Sair Sajak I. G. Jali
Batu di Dadaku
buat F. Kamandobat, Rekki Z. dan dia
aku belajar melukis pada bunga
bagaimana memadukan warna
kala sedih atau berbunga-bunga
hanya dengan satu tinta
aku juga belajar mengukir
pada pohon jati tua
bagaimana mengungkapakan umur
tanpa kata
hanya dengan garis-garis
pada daging dan uratnya
tapi belum juga aku mampu
mengukir nama-nama pada batu di dadaku
sekedar untuk prasasti
entah pena ukirku tak tangguh
atau batu di dadaku yang angkuh
kau bawakan aku baja sebagai kertas
untuk mengoreksi pena ukirku
kau suruh aku mengisinya dengan kata
kau tahu, penaku menari sangat lincah
menggoreskan ribuan kata per kedip
menyala dan mendalam
sedalam luka tikam sajakmu
pada peilipis purnama
aku tak berharap tulis kata-kata
aku hanya ingin ukir nama-nama
pada batu di dadaku
batu di dadaku
pun tak luput dari pemriksaanmu:
hanya kau mantrai dengan puisi
pudar sudah angkuhnya
tapi bagaimana aku ini:
tak mampu mengukir meski hanya nama-nama
pada batu di dadaku
sekedar untuk prasasti
aku lantas bertanya kenapa pada bunga
ia beri aku isyarat lewat ranting
tumbuh mengahadap raut matahari
tersenyum menatap panas yang akrab
seakan yakin tak akan membakar
aku tanyakan lagi pada pohon jati tua
ia hanya menggugurkan daun-daun
dengan akar tak bergeming
meski dipaksa topan matang
untuk mengalah pada nama-nama
tiba-tiba kulihat namamu terbang
pena ukirku mengejarnya
tanpa seizinku
dan saat aku terjaga
ada ukiran satu tinta satu warna
pada batu di dadaku
bergerak memadukan senja dan pagi
dalam satu waktu yang rumit
Jogja, 01 Juni 2008 M.
26 J. I 1429 H.
tepat saat air perigi
memintaku mandi kata
bukan nama
Ejaan Lama di Tepi Pagi
pagi lelah melukis rautmu
pada kanvas embun anti sakit
kau di sini membelah angan
sambil bersendawa dan tertawa
pukulkan bibirmu pada malam
sebab aku merasa kurang kelam
ini terima
kuambilkan kau sebilah kata
untuk kau kuburkan sampah
aku tak tahan ditinju kemarin
layaknya kekenyangan
tolong ambilkan sedikit sinar
aku merasa kurang terang
ini gambar matahari
sedang melongo pada laut
di sini ada kau
di sini aku
di sini dia
kita berhenti pada gores
kenapa berhenti, kau bertanya
karena merah muda habis, jawabku
di sana, di dekat malam, ada toko
coba kau belikan aku mawar
biar warnanya saja yang menghias
Jogja, 29 R. II 1429 H.
06 Mei 2008 M.
saat menatap campuran warnaku
diaduk dengan durian siang
Matahari Menggigil
rupanya matahari hari ini tengah kedinginan
mendung menyelimutinya dengan ayatayat awan
deraiderai airmatanya menyulamkan sutra lugu
dengan sederet embunrela yang memapah hati sang pagi buta
demi yang maha mendendam aku bersumpah
matahari akan kembali terbakar…sehat dari demam
hanyasaja menunggu bagai memakan mentah
bangkai sumpah
maaf, jiwaku
aku merindukanmu dengan segenggam duka
dan setapak debu ragu
Kudus, 31 Januari 2007
saat tujuh mutiara berkumandang
dengan dendang-dendang malam
Kabut Tebal Gunung Hairan
belajar hatiku mencincang kabut tebal harapan
mulai pagi buta kala itu dengan tabasan kemelaratan
terkadang ada saja kecolongan di siang bolong
tepat ketika srigalambisi melolong
sebab kekecewaan akan segera membadai
manakala perahu telah berlabuh di laut tiada berpantai
dugalah dengan kuat, malam langit tiada perlu kau rakit
dengan olesan tinta, apalagi kelam harap yang penuh parit
katak saja mengerti kapan ia musti berdzikir
ikhlas. tanpa gaji—meski hanya itulah yang ia bisa
nyaman didengar atau tidak, berjawaban gum gom
suaranya menjasad sekian banyak watak penjilat tuhan
bersama madu perjalanan meniti gunung hairan
Semarang, 25 Pebbruari 2007
waktu tergelantung tanya
inikah puncak gunung hairan
I. G. Jali
http://www.sijilintang.wordpress.com/






