu bertindak sebagai anggota masyarakat itu.

Menurut para pakar psikologi-sosial dan wacana yang meneliti dalam bahasa Inggris saja, sang pembicara menjelaskan pengertian pribadi secara tata bahasa dalam tindakannya dengan kata ganti ‘saya, aku’ atau ‘kita, kami’ (O’Connor, 1994, 1995; Mühlhäusler & Harré, 1990). Tetapi, apakah teori ini masih berlaku dalam masyarakat yang menganggap seseorang yang berbicara tentang dirinya sendiri sebagai orang yang egois? Yang menjadi pertanyaan utama kini, apakah teori-teori barat tentang kepribadian ini bisa juga berlaku dengan sebuah bahasa yang tidak memerlukan ucapan subyek dan kata ganti? Lebih dahsyat lagi, apa sebetulnya diartikan oleh tradisi bahasa yang justru sangat menghargai ucapan yang menutupi subjek maupun jatidiri?

Tanggungjawab dan agency

Di Jawa, bahasa dan kepribadian semuanya terkait erat dengan hierarki sosial. Melalui makalah ini saya hendak berusaha menggambarkan bagaimana sekelompok perempuan meng’konstruksikan’ dirinya sendiri sesuai dengan keperluan konteks sebagai kontrak sosial yang terbentuk oleh hierarki tersebut. Keterkaitankepribadian dan hierarki sosial ini digambarkan dalam struktur wacana, dan dengan berbagai macam keterangan yang diucapnya. Kontrak sosial ini, yang mengikat perspektif diatas kepada kepribadian dan makna yang dibentuk oleh sekelompok pembicara, saya sebut agency bertanggungjawab.

Dalam definisi barat, agency adalah hak pembicara untuk melaksanakan keperluannya sehari-hari sebagai individu, yang jelas tidak berlaku dalam masyarakat Jawa. Dalam tulisan feminis, konsep agency disesuaikan kepada keperluan sosial perempuan. Agency di sini berarti “kemampuan pembicara untuk membuat makna di dalam interaksi sosial bersama orang lain” (Mahoney and Yngvesson, 1992:45).

Dengan pergeseran definisi ini, kita bisa mengaitkan agency kepada hubungan hierarkis dan tindakan strategis, yaitu merendahkan diri (andhap asor), suatu sikap yang esensial di Jawa. Tetapi teori ini masih belum mampu menjelaskan kebungkaman (Berman, 1998), dan cara Jawa yang mengutamakan kompromi daripada kejayaan hak ataupun keperluan individu. Agency harus berbenturan dengan norma-norma social perempuan Jawa yang berkaitan dengan tanggungjawabnya kepada komunitas. Seperti ditulis N. Sullivan (1994), komunitas memaksakan norma-norma sosial kepada sang perempuan, jadi kita harus memahami bagaimana sang perempuan membatasi agency nya sendiri. Tindakan nrima, dalam teori ini, bisa dipahami sebagai pilihan individu yang rasional dan logis. Dalam konteks ini, berarti subyek dan kegiatan social makin luas, rumit, dan peka terhadap norma-norma sosial di Jawa.

Karena penelitian saya berdasar kepada wacana, saya menggeser definisi agency lagi supaya menyinggung pilihan pembicara untuk bertanggungjawab kepada makna dan kerukunan yang sedang dikonstruksikannya pada saat bercakap-cakap. Penjelasan ideologis mengenai budaya Jawa selalu mengutamakan keperluan untuk menjelaskan sapa wonge dengan segala macam nilai relasional. Dalam penuturan yang saya analisa, bisa dilihat bahwa hubungan sosial memang sangat berperan sebagai faktor struktural yang membentuk penuturan, pilihan bahasa, serta pengalaman dan identitas pembicara. Kepekaan terhadap faktor kontekstual yang diutamakan oleh orang Jawa bisa dilihat melalui bermacam-macam ‘subjek’ yang muncul, tergantung keperluan atau tekanan konteks. Maka, keterbatasan agency yang muncul di dalam sebuah konteks menunjukkan betapa luas faktor sosial yang terlibat di dalam setiap ucapan yang keluar dari mulut orang Jawa. Oleh karena soal ini, saya sendiri lebih suka memakai istilah agency bertanggungjawab karena di dalam masyarakat hierarkis, wacanalah yang paling penting sebagai siasat untuk membentuk maupun melawan ketidak berdayaan.

