Indonesia Batik Mematen

8 Oktober , 2009 at 5:57 pm (Cuplik, Teh Hangat)

Hari Batik Nasional
Oleh : Titiek Hariati

whuuuuhhh_0

Membatik

KabarIndonesia - Tanggal 2 Oktober 2009 kemarin, untuk pertama kalinya bangsa Indonesia memproklamirkan batik sebagai miliknya yang sah dan diakui PBB sebagai World Heritage. Di kantor-kantor, sekolah-sekolah dan jalanan, hari ini banyak orang mengenakan batik, bahkan di layar kaca TV para musisi muda yang biasanya memakai T-shirt dan jeans, hari ini tampil sangat Indonesia.

Mengharukan bahwa sudah cukup lama bangsa ini tidak menggemakan sebuah gerakan nasional yang menggugah rasa nasionalisme dan kecintaan pada seni budaya Indonesia. Tanpa dikomando oleh pemimpin-pemimpin negeri ini, rakyat dengan penuh kesadaran melakukan sendiri aksinya. Padahal sempat membayangkan bahwa pada tanggal 1 Oktober malam hari akan ada menteri atau presiden yang akan menghimbau
masyarakat untuk mengenakan batik pada tanggal 2 Oktober.

Sepenting itukah batik? Ya. Bahwa batik merupakan salah satu simbol keperkasaan budaya leluhur kita yang terwariskan secara turun-temurun dan menjadi salah satu ikon seni budaya kita di mata dunia. Pengakuan dunia internasional ini penting karena kalau kita tidak mengupayakannya, bisa saja satu saat batik diakui sebagai warisan budaya bangsa lain. Baca entri selengkapnya »

Permalink 1 Komentar

Kata Sebagai Unsur Paling Esensial dalam Sebuah Sajak

3 Oktober , 2009 at 6:49 pm (Budi Darma, Kritik Sastra, Sastra, Tela'ah Sastra) (, , , )

Oleh: Titon Rahmawan

Budi Darma dalam pengantar atas kumpulan cerpennya yang berjudul ‘Orang-Orang Bloomington’ menyatakan bahwa unsur utama yang paling berperanan dalam sebuah cerita pendek adalah tema, namun apakah tema memegang peranan yang sama esensialnya dalam sebuah sajak? Pertanyaan tersebut cukup sering dilontarkan oleh orang awam yang berminat terhadap karya sastra dan mereka yang ingin mendalami sajak pada khususnya, namun ironisnya pertanyaan itu belum tentu dapat dijawab oleh orang yang mengaku dirinya sebagai seorang penyair sekali pun. Mengapa muncul hal yang demikian adalah dikarenakan oleh begitu banyaknya calon penyair yang sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri. Para calon penyair itu terlampau sibuk dalam mengolah gagasan-gagasan untuk menjadikan karyanya sebagai sebuah karya yang fenomenal, sehingga terbebani oleh sejumlah misi untuk menyampaikan ’sesuatu’ kepada pembacanya. Sesuatu itu bisa berupa pesan moral, khotbah, protes politik, kajian filsafat, kritik sosial, masalah cinta, masalah keluarga, atau laporan jurnalistik dengan berbagai gaya ungkap, akan tetapi si penyair lupa bahwa sesunguhnya ia tengah menulis sebuah sajak dan bukannya propaganda politik, pamflet, teks iklan, surat cinta atau berita koran. Banyak calon penyair lupa atau tidak tahu bahwa esensi sebuah sajak sesungguhnya bukan pada masalah tema atau gagasan tapi lebih pada kata-kata, sebagaimana ditegaskan oleh Sapardi Djoko Damono salah seorang penyair terkemuka kita bahwa kata-kata adalah segala-galanya dalam puisi.
Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Kepribadian dalam Tuturan Bahasa Jawa

12 April , 2009 at 2:30 pm (Linguistik)

Oleh: Laine Berman*

University of Hawaii

Abstrak:

Makalah ini bermaksud menganalisa wacana sehari-hari (sesrawungan sakdina-dinane) untuk memahami bagaimana wong cilik mewujudkan makna di dalam konteks lokal, dan di dalam sistem masyarakat yang sampai kini masih serba tidak adil, meski sudah jaman “reformasi”. Dengan menerapkan teori-teori konstruksi sosial (social constructionism), analisis saya mencerminkan bagaimana sekelompok wong cilik, yaitu tenaga kerja wanita dari kota Yogyakarta, mewujudkan identitasnya melalui penggunaan Bahasa Jawa. Untuk tujuan ini, saya menggunakan teori agency , yaitu tanggungjawab pribadi terhadap apa yang dituturkan, kepada lawan bicara, dan siapa yang dibicarakan, yang semuanya dicerminkan dalam wacana. Tampak dari analisis ini bahwa kelompok tersebut menkonstruksikan diri sendiri sesuai dengan hierarki sosial yang berlaku, yang memaksakan mereka nrima ketidakadilan yang dihadapi. Mereka nrima karena memang tidak ada jalan keluar. Hal ini tidak mengherankan bagi mereka yang paham budaya Jawa dan sistem kekuasaan Orde Baru. Namun yang hendak saya tekankan di sini adalah bahwa wong ciliknya sendiri merelakan dirinya tertindas, bahkan memuliakan kebungkaman itu terhadap yang dianggap ‘nasib’. Penindasan ini adalah penindasan psikologis internal dan kepribadian wong cilik tersebut terwujud oleh kebiasaan ini. Karena begitu terbiasa tertindas (yang terwujud dalam struktur “sopan santun”), posisi ketidak berdayaan (disempowered) ini juga muncul dalam bahasa ngoko yang sering dianggap kasar, tidak sopan, dan tidak mencerminkan hormat. Hal ini akan saya buktikan dari segi fungsi bahasa dan tidak sekedar struktur (krama, krama inggil, dan sebagainya), yang sampai sekarang masih menguasai analisa Bahasa. Tujuan lain dari makalah ini adalah untuk memperkenalkan pendekatan yang saya pakai, yaitu antropologi linguistik, yang sejauh saya ketahui, belum umum digunakan di dalam bidang akademis maupun penelitian di Indonesia.