Dengan mempelajari wacana dan bagaimana wong cilik menunjukkan keanggotaannya di antara kelompok yang terpinggirkan, kita tidak bisa mengelakkan aspek relasional yang sangat kuat dan selalu menekankan kepribadian sesuai dengan keperluan konteks maupun komunitas. Ketergantungan komunal menekankan kerukunan, yang dilestarikan melalui agency bertanggungjawab. Dengan kata lain, agency bertanggungjawab merupakan keperluan dasar agar hubungan berdominasi bisa dilestarikan dari dalam komunitas itu sendiri. Maka, dalam jaman yang disebut reformasi ini, dengan analisa yang menyadari masyarakat terhadap pembentukan pemahaman dan kepribadian di dalam kelompok tertentu, agency membantu kita untuk mengerti hambatan-hambatan terhadap perkembangan suatu masyarakat demokratis.

Makalah ini mencoba menjelaskan bagaimana kebutuhan sosial perempuan dicerminkan melalui struktur wacana yang muncul dalam interaksi sosial. Tuturan yang berfungsi ganda ini disebut penuturan percakapan, yang mencerminkan serta mewujudkan posisi sosial para pembicara di dalam konteks lokal, komunitas sekeliling, serta masyarakat. Di dalam budaya Jawa, sudah lama sekali diakui hubungan antara bahasa dan kontrol sosial, khususnya melalui tingkat tutur yang menjamin kerukunan, ketertiban, dan kehalusan. Kerukunan sosial adalah persetujuan moral serta etika yang menjamin tata tenterem yang

menempatkan kepentingan tatanan sosial lebih tinggi daripada kepentingan pribadi. Agency bertanggungjawab bisa menembus penjelasan suci yang melegitimasikan ketidakadilan. Selain itu, teori ini bisa menyadari kita akan percakapan sehari-hari sebagai kegiatan untuk menempatkan tanggungjawab pada yang paling tidak berdaya (lihat juga bahasa pejabat). Percakapan dalam kawasan wong cilik itu tidak menyampaikan permaknaan dan keinginan pribadi, tapi lebih berperan sebagai sistem pengendalian sosial.

Dengan latar belakang ini, makalah saya berusaha membuktikan bahwa pengertian resmi tentang interaksi sosial a la Jawa harus diperluas supaya meliputi konteks dan bahasa sehari-hari serta berbagai implikasi ketidakadilan yang terkandung di dalamnya.

ANALISA

Wacana yang muncul bersumber dari percakapan yang dianalisa dari beberapa situasi sosial asli di Yogyakarta, antara tahun 1992 hingga 1993. Waktu itu, saya sedang merekam percakapan sehari-hari di dalam lingkungan kekeluargaan selama 2 tahun. Sari, yang berumur 26, adalah anak perempuan kedua di rumahtangga itu. Di adegan pertama, Sari sedang berbicara dengan Sigah dan Endang, teman sepabrik garmen itu. Di adegan kedua, Sari sedang berbicara dengan mbakyune Atik dan seorang tetangga. Yang menarik di sini adalah bagaimana Sari membentuk tuturannya tergantung perubahan peranan sosialnya.

Dalam konteks ini, topik yang sedang dibicarakan adalah pengalaman kerja di pabrik garmen. Setelah kerja hanya beberapa minggu, tiba-tiba gaji buruh perempuan dipotong drastis dan kerja lembur dan masuk 7 hari seminggu langsung dipaksakan. Karena tekanan ekonomi, buruhnya tidak berani minta keluar.

Walaupun tindakan sewenang-wenang seperti itu dilarang, undang-undang hak pekerja jarang ditegakkan. Para buruh pabrik garmen ini belum berpengalaman sama sekali dengan melakukan tindakan protes. Pada mulanya, mereka mempelajari peraturan-peraturan yang sah dan setelah lama mempertimbangkan baik buruknya, mereka mengajukan gugatan kepada DepNaker. Beberapa bulan setelah gugatan diajukan, DepNaKer disogok oleh pabrik dan kasus tersebut ditutup. Para buruh perempuan yang melakukan protes itu semua langsung di PHK, di ancam dengan tuduhan terlibat PKI, dan namanya dimasukkan ke daftar hitam. Tak satupun dapat bekerja lagi selama 2 tahun.

Adegan pembicaraan pertama memperlihatkan bagaimana pembicara bekerjasama untuk membagi tanggungjawab serta mengkonstruksikan makna. Rincian pokok yang muncul di penuturan adalah: a) menutur bersama melalui tata bahasa yang mengikati ucapannya masing-masing, b) penghindaran tanda-tanda perbedaan status seperti tingkat tutur, kata ganti, panggilan mbak, dhi, dan c) repetisi (pengulangan kata).

Sari, teman sepabrik bernama Sigah, dan saya sedang berada di dapur Sari. Saya bertanya bagaimana pekerjaan baru mereka dan mereka menerangkan permasalahnya. Yang menarik adalah cara bicara yang serba setara. Setiap ucapan dibentuk secara harmonis padahal topik penuturan merupakan topik perlawanan terhadap suatu ketidakadilan yang mereka alami. Kita sama sekali tidak tahu apa yang dialami mereka masing-masing karena dalam penuturan, setiap pembicara membantu satu sama lain. Mereka seperti mengkonstruksikan semacam pembagian ikonis (iconic) antara tuturan, pengalaman, dan tanggungjawab:

(1)

1. Sari : angger entuk akeh ngono ki

2. rada ora percaya!

3. dikurangi sedina meneh ki, telungatus, patangatus,

4. Sigah: Tapi nek kon protes ngono ki mbak.

5. dha wedi!

6. Sari : Nek wong Jawa ngono ki kan

7. wedi di PHK!

8. Sari : Dadi sek lawas ki dha metu mbak,

9. ganti sing anyar!

10. mengko sewulan rongwulan metu.

11. ganti meneh !

12. Sigah: Nek carane ngono

13. gajine ora di undak-undaki

14. Laine: nang kene ana undang – undang lho!

15. Sari : Ana ning wis “nggak mau tahu..

16. “pokoknya”…piye wingi kae jawabane,

17. “peraturan itu dapat diubah ?”

18. Ana peraturan anyar ya ora dikeki ngerti,

19. ngko ngerti- ngerti wis ganti

20. Sigah: Mana yang diemut

21. kalau peraturan-peraturan diubah-ubah!

Fungsi bicara-bersama (co-construction) ini adalah pembagian tanggungjawab terhadap konstruksi dan akibat tuturan dan protes, maupun tuturan sebagai protes. Di sini para pembicara mewujudkan posisi yang inklusif. Padahal kesatuan berbicara itu hanya secara semu menutupi tidak adanya dukungan dari buruh lain:

4. Sigah: Tapi nek kon protes ngono ki mbak.

5. dha wedi!

6. Sari : Nek wong Jawa ngono ki kan

7. wedi di PHK!

Ucapan 4 sampai 7 menjelaskan betapa menakutkan protes itu. Tidak semua buruh terlibat protes, hanya sekitar duapuluh lima dari sejumlah kurang lebih tiga ratus buruh. Yang lain memilih nrima daripada protes. Padahal para pemrotes menerangkan bahwa buruh padha wedi. Dengan tergolong wedi, kita tidak bisa membedakan yang melakukan protes dari yang tidak. Yang protes berbicara seperti bertindak atas kesatuan dan untuk kepentingan semua. Sigah bilang: dha wedi, dan Sari tambah wong Jawa yang takut diPHK. Posisi ‘kebersatuan’ ini menyoroti kelompok ini sebagai kesatuan, kesatuan yang dibersatukan karena sama-sama takut. Mereka tidak pernah menyebut bahwa kelompok ini memang tidak bersatu.

Kesatuan semu ini dibangun melalui wacana yang mampu memperdayakan kelompok ini – padahal juga secara semu. Dalam teks 1, kedua pembicara memfokus ucapannya kepada poin yang sama dan mengulangi kata-kata pokok. Selain itu, mereka berdua sama-sama menghilangkan rinci-rinci yang menyoroti sikap perbedaan di dalam tuturan maupun konteks sosial. Strategi yang sering muncul supaya penuturan bersama makin jelas adalah mengikat setiap ucapan kepada yang sebelumnya, sebagai mata rantai.

Sigah memakai kata tapi pada ucapan 4, yang memperlihatkan ucapannya sebagai kelanjutan dari ucapan Sari. Selain kelanjutannya, ucapan Sigah menambahi keterangan dengan mengevaluasikan anak kalimat Sari. Tapi, seperti but di dalam bahasa Inggeris, berfungsi untuk membandingkan suatu anak kalimat dengan yang sebelumnya, sambil melanjutkannya. Sari mengatakan bahwa para buruh baru kena potongan gaji lagi dan Sigah menambahkan dengan sebuah penjelasan yang sekaligus mengevaluasi ucapan Sari.

Ada lagi tanda wacana yang berfungsi khusus untuk menyatukan ucapan mereka. Sari mengatakan wong Jawa ngono ki, yang memakai petunjuk teks (text deictic, lihat Levinson, 1983; Berman, 1998) ngono ki yang menunjuk, sekaligus mengikat, topik Sari kepada yang baru disebut Sigah. Kata nek pada baris 4, 6, dan 12, biasanya diterjemahkan sebagai hubungan syarat tetapi mungkin lebih cocok diartikan dengan sesuai dengan ini… pada konteks ini. Maka, nek menandakan ucapan sebagai kelanjutan yang sebelumnya:

8. Sari : Dadi sek lawas ki dha metu mbak,

9. ganti sing anyar!