Pembukaan :

Analisis wacana yang dipergunakan di sini dimulai dengan merekam dan mentranskripsikan bahasa sehari-hari yang secara alami muncul dari sekelompok perempuan yang bekerja di suatu pabrik di Kota Yogyakarta. Tujuan saya dengan analisis ini adalah menggambarkan bagaimana kelompok tersebut mewujudkan makna dalam konteks lokal. Yang penting di sini adalah penggunaan bahasa sehari-hari,pergaulan manusia yang muncul tanpa tanya-jawab, tanpa intervensi peneliti. Teori yang dianut oleh analisis wacana (dari segi antropologis linguistik dan analisis wacana kritis) menegaskan bahwa bahasa adalah sumber budaya dan wacana adalah praktis budaya. Melalui bahasa, budaya diciptakan, diberi arti, dipelajari, dibentuk, dan direproduksi. Melalui bahasa kita menegakkan hubungan antara sistem budaya dan berbagai bentuk tatanan sosial. Kita juga bisa melihat secara langsung keberadaan (posisi) sekelompok manusia di dalam tatanan sosial tersebut, dan pengertian mereka terhadap dunia/lingkungan sekelilingnya. Baca entri selengkapnya »

Permalink & Komentar

Sair Sajak Edi Slenger (1)

19 Maret , 2009 at 4:26 pm (Puisi, Sastra)

NARASI XIX

(Sangsi)

Tidakkah kau saksikan

Burung-burung di atas gereja

Itu memeram rindu semisal

Aku yang kau tinggalkan dengan

Puisi tak jadi lantaran sebuah kata

Yang lupa aku rangkai

Namun entah mengapa kudapati jawabmu

— Takada seekor burungpun yang kusaksikan

di atas gereja itu —

Malang, 2007

NARASI XX

Gugur layu bunga

: Kemarau berdendang

di penghujung waktu

Malang, 2007

NARASI XXI

Bulan sabit di pinggir telaga

Mengeram kejora di kening ibu

Taukah kau? Kau tak menjawab

Malah berpaling ke semak-semak

Lalu beranjak

Malang, 2007

NARASI XXII

Gerimis di luar itu

Kini berganti hujan

“Ya berganti hujan, hujan

kata namanya” kemudian

menulis dauanan di halaman

bersama diammu

Malang, 2007

NARASI XXII

Hujan yang rintik menulismu pada

Daunan yang mengering, padahal

Tak kemarau

Kaupun memulainya dengan kuncup

Lalu kembang tanpa bertanya tentang layu

Malang, 2007

n1511464492_9978*Edi Slenger, lahri di Madura 1986, mahasiswa Aktif Studi Bahasa dan Sastra Inggris UIN Malang. Pegiat di sanggar sastra “Tinta Langit Malang”, Teater K2 UIN Malang. Publikasi Karya: Puisi “Nyanyian Ibu” (Koran Harian Malang Post), Puisi “Pijar Sabda” (Juara 1 Lomba sajak UIN Malang), Puisi “Perjalanan 1” (Majalah sastra el-Madani). Puisi “Narasi dan Kidung Senja” (Koran Harian Surya) Email: edislenger@telkom.net

Permalink & Komentar

Sajak Dan Anggapan Umum

19 Maret , 2009 at 3:06 pm (Sastra, Tela'ah Sastra)

Oleh: Edi Slenger*

Puisi bukanlah pameran sengkarut imaji atau sulapan bunyi, melainkan rangkaian sari

bening kata yang di suling dari dunia sehari-hari (osip mandelstam)

Berbicara tentang sebuah sajak memang tidak akan terlepas dari nilai-nilai ke indahan (estetik) sebab ia lahir dari kesunyian jiwa, rasa, hati seorang penyair, namun terkadang hal itu atau bahkan sudah lumrah dan nota bene-nya dijadikan streotipe bahwa sajak haruslah estetik (bahasa yang indah), jadi tidak heran ketika ada pemula yang menulis sebuah sajak dengan bahasa melangit ataupun yang terbiasa walaupun pada kenyataannya (esensi) kandungan atau nilai (pesan) yang akan disampaikan tidak sampai ketangan para pembaca dikarenakan semraut bahkan terlalu mendayu-dayu, hingga pembaca sendiri kebingungan menangkap apa yang disampaikan oleh si penulis.

Angapan umum (common sense) pada sajak disini sering dibuat pijakan hampir oleh mayoritas kalangan yang memahaminya secara parsial, ialah bahwa bahasa sajak harus indah. Dan anggapan ini adalah salah, seperti yang di ungkap oleh Abdul Hadi W. M. “Salah satu anggapan umum yang keliru mengenai sajak ialah bahwa bahasanya mesti indah ungkapannya atau dapat mengguncangkan pembaca. Maka tidak jarang penulis memenuhi sajaknyua dengan ungkapan atau kata-kata berbunga atau memenuhi dengan citraan-citraan liar. Padahal yang disebut pengucapan indah dalam sajak ialah terletak pada ketepatan dan ketajaman daya ucapnya dalam menghidupkan gagasan, perasaan atau suasana puitik”. Baca entri selengkapnya »

Permalink & Komentar

Next page »