10. mengko sewulan rongwulan metu.

11. ganti meneh !

12. Sigah: Nek carane ngono

13. gajine ora di undak-undaki

Ucapan 6 dan 12 tidak bermakna sendiri tapi secara langsung menandakan topiknya berada di ucapan sebelumnya, maka tergantung pada ucapan lawan bicaranya untuk melengkapi maknanya. Sari memakai kata dadi (baris 8) yang menandakan ucapannya sebagai sebuah ide yang berhubungan erat secara kausal dengan yang baru dikatakan Sigah. Petunjuk wacana ini berfungsi khusus sebagai pengikat, di mana pemahaman dan pemaknaan terikat dan ditempatkan antar pembicara. Secara simbolis, dua pembicaramenjadi satu suara dengan membangun makna serta pengalaman bersama-sama di dalam penuturannya -sesuatu yang memang sangat lumrah dalam percakapan antar perempuan Jawa.

Setelah teman sepabrik bernama Endang datang, para buruh membicarakan peristiwa dengan bersemangat. Dari wacananya, kita tidak bisa membedakan status, pengalaman, maupun ucapan antara mereka bertiga. Semua memilih cara wacana yang setara melalui cara menceritakan peristiwa itu. Para pembicara tidak memakai kata mbak atau adik, kata ganti, atau basa. Ketidakberadaan simbol-simbol hierarkis seperti ini sangat bertentangan dengan adat Jawa yang seharusnya selalu menunjukkan status dan hormat (Errington, 1988; Keeler, 1984; Wolfowitz, 1991; Wolff & Poedjosoedarmo, 1982:40-46). Selain kata mbak yang ditujukan kepada saya semata, hanya muncul dua perkecualian di dalam rekaman percakapan selama 45 menit ini. Kehadiran kata mbak dan adi membuktikan bahwa yang bicara betul-betul tahu siapa yang lebih tua dan siapa yang lebih muda, tapi mereka memilih untuk tidak memakainya dalam percakapan ini. Justru mereka bermaksud untuk tidak memecah kesatuan yang ditafsirkan mereka sebagai suatu kebutuhan di dalam konteks ini. Keberdayaan (semu) yang sedang dibangun tidak mungkin muncul melalui system bahasa baku yang didasarkan pada tingkat tutur. Jadi, daripada dianggap salah atau aneh, cara bicara ini saya anggap brilian, sebagai siasat yang secara lokal boleh dipakai untuk memberdayakan yang tertindas. Melihat konteks ini secara luas, terbukti juga bahwa penggunaan wacana ini memang satu-satunya sarana yang bisa dipakai oleh yang tertindas.

Pada tuturan 2, agency sebagai tanggungjawab kepada kesatuan kelompoknya juga menonjol:

(2)

72. Sari : jarene “saya nggak mau tahu

73. mbayangke we sedih apa.

74. enek, sing nglakoni [ha ha ha…]

75. direwangi nangis-nangis ora entuk mulih.

76. Sigah: Ha.a. nangis neng ngarep lawang,

77. ora entuk bali tetepan …..

78. Endang: nganti jam telu

79. ngantek aneng kantin anu

80. “kowe ki seka ngendi wae ta ?”

81. “ngelih pak” ngono.

Dengan ucapan ini kita bisa melihat adegan di pabrik: para buruh perempuan yang lelah, lapar, dan menangis, berdiri di depan pintu gerbang yang terkunci. Bukannya diperbolehkan pulang, malah tangisan mereka dibalas dengan jawaban tegas, “saya nggak mau tahu”. Ucapan dari mulut penguasa ini sering diulangi oleh buruh sebagai simbol kebungkaman yang terpaksa mereka terima di pabrik. Dengan sering munculnya ucapan ini di dalam tuturan, bisa dilihat bahwa pembicarapun sering turut mendengungkan ucapan ini (lihat baris 15 juga). Jauh dari pabrik, mereka meminjam suara penindasan supaya bisa melawan kekejamannya (Bakhtin, 1981). Berbagai peneliti menulis bahwa dengan mengutip ucapan orang lain (reported speech), tanggungjawab pembicara semakin kurang terhadap ucapan tersebut (misalnya Duranti, 1993; Graham, 1993; Shuman, 1993). Namun, justru disini pembicara melakukan keterbaliknya. Dengan mengutip suara majikan yang sedang membungkamkannya, mereka memberdayakan ‘hidden transcript’ (Scott, 1990), dan memperkuat suara kesatuan dan pelawanan.

Sigah mengulangi ucapan Sari (baris 76 dan 77) untuk menegakkan kebersatuan dengan Sari sambil menambahi keterangkan lokasi. Ucapan Endang (baris 78-81) memindahkan adegan kekejaman ke kantin di mana beberapa buruh sedang bersembunyi. Endang mengulangi lagi apa yang disebut di sana, sambil menjelaskan perselisihan antara penguasa dan yang tertindas. Dengan tuturan ini, sang penguasa marah karena sang tertindas meninggalkan tempat kerja.

Yang paling penting di tuturan ini adalah bahwa tidak satupun ucapan menegaskan posisi individu, karena yang terlibat sama sekali tidak dimunculkan. Setiap subjek kosong. Dengan bertutur bersama, merekasedang membangun riwayat kebersatuan di mana setiap buruh bersama-sama dikorbankan oleh ketidakadilan. Strategi (agency) ini menggambarkan perasaan tanggungjawab mereka secara kolektif untuk membangun solidaritas dengan menghilangkan kepribadian individu. Kepribadian masyarakat Jawa yang didasarkan pada unsur-unsur hierarki, sedang dihindari di sini sebagai unsur ketidak-berdayaannya.

Para pemrotes ini jelas tahu bahwa yang di posisikan di bawah di dalam tatanan sosial itu tidak boleh menentang legitimasi tatanan tersebut. Kaitan langsung antara partisipasi dalam sebuah perlawanan dan tanggungjawab terhadapnya berlaku kuat, yang berarti bahwa setiap sosok buruh yang berada di dalam konteks ini sama-sama bertanggungjawab atas pembentukan dan pemaknaan tuturan perlawanannya.

Mereka bertutur melalui satu suara tanpa membeda-bedakan status atau kepribadian karena mereka sangat membutuhkan kesatuan untuk menolak ketidakadilan yang tidak mampu mereka tolak. Konsekuensinya sudah sama-sama kita ketahui.

Sekarang kita akan pindah situasi untuk mendengarkan tuturan lagi tentang pabrik itu. Sari bersama dengan temannya sudah di PHK dan dituduh PKI oleh pasukan militer yang menungguinya di depan pabrik. Kira-kira dua minggu setelahnya, interaksi ini terjadi dengan mbakyunya, Atik, dan tetangganya, Yanti. Atik bekerja sebagai pegawai di sebuah SMP. Yanti, yang paling tua adalah guru SMP, dan memegang posisi paling terhormat dalam konteks ini. Kebertanggungjawaban muncul di sini sesuai dengan adat Jawa:

(3)

17. Yanti: lha nggih

18. ning mikir awak.

19. Sari: niki tha gek jaman ting Taman Tirto tu

20. nganti nglembur niku

21. tekan jam loro bengi barang.

22. Atik : nglembur napa?

23. Sari: ha nek aku yo wegah.

24. Atik : jam loro bengi!

25. lha kok le ngereh awak..

26. Sari: nek kula ngono.

27. Mbok wis trima matur nuwun,

28. ha: mung ngga sepuluh ewu ta!

29. Yanti: ha nggih kula ta misale

30. tekan jam pitu ngono

Setelah Yanti membuka topik pembicaraan, yaitu kesehatan, Sari menjelaskan bahwa dia pernah kerja lembur di pabrik garmennya sampai jam 2 malam. Posisi subjek pada baris 19 sampai 21 tidak menegaskan pengalaman pribadi, yaitu, tidak ada kata ganti orang pertama. Selain itu, Sari membuka tuturan dengan niki tho untuk mengikat ucapannya agar tergantung pada ucapan Yanti. Siasat ini memang biasa supaya yang berstatus rendah sedang menghormati yang berstatus tinggi. Sebagai tanda status rendah Sari, tuturan pabrik akan muncul sesuai dengan topik dan harapan yang sudah ditentukan oleh Yanti.

Hubungan kekuasaan berhierarkis masih berlaku di dalam keluarga sendiri dan dengan teman lama seperti terbukti di sini. Atik juga mengikuti topik Yanti dan geseran topik adiknya pada baris 22. Atik ulangi kata nglembur sambil menambahi tanda bertanya nopo dengan basa madya, yang membuktikan bahwa ucapan ini diungkapkan kepada Yanti dan bukan adiknya. Atik sedang minta ijin Yanti untuk menggeser topic kesehatan supaya juga menyentuh masalah nglembur. Yanti diam saja, berarti tidak berkeberatan.

Tuturan singkat Sari dan bagaimana dia menempatkan dirinya di dalamnya akan saya fokuskan:

23. Sari: ha nek aku yo wegah.

26. Sari: nek kula ngono.

27. Mbok wis trima matur nuwun,

28. ha: mung ngga sepuluh ewu ta!

Tuturan Sari merupakan ekspresi pribadinya terhadap nglembur pada baris 23, “ha nek aku ya, wegah!Wegah adalah kata yang menempatkan pembicara secara tegas. Sari memperlihatkan bahwa dia dengan tegas berhak menolak kerja nglemburnya. Lain dari tuturan protes di atas, posisi Sari ditegaskan melalui kata ganti pertama, aku, yang merupakan tanda utama agencynya (atau hak/kemampuan bertindak begitu).

Di sini Sari menegakkan agencynya terhadap pabriknya mulai dengan baris 26, yang dilanjutkan oleh ucapannya yang sangat dramatik dan langsung menolak ketidakberdayaannya yang kita tahu sudah menimpanya di pabrik. Dengan istilah trima Sari menyentuh jantung alusnya wong cilik atau orang siapapun yang terpaksa ngalah sesuai dengan sistem sopan santun Jawa. Tapi perlawanannya ditandai dengan Mbok, sebuah penunjuk wacana yang menandai konflik pada tingkat wacana maupun konteks. Mbok menunjuk secara kontekstual bahwa penguasa pabrik mengharap kehendaknya akan diterima toh, dan yang keberatan akan diam saja (nrima). Mbok (irrealis= kecewa tapi tidak berdaya untuk membantah) memperlihatkan pada tingkat wacana juga bahwa ada konflik; mbok bertanda sarkasme yang muncul melalui ucapan yang berikutnya pada baris 28: ha. mung ngga sepuluh ewu toh!

Sesuai dengan struktur partisipasi, Sari menempatkan dirinya sendiri sebagai agen yang berkuasa sesuai dengan definisi agency barat. Padahal dia muncul sebagai agen di dalam peristiwa yang sama sekali berbeda dari yang kita lihat tadi. Sari sudah tahu bahwa Yanti dan Atik tidak pernah mengalami masalah nglembur seperti dia, maka dia tidak menuturkannya. Walaupun Yanti dan Atik pasti sudah tahu tentang masalah itu, Sari tidak menceritakannya karena dia tidak berani merusak kerukunan konteks. Daripada membicarakan topik yang sudah diketahui tetapi tidak dialami orang lain, Sari harus mengutamakan apa yang bersama antara anggota kelompok sosial ini. Maka Sari berbicara sebagai seorang yang juga menghadapi persoalan kantor yang bisa diatasi.

Penelitian partisipasi (barat) biasanya dimulai dengan golongan kepribadian yang terikat pada kata ganti, karena kata ganti tersebut dianggap petunjuk agency utama (Mühlhäusler & Harré, 1990; Benveniste, 1971). Tetapi dalam wacana Sari, agency kelihatan tidak berfungsi sesuai dengan harapan itu karena Sari menempatkan dirinya sebagai orang yang berkuasa (agen), dan malah mampu melawan ketidakadilan-sedangkan kita sudah tahu bahwa ucapannya tidak betul. Menempatkan dirinya secara tegas, bisa disebut bahwa Sari sedang memamerkan sistem sopan santun Jawa sesuai dengan pengertiannya terhadap kepribadian Jawanya yang sangat rumit. Tuturan Sari tidak menempatkan dirinya secara fisik dan alami di dalam pabrik, tapi secara bertanggungjawab moral terhadap ketidakadilan yang menimpanya di pabrik sesuai dengan batasan konteks lokal yang ditafsirkannya sendiri. Kalau Sari menafsirkan konteks percakapan itu memerlukan sebuah tuturan maupun kepribadian tertentu, itulah juga membutuhkan dukungan penuh- dan pembohongan sama sekali tidak terhitung. Justru karena keluwesan seperti ini yang sangat diperlukan wong Jawa, saya mengutarakan teori agency bertanggungjawab ini.

Walaupun tidak satupun tuturan yang tertera di sini memamerkan Basa Jawa yang alus secara struktural, tuturan semuanya memamerkan sikap sopan santun melalui fungsi, yaitu andhap asor, tepa slira, yaitu kepekaan terhadap konteks sosial. Jelas sang pembicara semua sangat mengerti budi pekerti sesuai dengan keperluan sosial. Agency Sari di tuturan 3 bukan tanda petunjuk tempat kuat di dalam tuturannya, melainkan tanda kesediaannya untuk merendahkan dirinya sesuai dengan keperluan konteks. Maka, definisi umum tentang basa ngoko sebagai tingkat tutur tanpa tanda alus maupun sopan santun, terlalu sempit. Tanpa ucapan yang tergolong basa, Sari dan kawannya terbukti sangat terikat kepada sistem hormat sesuai dengan budi pekerti. Saya juga mau menanyakan apa artinya budi pekerti luhur. Dalam prakteknya, artinya adalah kemampuan pembicara untuk merendahkan dirinya (menghapus tanda kepribadiannya) sesuai dengan keperluan konteks. Apa mungkin budaya Jawa mampu menghilangkan unsur ketidakadilan dan penindasan dari praktek ini? Yang tertindas jelas melaksanakan budi pekerti sesuai dengan sistem sopan santun Jawa (lihat Berman 1998). Untuk betul-betul mencapai tujuan tema konferensi ini, yaitu membangun manusia Indonesia baru yang memiliki budi pekerti luhur, wong gede tidak boleh dibebaskan dari tindakan mulia itu seperti yang terlihat di pabrik – dan juga telihat dimana-mana dalam masyarakat.

Kutipan singkat dari proses penuturan perempuan Jawa bersama teman-temannya dan anggota keluarganya bisa memperlihatkan bagaimana ketatnya sistem kerukunan (semu) yang berlaku. Seperti ditulis Duranti tentang konteks paralel, “semakin tinggi status seseorang, semakin boleh menonjolkan kepribadianpembicara” (1993:44). Maka, sesuai dengan budi pekerti atau tahu dirinya a la Jawa, kita bisa melihat betapa pengalaman Sari sendiri terikat kepada rasa tanggung jawabnya kepada orang lain. Bukan masalah pribadi dan kebenaran yang penting, melainkan konteks sosial. Tetapi konteks yang dilestarikan adalah konteks yang serba tidak adil, yang melestarikan tindakan ABS (asal bapak seneng), dan kerukunan sosial yang semu. Semuanya didasarkan kepada hierarki dan penindasan wong cilik, karena justru yang paling tidak berdayalah yang paling bertanggungjawab membentuk kerukunan itu.

Dengan ketiga adegan yang tertera di sini, agency bertanggungjawab terlihat sebagai kontrak sosial yang menjamin kerukunan sesuai dengan tafsiran sang pembicara. Dengan analisa singkat ini, kita mulai melihat bahwa tuturan bahasa Jawa adalah sarana yang menunjukkan posisi sosial pembicara di dalam komunitas, di dalam konteks, dan di dalam konstruksi realitas yang diwujudkan melalui percakapan. Karena dasar hierarki ini, tuturan di konteks Jawa sangat berbeda dengan definisi tuturan baku (baca: barat). Di barat, narasi adalah semacam laporan tentang pengalaman dan tafsiran pribadi yang dituturkan oleh yang mengalaminya sendiri. Perbedaan dasar struktur dan fungsi narasi juga menyinggung perbedaan dalam konstruksi kepribadian dan identitas sosial, yang penting untuk meningkatkan pemahaman terhadap psikologi sosial dan kepribadian orang tertindas. Yang lebih mudah untuk diperlihatkan adalah bahwa kebiasaan interaksi sebagai tanggungjawab terhadap tatanan sosial melegitimasikan maupun memuliakan dominasi elit. Yang berkuasa boleh mengharap bawahan nrima terhadap ketidakadilan yang menimpanya. Dan kalau sudah terlewat batasan nrima itu, meletuskan konflik horizontal karena konflik vertikal itu tidak mungkin jadi.

Makalah ini menggambarkan secara singkat bagaimana tatanan sosial memaksakan warganya bertanggungjawab terhadap praksis percakapan sehari-hari yang juga membentuk bagaimana warganya memperlihatkan dirinya sendiri dan nota bene menghasilkan dan menghilangkan agency di Jawa Tengah. Walaupun tradisi Jawa sering disebut mulia, kebiasaan untuk menghargai tindakan alus lahir-batin bisa juga disamakan dengan semacam penindasan terhadap diri sendiri maupun masyarakat sekelilingnya.

Hasilnya adalah ketercekikan sosial yang mampu mengulangi tatanan sosial yang opresif sebagai nilai budaya luhur. Maka, dengan memakai pendekatan yang berdasar pada konteks dan bahasa sehari-hari, analisa wacana bisa mengutarakan kebenaran tanpa ditutupi oleh ideologi dan mitos.

Honolulu, 3 Maret 2001

Makalah ini akan saya selenggarakan di Kongres Bahasa Jawa III, Juli 15-21, 2001.

PUSTAKA:

Bakhtin, M. [1934]1981. The Dialogical Imagination. C. Emerson and M. Holquist eds. and trans. Austin: University of Texas Press.
Benveniste, E. 1971. The nature of pronouns. In Problems in General Linguistics. 217-222. Coral Gables, FL: University of Miami Press.
Berman, L. 1998. Speaking through the Silence: Narratives, Social Conventions and Power in Java. New York: Oxford University Press.
Davies, B. 1990. Agency as a form of discursive practice: A classroom scene observed. British Journal of Sociology of Education, 11 (3).
Duranti, A. 1993. Intentions, self and responsibility: An essay in Samoan ethnopragmatics. In Responsibility and evidence in oral discourse, ed., J. H. Hill and J. T. Irvine, 24-47. Cambridge University Press.
Errington, J. 1988. Structure and Style in Javanese. Philadelphia, PA: University of Pennsylvania Press.Graham, L. 1993. A public sphere in Amazonia?: The depersonalized collaborative construction of discourse in Xavante. American Ethnologist, 20:717-741.
Keeler, Ward. 1984. Javanese: A Cultural Approach. Ohio University SEAsian Series Monograph #69. Athens, OH: Ohio University Press.
Levinson, S. 1983 Pragmatics. Cambridge: Cambridge University Press.
Linde, C. 1993. Life stories: The creation of coherence. New York: Oxford University Press.
Mahoney, M and Yngvesson, B. 1992. The construction of subjectivity and the paradox of resistance: Reintegrating feminist anthropology and psychology. Signs, Journal of Women in Culture and Society. 18(1):45-72.
Mühlhäusler, P. and R. Harré. 1990. Personal pronouns. Oxford: Basil Blackwell.
O’Connor, P. 1994. Narratives of prisoners: A contribution to the grammar of agency . Unpublished dissertation. Georgetown University, Washington, DC.
Schiffrin, D. 1987. Discourse markers. Cambridge: Cambridge University Press.
Scott, J. 1990. Domination and the Arts of Resistance. New Haven, CN: Yale University Press
Shuman, A. 1993. “Get outta my face”: Entitlement and authoritative discourse. In Responsibility and evidence in oral discourse, ed., J. H. Hill and J. T. Irvine, 135-160. Cambridge University Press.
Tannen, D. 1989. Talking voices: Repetition, dialogue, and imagery in conversational discourse. Cambridge University Press.
Wolff, J. and S. Poedjosoedarmo. 1982. Communicative Codes in Central Java. Data Paper #116 Southeast Asia Program. Ithaca: Cornell University Press.
Wolfowitz, Clare. 1991. Language style and social space: Stylistic choice in Suriname Javanese. Illinois Studies in Anthropology No. 18. Urbana: University of Illinois Press.
*BIODATA
Nama: Dr. Laine Bermantempat: New York, USA
Tanggal lahir: 20 Juli 1955
Pekerjaan: ketua jurusan Bahasa Indonesia, University of Hawaii
Karya-karya: Buku:
Speaking through the Silence: Narratives, Social Conventions, and Power in Java. 1998. New York: Oxford University Press.
Jurnal:
“Comics as social commentary in Java, Indonesia.” In press. In J. Lent (ed.) Illustrating Asia: Comics, Humor Magazines, and Picture Books. London: Curzon Press.
“Dignity in tragedy: How Javanese women speak of emotion.” In G. Palmer & D. Occhi (eds.) Languages of Sentiment. Pp. 65-105. London: John Benjamins. 2000.
“Surviving on the streets of Java: Homeless children’s narratives of violence.” In Discourse & Society. 11(2):149-174. 2000.
“The art of street politics in Indonesia.” In T. Lindsey & H. O’Neill (eds.) Awas! Recent art from Indonesia. Pp. 75-84. Melbourne: Indonesian Arts Society. 1999.
“Strategies of positioning in ‘national’ discourses.” In L. van Langenhove & R. Harré (eds.) Positioning Theory: Moral Contexts of Intentional Action. Pp. 138-159. Oxford: Blackwell. 1999.

4 Komentar

  1. andi pratama said,

    mas/mba
    sebenere s…………..i nek kali artine jawa maring indonesia dlm percakapan kuemau lewih apik, dadi sing maca lewih ngerti,kaya kulo iki kan ora patia ngerti bahasa jawa sing bener cara bicara sing apik ngaten. maturnuwun ngih…………

  2. arisna rahmawati said,

    menawi pacelathon punika ngangge krama inggil kula inggih mboten paham…… ananging kula taksih pingin sinau basa jawa… sakniki mawon kula taksih binggung, ingkang leres “basa jawa” punapa “basa jawi”?????
    matur nuwun sanget……..

  3. Q11901 said,

    saya menjadi lebih tahu mengenai budaya jawa dari sini. Terima kasih Infonya.

  4. purjiyo said,

    maju terus, untuk lestarikan bahasa jawa. makasih tambahan makalah bahasa jawanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: